Bab 11. Pertengkaran Hebat

1052 Kata
"Kamu mau jadi anak durhaka, Darrel?" Darrel berhenti. Suara Nyonya Ratna memaku langkahnya di tengah ruang tamu yang tegang. “Kalau kamu masih anggap mama sebagai ibu kamu, mama minta kamu tetap di tempat!” Darrel berbalik perlahan, menatap ibunya dengan kelelahan yang jelas terpancar dari wajahnya. “Apalagi sekarang?” tanyanya dengan nada datar, meski sorot matanya mengisyaratkan ketidaksabaran. Belum sempat Nyonya Ratna menjawab, suara langkah ringan terdengar dari arah halaman belakang. Lalu, seorang wanita masuk dengan anggun. Livia, perempuan berpenampilan sempurna, mengenakan gaun mewah, tampak tersenyum lembut saat menghampiri mereka. “Kemari dan duduklah,” perintah Nyonya Ratna, tangannya menunjuk sofa dengan gerakan angkuh. Darrel hanya berdiri mematung, matanya melirik Irene dan Nala yang berdiri di dekat tangga. Ia memberi isyarat kepada Irene agar membawa Nala pergi ke kamar, namun Nyonya Ratna segera menghentikannya. “Nala masuk kamar, tapi Irene tetap di sini,” ujarnya tegas, nada suaranya penuh otoritas. Darrel mendengus kesal. “Ma, apalagi sih?” Namun sebelum Darrel bisa melanjutkan protesnya, Irene menyentuh lengannya pelan. Wanita itu menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Darrel tidak memperpanjang masalah. “Irene, tolong,” bisik Darrel akhirnya. Irene menunduk patuh, lalu membungkuk untuk berbisik kepada Nala. Gadis kecil itu mengangguk dan segera melangkah ke arah kamarnya, menutup pintu dengan suara pelan. Darrel, Irene, Livia, dan Nyonya Ratna kini berada di ruang tamu. Darrel dan Irene tetap berdiri, sementara Nyonya Ratna duduk dengan angkuhnya di sofa, Livia di sampingnya. Nyonya Ratna memulai percakapan dengan nada dingin. “Livia dan Mama datang ke sini untuk memperjelas hubungan kalian, Darrel. Livia sudah setuju untuk melanjutkan perjodohan kalian.” Darrel langsung mengangkat alis, wajahnya berubah terkejut. “Ma?” “Kamu tidak diberi waktu untuk menolak. Pilihanmu hanya satu, yaitu menurut,” potong Nyonya Ratna sebelum Darrel sempat mengatakan apa-apa. Darrel memijit pelipisnya dengan frustrasi. “Mama, aku nggak setuju dengan perjodohan ini. Aku—” “Mama dan Papa sudah membicarakan ini dengan orang tua Livia. Pertunangan kalian akan diadakan minggu depan,” sela Nyonya Ratna tanpa memperdulikan protes Darrel. Darrel membeku. Ia menatap ibunya dengan tak percaya. “Kenapa Mama ngambil keputusan tanpa melibatkan aku? Yang Mama putuskan itu hidup aku, bukan hidup Mama.” “Mama tahu apa yang terbaik untuk kamu,” jawab Nyonya Ratna tajam. “Mama melakukan ini untuk melindungi kamu dari benalu.” Darrel mengikuti arah tatapan ibunya yang terhenti di Irene. Kata “benalu” diucapkan Nyonya Ratna dengan penuh sindiran, seolah memastikan Irene tahu bahwa ia sedang dibicarakan. “Mama!” Darrel membentak. “Irene bukan benalu. Dia yang membantu aku selama ini!” “Bantu?” Livia, yang sejak tadi diam, akhirnya ikut angkat suara. “Darrel, kalau dia benar-benar membantu, seharusnya dia tahu diri. Tante Ratna benar. Perempuan seperti dia tidak pantas ada di kehidupan kamu.” “Livia, kamu nggak tahu apa-apa tentang Irene!” balas Darrel tajam. Livia tersenyum kecil, lalu mengangguk sopan ke arah Irene. “Kamu pasti perempuan yang baik, Irene. Tapi posisi kamu sekarang cuma membuat semua orang nggak nyaman.” Irene tetap diam, meski air matanya mulai menggenang. Ia tahu ini bukan tempatnya untuk berbicara, tetapi kata-kata mereka sangat menyakitkan. “Darrel,” Nyonya Ratna kembali berbicara. “Setelah kamu dan Livia bertunangan, Irene harus angkat kaki dari rumah ini. Livia akan mengurus Nala dengan baik sampai kalian menikah.” “Tidak!” Darrel berseru tanpa ragu. “Mama nggak berhak mengambil keputusan seperti itu. Nala butuh Irene. Irene bukan cuma pengasuh, dia adalah keluarga buat kami!” “Darrel benar,” akhirnya Irene membuka suara. Meski nadanya lembut, setiap kata terdengar tegas. “Saya tidak peduli apa pun yang orang katakan tentang saya. Tapi saya tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut Nala. Saya tidak akan meninggalkan Nala sebelum dia memastikan bahwa dia mendapatkan ibu yang baik menurutnya.” Nyonya Ratna tertawa sinis. “Kamu pikir kamu siapa? Setelah Livia resmi menjadi ibu Nala, kamu tidak akan punya alasan untuk tetap di sini.” “Mama, Irene tidak ke mana-mana,” ujar Darrel dengan suara rendah namun penuh ketegasan. “Tapi aku tidak akan bisa hidup tenang kalau ada dia di sini,” sela Livia, nadanya dipenuhi kepalsuan. “Darrel, mama kamu tahu aku akan menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk Nala. Kenapa kamu tidak bisa melihat itu?” “Karena aku tahu kamu tidak tulus,” jawab Darrel tajam. Percakapan berubah menjadi perdebatan panjang. "Atas dasar apa kamu mengatakan bahwa Livia tidak tulus?" "Ma, aku—" "Wanita sialan itu pasti sudah meracuni pikiran. Mama nggak mau tahu, kamu harus menerima perjodohan ini!" Nyonya Ratna terus memaksa agar Darrel menerima perjodohan ini, sementara Darrel dengan keras kepala menolaknya. Irene tetap berdiri diam, menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. "Aku nggak akan pernah mau menerima perjodohan ini meskipun mama maksa aku!" putus Darrel. Akhirnya, Nyonya Ratna kehilangan kesabaran. Ia berdiri dengan marah dan berjalan cepat ke arah Irene. “Kamu tidak punya hak untuk melawan keputusan ini, Darrel” bentaknya. Irene hanya menatap Nyonya Ratna dengan tenang, namun air mata perlahan mengalir di pipinya. “Ini semua gara-gara kamu, sialan! Kamu tidak pantas ada di sini! Pergi sekarang juga!” teriak Nyonya Ratna sebelum melayangkan tamparan keras ke pipi Irene. Darrel terperanjat. “Mama!” Ia langsung berdiri di antara Irene dan ibunya. Namun Nyonya Ratna tidak peduli. Ia berjalan ke kamar Irene, membuka lemari, dan mulai melemparkan barang-barang Irene ke lantai. “Keluar dari rumah ini sekarang juga!” teriaknya. Darrel tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia mengejar ibunya ke kamar Irene dan berteriak, “Mama! Mama apa-apaan, sih?! Mama nggak bisa kayak gini, Ma!" "Mama nggak peduli. Benalu ini harus pergi dari sini! Pokoknya harus pergi!" "Mama nggak punya hati! Apa Mama nggak lihat betapa berharganya Irene buat keluarga ini, untuk Nala?” "Apa katamu?" tanya Nyonya Ratna sambil menatap Darrel tak percaya. "Mama nggak punya hati!" Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk Nyonya Ratna. Ia memegang dadanya, wajahnya tiba-tiba pucat. "Ah, sakit!" rintih Nyonya Ratna. Nafasnya terengah-engah, dan tubuhnya mulai limbung. “Ma?” Darrel segera menangkap tubuh ibunya yang hampir jatuh. "Mama kenapa, Ma?" Nyonya Ratna pingsan di pelukan Darrel, membuat seluruh ruangan diliputi ketegangan. Irene segera menghampiri mereka, meski wajahnya masih merah bekas tamparan. “Kita harus bawa beliau ke rumah sakit,” ujar Irene dengan nada cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN