Hurt
Hua Chang berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor kantor. Ditangannya terdapat setumpuk berkas yang cukup.
Kruucuuk…
Hua Chang mengelus perutnya yang terus meronta minta diisi. Sejak kemarin sore dia belum menelan apapun meskipun hanya air. Semua itu tidak lain adalah ulah ibu tirinya yang mengurungnya dikamar sebagai hukuman karena membuat kesel adik tirinya yang bernama Na Lin. Na Lin adalah putri kesayangan ayah dari istri mudanya.
Seharusnya Hua Chang pergi ke kantin kantor dan membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya, tapi beberapa saat yang lalu seniornya menyuruhnya untuk menyelesaikan laporan penting yang harus segera diberikan kepada boss.
Dalam hati Hua Chang mengutuk dirinya sendirinya sendiri, sebenarnya para senior itu hanya iri padanya dan terus menekan Hua Chang dalam bekerja. Memberinya tugas yang melebihi batas adalah makanannya sehari-hari, bahkan bukan termasuk dalam lingkup pekerjaannya mereka bebankan padanya.
Semua itu semata-mata karena mereka ingin membuat Hua Chang tidak betah dan memundurkan diri. Tapi dengan ketekunan dan keuletan Hua Chang sampai detik ini ia masih bisa bertahan, meskipun harus menerima bulian dari rekan-rekannya.
Hua Chang tersenyum kecut mengingat semua itu. Dia harus bertahan. Setidaknya sampai usianya 22 tahun. Sampai usianya cukup matang untuk mengelola perusahaan peninggalan mendiang ibunya. Untuk saat ini usianya masih 20 tahun jadi perusahaan itu diambil alih oleh ayahnya.
Setelah cukup umur ia akan mengambil alih perusahaan dan angkat kaki dari neraka berbentuk rumah mewah yang sekarang ditinggalin bersama ayah dan ibu tirinya itu.
Baru 1 tahun dia bergabung dengan perusahaan Qiansheng Group setelah lulus sekolah menengah. Prestasi yang cukup mumpuni di usianya yang masih sangat muda meskipun hanya lulusan sekolah menengah. Semua itu membuat para seniornya menghalalkan segala cara untuk membuatnya terlihat buruk, dan segera mengundurkan diri.
Bahkan jabatan yang seharusnya Hua Chang dapatkan menjadi karyawan teladan mereka manipulasi dengan menghasut boss mereka. Tentu saja sang boss yang lebih mempercayai para karyawan senior, dengan mudahnya termakan hasutan itu begitu saja. Hingga akhirnya Hua Chang menjadi gadis yang tidak pernah mendapat kepercayaan.
Lamunannya terpecah saat ia bertubrukan dengan seseorang.
“Bruuukk…”
Hua Chang termundur beberapa langkah, laporan yang ada di tangannya terlepas dan berceceran di lantai.
“Maaf aku tidak sengaja, aku sedang terburu-buru.” Ucap pria yang menabrak Hua Chang.
“Tidak apa-apa,” jawab Hua Chang sambil memunguti kertas laporan yang tercecer tanpa menoleh pada laki-laki itu.
Pria itu membantu memunguti kertas laporan yang tercecer dilantai sambil mengamati wanita didepannya.
Gadis ini berparas cantik dengan mata hazel yang indah. Hidungnya yang mungil dan runcing serta bibir cherry menjadi perpaduan pahatan yang sempurna secantik peri. Namun saat ini wajahnya terlihat pucat dan tidak terawat. Badannya juga kurus seperti kurang nutrisi.
Andai dia bisa sedikit merawat wajahnya, pasti akan banyak pria yang bertekuk lutut padanya. Batin lelaki itu.
Lelaki itu lalu memberikan kertas yang dipungutnya pada Hua Chang lalu segera pergi.
“Terima ka…”
Belum sempat Hua Chang menyelesaikan kalimatnya, pria itu pergi begitu saja. Sekilas Hua Chang melihat, pria misterius itu memakai masker dan jaket hitam dengan tudung di kepalanya.
“Pria yang aneh.” gumamnya lalu berlalu pergi.
Hua Chang buru-buru pergi ke ruangan bosnya dan menyerahkan file yang harus ditandatangani kemudian pergi ke kantin.
Cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta minta diberi makan, bahkan kepalanya juga sudah sangat pusing.
Hua Chang segera memesan seporsi mie kwetiau beserta minuman favoritnya, soda biru. Setelah membayar ia pun pergi menuju meja kantin yang kosong.
Hua Chang baru saja menikmati makan siangnya yang sudah melewati batas siang, lalu melihat Na Lin dan kedua dayangnya yang mengekor di belakang.
