15. GELISAH

1076 Kata
Afifah termangu dibalkon, bagaimana ia mencoba menalarkan perasaannya. Kenapa ia bisa merasa gelisah saat melihat Barra bersama Aika. Kenapa dirinya sulit sekali menyakinkan perasaannya sendiri. Kenapa.. Kenapa.. Kenapa.. Tok.. Tok..Tok.. Terdengar suara pintu mengetuk kamarnya, Afifah tidak menyahui. Pikiran dan hatinya masih melamun dengan perasaan yang tidak di mengertinya. "Non, kok enggak turun." Suara Bi kus membuyarkan lamunannya. Fifah menatap Bi kus yang sudah berdiri tak jauh dari dirinya. "Maaf, Bi. Fifah lagi enggak nafsu makan. Mau langsung tidur aja." Ujar Fifah melewati Bi kus, ia langsung menaiki ranjangnya. "Tapi, non. Den Barra udah tunggu di meja makan loh." "Suruh dia makan ajah, Bi. Bilang aja aku udah tidur." Akhirnya Bi Kus mengalah, ia meninggalkan Fifah sendiri di kamarnya, Fifah berusaha memejamkan matanya dengan perut kosong, namun apa daya... Dia justru tidak bisa tidur sama sekali. Hatinya masih merasa gelisah menghantui pikirannya. Ia memutuskan untuk menelpon Milly sahabatnya di Jakarta. "Assalamualaikum, Fah." Jawab Milly di seberang sana. "Wa'alaikumsalam. Aku ganggu enggak?" Ujar Fifah enggak enak. "Aku boleh curhat enggak, Mil." "Hemmm.. Cie mau curhatin tentang Barra nih." Kata Millu setengah menggoda. "Curhat aja, Fah." "Ish.. Malas jadinya mau cerita sama kamu." Sahut Fifah menelungkupkan tubuhnya diranjang. "Udah punya laki masih ngambek!! Cerita apaan sih? Cepetan deh Bu pengancara." "Barra.. Aku enggak tahu perasaan apa. Aku gelisah saat ini. Tahu enggak, tadi Barra bawa teman perempuannya kerumah, tu perempuan manja banget sama Barra. Kesal enggak kayak gitu, belum lagi dia bersender sama Barra. Ih.. Pokoknya gitu deh!!" Bukannya memberkan solusi, Millymalah tertawa bahak dari seberang sana. "Mil, Kenapa ketawa, malas jadinya cerita sama kamu lagi." Gusar Fifah. "Hehe.. Sorry.. Sorry. Fifah tau enggak sih itu tandanya kamu cemburu." "Maksud kamu.. Aku--" "Masa kayak gitu aku harus jelasin juga. Kamu cemburu dan itu artinya kamu mulai memiliki perasaan sama Barra." "Memangnya seperti itu ya." "Fifah.. Fifah.. Kamu enggak perlu takut. Karena Barra cinta sama kamu dari dulu, mungkin kamunya yang enggak pernah nyadar." Yah... Fifah lumayan kaget karena ia pikir dia saja baru bertemu Barra saat hari mereka dijodohkan. Tapi bagaimana Milly tau hal yang ia sendiri tidak tahu. "Mil, jangan sok tahu!!" "Ih... Siapa yang sok tahu, Fah. Memang benar Barra itu udah cinta sama kamu sejak kita masih sekolah dulu." Mendengar hal itu, Fifah tersentak. Ia bangkit dan terduduk. "Kamu bercandakan, Mil. Kamu tau darimana." "Ingat enggak dulu kamu sering dapat hadiah bunga anggrek, coklat, dan kadang makan siang untuk kamu. Yang kamu pikir itu dari Yudha, Fifah sayang.. Itu dari Barra bukan Yudha." "Hah?? Enggak mungkin, semua itu Barra tapi kenapa aku enggak pernah tau." "Karena kamu enggak pernah mau tau, Afifah." "Maksud kamu." Fifah sungguh ingin tahu segalanya. "Aku enggak ngerti, Mil." "Fah, kamu ingat dulu aku pernah bilang ada satu cowok yang benar-benar suka sama kamu lebih dari yudha." "Iya.. Aku ingat." "Dia Barra, Fah. Barra cinta sama kamu, dia orang yang udah hampir korbankan nyawanya selamatkan kamu." "Jangan bilang Barra orang yang sama dirumah sakit, dia yang donorkan darahnya padahal dia sedang tidak sehat sampai dia opname." "Right..!! Barra orangnya." Percakapan mereka terputus ketika Barra masuk ke kamar dengan tangan membawa nampan berisi makanan. Fifah memandang Barra dengan tatapan yang seakan ingin menggapai laki-laki itu. Sekarang ia mengerti kenapa Barra tidak berpikir panjang ingin menikah bersamanya. "Kamu masih marah karena Aika. Kenapa enggak turun makan." Tanya Barra duduk samping ranjang Afifah. Fifah tidak menjawab apa pun, ia masih saja memperhatikan Barra, tanpa mengeluarkan kata apapun, Fifah seakan terpesona pada sosok tegap dihadapannya. "Fifah!!" Panggil Barra lirih. "Kamu makan dong. Mau aku suapin." Fifah hanya mengangguk. Ia seperti terhipnotis apapun yang Barra pinta pasti dia mengikutinya. "Aaaaa... Fah. Ini enak loh sup Bi Kus." Fifah pun dengan sigap membuka mulutnya langsung mendarat makanan yang Barra berikan. Sementara Barra sangat telaten menyuapkan makanan untuk Fifah. Bahkan ketika Fifah belepotan maka Barra cepat membersihkan dengan tissue. "Kamu dari tadi diam. Jadi masih marah." Ujar Barra namun Fifah masih tidak berkata apapun. "Fifah." Panggil Barra karena tidak ada respon dari Fifah. 'Fifah kenapa sih? Aneh!!' Tambah Barra dalam hati. Barra tidak mau berpikir tentang perasaan Fifah padanya. Ia memilih melupakan kejadian yang mungkin akan menimbulkan masalah antara dirinya dan Fifah kelak. Sama seperti Afifah ia memilih memendam perasaannya, ia merasa ingin mencari tahu kebenaran dari cerita Milly. Afifah mengingat jika Barra pernah memberitahu padanya dia mencintai seorang dimasalalu tapi tidak pernah mengungkapkannya. 'Apakah itu aku.. Aku wanita yang di masalalu Barra. Apa Akuu..' Afiffah menjerit dalam hatinya. "Fifah!!" Tegur Barra kali ini dengan suara sedikit kelas. "Ah.. Aa-- Ada apa?" Terbata Fifah membuyar lamunannya. "Kenapa denganmu??Kenapa diam? Masih marah, Hah??" Barra merengkuh wajah Fifah membuat perempuan itu merasakan desiran angin menyegat dadanya Dag Dig Dug.. Suara yang beralun kencang didada Fifah. Terasa ada suatu yang melingkari dirinya sendiri. Mungkin Barra dapat mendengar deruhan suara jantung Fifah yang berdetak kencang. Seakan ada suatu yang menyengat tubuhnya. Fifah menghempaskan nafas beratnya, melupakan kehaluannya yang seakan ingin mendekap Barra, Fifah menepis tangan Barra yang telah hinggap di pipinya. "Aku mau tidur. Ush... Sana.!!" Elak Fifah dengan nadanya yang ketus pada Barra. Barra menggeleng, ia mendapatkan sikap Fifah seperti biasa yang labil padanya. Dia bukan gadis berumur 17 tahun lagi, tapi.. Masih saja amarahnya sering naik turun padanya. Barra pun kembali keluar meninggalkan istrinya sendiri dikamarnya. "Ish.. Bodoh.. Bodoh.. Fifah.. Please kenapa kamu harus jutekin dia." Ucap Fifah sendiri menutupi wajahnya dengan bantal. *** Barra memang tidak pernah menempati siapa pun di hattinya, hanya Afifah. Dulu, sekarang dan mungkin selamanya. Walau Barra tahu anggannya sulit untuk menggapai Afifah yang sekarang menjadi istrinya. Laki-laki itu berdiri didepan kamar melihat Fifah yang tertidur. Rasanya hanya ini yang bisa dilakukannya. Barra mungkin seorang yang pengecut, tak berani mengakui kesalahannya di masalalu pada Afifah. Barra melekat pada Fifah, ia menaiki ranjang disamping Afifah. Laki-laki itu mengusap lembut rambut Fifah, ia mengecup pelan pucuk kepala Afifah."Aku pencundang yang mencintai kamu sejak dulu." Ucap Barra dengan lirih. Tanpa terasa air matanya menetes basah mengenai dahi Fifah yang memunggungi dirinya. Tanpa Barra sadar saat itu, Afifah belum tertidur. Perempuan itu sedang berusaha memejamkan matanya, namun dia justru mendapat jawaban dari keluhannya yang beberapa saat yang lalu. Rasanya ada yang bergetar dihatinya. *** ~pesan penulis~ Mohon maaf episode selanjutnya cerita ini menggunakan coin dan akan terkunci.. *Cara Beli Coin* Buka aplikasi Dreame. Buka menu Me > Store. Pilih jumlah koin yang ingin kamu beli. Ketuk pada menu G Pay. Lalu klik/ketuk tombol Beli untuk proses pembelian. Selanjutnya kamu tinggal simak instruksi dari aplikasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN