Pukul 11.00 malam di sebuah apartemen mewah seorang lelaki berusia 24 tahun yang hanya mengenakan celana tidur berbahan katun dan kaos oblong putih, tengah menyesap perlahan secangkir kopi hitam panas. Asap tipis yang mengepul dengan mengeluarkan aroma khas kopi begitu mewarnai seisi ruangan. Ia menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan malam gulita dari dalam aprtemennya setelah seharian berkutik dengan laptop dan tumpukan berkas yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Namun belum lama ia beristirahat, ketenangannya sudah terganggu saat sayup-sayup ia dengar suara ketukan tumit sepatu di lantai yang perlahan semakin dekat ke arahnya. “Ah, s**t! Perempuan jalang itu lagi. Mau apa dia ke apartemenku malam begini?!” umpatnya. Lelaki itu memicingkan mata saat ada dua buah tangan

