Perjumpaan Yang Mengejutkan

1025 Kata
Arimbi keluar hotel dan memesan taksi online, sampailah Arimbi di area jalan Malioboro. Dengan langkah kaki yang cukup cepat, Arimbi menuju jalan Malioboro yang suasana masih cukup sepi. Sembari melihat lengan tangannya untuk melihat jam. Akhirnya Arimbi sudah sampai di salah satu bangku yang menurutnya cukup mudah untuk di temukan. Waktu menunjukan pukul 07.10 Arimbi masih menunggu di sana dan belum menemukan tanda-tanda orang yang akan menghampiri nya. "Jika jam 07.30 belum datang aku akan kembali." Gumam Arimbi dalam hati sambil mengeluarkan benda pipih Yang ada di dalam ransel kecilnya. Tak lupa Arimbi mengabadikan pemandangan sekitar dengan kamera SLR miliknya yang selalu menemani kemanapun Arimbi pergi. Arimbi sangat fokus dan asik sekali kalau sudah memainkan kamera kesayangannya. "Permisi nona, apa benar nona adalah pemilik akun Sang Penjelajah?" Suara yang sangat tegas dan formal itu berasal dari belakang Arimbi. Kemudian Arimbi segera menoleh ke arah belakang. "I...Iya benar tuan." Jawab Arimbi dengan terkejut dan memandang ke arah laki-laki itu. "Kak Saka, apa itu benar kau?" Ucap Arimbi dengan perasaan yang sangat terkejut, karena Arimbi memang mengenal Saka sejak kecil. Laki-laki itu sontak langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi masih menunduk ke arah bawah. "Cantika? Kenapa kau ada disini?" Ucap Saka dengan antusias dan wajah yang berbinar-binar. "Ak... aku disini menunggu pemilik akun Pria Tamvan, apa itu kamu kak. Kalau memang benar aku bahagia sekali kak?" Jawab Arimbi dengan antusias dan bola matanya seketika langsung berkaca-kaca. "Maaf Nona, saya hanya pengawal dari pemilik akun yang anda maksud. Dan saya di beri perintah untuk menyerahkan ini kepada anda, saya harap anda bisa menerima ini semua. Didalam ada kartu nama asli dari pemilik akun Pria Tamvan. Silahkan jika nona sudah siap segera menghubungi saja." Jawab Saka dengan menyerahkan satu ikat bunga mawar merah dan sebuah kartu nama milik satria, sembari memberikan penjelasan kepada Arimbi. Arimbi mengulurkan tangannya untuk menerima bunga mawar yang di berikan Saka. "Kenapa tuanmu itu tidak datang sendiri saja untuk menemuiku, apa masalahnya?" tanya Arimbi dengan wajah keheranan. "Sebelumnya minta maaf nona, beliau ada urusan bisnisnya yang sangat mendadak. Makanya mewakilkan saya untuk menemui nona." Jawab saka dengan wajah menunduk ke bawah sembari mengambil sebuah bolpoin. "Nona, bisakah anda menulis nomor ponsel anda kesini?" Tanya Saka dengan menyodorkan sebuah kertas dan alat tulis itu. "Ini permintaan Pria Tamvan nona." Ucap Saka tegas kembali. Arimbi tiba-tiba meraih lengan Saka dan memandang wajah Saka dengan Seksama. "Jangan terlalu formal kak, biasa saja kenapa. Panggil aku Arimbi jangan Nona." Ucap Arimbi dengan wajah manisnya dan senyum khasnya yang menampakan gigi putih dan lesung pipi miliknya. Seketika mata mereka saling bertatapan sejenak. Ada sinyal di antara mereka yang entah apa itu. Tiba-tiba terdengar suara yang mengerikan dari alat pendengar yang di kenakan Saka. "Jangan macam-macam kau! Dia gadisku." tidak lain dan tidak bukan itu adalah suara Satria dari kejauhan. Sontak Saka langsung melepaskan sentuhan tangan Arimbi dengan cepat. "Tidak bisa nona, karena nona adalah milik tuan saya. Saya hanya di perintah seperti itu. Dan untuk menyampaikan semuanya termasuk rencana tuan untuk segera meminang anda Nona." Ucap Saka dengan spontan, Karena bingung harus berbicara apa dengan Arimbi. "Kenapa kak? maaf jika kak Saka tidak berkenan." Ucap Arimbi dengan memalingkan wajahnya menunduk ke bawah. Kemudian Arimbi mengambil kertas dari tangan Saka dan menuliskan nomor ponsel miliknya dan kemudian mengembalikannya ke Saka. "Ini, tolong sampaikan ke tuanmu itu. Besok lagi sempatkan waktunya untuk menemui aku. Jangan menyuruh pengawalnya yang tidak tahu isi hatinya." Sindir Arimbi ke Saka dengan memandang manik mata Saka. "Oiya, aku pamit dulu karena sudah ditunggu sama mama papa di bandara. Karena aku dah mau balik ke Jakarta. Dan tolong sampaikan lagi ke tuhanmu itu. Tidak perlu repot-repot untuk segera meminangku. karena aku masih cukup muda untuk melangkah ke jenjang itu." Ucap Arimbi panjang lebar kali tinggi. "Baik nona, nanti saya sampaikan ke tuan saya. Saya harap hari nona menyenangkan." Ucap Saka kepada Arimbi yang sudah yang sudah mulai melangkah kan kakinya untuk masuk ke taksi yang sudah sedari tadi menunggu. Flash back on. Saka Gunawarman, adalah seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana yang memiliki otak di atas rata-rata. Usianya terpaut dua tahun dari Arimbi. Pada waktu SMA Saka terkenal sebagai anak yang memiliki kepribadian tegas dan juga pemberani. Jabatannya sebagai ketua OSIS membuat para gadis-gadis di sekolah itu selalu mencari perhatiannya. Saka juga sering mewakili sekolah dalam kegiatan pertukaran pelajar berprestasi. Dan sering mendapatkan kejuaraan dalam olimpiade-olimpiade Pada suatu hari, ketika akan di adakan lomba olimpiade Seni, Saka menjadi satu tim dengan Arimbi. Pada waktu masih SMA Arimbi di kenal atau biasa di panggil dengan panggilan Cantika. Pada waktu itu Arimbi masih kelas satu dan Saka kelas tiga yang sekaligus menjadi seniornya ketika akan mengikuti olimpiade seni. Dari awal mulanya, Arimbi sering bertemu dengan Saja itu hanya karena latihan bareng. Dan disana sebenarnya Arimbi menaruh hati kepada Saka, begitupun sebaliknya dengan Saka. Akan tetapi status sosial yang menjadi penghalang antara mereka berdua. Orang tua Arimbi yang terkenal sebagai pengusaha sukses dan kaya raya, dan tidak sedikit pula menggelontorkan dana untuk kemajuan SMA tersebut. Membuat Saka mengubur rapat-rapat perasaannya. Dan lebih memilih untuk membatasi diri dengan Arimbi. Sementara di balik kesuksesan keluarga papa Budi, tersirat sifat papa Budi orang yang sangat sabar, baik, dermawan dan bijaksana. Bahkan dalam mendidik keluarganya itu jauh dari kata kekerasan. Hanya dalam hal kedisiplinan yang papa Budi perlihatkan kepada semua orang. Akan tetapi, itu bukan alsan bagi Saja untuk lebih mendekatkan dirinya dengan Arimbi. Akan tetapi dia malah justru lebih memilih mengubur perasaanya jauh lebih dalam sebelum rasa sakit hati yang lebih sakit akan menghampirinya. Itulah Saja dengan kepribadiannya. Ketika Saka masih kuliah, ternyata ada kegiatan magang yang pada waktu itu Saka di tempatkan di perusahaan milik ayahnya Satria. Dan dari itu papa Marcelio melihat semangat dan kinerja Saka yang melebihi rata-rata, makanya dia langsung di sukai oleh papa Marcelio. Begitupun dengan kedua adik Saka yang kembar sekarang di sekolah kan oleh papa Marcelio di London. Jadi bagi Saka, itu semua sudah menjadi hal yang sangat luar biasa. Mengingat dirinya adalah seorang yang berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang sopir taksi dan ibunya sebagai penjahit baju permak di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN