“Halo?”
“....”
“Oke, gue ke sana sekarang.”
Arya menutup sambungan teleponnya, memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku celana. Kakinya bergerak menuju lemari, mengambil kaos putih dan jaket hitam untuk membungkus tubuhnya yang masih bertelanjang d**a. Segera ia ambil kunci motor lalu berlari dengan tergesa ke luar kamarnya agar bisa cepat sampai garasi.
“Mau ke mana?” Pertanyaan bernada dingin dari seorang pria paruh baya itu membuat langkah Arya terhenti. Ia membalikkan tubuhnya lagi, berjalan pelan mendekati pria berkacamata yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran.
“Aku mau ke rumah teman dulu, Pah,” jawab Arya santai.
Harun menutup korannya secara kasar, beralih menatap wajah Arya yang berada di depannya dengan tajam. “Masuk kamar!” bentak Harun seraya mengangkat tangan kanannya yang mengarah ke atas, kamar Arya.
“Apa, Pah? Masuk ke kamar? Iya, nanti pasti aku masuk ke kamar ko.” Tak ada raut wajah takut yang Arya tampilkan, ia terlihat begitu tenang menanggapi sikap keras papahnya.
Harun bangkit dari tempat duduknya, menatap lekat Arya dengan rahang yang mengeras.
Plak
Satu tamparan keras Harun layangkan ke wajah Arya. Kakinya bergetar hebat saat ia menurunkan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menampar wajah anaknya.
Arya memegang wajahnya yang memerah akibat tamparan tadi. Tanpa mengaduh sedikit pun, senyuman miring terukir begitu jelas di wajahnya. “Makasih, Pah, buat tamparannya,” ujar Arya.
Sebentar saja ia menatap mata Harun yang membulat merah, kemudian ia melengos tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada Harun.
“Arya! Dasar anak ga tahu diuntung!” umpat Harun dengan nada yang meninggi.
***
Motor yang dikendarai Arya saat ini sudah melaju dengan kecepatan kencang, Arya tak peduli lagi dengan bunyi klakson pengendara lain yang merasa terganggu karena aksi kebut-kebutannya di jalan raya. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana dirinya bisa segera sampai ke tempat yang ia tuju.
Dua puluh menit berlalu, setelah beradu nyawa di jalanan akhirnya Arya sampai di rumah yang memiliki gerbang besar dengan dua satpam yang menjaganya.
“Den Arya?” tanya satpam dari balik celah gerbang.
Arya menurunkan kaca helmnya. “Iya, Pak, ini saya.” Ucapan Arya membuat satpam tersebut dengan cepat membuka pintu gerbang besar dan mempersilakan Arya untuk masuk ke dalam rumah.
Arya sudah memarkirkan motor yang dirinya pakai tadi. Kakinya melangkah panjang memasuki rumah tanpa permisi. Menaiki anak tangga yang cukup panjang dengan ritme cepat menuju rooftop.
Tepat saat Arya sudah berada di ambang pintu masuk rooftop, ia menjatuhkan pandangannya pada seorang lelaki yang terduduk di sofa sambil memangku gitar.
Bayu menoleh ke arahnya, gitar yang semula ia pangku, kini dipindahkan ke sampingnya. “Motor lo aman, udah bisa dipake.” Bayu melempar kunci motor yang dengan sigap ditangkap oleh Arya. “Dan ini, bayaran lo.” Bayu menunjukkan amplop cokelat muda tebal lalu menggeserkannya ke meja.
“Thanks banget, Bay. Kalau ada event kaya gini lagi, kasih tahu gue,” balas Arya. Ia mengambil amplop tersebut dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
“Dua minggu lagi bakalan ada,” sembur Bayu yang membuat Arya langsung menatapnya dengan sebelah alis yang ia naikkan. “Gue bisa dapet berapa?”
“50 juta!”
Arya membelalakan matanya, mulutnya mengatup rapat. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bayu. “Serius, lo?” tanyanya.
Bayu tertawa meremehkan, “Kapan gue bohong masalah kaya gini?” Bayu balik bertanya sambil menyesap kopi yang tampaknya sudah dingin.
Arya hanya mengedikkan bahunya acuh, ia mengambil kunci motor dari dalam saku celananya lalu menyodorkan kunci tersebut kepada Bayu. “Tuh, kunci motor lo. Gue balik, ya.” Ketika Arya akan bangkit dari tempat duduknya, Bayu menahan tangan Arya. “Mau ke rumah Dinar?”
Dengan tatapan risi Arya menyibakkan tangan Bayu. “Menurut lo?” Kemudian, Arya melengos berjalan dengan santai meninggalkan Bayu yang masih duduk di sofa.
“Woy! Jangan lupa, besok gue titip absen,” pekik Bayu yang hanya dibalas acungan jempol oleh Arya tanpa membalikkan badannya lebih dulu.
***