Wajahnya seketika berubah melihat Na Lin menuju mejanya. Hua Chang yang menyeruput minuman favoritnya untuk membasahi tenggorokan mendadak kering.
“Wah wah wah, siapa yang menyuruhmu makan di tempat ini?” Tanyanya sok anggun. Tak ada jawaban dari mulut Hua Chang.
“Jawab!”
Ucap Na Lin sambil menggebrak meja. Ia kesal pada Hua Chang yang mengacuhkannya.
Hua Chang menghela nafas panjang. Sudah lelah ia terus di buli. Dia pura-pura tidak peduli dan terus melanjutkan makan siangnya.
“Cuih.”
Na Lin meludahi mie yang sedang dimakan Hua Chang. Hua Chang mengeraskan rahangnya berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.
“Na Lin, jangan menggangguku!.”
Akhirnya setitik keberanian muncul dalam hati Hua Chang. Dia mampu mengeluarkan kata-kata.
“Beraninya kau membentakku? Dasar tidak tahu diri. Jangan lupa, kau bisa hidup sampai saat ini itu karena belas kasihan orang tuaku.” Na Lin naik pitam karena Hua Chang sudah berani bersuara.
“ Dan jangan lupa, ayahmu juga ayahku.” Geram Hua Chang.
Na Lin menjambak rambut Hua Chang lalu menumpahkan sisa mie ke atas kepala Hua Chang. Tidak hanya itu kedua teman Na Lin juga menyiramkan minuman ke atas kepala Hua Chang hingga ia basah kuyup.
“Ini akibat jika kau berani melawanku. Jangan pernah menyebut kita bersaudara. Kau dan aku jauh berbeda. Camkan itu.” Hardik Na Lin sambil mengeratkan cengkeramannya pada rambut Hua Chang.
“Kenapa? Kau tidak mengakui kalau aku kakakmu? Apa kau takut jika aku memberitahu semua orang kalau kau adalah putri seorang simpanan?” Ucap Hua Chang di tengah isakannya.
Mata Na Lin memerah dengan rahang gemeletuk.
“DIAM!”
Na Lin lalu menampar wajah Hua Chang hingga sudut bibirnya berdarah. Dengan geram Na Lin mendorongnya ke lantai hingga lututnya memar.
Semua orang memandangnya kasihan tanpa berani menolong. Karena notabennya Na Lin adalah putri dari salah satu perusahaan terkenal di Cina yang sedang magang di perusahaan kecil ini.
Perundungan terhadap Hua Chang seolah adalah kejadian biasa karena saking seringnya Na Lin membully dirinya.
“Jangan merasa menjadi gadis paling tertindas di dunia ini, dasar menyedihkan.”
Xiao Xin memegang pipi Hua Chang dan menghempaskannya begitu saja. Kemudian Na Lin dan kedua temannya memukuli Hua Chang tanpa ampun.
Jeritan kesakitan dari gadis malang itu tidak didengarkan sedikitpun.
“Hentikan kalian semuanya!” Teriak seorang pria kemudian buru-buru menolong Hua Chang.
“Kalian sangat keterlaluan, apa kalian ingin membunuhnya?”
Mereka seketika menghentikan aksinya.
“Kami hanya bermain-main. Benarkan Hua Chang?” ucap Na Lin santai sambil tersenyum sinis.
“Pergi kalian. Atau aku akan melaporkan kelakuan kalian pada Presdir agar mencabut izin magang kalian di perusahaan ini.” Ancam lelaki itu.
Ketiga pembully itu mencibirkan bibir mereka kemudian berlalu dari tempat itu tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah membuat keonaran.
“Terima kasih, Hao Yu.”
Ucap Hua Chang lirih. Hanya pria ini yang selalu bisa menolongnya dan melindunginya dari perundungan Na Lin. Pria yang beberapa bulan ini telah mengisi hatinya. Dia adalah Hao Yu, kekasih Hua Chang.
Hao Yu memapah Hua Chang ke toilet, menyuruh gadis itu membersihkan diri.
“Ini, ganti pakaianmu. Kau basah kuyup.” ucap Hao Yu sambil memberikan tas kertas berisikan satu stel pakaian yang baru saja dibelinya.
“Ini…”
“Aku membelinya untukmu. Kau tahu aku dipromosikan menjadi manager. Jadi aku membelikanmu hadiah kecil. Kau menyukainya?”
“Ini cantik sekali.” Hua Chang tersenyum sambil menitikkan air mata. Selama ini tidak ada yang pernah memberikan hadiah apapun padanya.
“Kau tidak perlu melakukan ini, Hao Yu. Aku tidak pantas.”
“Ssstttt…”
Hao Yu meletakkan telunjuknya di bibir Hua Chang. Lalu menyeka air mata di pipinya.
