Ruangan bernuansa putih dengan gorden hijau yang menutupi jendela kamar menjadi tempat Arya kini berada. Menunggu sang papah yang masih terbaring dari semalam sampai ia terlelap damai di samping tempat tidur Harun. “Ar-ya.” Suara serak dan parau yang keluar dari mulut Harun membuat Arya perlahan membuka matanya yang masih begitu berat. Arya mengangkat kepalanya. Mencoba menegakkan posisi duduknya lalu mengusapkan tangannya pada mulut, takut sekiranya ada air liur yang keluar saat dirinya tertidur tadi. Wajah pucat dengan sorot mata sayu kini tergambar jelas di depan mata Arya. Tubuh yang terlihat kuat, saat ini hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur yang ukurannya jauh lebih kecil dari tempat tidurnya di rumah. “Kamu ada jadwal kuliah?” tanya Harun pada Arya. Arya menggeleng

