bc

ALWAYS ALONE (Completed)

book_age12+
234
IKUTI
1.7K
BACA
sadistic
arrogant
badboy
badgirl
bxg
like
intro-logo
Uraian

Did you know? apa perasaan anak broken home ketika mendengar anak-anak lain bercerita tentang keluarganya yang harmonis, keluarganya yang utuh, kasih sayang yang terpenuhi, makan malam dengan keluarga dan seribu hal lain yang bisa mereka lakukan dengan keluarganya.

lalu, apa yang bisa anak broken home ceritakan tentang keluarganya? keluarganya yang hancur? perceraian? pertengkaran? perslingkuhan? depresi? dan seribu hal lain tentang kehancuran dan kesedihan.

"jangan pernah lo ceritain tentang keluarga lo ke gue! gue muak! apa karna keluarga lo yang utuh dan harmonis maka lo mau pamerin itu ke gue? gue ngga butuh itu b*****t!" ucap Sheila emosi.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOGUE
Gadis cantik itu mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra pengelihatannya. ya dia adalah Sheila yanuar gilbert biasa di panggil Sheila tetapi biasanya sahabatnya menyebutnya dengan panggilan Sheil. Sheila adalah anak dari Haris febrian gilbert dan Tiara bella gilbert. Dengan kulit putih bersih dan tingginya yang lumayan serta mempunyai paras yang cantik membuat Sheila di kagumi oleh hampir semua orang. Sheila tumbuh menjadi sosok yang mandiri, cantik dan di kagumi oleh anak-anak SMAN 1 PELITA  Selain cantik, ia juga pintar tetapi sayangnya ia salah dalam memilih jalan hidupnya.  Disinilah Sheila sekarang, berdiri di depan murid-murid dengan seragam lengkap yang sedang mengikuti upacara. Sheila berdiri di barisan paling depan, iya sendirian. Sheila di hukum karna ia telat masuk sekolah, padahal Sheila berangkat dari apartementnya pukul 07.15 WIB dan sampai disini pukul 07.30 WIB, dimana letak kesalahannya menurutnya.  Sheila sealu berkendara dengan motor sportnya, motor sport yang ia dapatkan ketika ia pertama balapan dan menang! beruntungnya lagi ia tidak tau kalau hadiahnya adalah motor sport yang ia gunakan sekarang. ya dia hobi balapan liar dan hidupnya jauh dari kata keluarga  Saat upacara telah selesai, pak Syarif memanggilnya, mau tidak mau ia harus menghadap ke guru tersebut.  "Kamu ini ngga ada kapok-kapoknya telat terus, saya yang liat kamu telat terus aja capeknya minta ampun." ujar pak Syarif. "yaudah kalo cape ya jangan diliatin terus pa." jawab Sheila santai.  "kamu ini ya ngga ada sopan-sopannya, kalau ada orang tua ngomong itu yang sopan, di dengerin, jangan nyaut terus! sekarang berihkan toilet perempuan lantai satu dan dua." suruh pak syarif. Setelah mendengarkan perintah pak Syarif, sheila pun melangkahkan kakinya pergi dari lapangan itu dengan kesal, sekarang ia harus membersihkan toilet lantai satu dan dua karna suruhan pak Syarif. Guru itu memang terkenal dengan kedisiplinannya, jadi mau tidak mau Sheila harus mengerjakan hukumannya tersebut, pasalnya kalau ia tidak mengerjakan hukuman itu, hukumannya akan semakin berat. Sepanjang koridor, ia memasang wajah kesalnya sampai akhirnya ia tersenyum simpul karna ia bertemu dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat.  "Eh lo... Bobi, sini!" Teriak Sheila dari kejauhan.  Bobi yang merasa namanya terpanggil pun merasa was-was, apakah yang akan ia kerjakan sekarang? membersihkan perpustakaan? membersihkan halaman belakang? atau membersihkan toilet? pikirnya.  "Bersihin toilet perempuan lantai satu sama lantai dua gih, males gue. kalo ngga pa syarif yang nyuruh mah ngga bakal mau geu." ucap Sheila kesal ketika Bobi sudah berada di hadapannya. Bobi langsung mengangguk dengan patuh. Benar saja tebakannya yang terakhir, sekarang ia akan membersihkan toilet.  "Awas aja lo kalo ngga bersih, lo abis sama gue." ucap sheila. kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan bobi. Dan sesuai perintah Sheila, bobi langsung melangkahkan kakinya pergi untuk membersihkan toilet perempuan lantai satu dan dua. ia tidak berani membanta sebab ia tau sheila bukanlah lawan yang sepadan.  kalau sampai-sampai ia tidak menuruti perintah sheila, biasanya ia akan di permalukan dan bisa jadi ia pulang dengan kondisi babak belur.  Sheila melangkahkan kakinya dan memasuki ruang kelasnya, ia duduk di bangku kesayangannya. setelah beberapa menit ia hanya duduk sambil memaniakn iphone nya, ia sangat bosan dengan situasi seperti ini.  "ini kelas ngebosenin banget MasyaAllah, jadi males masuk kelas." gumam sheila yang masih bisa di dengar oleh sahabatnya.  Dan sahabat Sheila adalah Shela dan Amelia. Shela yang mendengar itu pun otomatis memutar bola matanya malas. "lo mah tiap hari juga males kali Sheil. noh liat absen, hampir tiap hari lo bolos terus sampe -sampe tiap hari guru BK nyariin lo tapi ngga ketemu-ketemu." terang Shela panjang lebar.  "dih, kan gue tiap hari berangkat sekolah? mana ada gue males, apalagi guru BK sampe nyariin gitu, lo jangan ngarang Shel." elak Sheila.  Tapi faktanya memang benar, untuk urusan masuk sekoalah, Sheila jarang sekali Alpha.  "Iya berangkat, tapi ngga maasuk kelas kan zeyeng? kalo ngga di warung Ma'e ya larinya ke rooftop." ucap Amel datar.  Good, ucapan Amel sangat tepat yang membuat Sheila tersenyum lebar.  "hapal banget lo mel, pinter banget sih, jadi pengen nabok." Ucap Sheila.  Amel hanya menanggapinya dengan malas. Amel, sahabat Sheila yang sangat suka sekali berbelanja, amel memiliki pipi chubby dannn amel adalah perempuan yang pintar, otaknya mampu di fungsikan dengan baik pada saat ulangan atau ujian. Tetapi sepintar-pintarnya Amel, ia belum dapat menyalip posisi peringkat Sheila pada saat ulangan atau ujian.  Amel bisa akrab dengan Sheila karna Sheila yang mengantarkannya ke ruang kepek pada saat Amel baru pindah ke Jakarta karna ikut papahnya yang pindah ke kota ini. sebelum Amel pindah ke Jakarta, ia adalah orang puwakarta. "Lo kapan tobat Sheil? empat tahun lo terus kayak gini dan lo suka hidup bebas? seharusnya lo mikir, gimana masa depan lo nanti kalo lo masih terus-terusan kaya gini?" Shela menasehatinya secara blak-blakan. memang sejak kelas VII SMP Sheila memutuskan untuk tinggal tidak dengan ayahnya atau ibunya sampai kini ia kels XII.  Shela sahabat Sheila sejak SMP. Sifat shela sangat berbanding terbalik dengan sifat Sheila. shela mempunyai tinggi yang hampir sama dengan sheila dan kulit hitam manis yang shela punya.  "Bacot lo ah. gue keluar ya, biasa." ucap Sheila sambil bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi menuju warung Ma'e untuk bergabung degan anak-anak yang lain disana.  "halo manusia dingin....." teriak Sheil tepat di telinga Faqih dan sheila hanya mendapat tatapan malas dari faqih.  "jangan gitu dong manusia es..." ujar Sheila lagi dan kali ini sembari menoel-noel pipi faqih gemas. faqih yang di perlakukan itu pun hanya diam dan lebih tepatnya ia sangat malas untuk berbicara dan menanggapi hal ini.  anak-anak yang lain di warung ini sudah terbiasa dengan perlakuan sheila yang sangat senang sekali untuk mengoda faqih dan seperti biasa, faqih tidak sama sekali menanggapinya.  Faqih, teman satu tongkrongan dengan Sheila dan ia sekaligus sering menjadi teman balapan Sheila. iya-iya, ngga nyangka kan faqih yang dingin dan pendiam ini suka balapan?  sheila juga belum tau kenapa faqih bisa seperti itu. faqih sangat tertutup tentang hal inik dan sheila juga tidak pernah menanyakan karna ia tau itu privasi seseorang, ia tidak mempunyai hak apapun untuk menanyakannya.  Sheila akhirnya duduk di salah satu bangku warung ini, Sheila mulai mengeluarkan bungkus rokok, ia mengambil satu batang rokok dari bungkus itu dan mulai menyalakan rokokya.  ketika Sheila ingin menyalakan rokoknya dengan korek api yang di bawanya, tiba-tiba sebuah tangan mengambil korek api tersebut. "jangan ngerokok lagi, bahaya." ucap orang itu.  refleks sheila menengok ke sampingnya, ternyata faqih yang mengatakan itu. "lu ngelarang gue ngerokok, tapi lu sendiri juga ngerokok, cih." ucap Sheila. ia tidak suka di atur oleh siapapun.  Faqih diam, kemudian korek api yang tadi di tangannya ia lemparkan ke arah tong sampah. sheila yang melihat itu pun otomatis kesal.  "FAQIH...!!! LO TUH YA!" teriak Sheila.  faqih hanya menaikkan satu alisnya untuk menanggapi Sheila.  "TAU AH, KESEL BANGET GUE HARI INI." gerutu Sheila kesal. padahal lidahnya sudah terasa asam karna tidak merokok. "ADA YANG PUNYA KOREK API LAGI NGGA?" tanya Sheila pada yang lainnya.  "ngga ada" "ngga bawa." "ngga ada." "gue juga ngga ada." "abis tadi. nih mau?" tanya salah satu temannya dengan memberikan korek api gasnya yang sudah habis. sheila yang melihatnya pun kesal. "masa ngga ada semua sih, ngga asik banget kalian." ucap Sheila lagi.  "dih orang emang ngga ada." jawab salah satu temannya.  Sheila pun berjalan menghampiri ma'e. "ma'e ada korek api nga?" tanya Sheila halus.  "duh ngga ada neng, abis tadi." ucap ma'e.  "yaudah maksih ya ma'e." ucap Sheila.  "sama-sama neng." jawab ma'e.  sheila melangkahkan kakinya dengan kesal dan pergi dari warung ma'e.  ketika melihat punggung shiela yang semakin menjauh, tiba-tiba senyum simpul terbit dari wajah faqih. ia berhasil menjahili sheila.  ini semua memang rencananya. ia iseng saja menjahili sheila agar anak itu kesal dan benar saja, rencananya untuk menjahili sheila itu berhasil! ia melangkahkan kakinya menuju rooftop. saat ini rooftop lah tempat yang tepat untuk meredakan kekesalannya, di warung ma'e menjengkelkan dan di kelas membosankan.  ketika sheila pertama kali menginjakkan kakinya di rooftop inni, ia langsung di hadiahi oleh semilir angin yang menerpa wajah cerah nya dan dan rambut sebahu yang ia gerai.  sheila dududk di sofa tua yang lapuk dimakan usia. ia menikmati hebusan angin ini sambil memjamkan matanya dan membuang nafasnya dnegan kasar. tempat inilah yang jadi favorit Sheila. tempat yang berada pada lantai tiga di sekolah sman 1 pelita ini. suasana rooftop yang sepi membuat Sheila betah berlama-lama disini.  udara di siang hari masih sangat segar ketika ia berada disini.  hembusan angin yang selalu menemaninya membawa sang empunya tertidur lelap dan ia sekarang berada di alam mimpi. ketika sang empunya sadar dan terbangun dari tidurnya, ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, ia pun kaget bukan main ketika waktu menunjukkan pukul 15.15 dan itu berarti sudah 15 menit yang lalu para siswa-siswi ini pulang.  sheila langsung berlari menuruni tangga dengan tas yang selalu ada di gendongannya.  sheila pun menuju toilet untuk mencuci mukanya yang masam. kemudian ia melangkahkan kakinya santai menuju ke arah parkiran karna disanalah motor kesayangannya  berada.  sheila memakai helm full face nya dan mulai menyalaka mesin motornya.  ia membelah jalan ibu kota dengan kecepatan rata-rata dan sampai apatrementnya dalam waktu 30 menit karna jalanan kota yang macet membuat ia sedikit mebuang waktunya untuk ikut terjebak dalam kemacetan kota yang sudah menjadi rutinisas kota setiap harinya. sheila membuka apartementnya dengan pin yang ia hapal di luar kepala. seperti empat tahun terakhir, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah hampa dan ksosnng.  sheila diam beberapa detik di depan pintu sebelum ia membuang nafasnya dengan kasar dan masuk ke apartementnya. setelah mengganti bajunya dan mengisi perutnya, kini Sheila sedang bersantai-santai di ruang TV. dan tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk dan mengganggu acara menonton TV nya. mau tidak mau Sheila menggambil iphone nya yang berada di meja Tv dan membuka untuk mengetahui siapa yang mengirimpesan itu.  from : faqih club "yes." ucap Sheila girang. pasalnya ia sudah sngat lama tidakk kembali ke tempat itu.  sekarang waktu menunjukkan pukul 19.05 dan biasanya faqih menjemputnya pukul 20.00 dan itu berarti ada waktu kurang lebih satu jam lagi untuk ia bersiap-siap. sheila segera menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, 15 menit berlalu ia sekarang sedang memoleskan make up tipis ke wajahnya. kali ini pilihan sheila terjatuh pada dress warna merah maroon dan high heels nya yang berwarna hitam dan rambutnya yang ia gerai membuat sheila sangat dewasa dengan tampilan seperti ini.  setelah selesai bersiap-siap ia pun menunggu faqih di ruang Tv, dan tida berapa lama, sekarang faqih sudah berada di depan apartementnya. sheila langsung membukakan pintu apartementnya ketika faqih datang.  "langsung berangkat?" tanya Sheila.  faqih pun mengangguk sebagai sebuah jawaban.  ketika sheila memeilih dress warna merah maroon sedangkan faqih memilih kaos hitam polos dengan jeans warna putih dan sneakers warna hitam dan tidak lupa arloji yang setia melingkar di pergelanan tangannya.  20 menit berlalu, kini mereka sudah sampai di area club. setelah memarkirkan mobilnya, sheila dan faqih pun berjalan beriringan untuk memasuki club. selama perjalanan sampai sekarang, tidak ada yang membuka suara sama sekali.  mereka memasuki club. mereka adalah member club ini jadi wajar saja kalau scurity tidak perlu repot-repot memeriksa mereka berdua.  ketika sheila dan faqih duduk di hadapan bartender, awalnya mereka sama- sama minum sampai-sampai sheia memandang ada yang janggal dengan faqih malam ini, pandangannya jelas mengarah kedepan, sorot matanya mengartikan sesuatu yang sheila senidi tidak tau apa itu. sheila hanya meminum 3 gelas vodka , sedangkan faqih habis belasan vodka.  "UDAH QIH..LO UDAH HABIS BELASAN GELAS." Teriak shiela di telinga faqih karna suaranya kalah telak dengan suara musik disini.  faqih menghiraukan teriakan sheila di telinganya. yang penting ia harus menghilangkan beban fikirannya saat ini.  "FAQIH!!! lo bisa tepar kalo kayak gini!!!" teriak sheila lagi.  faqih pun lagi-lagi mengiraukan shila. kejadian tadi masih terus terputar di otaknya.  "tambah lagi" ucap faqih kepada bartender itu. ini sudah ke sekian gelas vodka yang faqih teguk.  "nggak! jangan!." sheila memberikan sejumlah uang kepada sang bartender untuk membayar semua minuman mereka.  sheila menarik tangan faqih untuk keluar dai club itu. "qih kita pulang ya." ucap sheila kemudian sheila mengalungkan lengan faqih ke pundaknya dan sheila  memapah faqih untuk keluar dari club itu.  "qih lo kenapa." tanya sheila di batinnya ketika faqih lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya.  sheila mengambil kunci mobil yang ada di saku faqih dan memasukkan faqih yang sedari tadi merancau tidak elas ke mobil' sheila juga tidak lupa memasangkan seat beltnya kepada faqih. walaupun sheila juga sedikit pusing karna ia juga minum tadi, tetapi ia dapat mengendarai mobil ini dengan sedikit ugal-ugalan  "gue ngga punya keluarga lagi"  "keluarga gue udah hancur hahaha." faqih tertawa keras seakan menhina dan merendahkan dirinya sendiri. "gue ngga punya siapa-siapa."  "gue ngga punya siapa-siapa." lirih faqih. kemudian diam, tidak ada suara lagi dari faqih. sheila melirik faqih, ternyata ujung mata pria itu mengeluarkan air mata yang berarti faqih menangis? hati sheila sakit, sangat sakit mengetahui ini.  sabahat baiknya mengalami hal yang sama dengannya? ia menarik kesimpulan bahwa baru saja orang tua faqih bertengkar dan mengatakan kalau mereka memutuskan untuk bercerai,sama sepertinya dulu.  tiba-tiba air mata sheila meluruh begitu saja ketika melihat keadaan faqih hancur, sama sepertinya.  semua manusia itu sama, sama-sama mempunyai masalah dan beban, jika kamu tidak kuat menahannya biarkan air mata yang berbicara.  flashback on.  empat tahun yang lalu...... "saya ingin bicara." ucap seorang wanita kepada suaminya.  "ya? ada apa?" tanya nya.  "aku ingin kita pisah." ucapnya lagi dengan kepala menunduk.  pria itu kaget dengan apa yang di ucapkan istrinya itu. "tapi kenapa? ada apa?" tanya nya halus sambil menggenggam erat kedua tangan istrinya.  "aku sudah mencintai pria lain, dan kami akan segera menikah. aku mohon ceraikan aku." ucapnya penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca. deg! seketika pria itu bangkit dan menampar istrinya dengan keras dan semua barang-barangnya pecah tidak beraturan.  pria itu menjambak rambutnya frustasi. "KAMU MAU NINGGALIN SHEILA HAH!!?" Teriak pria itu emosi.  "aku ngga bermaksud ninggalin anak kita tetapi aku sudah nyaman dengan pria lain dan kami akan segera menikah dalam waktu dekat. aku mohon mas ceraikan aku." ucap wanita itu dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.  dan tamparan kedua pun melayang lagi di pipi wanita itu. "KAMU INI IBU MACAM APA HAH!! KAMU NGGA MIKIRIN NASIB SHEILA GIMANA KALAU NGGA ADA IBUNYA DISINI. t***l, saya tau kamu menangis itu palsu.." ucapnya sambil menampilkan senyum miringnya. Setelah mengucapkan itu, pria itu pun bangkit dan meninggalkan istrinya yang menangis tersedu-sedu.  sedangkan di sisi lain, gadis 13 tahun itu mendengar semuanya, semua percakapan dan perdebatan orang tuanya. dan mulai saat itu gadis itu bertekad untuk menghidupi dirinya sendiri. gadis itu menangis dala diam sembari mememluk lututnya dan terduduk di balik pintu. sekarangg ia tidak punya siapa-siaa lagi untuk menceritakan keluh kesahnya, keluarganya hancur, sangat hancur.  flashback off __________ sheila menyeka air matanya yang terus mengalir, sedangkan faqih sudah tertidur di sampingnya. bagaimana keadaan orang tuanya sekarang? apakah mereka baik-baik saja? sudah empat tahun Sheila meninggalkan mereka dengan cara kabur dari rumah setelah kejadian terburuk di hidupnya itu terjadi. tetpi apakah mereka menyayangi sheila? apakah mereka sudah bahagia dengan keluarga mereka msing-masing? tiba-tiba pertanyaaan-pertanyaan itu mencul di benaknya.  setelah sheila sampai di apartementnya, sheila membawa faqih ke apartementnya karena ia tidak mungkin membawa faqih ke rumah faqih. karna ia tidak mau melihat orang tua faqih sedih karena melihat anaknya dengan keadaan seperti ini. dan beruntungnya apartement yang sheila punya ini memiliki dua kamar, jadi faqih bisa tidur di kamar yang tidak terpakai oleh sheila.  ketika sheila sudah berhasil memapah faqih dan membaringkannya di kasur yang ada di kamar sebelahnya, ia diam dan menatap wajah faqih lekat. ia tau betapa hacurnya hati faqih sekarang, betapa banyak beban di pikirannya sekarang tetapi melihat faqih yang tidur dengan damai pun membuat sheila tersenyum miris. "jadi ini alasanlo ngajak gue ke club qih? kalo gue tau lo bakal mabok sampe kaya gini, gue ngga bakal mau." lirih sheila.  sheila pun meninggalkan kamar yang di tempati oleh faqih dan menuju kamar miliknya, ia segera membersihkan dirinnya dan menyusul faqih ke alam mimpi.  ......... sheila terbangun dari tidurnya pukul 06.03 dan biasanya ia akan terbangun pada pukul 07.00. sheila memutuskan untuk tidak sekolah hari ini karna ia ingin maas-malasan di apartementnya.  setelah membersihkan dirinya, sheila memutuskan untuk memebuat sarapan untuk dirinnya dan faqih. hari ini mungkin ia akan memasak nasi goreng saja untuk sarapannya.  faqih mengerjapkan matanya, kepalanya sangat pening. dimana ia sekarang? kenapa kamar ini sangat asing untuknya? ntahlah rasa ingin tahunya terkalahkan oleh bau harum yang di yakini faqih itu berasal dari dapur. dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki faqih, ia berjalan menuju ke arah dapur sambil menahan pusing di kepalanya.  dilihatnya seorang gadis cantik yang sedang memunggungi dirinya dan seseorang itu sedang memeasak. satu kata yang ada di pikiran faqih tentang gadis itu adalah cantik. ia sangat cantik dengan kaos oblong warna putihnya dan hotpants dan rambutnya yang di cepol dan berantakan, ia sangat cantik dan bahkan sedari tadi faqih tidak berhenti mengembangka senyumnya.  ketika sheila selesai memasak, ia berniat membangunkan faqih tetapi ktika ia berbalik badan, ia sedikit kaget mendapati faqih yang sekarang ada di hadapannya dan.. dia tersenyum! faqih tersenyum ke arahnya sehingga sheila hanya bisa tersenyum kikuk.  "mungkin ini efek vodka semalem." batin sheila.  "pagi.. lo cantik.." ucap faqih menyapa sheila.  sheila sangat bingung dengan sikap faqih yang tidak seperti  biasanya ini.  "pagi juga qih, sarapan dulu yuk." ajak sehila yang di angguki oleh faqih.  "tapi lo cuci muka sama gosok gigi dulu sana." suruh sheila lagi.  faqih pun kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan emnggosok giginya, setelah selesai ia langsung bergabung dengan sheila di meja makan. mereka memakan makanannya dalam diam dan setelah selesai makan sheila membereskan piring mereka yang di bantu oleh faqih.  setelah itu mereka memilih duduk di sofa untuk menonton siaran televisi.  setelah cukup lama tidak ada suara, sheila pun berinisiatif utuk membuka pembicaraan.  "lo sebenernya selamen kenapa?" tanya sheila kepada faqih.  faqih yang sedang serius menonton acara televisi pun menengok ke arah sheila ketika sheila mengatakan hal tersebut.  "emang gue kenapa? gue ngga papa." jawab faqih datar.  sheila tau, sheila tau bahwa faqih sekuat tenaga mengontrol emosinya dan terus menampilkan wajah datarnya.  "gua balik." ucap faqih tiba-tiba, kemudian ia bangkit dari duduknya dan akan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan apartement ini sebelum sheila menggagalkan niatnya.  "orang tua lo cerai kan?" tanya sheila to the point.  "ngga usah sok tau." ucap faqih dingin.  "ck.. gue tau. kalo orang tua lo ngga cerai ngga mungkin lo ngajakin gue pergi ke club kemaren dan lo ngga mungkin minum sampe mabok kaya tadi malem." sheila sengaja mengatakan itu agar pria ini tidak perlu membohonginya lagi.  sheila berdiri dan mendekati faqih. ia memeluk pria itu dan faqih menangis, ia menangis dalam pelukan itu. memang tidak ada isakan yang keluar dari bibir pria itu tetapi sheila dapat merasakannya ketika bhu sheia sudah basah karna air mata faqih.  aqih pun melepaskan pelukannya. sheila bisa melihat mata pria itu merah.  "gue banci banget ya? masalah segini doang nangis." ucap faqih diiringi tawa hambarnya.  "kata siapa lo banci? nangis itu normal kok. ketika lo sedih ya lo boleh nangis, kalo lo ngga kuat nahan beban di pikiran lo atau apapun itu, lo boleh nangis kok, emang nangis itu buat kita lebih baik kok setelahnya. jadi ngga usah namain diri lo sebagai banci hanya karna lo nangis doang." ucap sheila panjang lebar.  "gue ngga punya keluarga lagi." ucap faqih lirih.  "tapi lo masih punya gua qih, lo ngga usah ngerasa sendirian. gue disini ada untuk lo." ucap shela lagi.  "makasih shei. geu pulang dulu, bay the way nas goreng buatan lo enak, lo juga cantik." ucap faqih sambil terkekeh.  "ishh apaan sih lo, sana pulang." jawab sheila salah tingkah sambil mendorong bahu pria itu agar segera pergi meninggakan apartementnya.  "iya-iya gue pulang ini.' jawab faqih masih dengan kekehannya. dan setelah itu faqih benar-benar beranjak pergi meningglkan apartement itu.  _______ karna sheila libur sendiri hari ini. jadilah dia bermalas-malasan di apartementnya. sempat terlintas di fikirannya untuk menyuruh amel dan shela untuk pergi ke apartementnya tetapi shiela mengurungkan niatnya itu mengingat shela dan amel adalah anak yang baik dan tidak mungkin amel dan shela meloncati pagar belakang atau membohongi pa satpam karna itu akan sangat buruk.  karna sheila sangat bosan jadilah ia memejamkan matanya di sofa dan beberapa menit kemudian ia benar-benar tertidur.  sementara di tempat lain... "kamu darimana aja qih?" tanya wanita paruh baya dengan wajah cemasnya ketika melihat anak sematawayangnya itu pulang.  sementara faqih hanya diam. diam dan terus melangkah melewati mamahnya.  "Qih, kamu harus ikhlasin semua ini." ucap mamahnya lirih.  faqih menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap mamahnya. "tapi aku ngga mau keluarga ini hancur mah!" bentak faqih kepada mamahnya dengan nafas yang menderu karna menahan emosi.  "tapi papah udah memeilih jalan hidupnya sendiri nak, biiarin papah bahagia..." ucap mamahnya sembari mengeluarkan air mata.  faqih yang melihat mamahnya menangis itu pun langsung memeluknya. "maafin faqih mah." ucap faqih. "tapi kalau keluarga ini hancur, faqih juga ikut hancur mah." ucap faqih lagi dalam pelukannya.  "sabar sayag... semuanya akan baik-baik aja nanti.. kamu hanya belum terbiasa dnegan ini, mamah mohn jangan benci papah ya." ucap mamahnya setelah melepaskan pelukannya.  faqih menggelengkan kepalanya, kemudian ia meninggalkan mamahnya. faqih berjalan menuju kamarnya dan ia membanting pintu kamar itu dengan keras.  rasanya semuanya tidak masuk akal di pikirannya. ini keyataan yang terlalu pahit untuknya. pasalnya ia tidak pernah melihat orang tuanya bertengkar.  BRAKKKK!!! Faqih memukul cermin besar yang ada di depannya. ia membanting apapun yang ia lihat. sekarang tangannya sudah di penuhi dengan darah.  "arghhhhh b*****t!!" teriak faqih frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.  faqih langsung menyambar jaketnya dan kunci motornya. dan berjalan meninggalkan kamarnya.  "kamu mau kemana nak?" "faqih kamu mau kemana!?" "tangan kamu kenapa sayang?" tanya mamahnya sambl memgang tangan faqih. tapi faqih mengibaskannya dan terus berjalan menuju pintu rumahnya dan keluar dari rumah itu.  "faqih obai dulu tangan kamu nak."  "FAQIH!!!" Teriak mamahnya.  tapi faqih terus berjalan meninggalkan rumahnya tanpa memperdulikan mamahnya yang sudah menangis terduduk disana.  bukannya faqih bermaksud durhaka kepada mamahnya dan tidak sayang kepada mamahnya, tetapi ia butuh waktu untuk sendiri dan butuh waktu untuk menerima bahwa faktanya saat ini keluarganya hancur.                                                                                  tbc                                                                                   .                                                                                   .

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pinky Dearest (COMPLETED) 21++

read
306.2K
bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
81.9K
bc

To Reach You (Carina Love Story)

read
150.4K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.8K
bc

Sweet Sinner 21+

read
930.2K
bc

I LOVE YOU HOT DADDY

read
1.1M
bc

HYPER!

read
643.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook