Arimbi POV.
Setelah perjumpaan dengan Saka dirasa sudah cukup, Arimbi segara masuk ke taksi yang sudah ia pesan dan menunggu di sana. "Pak ke Alana Hotel." Ucap Arimbi dengar cepat kepada sopir taksi yang di tumpanginya. Di dalam taksi Arimbi memandang lurus ke arah luar kaca mobil, terlihat wajahnya yang sedikit kecewa dan ada goresan luka lama yang kambuh lagi.
"Kenapa malah bertemu dengan Saka, orang yang paling ingin aku lupakan dalam hidupku." Gumam Arimbi dalam hati dengan raut wajah yang sedikit badmood.
"Kita sudah sampai Nona," ucap sopir taksi itu yang sontak membuyarkan lamunan Arimbi seketika itu.
"Oh, i.... iya pak, terima kasih." Jawab Arimbi terbata. "Ini pak, kembaliannya buat bapak semua. Dari kecil memang Arimbi sudah terbiasa untuk berbagi dengan orang lain itu adalah bagian dari kebiasaan keluarga Prawira.
Sesampainya di lobby hotel ternyata rombongan Arimbi sudah siap kemudian bergegas untuk menuju ke bandara. Di perjalanan menuju Bandara ternyata tidak terjadi percakapan yang serius. Arimbi hanya sibuk untuk memandang keluar jendela dan menghembuskan dalam-dalam. "Seandainya aku hidup dari keluarga yang biasa-biasa saja, apakah Saka akan bersikap seperti ini?, Oh Tuhan aku benar-benar ingin melupakan nya." Gumam Arimbi dalam hati sambil menyenderkan punggungnya.
***
Satria POV.
Setelah pertemuan yang mengejutka tadi, akhirnya Saka segera bergegas kembali menuju Satria yang sembari tadi menunggu di dalam mobil. Dan mereka kembali langsung melanjutkan perjalanan ke bandara untuk kembali ke Jakarta.
Satria menarik ekor matanya untuk melihat Saka "Kenapa tadi kau terlihat akrab begitu? pake pegang-pegangan tangan segala lagi. Kenapa sekalian tidak kau peluk saja gadis itu." Sembur Satria sarkasme.
Mendapati tuannya yang sedang cemburu buta, "sebenarnya tadi saya ingin memeluk tuan, tapi tuan sudah mewanti-wanti untuk tidak boleh macam-macam dengan gadis itu." Jawab Saka yang memang niat untuk menggoda tuannya yang angkuh itu. padahal dalam batin Saka sedang tertawa habis-habisan.
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu, kau mau aku pecat?" Sembur Satria dengan memandang wajah Saka amarah kecemburuan.
"Tuan cemburu dengan saya?" Tanya Saka dengan nada santai dan sedikit mengejek karena baru kali ini melihat Satria yang di Landa kecemburuan. "Tenang saja tuan, saya dengan Arimbi hanya sebatas teman biasa. Dulu dia adik kelas saya ketika SMA dan pernah mewakili sekolah dalam olimpiade seni." Ucap Saka kembali dengan panjang lebar kali tinggi menjelaskan tentang hubungannya dengan Arimbi di masa lalu.
"Aku tidak peduli!" Sembur Satria dengan pedas.
Kemudian Saka menarik ekor matanya untuk memastikan ekspresi wajah Satria Yaang sedang di hujaninrasa cemburu. "Anda yakin tidak peduli, bahkan saya juga tahu makanan favoritnya tuan dan hal yang paling tidak di sukai oleh Arimbi juga saya tahu tuan." Penjelasan Saka kembali dengan nada sedikit meengejek. "Rasanya aku ingin tertawa Yang keras." Batin Saka.
"Aku tidak peduli!" Sembur pedasnya dari Satria kembali. Dengan menarik ekor matanya yang tajam dan sangat terkutuk itu. "Kurang ajar, kenapa malah Saka lebih tahu tentang gadis itu. Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus jadi milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak peduli apapun dan bagaimanapun caranya." Gumam Satria dalam hati dengan keyakinan yang meronta-ronta. "Mana nomor ponsel gadis itu." Ucap satria kembali.
"Ini tuan." Jawab Saka dengan meraba-raba isi kantongnya.
***
Sesampainya di bandara Arimbi bersama rombongan nya langsung masuk ke dalam pesawat. Dan sialnya tempat duduk Arimbi ternyata terpisah dengan mama papa nya. Lima belas menit lagi pesawat akan terbang mengudara, akan tetapi Arimbi merasakan ada sesuatu yang sudah tidak bisa di tahan lagi dalam perutnya. Kemudian sejenak Arimbi pergi ke toilet. Dan betapa terkejutnya Arimbi setelah selesai aktivitanya di kamar mandi dan kembali ke kursi penumpang sudah ada seorang pria terkutuk yang kemarin baru dia tampar di tamaan.
Karena pria itu belum menyadari bahwa kursi sebelahnya adalah Arimbi, sontak Arimbi langsung menutup wajahnya dengan tissue. Selama dalam pesawat Arimbi memalingkan muka nya ke lawan arah pria tersebut.
Pesawat sudah mengudara di atas awan, tiba-tiba ada peringatan bahwa akan ada sedikit goncangan karena ada gundukan-gundukan asap tebal di langit. Ketika terjadi goncangan cukup keras sontak Arimbi memeluk lengan orang di sebelahnya, yang lain dan yang tak bukan itu adalah lengan Satria. Satria terkejut dengan sentuhan orang asing tersebut. Seketika ingin mengibaskannya tapi setelah melihat wajah gadis tersebut adalah Arimbi ia mengurungkan niatnya itu, dan malah justru menikmati nya.
Dirasa sudah cukup aman, Arimbi langsung melepaskan pelukannya itu.Dan langsung membuang muka ke segala arah. "Kenapa di lepaskan? apa sudah tidak takut lagi." Pertanyaan terkutuk itu tiba-tiba keluar dari mulut Satria. Tapi Arimbi memilih untuk diam saja karena tidak mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan pria tersebut.
Setelah sekitar satu jam mengudara akhirnya pesawat itu landing. Sontak membuat perasaan cukup lega bagi Arimbi yang sedari tadi sudah terlalu risi dengan adanya Satria di samping nya. Arimbi bergegas untuk segera turun begitupun juga dengan Satria.
Mereka berdua berjalan sendiri-sendiri, tiba-tiba Satria yang sedari tadi ada di belakang Arimbi sontak langsung meraih tangannya dan berkata "Kau memiliki hutang padaku karena tadi sudah meminjam lenganku untuk kau peluk." Sembur Satria dengan perkataan yang terkutuk itu.
kemudian Satria langsung melepaskan tangannya dan berlalu pergi melewati Arimbi, seperti tidak terjadi apa-apa.
Arimbi mendesah kasar karena kesal telah bertemu dengan orang terkutuk itu lagi. "Kenapa harus bertemu dengan manusia itu lagi." Kesal Arimbi tersungut-sungut dalam hati.
***
Satria POV.
Sesampainya Satria di kediaman miliknya, Satria sontak sangat kaget karena tiba-tiba Papa Marcel sudah ada diruang tamu. "Kamu sudah kembali ke Jakarta nak."
Satri duduk di sofa ruang tamu yang menghadap ke papa Marcel. "Ya, seperti yang papa liat." Jawab Satria dengan mengangkat bahunya. "Ada apa tiba-tiba papa datang kesini." Tanya Satria dengaan nada yang sangat ketus.
"Bagaimana perjalanannya sayang?" Tanya papa Marcell dengan menarik satu kakinya ke atas kaki.
"Biasa saja." Jawab Satria dengan membuang wajahnya ke jendela. "Langsung saja deh pa, intinya papa kesini ada perlu apa?" Ucap Satria dengan kepala yang tersungu-sungut, karena Satria sudah tahu kalau papa datang kerumah tidak lain dan tidak bukan pasti akan menanyakan perihal pernikahan. Dan itu sangat membosankan bagi Satria yang masih ingin melajang.
"Papa itu sudah tua nak, keinginan papa juga tidak banyak. Kamu itu sudah cukup umur dan cukup mapan untuk laki-laki seusiamu. Apa perlu papa Carikan calon Istri biar kamu bisa cepat menikah." Ucap papa dengan nada yang cukup pelan dan mematikan itu.
Satri bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan jendela. "Udahlah, papa tidak perlu repot-repot mencarikan aku calon istri. Yang harus papa pikirkan sekarang adalah kesehatan papa, jangan terlalu pusing memikirkan saya pa. Kalau memang Satria sudah menemukan calon yang tepat Satria langsung deh hari itu juga menggelar pernikahan." Jawab Satria dengan nada yang sangat menggelegar dan pedas.
"lha terus mau sampai kapan kamu melajang seperti ini, sedangkan usia mu itu semakin bertambah. Pokoknya saya beri kamu waktu enam bulan untuk mendapatkan calon istri. Kalau tidak dapat saya yang akan mencarikan langsung." Ucapa papa Marcell dengan nada ancaman dan sangat mematikan bagi Satria. Kemudian papa Marcel lagsung meninggalkan tempat itu secepat kilat.
Satria berdesah kasar, "Kenapa papa selalu saja terus seperti itu. Bagaimana mungkin dalam waktu enam bulan calon istri. Sedangkan wanita yang saya incar saja masih memiliki rasa kesal kepadaku." Gumam Satria lirih, sontak Satria memanggil pengawalnya itu dengan sangat keras "Saka .. Saka!" Sembur Satria dengan sangat pedas.
Saka yang sedari tadi masih di ruang kerja milik Satria langsung keluar dengan cepat kilat. "A..ada apa tuan?" jawab saka terbata.
***