Sedari tadi makanan yang ada di piring Dinar hanya ia biarkan tergeletak di atas meja saja, tak ada niatan sedikit pun untuk Dinar sentuh apalagi memakannya. Matanya menatap kosong ke depan, sedangkan pikirannya masih berkecamuk tentang seseorang di balik penyumbang dana panti yang tak sengaja ia lihat beberapa hari yang lalu. Dalam benaknya timbul pertanyaan, siapakah orang itu? Mengapa juga dia harus sembunyi-sembunyi memberikan sumbangan itu? Dan mengapa juga pada malam itu saat Dinar memanggilnya, ia malah lari. Padahal Dinar hanya ingin mengucapkan kata terimakasih saja. “Dinar,” panggil seseorang, namun Dinar masih berlayar dalam pikirannya sendiri sambil menopang dagu dengan tangannya di atas meja. “Dinar.” Panggilan kedua tetap ta

