Bab 4. Ancaman Untuk Irene

1878 Kata
Pukul enam pagi, suasana rumah mulai ramai dengan aktivitas. Irene berjalan menuju ruang makan, memastikan semuanya sudah siap untuk sarapan. Aroma masakan daging sapi yang ia buat tadi memenuhi ruangan, membuat Nala yang sudah duduk di meja makan terlihat tak sabar. "Tante Irene, enak banget baunya," kata Nala sambil tersenyum. "Ya udah, makan yang banyak biar semangat sekolahnya," jawab Irene sambil mengelus kepala Nala dengan lembut. Namun, pikirannya tak sepenuhnya tenang. Irene tahu ada banyak hal yang harus ia urus, termasuk memastikan Darrel tidak terlambat. Setelah meletakkan piring di depan Nala, Irene bergegas naik kembali ke lantai atas untuk membangunkan Darrel. *** Saat membuka pintu kamar Darrel, Irene sudah tahu apa yang akan ia hadapi. Darrel, seperti biasa, tidur tengkurap dengan posisi yang nyaris membuatnya tampak seperti patung hidup. Hanya mengenakan boxer abu-abu, Darrel terlihat terlalu nyaman untuk suasana pagi yang seharusnya penuh aktivitas. Irene berjalan mendekat, mengguncang tubuh Darrel dengan pelan. "Tuan, bangun. Udah jam enam pagi." Darrel hanya menggeliat sedikit tanpa membuka matanya. "Lima menit lagi, Irene." Irene mendengus kesal. "Sekarang sudah jam enam. Kalau nunggu lima menit lagi, kamu bakal terjebak macet." Tapi pria itu tetap keras kepala. "Nggak akan macet. Aku masih ngantuk." Menyerah dengan cara halus, Irene berbalik dan berkata singkat, "Oke." Nada suaranya yang dingin ternyata cukup efektif. Darrel langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia bangkit dari posisi tidurnya, duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya yang berantakan. "Udah bangun. Puas?" "Sangat puas." Irene tersenyum tipis. "Sekarang mandi, setelah itu sarapan." Irene berjalan ke lemari pakaian Darrel, mengambil setelan jas hitam dan dasi. Ia memilih antara dasi biru dan dasi hitam-merah, lalu menoleh ke Darrel. "Mau yang mana? Biru atau hitam-merah?" Darrel mengangkat bahu sambil menuju kamar mandi. "Yang mana aja, asal bukan pink." Mendengar itu, Irene terkekeh. Ia masih ingat kejadian setahun lalu, saat pertama kali ia memilihkan dasi untuk Darrel. Ia sengaja memilihkan dasi pink cerah, hanya untuk melihat reaksinya. “Lagian siapa suruh ngoleksi dasi pink? Orang aneh,” gumam Irene sambil meletakkan setelan pakaian di atas ranjang. Saat hendak keluar kamar, teriakan Darrel terdengar dari dalam kamar mandi. "Irene! Handuknya mana?!" Irene menghela napas panjang, memutar bola matanya. "Kebiasaan banget, kalau mandi nggak sekalian bawa handuk." Ia membuka lemari, mengambil handuk bersih, dan menyerahkannya lewat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. "Ini handuknya," katanya. Darrel mengulurkan tangan untuk mengambil handuk. "Thanks." "Lain kali bawa handuk sendiri atau nggak usah pakai sama sekali," sindir Irene sebelum meninggalkan kamar. *** Irene keluar dari kamar Darrel sambil menggelengkan kepala. Kebiasaan pria itu yang selalu lupa membawa handuk setiap kali mandi benar-benar membuatnya kesal sekaligus geli. Tidak jauh dari sana, Nala sudah selesai sarapan dan kini sedang memakai sepatunya di ruang tamu. “Tante Irene, aku sudah siap,” ujar Nala dengan ceria. Irene menghampiri dan merapikan rambut Nala yang sedikit berantakan. “Bagus. Kamu sudah selesai makan?” “Sudah, Tante. Aku makan banyak biar nggak lapar di sekolah,” jawab Nala sambil memamerkan senyum manisnya. Irene tersenyum. “Pintar. Nanti setelah pulang sekolah, langsung ganti baju dan kerjakan PR, ya?” Nala mengangguk dengan semangat. “Siap, Tante!” Tak lama kemudian, Darrel turun dari tangga. Dengan setelan jas rapi yang Irene pilihkan, pria itu terlihat seperti bos besar yang dihormati semua orang. Namun, di mata Irene, dia tetap Darrel yang sama keras kepala, menyebalkan, dan sering membuat hidupnya jadi lebih rumit. “Papa, aku mau berangkat,” ujar Nala sambil mendekat pada Darrel. Darrel membungkuk sedikit untuk mengecup kening putrinya. “Belajar yang baik, jangan bikin guru marah, ya.” “Iya, Pa!” Nala tersenyum lebar sebelum berjalan keluar rumah, diantar oleh sopir keluarga. Setelah Nala pergi, suasana di ruang makan menjadi lebih sunyi. Irene mengatur meja makan, memastikan Darrel punya waktu untuk menikmati sarapannya sebelum berangkat ke kantor. Pria itu duduk di kursi, mengambil koran, dan mulai membacanya sambil menyeruput kopi yang sudah disiapkan Irene. “Kamu nggak makan?” tanya Darrel tanpa menoleh. “Aku sudah makan tadi. Ini aku mau ke dapur sebentar,” jawab Irene sambil membawa beberapa piring kotor. Namun, langkah Irene terhenti ketika Darrel menurunkan korannya dan menatapnya. “Aku tahu kamu belum makan.” Irene menoleh dengan alis terangkat. “Dari mana kamu tahu?” "Bentar lagi juga minum obat asam lambung," jawab Darrel santai. Irene terkekeh kecil, tetapi ia mengakui dalam hati bahwa Darrel benar. “Aku nanti makan, kok. Jangan khawatir.” “Kamu itu keras kepala, Irene,” gumam Darrel sambil melanjutkan membaca korannya. *** Rumah kembali sepi setelah Darrel dan juga Nala berangkat. Irene memutuskan untuk menuju halaman belakang saja, merawat bunga-bunga yang sengaja ia tanam di waktu senggang. Bunga mawar bermekaran indah, membuat Irene betah memandangi bunga merah itu. Namun, kekagumannya buyar ketika Linda datang. “Bu, di depan ada tamu,” kata Linda, salah satu asisten rumah tangga, sambil melangkah mendekati Irene. Irene menghentikan kegiatannya dan menoleh. “Siapa, Lin?” tanyanya pelan. “Um, itu, Bu. Ada ... Nyonya Ratna,” jawab Linda dengan wajah sedikit gugup. Irene menghela napas panjang. Ia tahu kedatangan Nyonya Ratna, ibu Darrel, hampir tak pernah membawa berita baik. “Baiklah. Bilang, saya akan ke sana. Jangan lupa buatkan teh hijau untuk beliau, tanpa gula, ya.” “Siap, Bu,” jawab Linda seraya berlalu ke dapur. Irene mencuci tangannya di keran, mengeringkannya, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ketika sampai di ruang tamu, ia melihat sosok Nyonya Ratna yang duduk tegak dengan raut wajah dingin. Wanita paruh baya itu mengenakan blus elegan berwarna krem yang membalut tubuhnya yang ramping. Namun, sorot matanya yang tajam langsung menusuk Irene. “Selamat pagi, Nyonya. Tuan tidak memberi tahu kalau Anda akan datang,” sapa Irene dengan senyum sopan, meskipun ia sudah bisa merasakan ancaman di udara. Nyonya Ratna tidak menjawab. Sebaliknya, ia berdiri dengan cepat dan melangkah mendekati Irene. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tangannya dan menampar Irene dengan keras. PLAK! Tamparan itu membuat pipi Irene terasa panas seketika. Meski begitu, ia tidak bereaksi dengan amarah. Ia hanya berdiri tegak dan menatap Nyonya Ratna. “Ada apa ini, Nyonya?” tanyanya pelan, sambil tetap menjaga ketenangannya. "Kenapa tiba-tiba Anda menampar saya?" “Saya sudah bilang, kamu itu hanya benalu di kehidupan Darrel! Kenapa kamu masih betah di sini dan tidak pergi juga?!” teriak Nyonya Ratna dengan wajah memerah oleh emosi. "Anda tahu, saya masih belum ingin pergi," balas Irene dengan tenang. "Dasar p*****r murahan! Kamu bener-bener tidak tahu diri! Anakku tidak butuh wanita seperti kamu, kenapa kamu masih belum juga sadar diri?" Irene tetap tersenyum tipis meskipun hatinya sedikit tercekat. “Saya akan pergi, Nyonya. Saya akan pergi ketika Nala sudah menemukan sosok ibu yang baik untuknya,” jawab Irene dengan nada yang tenang namun tegas. "Saya sudah mengatakan ini berulang kali." “Peduli apa kamu soal Nala?! Dia bukan anakmu, dan dia seharusnya bukan urusanmu!” bentak Nyonya Ratna. "Kamu hanya pura-pura baik hanya untuk menggantikan posisi Irana!" Irene menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Saya hanya memastikan Nala tidak merasa kehilangan ibunya, Nyonya. Saya tidak pernah berniat untuk mengambil tempat siapa pun. Itu saja.” Namun, jawaban Irene justru semakin menyulut amarah Nyonya Ratna. “Keberadaanmu di sini membuat Darrel tidak bisa melanjutkan hidupnya! Kamu menempel seperti lintah yang menghisap darah! Apa kamu tidak punya malu?” “Saya tidak pernah melakukan itu,” Irene membalas dengan lembut. "Mungkin itu hanya perasaan Anda." “Kamu melakukannya!” Ratna menuding Irene dengan keras. “Seperti semalam! Kamu pasti mencuci otak Nala untuk melawan Livia. Itu semua rencana busukmu, bukan?!” Irene tersenyum getir. “Jika Nala hanya memberikan satu tes kecil kepada calon ibu tirinya, dan dia tidak mampu menghadapinya, lalu bagaimana dengan masa depan? Bukankah itu tanda bahwa dia tidak siap menjadi bagian dari keluarga ini?” Perkataan Irene membuat wajah Nyonya Ratna semakin merah padam. “Itu semua karena kamu! Kamu mencuci otak Nala agar dia hanya menerima kamu sebagai ibunya! Dasar wanita licik!” Irene mencoba menahan emosinya. Ia tahu percuma membalas dengan emosi. “Saya tidak pernah mencuci otak Nala. Apa yang dia lakukan adalah keinginannya sendiri.” “Kamu hanya wanita miskin yang berusaha menaikkan derajatmu dengan cara murahan! Kamu ingin menggantikan Irana, kan? Sejak awal, saya tahu kamu hanya benalu!” Hinaan demi hinaan meluncur dari mulut Nyonya Ratna, menghujam Irene tanpa ampun. Wanita paruh baya itu mengungkit status keluarga Irene, menyebutnya tidak pantas berada di rumah itu, bahkan menyalahkan Irene atas segala masalah yang terjadi pada Darrel dan Nala. "Sebelum saya bertindak jauh, lebih baik segera buka mata kamu itu dan angkat kaki dari rumah ini!" Namun, Irene tetap berdiri tenang. Dengan nada pelan namun penuh keyakinan, ia berkata, “Saya akan pergi, Nyonya. Tapi tidak sekarang. Saya ingin memastikan Nala memiliki ibu yang baik untuknya. Saya tidak ingin dia terluka lagi.” Jawaban Irene justru semakin membuat Nyonya Ratna naik pitam. “Kamu berani sekali membantah saya! Kamu pikir siapa kamu?! Dasar perempuan murahan!” Di tengah ketegangan itu, Linda datang membawa nampan berisi teh hijau yang masih mengepul. “Bu, tehnya,” katanya dengan hati-hati. Irene tersenyum kecil. Ia mengambil cangkir teh itu dan menyerahkannya pada Nyonya Ratna. “Silakan minum, Nyonya. Semoga teh ini bisa membantu menenangkan Anda,” ujarnya. Namun, alih-alih menerima dengan baik, Nyonya Ratna mengambil cangkir itu dan mengguyurkan isinya ke tubuh Irene. Air teh yang masih hangat itu membuat Irene sedikit meringis kesakitan. “Dasar wanita tak tahu malu! Pergi dari rumah ini sekarang juga!” teriak Nyonya Ratna sebelum membanting cangkir ke lantai. Linda terkejut dan melangkah mundur, sementara Irene tetap berdiri di tempatnya, mencoba menahan rasa sakit sekaligus amarah yang mulai bergemuruh di dadanya. “Saya tidak akan pergi sampai Nala mendapatkan ibu yang baik,” Irene berkata dengan tegas. Suaranya tetap tenang, meskipun tubuhnya basah dan hatinya terluka. "Jika Anda ingin saya benar-benar keluar, maka minta Nala untuk mengusir saya. Maka dengan itu saya akan dengan senang hati pergi dari rumah ini!" Nyonya Ratna mengeratkan rahangnya. Ia jelas tak bisa meminta Nala melakukan itu. Bagaimanapun juga Nala tidak akan pernah mau menyingkirkan Irene. Dengan kemarahan yang meluap, Nyonya Ratna melangkah keluar dengan wajah yang memerah. Ia meninggalkan rumah itu tanpa sepatah kata lagi, tapi Irene tahu, perang ini belum selesai. Setelah Ratna pergi, Irene menarik napas panjang. Ia berbalik menuju dapur untuk mengganti bajunya yang basah. Linda menghampirinya dengan wajah cemas. “Bu Irene, Anda baik-baik saja?” tanya Linda dengan nada penuh simpati. Irene tersenyum tipis. “Saya baik-baik saja, Linda. Kamu tahu ini bisa saja terjadi." “Tapi Nyonya Ratna benar-benar keterlaluan,” kata Linda, terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya. "Apa Anda tidak akan mengatakan ini pada Tuan?" “Dia hanya seorang ibu yang terlalu mencintai anaknya,” jawab Irene, mencoba meredakan suasana. “Saya mengerti posisinya.” Namun, di dalam hati, Irene tahu bahwa mencintai tidak berarti harus menyakiti orang lain. Baginya, perlakuan Nyonya Ratna sudah melampaui batas. Tapi Irene memilih untuk tidak melawan. Ia tidak ingin memperkeruh suasana, terutama demi Nala yang masih kecil. Ketika Irene kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian, ia melihat bayangannya di cermin. Wajahnya masih sedikit memerah akibat tamparan Nyonya Ratna, dan dadanya terasa sesak. Tapi ia tahu, ia harus kuat. Untuk Nala. Untuk dirinya sendiri. “Tidak apa-apa, Irene,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu sudah melewati yang lebih buruk dari ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN