8

1629 Kata
Khaylila masih terisak kecil namun otaknya mulai bisa berpikir jernih kembali. Khaylila kaget menyadari dirinya sedang dipeluk Agas lalu buru-buru menarik diri. Dia merapikan pakaiannya sambil mencoba mengabaikan bekas air mata dan ingusnya yang menempel di kaos cowok itu. "Ingus lo, tuh," kata Agas tiba-tiba. Ada nada geli dalam suaranya. Kay seketika panik dan menunduk sambil menggosok-gosok hidung, tapi gerakannya terhenti. Agas lebih dulu menyapu bekas air mata lalu hidungnya dengan sapu tangan. Sumpah, Kay sangat malu. Ketahuan kalau dia anak badung dan jorok. Ugh, mau ditaruh dimana mukanya? Sebelum rasa malu itu mencapai ubun-ubun, Kay buru-buru mengambil sapu tangan Agas lalu menyeka air mata dan ingusnya sendiri. Setelahnya, dia kembalikan sapu tangan bekas ingus itu pada Agas tapi segera ditepisnya dengan kasar. Satu toyoran mampir di kepala Kay. "Dasar jorok!" ejek Agas. Cowok itu melotot tapi sambil menahan tawa, dan itu terlihat cute. Kay manyun dan menyipitkan mata. Tangannya mengusap kepalanya yang rasanya mau benjol setelah ditoyor Agas. "Sakit, tau, Kak!" "Sakit?" tanya Agas dengan muka prihatin. Kay mengangguk-angguk kayak anak anjing dengan mata membulat lebar. "Atit anet." "Oo..., kacian. Sini, kakak ganteng elus-elus biar cepet sembuh!" kata Agas seperti sedang menenangkan bayi. Kay terkekeh lalu memukul lengan Agas yang mengulurkan tangan, siap mengusap-usap kepala Kay. "Dasar narsis!" "Emang kenyataannya gue ganteng kali, Kay! Lo nggak bisa ngelak dari kenyataan mulu," bantah Agas sembari mengusap bekas pukulan Kay yang lumayan menyakitkan. Kay mencibir. "Udah ah. Mending Kak Agas traktir aku makan aja. Laper, nih, Kak," rajuk Kay sambil menarik-narik lengan kaos Agas. Agas mendengus, tapi akhirnya berdiri juga. Dia mengulurkan tangannya dan segera disambil Kay dengan suka cita. *** "Kok kakak bisa ada di sana tadi?" tanya Kay yang sudah penasaran akut dengan kemunculan Agas yang tiba-tiba tadi. Bagaimana bisa momennya tepat sekali? "Jangan bilang Kak Agas emang sengaja ngikutin aku!" Kay memicing curiga. "Itu sih, lo aja yang pengin gue ikutin." Agas memutar bola mata sambil memasukkan potongan kentang goreng ke mulutnya. "Gue lagi nganter nyokap belanja. Eh, di parkiran nyokap gue tiba-tiba heboh waktu liat ada cewek yang tampangnya b**o banget, ditinggal didorong ke tengah jalan sama cowok yang posenya mirip jambret. Sadar kalo itu emang jambret, gue langsung disuruh lari ngejar tuh jambret. Sayangnya tuh jambret berhasil kabur. Waktu gue balik, nyokap udah bareng sama cewek yang tampangnya b**o banget tadi. Untung aja tuh cewek masih berhasil diselamatin sebelum ditabrak sama truk fuso." Kay sebenarnya tidak mau percaya dengan cerita Agas yang terdengar mengada-ada barusan. Tapi melihat kesungguhan di mata Agas membuatnya mengempaskan punggung ke sandaran kursi. Pandangannya mendadak tidak fokus. Agas menepuk lengan kiri Kay beberapa kali lalu tersenyum, "Yang penting, lo sekarang nggak papa." Kay mengangguk ragu, masih syok dengan kenyataan kalau dirinya hampir ditabrak truk fuso. "Makasih banyak, ya, Kak." Kay tahu, berterimakasih pada Agas dan mamanya tidak akan pernah cukup. Tapi memang hanya itu yang bisa Kay lakukan sekarang, selain bersyukur pada Tuhan karena masih diizinkan hidup-tentu saja. Tiba-tiba Agas tiba-tiba mengusapkan ibu jarinya ke pipi Kay yang kembali basah oleh air mata. Merasa malu dan risih, Kay buru-buru memalingkan wajah lalu mengusap sendiri air matanya. Menurutnya, tidak baik membiarkan cowok yang bukan siapa-siapanya melakukan hal seperti ini padanya. "Terus tadi mama Kak Agas pulangnya gimana?" tanya Kay setelah selesai menyeka air matanya. "Mama tadi bawa mobilnya," jawab Kak Agas, memasukkan potongan kentang goreng ke mulutnya lagi. "Terus nanti Kak Agas pulang naik apa dong?" "Gue sih gampang. Naik angkot juga jadi. Yang penting lo bisa pulang dengan selamat dulu," kata Agas di sela menggigit kentang gorengnya. Kay agak terpana mendengarnya. "Lo tadi kesini sendirian?" Kay menggeleng lalu tersenyum lebar saat teringat dengan siapa dia kemari. Tiba-tiba senyuman itu hilang dan Kay menepuk jidatnya cukup keras. "Kenapa, Kay?" Agas menegakkan badannya dan menatap Kay cemas. "Aku tadi bareng Kak Karim, Kak! Dia tadi ke toilet dan aku sekarang malah ninggalin dia." seru Kay panik. Dia melirik jam tangannya dan melotot. Hampir setengah jam Kay meninggalkan parkiran. Cewek itu segera berdiri. "Aku ke parkiran duluan ya. Kak Karim pasti pasti marah-marah kalo tau aku nggak di sana." Kay baru berjalan beberapa langkah namun Agas tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. "Lo tetep di sini sama gue, Kay!" katanya tegas. Kay merinding melihat tatapan Agas yang menurutnya berbeda. Manik mata hitamnya menyorot tajam namun seolah memohon. "Duh, Kak, nggak bisa. Aku musti nyamperin Kak Karim. Aku nggak enakan sama dia." Kay melihat cengkeraman Agas lalu nyengir tak enak hati. "Lepasin dong, Kak, please." Agas mendengus. "Gue temenin kalo lo mau ke parkiran lagi. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa." Belum sempat Kay merespon tawaran itu, Agas langsung menariknya berjalan keluar restoran cepat saji menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, Kay berjalan mencari mobil Karim. Setelah lima menit berlalu dan tidak berhasil menemukan mobil Karim, Kay baru sadar kalau dia ditinggal. Kay melihat jam tangannya sekilas lalu tertunduk lemas. Menyebalkan! Padahal baru satu jam dia pergi, tapi Karim sudah meninggalkannya begitu saja. Sangat tidak sabaran. Tidak sebanding dengan kesabaran Kay dalam menunggu Karim selama ini. "Mana si Karim?" tanya Agas, tersenyum, mengejek Kay yang mengentakkan kakinya sambil manyun. Kay mendongak. Pipinya menggelembung lucu. "Dia udah pulang kayaknya." "Ayo gue anter. Gue bakal jagain lo." Tepat setelah itu, Agas meraih tangan Kay sambil mengurai senyum. Alarm di kepala Kay menyala-nyala melihat senyuman itu. Anak-anak ketertiban menyebutnya dengan senyuman maut Agastra, sejenis senyum super manis yang hanya ditunjukkan Agas pada cewek yang menarik perhatiannya. Lalu kenapa Agas harus menunjukkannya pada Khaylila?! *** "Kak Agas nggak mau mampir dulu?" tanya Kay basa-basi pada Agas sesampainya mereka di depan rumah. Angin malam bertiup pelan, membuat sulur-sulur rambut Kay bergerak. Agas menggeleng lalu tersenyum. "Nggak usah, Kay. Salam aja buat ortu lo. Gue balik dulu ya?" "Oke, Kak. Makasih banyak." Kay melambaikan tangan pada Agas yang berjalan menuju taksi. "Ati-ati, Kak!" Agas memasuki taksi yang tadi mereka tumpangi. Tak seberapa lama, taksi itu melaju, membawa serta Agas yang melambaikan tangan dari jendela yan terbuka.Kay membalasnya sampai taksi itu menghilang di kejauhan. Kay menghela napas. Merasa lega sekaligus senang. Agas baik sekali hari ini. Jadi, sebelum pulang, Agas mengajaknya menonton sebelum pulang. Katanya sebagai terapi menghilangkan kekesalannya pada Karim. Awalnya Kay menolak dan memilih pulang, tapi setelah mendengar kata gratis, Kay mendadak setuju untuk nonton. Menurutnya, tidak baik menolak tawaran orang, apalagi itu gratisan. "Assalamu'alaikum...." ucap Kay sambil membuka pintu. "Kail!" "Kay!" "Khaylila!" "Khaylilaaa...!" Seruan bertubi-tubi itu menyambutnya ketika baru menginjakkan kaki dalam rumah. Belum juga rasa kaget itu hilang akibat seruan tadi, tubuh Kay langsung diterjang dan dipeluk erat oleh bundanya. Kay meringis begitu mendengar Bunda terisak di pundaknya. Dia melirik ke arah sofa dari balik bahu Bunda. Oma, Opa, Karim, dan kedua orang tuanya duduk di sana, memandangnya dan Bunda yang masih berpelukan. Mereka berada di sini pasti karena ulah Bunda. Padahal saat menelepon bunda tadi sore, Kay sudah menjelaskan bahwa dia baik-baik saja dan bundanya tidak perlu khawatir. Tapi sepertinya bundanya tidak akan lega sebelum berkoar-koar ke orang-orang di sofa