“Kau pantas mendapatkannya, karena kau kekasihku. Aku janji akan melindungimu dan menjagamu. Selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”
Tangis Hua Chang pecah. Ia memeluk Hao Yu begitu erat bahkan melupakan kalau tubuhnya sangat kotor.
“Terima kasih. Terima kasih, Hao Yu.”
Tak lama kemudian, Hua Chang memasuki toilet. Membersihkan dirinya sekaligus mandi. Tubuhnya lengket dan bau. Hua Chang bercermin pada dinding toilet, ada memar di pelipis kanannya dan sudut bibirnya sebelah kiri.
Sebenarnya bukan hanya itu luka ditubuhnya. Seluruh tubuh gadis ini penuh dengan memar dan bekas luka karena sering disiksa oleh ayah dan ibu tirinya.
Hua Chang memandang dirinya di dalam cermin, tubuhnya kurus terbungkus setelan kemeja putih dan celana hitam yang kebesaran. Wajah muram penuh dengan tekanan hidup tergambar di sana.
Setetes air mata lolos begitu saja dari mata hazelnya. Buru-buru Hua Chang menyeka dengan tangannya. Kemudian ia keluar toilet. Di luar toilet, Hao Yu masih menunggunya. Pria itu tersenyum, lalu memperhatikan gadis itu dengan seksama. Meskipun baju yang pakainya sedikit kedodoran, Hua terlihat sangat cocok memakai setelan itu.
“Kau cantik sekali.”
Hua Chang hanya tersenyum. Lalu Hao Yu mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Hua Chang.
Saat di perjalanan menuju lobi.
“Apa kau sudah makan?” Tanya Hao Yu.
Hua Chang hanya menggeleng.
“Mereka menumpahkan makananku.” Jawabnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Hao Yu merasa iba pada kekasihnya yang malang ini. Lalu mengelus kepalanya dengan mesra.
“Kalau begitu temani aku makan.”
“Tapi, jamnya…??”
“Tenang saja, aku akan meminta izin pada Paman.”
“Hao Yu.”
“Ayolah…”
Lalu Hao Yu menarik Hua Chang ke dalam mobil mewah miliknya
Setelah tiba di sebuah cafe, Hua Chang memakan makanan di hadapannya dengan begitu lahap. Dia terlihat seperti tidak makan selama satu minggu.
Hao Yu memandang terenyuh keadaan Hua Chang. Perlahan Hao Yu menyentuh tangan Hua Chang, dan menggenggamnya hangat.
Hua Chang yang sedang tertunduk memandang Hao Yu, pandangan mereka saling bertemu. Ada rasa hangat menjalar di hari Hua Chang. Pria ini selalu bisa memberikan kenyamanan padanya.
“Hua Chang.” Hao Yu menyebut namanya dengan lembut.
“Hua Chang, aku tidak tahan melihatmu terus menderita. Turuti saja kemauan mereka.”
Hua Chang masih diam.
“Hua Chang, serahkan saja kekayaanmu pada ayahmu yang serakah itu, agar tidak disiksa seperti ini. Demi Tuhan, aku takut terjadi sesuatu yang lebih buruk padamu.” Suara Hao Yu terdengar sangat mengkhawatirkan Hua Chang.
“Tapi aku harus mempertahankannya Hao Yu. Ini demi masa depan kita.” Jawabnya dengan tegas.
“Hua Chang, dengar. Aku tidak butuh hartamu. Aku tidak peduli semua itu. Aku masih mampu untuk membiayai hidupmu dengan keringatku sendiri. Tinggalkan keluargamu yang busuk itu dan hiduplah bersamaku. Aku mohon.”
Hua Chang memandang dalam pada manik hitam kelam milik Hao Yu, mencari kesungguhan di sana. Mereka terdiam satu sama lain. Tidak ada kebohongan dalam manik kelam itu, yang ada hanya kekhawatiran.
“Hua Chang.”
Hua Chang memejamkan matanya sekilas.
“Maafkan aku, Hao Yu. Tapi aku harus mempertahankan milikku, peninggalan mendiang ibuku. Jika aku membiarkannya begitu saja, itu akan terlalu mudah untuk mereka. Jangan khawatir.” Hua Chang menggenggam tangan Hao Yu dengan lembut.
“Aku akan bertahan. Sudah sejauh ini, aku tidak akan menyerah begitu saja. Ini tidak akan lama, jadi percayalah padaku.” ucapnya mantap.
Hao Yu terdiam lalu tersenyum. Ada kegusaran yang tersamarkan di balik senyumnya. Sepertinya ia begitu mengkhawatirkan kekasihnya yang malang ini.
“Baiklah, terserah padamu saja.” ucap Hao Yu kemudian.
Mereka pun menikmati makanan dalam keheningan.