Kay menguap lagi, buru-buru ditutupnya mulutnya yang menguap lebar itu sebelum kemasukan kalajengking terbang. Rasa kantuk itu semakin intens menyerangnya dan matanya mulai terasa perih. Hm, padahal dia sudah mandi dan menyeruput kopi ayahnya tadi pagi, tapi belum juga berhasil mengusir rasa kantuknya.
Insomnia ngeselin, keluhnya dalam hati. Semalam dia memang susah tidur. Kay curiga kalau itu adalah efek dari terkena hipnotis kemarin. Duh, kalau ingat itu Kay jadi kesal dengan Karim.
"Lo kenapa, Kay?" tanya Andro, anggota ketertiban yang kebetulan kebagian jaga gerbang bersama Kay pagi ini. Cowok itu mendekat dan menarik tangan Kay yang hampir mengucek matanya. "Eh, jangan ngucek mata!"
"Mata gue perih, Ndro. Gue kurang tidur," rengek Kay sambil melepas tangannya.
Andro bisa melihat mata Kay merah. Dia mendecak dan buru-buru menahan Kay yang mau mengucek mata lagi. "Tapi jangan dikucek, Malih! Minta tetes mata ke UKS sana!"
Kay manyun lalu menyandarkan tubuhnya ke gerbang. "Males ah. Udah pe-we gue."
Andro geleng-geleng kepala. "Ada ya cewek males macem lo. Eh, di UKS lo bisa sekalian tidur. Apa mau gue gendong ke sana?"
"Terus habis itu gue disemprot sama Jihan. Ih, ogah." Kay bergidik ngeri. "Mending nunggu Kak Karim buat gendong gue ke UKS."
Kay buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat dan menyesali ucapannya barusan. Dia kan masih marah pada Karim, harusnya dia tidak mengharapkan apapun dari Karim.
"Kay... Kay.... Lo tuh b**o apa gimana sih? mau Udah jelas Karim nggak mau sama lo, masih aja lo kejar-kejar," komentar Andro. Biasanya Kay akan cuek bebek jika mendengar komentar seperti ini dari teman-temannya. Dia tetap yakin kalau usahanya mengejar Karim akan berakhir bahagia suatu hari nanti. Tapi kali ini, dia merasa keyakinannya agak goyah. Apalagi saat Andro melanjutkan berbicara, "Kalo aja lo buka mata lebih lebar, lo bisa nemuin cowok yang lebih baik dari Karim. Yang rela ngelakuin apapun buat lo, karena dia emang perhatian dan sayang sama lo."
Kay agak kaget. Andro tidak sedang mempromosikan dirinya pada Kay, kan? Memang wajah Andro tidak jelek-jelek amat, tapi dia sudah pacaran dengan Jihan. Dan setahu Kay, hubungan Andro dan Jihan baik-baik saja, malah cenderung romantis.
"Err.... Lo nggak lagi PDKT sama gue, kan, Dro?" tanya Kay ragu-ragu.
Andro melongo sebentar lalu tertawa ngakak. "Ngapain juga gue PDKT sama lo, Oon? Gue tuh cuma ngasih lo saran. Lagian, gue masih sayang banget sama Jihan kali."
Kay menghela napas lega. Ternyata ketakutannya tidak terbukti. Dia nyengir lebar pada Andro kini tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.
"Coba dulu saran gue. Kali aja lo berhasil nemuin cowok yang gue maksud," kata Andro sok cool sebelum mengangkat panggilan telepon di ponselnya yang berbunyi nyaring. Dia kemudian menjauh ke depan pos satpam sambil menempelkan ponselnya ke telinga. "Hai, Sayang."
Kay langsung bisa menebak jika yang menelepon Andro adalah Jihan.
Dasar pasangan baru sebulan jadian. Padahal bentar lagi ketemu, pake telepon-teleponan segala.
Kay geleng-geleng kepala dan mengalihkan pandangannya ke arah anak-anak yang baru datang. Matanya lagi-lagi terasa perih.
Kay hampir menutup matanya dan langsung berdiri tegap saat mendengar dua suara cempreng bersahut-sahutan memanggil namanya dari luar gerbang. Dia menoleh. Tampak Paula dan Tobi berlari kecil, saling senggol, berlomba dulu-duluan mencapai gerbang.
"Yes gue duluan!" seru Paula sambil memegang lengan Kay. Tobi yang telat beberapa detik langsung membungkuk ngos-ngosan. Paula ngakak senang. "Fix, lo traktir gue bakso."
Kay geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua temannya. Tapi dia juga tidak mau kehilangan kesempatan. "Gue juga mau ditraktir."
Tobi melotot. "Lo nggak usah ikut-ikutan."
Kay mencibir. "Cih, dasar pelit."
"Bukannya pelit. Ini antara gue sama Paula. Yang lomba terus bikin kesepakatan itu, kita. Jadi outsider kayak lo nggak usah ikut-ikutan."
Kay memicing curiga sejenak lalu berkata asal, "Oh, gitu. Jangan-jangan lo tadi sengaja ngalah terus biar bisa traktir Paula biar Paula suka sama lo."
"Beneran, Tob?" seru Paula heboh. Dia meringis tidak terima.
Tobi memutar bola mata lalu menunjuk Kay. "Lo percaya omongannya cewek ngaco ini?"
Paula menggeleng. Wajahnya berubah enggan. "Tapi lo nggak usah traktir gue deh. Gue takut bakso gue nanti lo campur pelet pemikat hati."
Kay dan Tobi ngakak dengan alasan yang berbeda-beda. Kay merasa alasan Paula benar-benar aneh, sedangkan Tobi merasa senang karena tidak jadi mengeluarkan lima ribu peraknya untuk menraktir Paula.
"Eh, Kay, mata lo kenapa merah banget gitu?" tanya Paula tiba-tiba.
"Kurang tidur," jawab Kay sambil kembali menyandar ke gerbang. Matanya yang mulai terasa berat hampir tertutup.
Paula menyikutnya. "Ya tapi jangan tiduran di sini kali," larang Paula. "Lo jaga sama siapa, sih?"
Kay mengedikkan dagu ke arah pos satpam. "Andro."
Paula dan Tobi menoleh ke arah pos satpam lalu kembali menatap Kay sambil geleng-geleng kepala.
"Pasti pacaran lagi," tebak Paula dan diangguki malas oleh Kay.
Tiba-tiba Tobi ngeloyor pergi ke arah pos satpam sambil memegangi kedua tali ranselnya, mirip orang i***t. Tak lama dia kembali menghampiri Kay dan Paula sambil menjewer kuping Andro yang teriak-teriak minta dilepaskan.
"Pacaran mulu! Nggak cukup apa pojokan kantin buat kalian suap-suapan berdua? Lo nggak kasian liat mata Kay merah kayak abis dipipisin kecoa gitu? Bukannya bantuin, malah pacaran!" Tobi melepas jewerannya, meninggalkan bekas merah di telinga Andro.
Kay dan Paula cekikikan. Tobi memang paling mantap jika mengomel, persis seorang emak kemalingan jemuran.
"Lah, Kay aja santai, kenapa lo sewot?" sanggah Andro dengan wajah BT. Dia menempelkan ponselnya ke telinga yang habis dijewer Tobi dan kembali bicara dengan ponsel. "Kamu udah sampai mana, Sayang?"
Setelah beberapa detik diam, Andro balik kanan menghadap keluar gerbang. Wajahnya sumringah dan tangannya melambai-lambai ke udara. Kay, Paula dan Tobi mengikuti arah pandang Andro dan langsung paham kenapa Andro mendadak mirip orang gila. Jihan baru turun dari camry ayahnya. Cewek bertubuh semampai itu langsung berlari dan memeluk Andro di depan mereka bertiga. Rambut hitam legam sepinggangnya yang diurai bergerak-gerak ringan.
"Kangen!" seru Jihan setelah pelukannya ke Andro lepas. Dia tersenyum.
"Aku juga." Andro mengusap-usap kepala Jihan sambil tersenyum.
Kay nyengir geli lalu melirik Paula dan Tobi. Duo racun itu melongo tanpa kedip lalu saling pandang. Sedetik kemudian mereka sama-sama hampir muntah.
Kay dengan tanpa dosanya menjambak rambut Tobi sampai cowok itu melotot sewot. "Iri ya? Kalian coba pelukan berdua gih!"
Paula dan Tobi kembali saling pandang sejenak lalu sama-sama berpaling muka sambil bergidik ngeri. Kay, Andro, dan Jihan kontan ngakak di tempat.
Kay yang masih sibuk menertawai Paula dan Tobi yang mulai adu mulut tidak jelas, mengatai satu sama lain, tiba-tiba menutup mulut rapat-rapat melihat Karim tahu-tahu sudah berdiri di belakang Andro.
Melihat perubahan ekspresi yang tiba-tiba seperti itu membuat empat orang tadi kontan mengikuti pandangan Kay. Mereka langsung saling lirik dalam diam menyadari Karim berdiri dengan wajah datar dan kedua tangan yang dia masukkan ke saku celananya.
Tobi yang paling tidak tahan dengan suasana aneh yang tiba-tiba tercipta berdehem pelan. "Eh, Pau, kelas yuk. Gue mau nyalin catetan geografi minggu lalu nih."
Paula sempat mengerut bingung mendengar Tobi yang mendadak rajin mau menyalin catatan. Tapi melihat Tobi mengangkat alis penuh isyarat sambil melirik-lirik Kay, membuat Paula mengerti. Mereka harus memberi Kay kesempatan untuk berduaan dengan Karim. Segera ditariknya Tobi menjauh setelah pamit pada Kay dan Karim.
Sekian detik berikutnya, Andro dan Jihan yang sadar situasi memilih beranjak ke depan pos satpam, meninggalkan Kay berdiri menghadapi Karim sendirian.
Karim terlihat ganteng seperti biasanya di mata Kay. Tapi ketika cowok jangkung itu tersenyum, Kay seolah melayang ke langit ke-tujuh.
"Hai, Khaylila," sapa Karim kemudian.
Dan Kay seketika lupa dengan kemarahannya. Karim tersenyum dan menyapa dalam hitungan menit adalah kejadian langka yang tidak seharusnya diabaikan. Kay pun tersenyum manis. Di saat Kay hendak membalas sapaan Karim, sebuah suara berat dengan nada sengak yang sangat familiar memanggil namanya.
"Khaylila!"
Kay dan Karim kontan menoleh. Agas dengan gaya coolnya yang luar biasa itu, berjalan mendekat. Seketika, siswi-siswi perempuan perempuan yang baru datang heboh kasak-kusuk dari belakang. Kay ingin tertawa mendengarnya tapi pada saat itu telinganya menangkap dengusan berat dari sampingnya. Kay melirik ke arah Karim. Cowok itu melengos dan memutar kepalanya menghadap Kay. Sebelum Karim benar-benar menghadapnya, Kay cepat-cepat memalingkan pandangannya pada Agas. Jangan sampai dia malu karena ketahuan melirik Karim.
Tunggu. Kenapa Kay jadi bersikap seaneh ini ketika bertemu Karim?
"Mata lo kenapa merah banget gitu?" tanya Agas begitu sampai di depan Kay. Agas segera menahan tangan Kay yang terlihat akan mengucek mata. "Jangan dikucek!" serunya panik. Keningnya berkerut-kerut, tanda tidak setuju.
"Err, aku cuma mau benerin rambut," sanggah Kay, melepaskan tangannya dari Agas. Dia tersenyum canggung. Mendadak suasana di sini terasa sangat aneh baginya. Tubuh Kay mendadak panas dingin dan otaknya seolah berhenti berpikir saat Agas, tanpa aba-aba, menyelipkan sejumput rambutnya yang terlepas dari ikatan, ke belakang telinga.
"Ayo ke UKS. Gue rasa lo perlu tetes mata."
Lalu, tanpa menunggu respon, Agas menarik tangan Kay dan mengajaknya berjalan. Entah kenapa, Kay tidak bisa menolaknya, dan akhirnya mengekor di belakang Agas.
Di tengah jalan, Kay menoleh ke belakang. Karim masih berdiri di sana, memandang lurus ke arahnya dengan ekspresi yang tak terbaca.
Tiba-tiba rasa bersalah menggerogoti hati Kay.
***
"Jangan ngelamun!" tegur Agas sambil mencolek pipi Kay yang duduk di sebelahnya. Cowok itu tersenyum saat melihat Kay kaget lalu menatapnya seperti orang linglung. "Sini gue tetesin dulu."
Melihat Agas sudah siap dengan obat tetes mata di tangannya, Kay mendongak seraya membuka mata selebar mungkin. Lalu, dengan sigap Agas melakukan pengobatan ringan pada kedua mata Kay secara bergantian.
"Perih?" tanya Agas melihat Kay mengedip beberapa kali dan tampak air bening meluncur ke kedua pipi mulusnya.
Kay menggeleng pelan dan membuka matanya yang sudah tidak seberat tadi, dengan sempurna. Agas menyambutnya dengan usapan lembut di kedua pipinya. Kay segera memalingkan wajah dan mengusap sendiri pipinya sambil menormalkan jantungnya yang mendadak berdebar-debar. Astaga, apa yang terjadi padanya? Kenapa banyak hal aneh yang dia rasakan hari ini?
Agas tersenyum melihat wajah Kay yang memerah dan membuatnya terlihat lucu. Dia mengacak ringan rambut Kay lalu segera mengulurkan tangannya pada Kay ketika cewek itu melotot tidak suka.
"Ayo upacara!" ajaknya.
Kay menatap Agas lurus-lurus sebelum akhirnya mendengus dan berdiri tanpa menyambut uluran tangan Agas. Salah kalau Kay sempat menyangka Agas adalah cowok lain yang dimaksud Andro tadi. Agas memang baik padanya, tapi juga menyebalkan dalam waktu yang bersamaan.
Agas terkekeh dan kembali mengacak rambut Kay. Namun, belum sempat tangannya mendarat, Kay sudah menepisnya dan memelototinya.
"Nggak usah usil," omel Kay ketus lalu berjalan mendahului Agas yang mengangkat bahu. Hidupnya tidak akan pernah tenang jika bersama Agas.
Agas mengekor di belakang dengan senyum merekah lebar. Harinya memang selalu indah bila dengan Kay.
***