sana kalau Kay habis dihipnotis. Sejujurnya Kay malu kalau mereka tahu masalah ini. Tapi semalu apapun, Kay tetap membalas pelukan Bunda dan menepuk-nepuk punggungnya. Bunda masih terisak sambil memanggil-manggil nama Kay. "Kamu nggak papa, kan, Kay?" tanya Bunda setelah melepas pelukannya. "Kay nggak papa, Bunda," jawab Kay sambil mengusap air mata bundanya. Hidung Bunda merah sekali dan matanya bengkak. Pasti Bunda tidak berhenti menangis sejak menerima telepon darinya tadi sore. "Mana si Agas yang nganterin kamu itu? Nggak diajak masuk?" Kay menggeleng pelan. "Tadi dia langsung pulang Bunda, katanya salam aja buat Bunda sama Ayah." Dia mengusap air mata Bunda yang kembali meluncur di pipi. Ugh, Kay jadi ingin menangis juga. Bunda tersenyum lalu merangkulnya lagi. Lebih erat. "Maaf ya, Bun, kartu kredit sama ATMnya ilang semua." Suara Kay mulai serak. Mengingat barang-barangnya yang raib membuatnya ingin mencekik si maling. "Udah Sayang, nggak usah dipikirin. Yang penting kamu selamat." Jujur saja Kay terharu. Pelukan Bunda semakin erat dan Kay hampir menangis karena mulai susah bernapas. Beruntung, Ayah tiba-tiba muncul sambil membawa teko berisi es sirup yang terlihat segar. Saat menyadari kehadiran Kay, Ayah buru-buru meletakkan teko itu ke atas meja lalu menghampiri Kay dan Bunda. Kay langsung megap-megap meminta bantuan ayahnya. "Sayang, udah! Khaylila sesak napas tuh." Tepat setelah Bunda berhasil ditarik oleh Ayah, Kay menghirup napas sebanyak yang dia bisa dan mengembuskannya dengan dramatis. Baru kali itu Kay sadar betapa pentingnya udara baginya. Puas mengisi paru-parunya dengan oksigen, Kay hampir memeluk Ayahnya tapi segera manyun karena Ayah lebih dulu memeluk Bunda. Yang baru kena musibah kan, dia, tapi kenapa malah Bunda yang dipeluk? Huh, Dasar Ayah modus! Masih sambil manyun, Kay mendekat pada Oma dan Opanya, duduk di antara keduanya dan salim secara bergantian. "Kamu nggak papa, Sayang?" Oma mengusap kepala Kay. Wajahnya yang masih cantik meski usianya sudah hampir enam puluh, tampak khawatir. Kay menggeleng lalu tersenyum. "Beneran nggak papa?" Kini giliran Opa yang bertanya. Kay memeluk Opa erat lalu menggeleng. "Kay nggak papa, Opa." Kay nyengir ketika Opa mengacak rambutnya setelah menarik diri. "Kay, Sayang, maafin Karim, ya," kata Miko dan diangguki oleh Ratri di sebelahnya. Sepasang suami-istri itu memandang penuh penyesalan. Karim yang duduk di ujung, sebelah Ratri, menunduk diam. Entah menyesal atau tidur, Kay tidak bisa membedakan. Tapi Kay mencoba mengabaikannya. Dia memilih menggeleng pelan pada Miko dan Ratri. "Nggak papa kok, Om, Tan. Khaylila nggak papa," ucapnya setenang mungkin. Senyumnya merekah saat punggungnya diusap lembut, mungkin Oma atau Opanya. "Ya udah, Khay mau masuk kamar dulu ya? Mau bersih-bersih," pamitnya sambil berdiri. Pada saat itu, Karim mengangkat kepala dan pandangan mereka saling beradu. Kay yang menghindarinya terlebih dulu karena seruan heboh Ibram yang tahu-tahu muncul di ujung ruang tamu. "Mbak Khaylilaku!!!" Bocah tengil itu melambai heboh sambil memegangi sarungnya yang hampir melorot. Sambil menahan tawa Kay menghampirinya. Ibram buru-buru memeluk Kay dan pura-pura terisak. Kay terkekeh lalu menjitak kepala adiknya pelan. "Mbak baik-baik aja kali, Bram." Ibram melepas pelukannya, menatap kakaknya dengan mata membulat senang. "Aku seneng Mbak baik-baik aja. Jadinya aku masih bisa minta dilayani kayak putra raja." Kamfret! Kay melotot sementara orang-orang di ruang tamu tertawa. Ibram kurang ajar. Padahal Kay pikir Ibram mempunyai alasan lain yang bisa membuatnya haru. Ternyata cuma mau memanfaatkannya. Enak aja, pikir Kay. Kay memicing menatap adiknya yang terkikik senang. Hm.... Ibram memang perlu diberi pelajaran. Kay tersenyum licik. Lalu, dengan gerakan secepat kilat Kay memukul paha Ibram lalu berlari menuju kamarnya sebelum dirajam adiknya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN