bc

Babysitter Istri Pilihan Anakku

book_age18+
282
IKUTI
4.0K
BACA
family
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
boss
stepfather
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
kicking
bold
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

"Nala mau mama, pokoknya Nala mau mama!" Jeritan nyaring seorang anak perempuan terdengar memenuhi kamar mewah milik Darrel Atmadja. Gadis berusia lima tahun itu merajuk, menginginkan seorang ibu. Darrel memijit pelipisnya. "Nala, cari mama itu nggak kayak kamu beli mainan. Papa butuh mempersiapkan banyak hal. Latar belakang, pendidikan, sikap, keluarga dan yang lainnya!" "Ngapain repot-repot nyari? Kan ada Mbak Mala. Dia bisa jadi mama buat aku. Lagian, papa biasanya juga nyusu ke Mbak Mala kan?!"

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Nala Si Anak "Setan"
Darrel baru saja kembali dari kantor, melihat area rumah yang tampak sepi. Irene yang sedang membereskan mainan menoleh melihat majikannya datang. "Nala mana, Ren?" "Ada di kamar, Tuan. Habis porak porandakin isi rumah," jawab Irene sembari terkekeh. Pria itu kemudian duduk di sofa, melepaskan dasi dan sepatunya. "Malam ini ada tamu. Tolong siapin makan malam yang enak, ya!" ujar Darrel lagi. Irene mengangguk. "Iya, Tuan. Masak apa aja, 'kan?" "Hm, apa aja." Irene tak menjawab lagi, ia hanya fokus membersihkan mainan Nala. Sementara itu, Darrel meneriaki putrinya. “Nala, sini sebentar!” panggilnya ke arah kamar anaknya. Seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua muncul dari balik pintu kamarnya. “Apa, Pa? Aku lagi main sama Barbie, nih,” jawabnya sambil membawa boneka tanpa kepala dengan cairan merah di leher Barbie itu. Darrel memijat pelipisnya. "Kamu apain Barbie itu?" tanyanya. "Oh, aku main kurban-kurbanan sama mbak di kamar. Karena nggak punya boneka kambing, jadi aku sembelih barbienya," balas Nala dengan cengengesan. "Ada-ada aja kamu ini!" "Papa ngapain panggil Nala?" tanya Nala. “Papa kedatangan tamu malam ini. Tamu yang ... spesial. Jadi tolong bersikap sopan, ya.” Nala melipat tangannya di d**a, matanya menyipit curiga. “Tamu itu pacar baru Papa lagi?” Darrel tersenyum canggung. “Bisa dibilang begitu." "Cantik, nggak?" Darrel mengangguk. "Cantik, baik. Kamu pasti suka sama dia.” Nala menaikkan alisnya. “Kita lihat saja, Pa. Nala juga mau dia suka sama Nala," katanya dengan menyunggingkan senyum culas. *** Satu jam kemudian, suara bel berbunyi. Darrel membuka pintu, dan di sana berdiri Livia, seorang perempuan cantik dengan gaun merah yang anggun. Ia tersenyum manis, sambil memegang sekotak cokelat. “Hai, Darrel,” sapa Livia lembut. “Hai, Livia. Masuk, yuk!” jawabnya. Livia melangkah masuk dengan anggun. Matanya segera menangkap sosok Nala yang sedang duduk di sofa dengan wajah serius, seperti juri lomba modeling. “Hai, kamu pasti Nala, ya? Tante Livia bawa cokelat buat kamu, loh,” katanya sambil menunjukkan kotak cokelat itu. Nala memiringkan kepala, menatap Livia dari ujung kepala sampai kaki. “Tante nggak pakai parfum?” tanyanya polos. Livia mengangguk. “Pakai kok, Sayang. Kenapa?" Nala mengendus pelan, lalu berkata dengan wajah polos, “Baunya kayak lem tikus.” Darrel tersedak udara, sementara Livia terdiam, wajahnya mulai memerah. “Nala!” tegur Adrian cepat. “Apa, Pa? Aku cuma bilang yang sebenarnya,” jawab Nala sambil mengangkat bahu. Livia berusaha tertawa canggung. “Ah, anak kecil memang jujur. Aku kayaknya salah pakai parfum.” "Maklum, ya. Nala memang kadang suka ngomong sembarang," kata Darrel. "Maklum, dia tumbuh tanpa sosok ibu." Livia tersenyum. "Aku paham, Rel. Pasti berat buat kamu merawat anak sendirian. Apalagi, dia perempuan." Darrel tersenyum tipis. "Itulah kenapa aku menyetujui permintaan ayahmu untuk memulai hubungan. Ya, aku pikir Nala akan mendapatkan sosok ibu." "Nala punya ibu kok. Tante Irene udah kayak ibu Nala." Nala berkata dengan nada tak suka, melirik ayahnya dengan tatapan tajam. "Ya, tapi kan beda, Nala. Irene kan babysitter, bukan ibu." Darrel menjawab dengan lembut. "Kalau gitu, nikahin aja Tante Irene biar dia jadi ibunya Nala!" Darrel menatap ke arah lain, menghindari ucapan putrinya itu. Ia paham, jika diteruskan, Nala akan semakin membahas banyak hal. Tak lama kemudian, Irene datang. "Tuan, makan malam sudah siap," katanya dengan lembut. Livia menatap seksama wanita itu. Cantik, putih dan wajahnya juga kalem. Ia pun memperhatikan wajah Nala yang langsung berubah ketika wanita itu datang. "Tante Irene masak sup, 'kan?" tanya Nala dengan riang. Irene mengangguk. "Iya. Katanya Nala mau makan sup." Nala kemudian tersenyum sinis ke arah Livia yang membuat wanita itu menelan ludah dengan kasar. “Mari kita makan dulu,” ajak Darrel. Nala segera berdiri dan berlari ke meja makan, diikuti Darrel dan Livia. Gadis kecil itu duduk di ujung, sementara Livia duduk di sebelah Darrel. Meja makan dihiasi dengan sup ayam hangat, nasi, dan lauk lainnya. “Tante Irene masaknya enak banget, loh,” kata Nala sambil menatap Livia tajam. "Tante Livia harus coba." “Wah, iya kah? Itu bagus. Tante juga suka masak loh,” jawab Livia sambil mengambil sendok sup. Namun, begitu Livia menyeruput supnya, wajahnya langsung berubah. Matanya membelalak, dan dia mulai batuk-batuk. “Aduh... ini... pedas sekali!” Nala memasang wajah tak bersalah. “Oh, Tante nggak suka pedas, ya? Padahal aku cuma kasih bumbu spesial." Darrel menyodorkan segelas air pada Livia, namun gadis itu segera menyemburkan lagi airnya. "Ini air apa, Darrel!" katanya dengan wajah marah. "Astaga!" Irene segera berlari mengambil air minum di dapur dan memberikannya pada Livia. "Ini air minum, Nona," katanya. Livia menerima air itu dan meminumnya, meredakan rasa terbakar di dalam mulut. "Kenapa pedas sekali sup ini?" "Pedas?" tanya Irene. Ia yang merasa penasaran pun segera mencicipi sup dari mangkuk Livia. Matanya seketika terbelalak merasakan pedas nya lada dari sup itu. "Alah, pedes gitu doang! Nggak akan bikin Tante masuk rumah sakit," sewot Nala. Irene, yang mendengar itu, menatap Nala curiga. “Nala, apa kamu menambahkan lada di sup ini?” Nala mengalihkan tatapannya ke arah lain, membuat Irene dan Darrel saling tatap. Mereka paham bahwa itu adalah ulah dari putri kesayangan Darrel itu. "Kamu masak sup ini, Nala?" tanya Livia dengan wajah memerah. “Irene yang masak, tapi aku bantu sedikit,” jawab Nala cepat. “Papa selalu suka kalau aku tambahin ‘bumbu cinta’.” Darrel menahan tawa, sementara Livia menatap Nala dengan rasa kesal. *** Tak tahan, Livia meminta izin untuk ke kamar mandi. Irene membawa Nala ke dapur untuk membereskan kekacauan. Sesampainya di dapur, Irene segera mengomel. "Nala, lain kali kamu nggak boleh kayak gitu. Gimana kalau tadi tamu papa tersedak? Dia bisa masuk rumah sakit!" "Alah, dianya aja yang lemah." "Nala, nggak boleh ngomong kayak gitu! Tante Irene gak pernah ngajarin kamu kayak gitu." Irene berkata dengan tegas. Nala menundukkan kepalanya. "Maaf, Tante!" Irene kemudian menghela nafas dan berjongkok di hadapan gadis mungil itu. "Lain kali, kalau kamu nggak suka sama tamunya papa, kamu bilang sama papa kamu, ya. Kalau kayak gini, kamu sendiri yang kena batunya nanti." Nala mengangguk. Ia kemudian menuju tempat duduk di dapur itu. "Nala di sini deh. Liatin Tante Irene nyuci." Irene tersenyum. "Ya sudah, duduk yang anteng di situ. Abis ini kamu minta maaf sama Tante Livia, ya?" Gadis kecil itu terdiam. Namun, Nala punya rencana lain. Begitu Irene sibuk mencuci, dia menyelinap ke halaman belakang lalu kembali dengan kantung hitam. Ia kemudian masuk ke kamar mandi yang akan digunakan Livia. "Rasakan ini, Nenek Lampir!" Nala melepaskan isi dari kantung hitam itu melalui celah pintu. Tak lama kemudian terdengar suara jeritan nyaring yang membuat Nala langsung melarikan diri. “Darrel! Tolong!” Darrel berlari ke kamar mandi dan membuka pintu itu dengan kasar. "Ada apa Livia?" Livia kemudian melompat ke gendongan Darrel. "Ular. Ada ular!" jeritnya. "Mana?" tanya Darrel. "Itu, di belakang itu!" tunjuk Livia pada sudut kamar mandi. Darrel kemudian mendekat dan mengambil mainan ular itu dan menunjukkannya pada Livia. "Ini mainan!" Livia menatap Darrel dengan tajam. “Oh my god, anakmu benar-benar seperti anak setan!” Darrel menatap Nala, yang berdiri di pojok ruang tamu dengan bonekanya, berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Nala, ini melakukan kamu kan?" tuduh Darrel. “Aku nggak tahu apa yang Tante Livia maksud, Pa. Aku cuma main Barbie.” *** Setelah insiden di kamar mandi, Livia memutuskan untuk pergi. Sebelum keluar rumah, dia berbisik pada Darrel, “Maaf. Aku nggak bisa. Anakmu terlalu sulit untuk ditangani.” Darrel hanya bisa mengangguk pasrah. Begitu Livia pergi, Darrel berbalik ke arah Nala, yang sedang menggambar di buku sketsanya. “Nala,” panggilnya dengan suara rendah. “Ya, Pa?” jawab Nala tanpa mengangkat kepala. “Apa kamu sengaja bikin Tante Livia kabur?” Nala menaruh pensilnya, menatap papanya dengan serius, lalu berkata, “Aku cuma tes, Pa. Kalau Tante Livia nggak takut mainan itu, dia pasti lulus jadi mama aku.” Darrel mengusap wajahnya, bingung antara marah atau tertawa. “Irene, bantu aku hadapi anak ini,” katanya sambil melirik Irene, yang berdiri di dapur sambil menahan senyum. “Saya sudah bilang dari dulu, mungkin Nala nggak butuh ibu baru. Dia cuma butuh perhatian lebih dari ayahnya,” jawab Irene dengan nada lembut.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.6K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook