Cklek, bunyi punti yang terbuka. Tampak Refan masuk ke ruangan Dendy. "Apakah Erwin sudah kembali ke kantor?" tanya Dendy mendongak. Refan menghela napas, memberikan selembar kertas berisi foto yang ia bawa. Rahang Dendy mengeras. Pria paruh bayah itu meremas-remas kertas yang disodorkan oleh Refan. "Di mana Erwin sekarang?" "Pak Erwin akan pergi ke Paris." Refan menunduk. Dendy memijat-mijat pangkal hidungnya pusing, kemudian menggebrak meja dengan kasar. "Persiapkan semuanya, saya akan pergi ke Paris sekarang juga." "Baik, Pak!" Refan mengangguk, kemudian melenggang pergi dari tempat itu. Dendy benar-benar gusar, air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Ia kembali menatap kertas lusuh yang baru saja ia remas-remas. Rasanya seperti mimpi, melihat foto sang menantu menjadi

