Bab 22 Jam 4 sore setibanya Arya dan Dinar di rumah sakit, Arya begitu tergesa berjalan menuju ruangan sang papah. Beberapa pertanyaan yang Dinar layangkan tak ada satu pun yang ia gubris. Meski resah dan sedikit kesal, Dinar tetap bisa memakluminya karena jika boleh ia menebak pasti ada sesuatu yang terjadi setelah Arya menerima telepon tadi. Sekitar 10 menit setelah Arya dan Dinar berada di depan pintu ruangan ICU, keluarlah dokter dan dua perawat di belakangnya. “Dok, saya Arya, anak dari pasien yang bernama Harun. Bagaimana kondisi Papah saya sekarang, Dok?” tanya Arya. Berbagai macam perasaan menyelimuti dirinya. Cemas, khawatir, takut dan bingung, semua rasa seakan campur aduk menjadi satu tatkala dokter di hadapannya ini meminta dirinya untuk berbicara empat mata secara langs

