Mata Dinar mengerjap berkali-kali saat baru keluar dari pintu rumahnya, pagi ini apa ia tak salah melihat sosok lelaki yang sudah menunggunya di depan gerbang. Dinar mempercepat langkahnya, ia setengah meneriaki nama lelaki itu dengan senyuman lebar yang terpatri jelas di wajahnya. “Arya, kamu—“ “Iya, aku udah mulai masuk. Tadi malam Papah siuman,” Arya memotong. Mata Dinar berbinar, ia nampak begitu senang mendengar kabar baik ini. “Alhamdulilah, aku bahagia banget dengar kabar ini.” Arya hanya tersenyum tipis lalu matanya beralih memandang teras rumah panti. “Bu Lasmi sama anak-anak baik, kan?” “Mereka baik-baik aja.” “Ya, udah, burun naik. Peluk juga biar lebih aman.” Dinar berdecak tanpa Arya s

