Arimbi POV.
Menjelang malam Arimbi masih memikirkan bagaimana besok jika bertemu dengan Pria Tamvan. Sampai pada malam hari Arimbi belum bisa tidur karena pikirannya yang sedikit terganggu dengan pertemuan Pertama yang akan di hadapi esok hari dengan Pria Tamvan.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00. Arimbi memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon hotel. Di balkon Arimbi melihat suasana malam hari di kota Jogja dengan gemerlapan lampu-lampu dan suara musik Jawa yang berhamburan dari berbagai arah.
Di rasa sudah cukup tenang dengan suasana pikiran nya itu, Arimbi memutuskan untuk beranjak kembali ke kamar. Baru akan memalingkan pandangan, tiba-tiba Arimbi melihat seseorang yang mungkin sedang melamun di atas balkon hotel tersebut. Kemudian Arimbi segera masuk untuk mengambil kamera SLR miliknya. Dengan cepat Arimbi membidik pria tersebut. Alih-alih berharap yang di lihat adalah sosok pemilik akun Pria Tamvan, tapi ternyata malah justru laki-laki yang kemarin di tampar olehnya. Sontak membuat bulu kuduk Arimbi merinding dan dengan cepat segara masuk ke kamar dan berusaha untuk tidur.
"Amit-amit, kenapa manusia itu malah sering sekali muncul di depan mataku ini. Untung saja mataku ini tidak langsung sakit. Gara-gara melihat pria terkutuk itu." Imel Arimbi dengan menarik selimut rapat-rapat untuk menutupi wajahnya.
Dirasa rasa kantuknya juga belum datang, Arimbi mengambil ponselnya untuk membuka aplikasi kesayangannya. Dan mengambil satu bidikan gambar langit-langit kamar hotel dan menggunggah ya ke i********: dengan kata, "Jodoh, Maut dan Rejeki semua adalah takdir yang sudah tertulis sebelum kita di ciptakan."
Arimbi berulang kali melihat apakah akun Pria Tamvan akan muncul, tapi ternyata hasilnya nihil. Sampai Arimbi tertidur dengan hati yang menunggu komentar dari pemilik akun Pria Tamvan.
***
Satria POV.
Di kamar milik Satria, ternyata masih terjadi perbincangan yang cukup serius antara Satria dan Saka.
Saat waktu menunjukan pukul 22.00, tiba-tiba anak buah Saka menelfon bahwa sudah menemukan identitas wanita itu.
Mereka berdua menganalisa dan mengecek semua asal usul wanita itu, dan alangkah terkejutnya bahwa wanita itu adalah putri dari pemilik Prawira Group.
Selama hampir tiga jam mereka berdua terus mencari asal usul dari wanita itu, dan satu titik terang di temukan yaitu nama wanita itu adalah Arimbi Cantika Prawira. Gadis yang masih berusia 22 tahun dan masih menyandang status mahasiswa S2 di Royal College of Art di London. Memiliki Usaha Pribadi di bidang jasa penyelenggara studio foto sejak dua tahun terakhir.
Lulusan terbaik S1 Ryerson University School of Image Art di Kanada. Artikel tentang Seni photography sudah banyak di unggah di majalah-majalah internasional.
"Hebat juga ternyata ini gadis, kenapa tidak kecantol bule. sedangkan hidupnya lebih banyak di habiskan di luar negeri." Gumam Satria yang masih sibuk mengamati layar komputer milik Saka. "Ini benar-benar sangat Mengejutkan bagiku. Sehebat itukah gadis itu." Gumam Satria kembali.
"Mungkin memang belum takdirnya berjodoh dengan bule tuan." Sahut Saka dengan sok tahu.
Tiba-tiba Satria memandangi tubuh Saka dengan seksama dari atas ke bawah. "Ada apa tuan, kenapa memandangiku seperti itu?" Tanya Saka dengan ekspresi wajah penuh dengan curiga.
Satria kembali menarik pandangannya ke layar komputer. "Aku memiliki ide cemerlan. Besok kau harus ketemu dia Saka, aku tidak mau menemuinya dulu." sembur Satria dengan ide konyolnya.
"Ma...maksud tuan bagaimana?" tanya Saka dengan terbata dan sedikit keberatan. Sebenarnya Saka mendengar apa yang tuannya sampaikan, tapi dia masih belum habis pikir dengan ide konyol tuannya.
"Apa tadi kau tidak mendengar perkataan ku?" Sembur Satria dengan nada yang sangat pelan tapi cukup mematikan. "Tadi saya bilang kalau besok kau yang harus ketemu dengan gadis itu." Jawab Satria kembali masih dengan kedua matanya yang fokus pada layar di depannya.
"Kenapa bisa begitu tuan?, nanti kalau dia kecewa bagaimana?" Jawab Saka dengan jawaban keberatan dan sedikit membuat alasan.
"Mana mungkin aku yang harus ketemu dia, sedangkan kemarin saya baru di tampar oleh nya." Jawab Satria dengan tegas dan memegang dagunya yang mendadak merasa pedas akibat tamparan kemarin.
"Salah siapa berbicara asal dengan gadis yang belum kenal." Gumam Saka dalam hati. "Ta...tapi tuan, itu tidak mungkin tuan. Apalagi gadis itu sebenarnya menaruh hati pada tuan." Jawab Saka terbata dan masih berusaha untuk tidak menuruti ide gilanya itu.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya besok kau harus menemui gadis itu. Terserah kamu mau mengaku sebagai sopir atau pengawalku. Yang jelas aku belum bisa bertemu dengan gadis itu untuk saat sekarang ini, setelah kejadian kemarin siang." Sembur Satria dengan Penuh keyakinan dan tanpa Jeda. "Tapi, awas kalau sampai kau macam-macam dengan gadis itu. Aku akan memantaumu dari kejauhan dan aku akan memasang alat perekam suara di tubuhmu, supaya aku bisa mendengar apa saja yang kalian bicarakan." Sembur Satria kembali dengan lantang dan tegas sambil berjalan menuju kamar untuk istirahat.
Tiba-tiba Satria bangkit lagi dan membuka pintu. "Saka, dia adalah gadisku. Jadi besok kamu jangan macam-macam dengannya ya!" Ancam Satria yang kemudian menutup kembali pintu kamar miliknya.
"Baik tuan."Jawab Saka dengan menghela nafas yang cukup panjang. "Kenapa bisa begini, siapa yang bersalah siapa yang harus bertanggung jawab. Makanya jadi orang jangan asal tuduh, nih akibatnya." Gerutu Saka berbicara sendiri sembari membaringkan badannya di sofa.
***
Pagi itu matahari sudah menampakkan cahayanya yang cerah. Pukul 06.30 Arimbi sarapan bersama mama papa nya di restauran hotel. Karena rencana hari ini keluarga Prawira akan kembali ke Jakarta, maka sarapan di laksanakan lebih awal satu jam dari biasanya.
Arimbi menarik lengan tangannya untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.50. Itu artinya Arimbi harus segera bergegas menuju jalan Malioboro. "Pa... Ma, Arimbi pamit sebentar keluar ya, soalnya ada urusan yang sangat penting." Arimbi meminta ijin sambil memasukan makanan terakhir yang ada di piringnya.
Papa Budi mengangkat alisnya dan menatap curiga kepada putri satu-satunya itu. "Memang kamu mau pergi kemana, nanti kalau tersesat bagaimana?"
"Enggak lah pa, Arimbi cuma sebentar. Paling cuma lima belas menit sudah balik lagi ke sini." Jawab Arimbi sembari meneguk jus jeruknya.
"Kita terbang jam sembilan lhoo sayang, apa perlu mama temani. Biar kamu lebih aman?" Sahut mama Liliana dengan melihat ke arah Arimbi.
"Jangan... jangan ma, Arimbi sudah besar ya. Jadi papa sama Mama tidak usah khawatir. lagian ini juga cuma sebentar." Jawab Arimbi dengan senyum nyengir kuda dan menampakan lesung pipit khasnya yang sangat manis.
"Okay deh, mama tidak mau mengganggu acara anak muda zaman now." Jawab mama Liliana sambil mencubit pipi Arimbi. Tak lupa mendaratkan ciuman kasih sayangnya di pipi kanan dan pipi kiri Arimbi. "Udah sana buruan." Sahut mama Liliana kembali.