Satria POV.
Satria merebahkan badannya di atas tempat tidur yang empuk, dan wajah memandang langit-lqngit dinding hotel dan membayangkan akan kecantikan dan keindahan wanita yang akan dia temui besok pagi. "Ruuut...Ruhut..." Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti. Awalnya Satria enggan untuk mengangkatnya, tapi ponselnya berdering terus. "Saka". Ucap Satria dalam hati.
Satria membuka layar ponselnya segera. "Iya Hallo." Baru saja Satri akan berbicara, ternyata pengawalnya Saka sudah terlebih dahulu menghujani dengan berbagai kata-kata. "Maaf tuan, apa saya bisa masuk sekarang?, ada sesuatu hal yang menarik dari penyelidikan kami terhadap wanita yang kemarin tuan. Tuan harus segera tahu." Sembur Saka dengan tergopoh-gopoh dan mengandung banyak arti. "Okay nanti jam 19.00 kau naik ke kamarku, jangan sampai terlambat aku ada urusan yang sangat penting. Dan jangan sampai kau mengecewakanku kali ini. Jika kau mengecewakanku aku tidak akan segan-segan memecatmu." Sembur Satria dengan nada ancaman.
Waktu menunjukan pukul 19.00. Saka berjalan menyusuri lorong hotel dengan membawa berbagai bukti penyeledikan yang sudah siap menuju ke kamar milik tuannya itu. Karena langkah Saka cukup cepat dan lebar tanpa menghabiskan banyak waktu Saka sudah berada di depan pintu kamar milik Satria. Saka segera mungkin mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu. "tok.. tok.. tok.." Suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk." Sambut Satria dengan sangat tegas dengan wibawanya yang sangat tegas.
"Baik tuan, maaf sebelumnya jika saya mengganggu waktu tuan." Ucap Saka dengan kepala yang menunduk ke bawah.
"Cepat tunjukan kepadaku semua!" Sembur Satria dengan wajah tegas menatap ke arah Saka.
Saka dengan sigap langsung mengeluarkan laptop dan flashdisk. Saka langsung membuka berbagai file yang sudah di siapkan untuk dijelaskan kepada tuannya.
"Ini adalah rekaman CCTV yang kami dapat dari pihak hotel di parkiran, wanita itu terlihat mencari mobilnya. Tapi kenapa mondar-mandir sambil memegang poselnya. Tak lama kemudian datang mobil berwarna hitam." Jelas Saka dengan sangat tegas.
Satria memegang dagunya yang kasar akibat pertumbuhan bulu-bulu halusnya yang belum sempat ia cukur. "Apa mungkin itu laki-laki yang akan di kencaninya." Sembur Satria dengan kata-kata yang sangat terkutuk itu.
"Bukan tuan, kami sudah menyelidiki lewat nomor polisinya. Bahwa mobil yang di tumpangi nona itu adalah taksi online yang mungkin sudah di pesan olehnya." jawab Saka dengan sangat lugas dan yakin.
Satria terdiam sebentar mengamati rekaman CCTV itu lagi. "Apa kamu yakin kalau itu benar taksi online?" Sembur Satria lagi dengan memincingkan ekor matanya ke arah Saka.
"Kami sangat yakin tuan, karena anak buah kami sudah mengunjungi pemilik taksi tersebut. Dan kami juga berhasil mendapat rekaman CCTV yang ada di dalam taksi online tersebut tuan." Jawab Saka dengan tangan segera mengganti rekaman bukti selanjutnya. "Ini tuan, sejauh penyelidikan kami. Bahwa wanita itu juga menginap di hotel ini. Kami sudah mengecek rekaman CCTV pada waktu itu memang benar yang masuk ke hotel ini adalah wanita tersebut tuan." Jawab Saka dengan panjang lebar kali tinggi. "Tapi sebelumnya mohon maaf tuan, kami belum mengetahui identitas dari wantia ini. Karena pihak hotel tidak mau memberitahu. Katanya itu permintaan dari pihak keluarganya yang tidak bisa di langgar." Lanjut Saka kembali menjelaskan dengan panjang kali lebar.
Setelah mengamati semua rekaman itu, Satria merasa ada yang aneh. Satria merebahkan punggungnya ke sofa dengan tangan yang memijat-mijat dahinya itu. "Rekaman itu seperti ada yang aneh." Gumam Satria Dalama hati dan wajah yang sedikit melamun.
"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Saka memanggil Satria yang terlihat melamun.
Satria berdiri dan berjalan menuju jendela kaca yang langsung mengarah ke luar, kemudian menarik kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. "Saka, sebenarnya ada sesuatu yang belum aku ingat ketika melihat rekaman CCTV itu semua, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dan aku merasa familiar dengan apa yang aku lihat tadi." Gumam Satria dengan pelan dan berjalan menuju arah Saka yang sedang duduk.
"Apa itu tuan." Jawab saka sedikit terbata dan dengan mata yang masih fokus dengan rekaman-rekaman itu tadi.
Satria kembali duduk di samping Saka dengan mengeluarkan benda pipih miliknya yang sedari tadi berada di saku celana Satria. Satria menggoyangkan jari-jarinya untuk membuka aplikasi i********: nya, tiba-tiba matanya tertuju pada Instastory Sang Penjelajah.
Satria menggoyangkan jari-jarinya lagi berniat untuk melihat story yang sempat dia lihat tadi siang. Tiba-tiba tangan Satria menscreenshoot gambar yang di kirim Sang Penjelajah tadi siang. Satria menggerakkan tangannya alih-alih menunjukkan satu gambar yang baru Satria ambil dari aplikasinya.
"Saka, coba kamu lihat apa ada yang aneh dengan gambar aneh." Gumam Satria sembari menunjukkan gambar yang dalam benda pipih miliknya.
"Ini memang tidak ada yang aneh tuan, cuma logo yang ada di kursi itu sama dengan taksi online yang di tumpangi wanita itu." Jawab Saka dengan sangat lugas.
Saka memang orang yang sangat cerdas, sampai kecerdasan dan kecerdikannya dalam segala masalah membuat keluarga Marcelio sudah mempercayakan apapun itu kepadanya. Terlebih Papa Marcell semenjak sering banyak masalah yang bisa di tangani Saka dengan mulus. Membuat Papa Marcell tidak ingin berpindah kelain hati. Marcell adalah sosok ayah yang sangat keras terutama kepada putra satu-satunya yaitu Satria. Dan tidak hanya itu papa Marcell adalah seorang pengusaha sukses yang banyak perusahaan-perusahaan besar sudah beliau taklukan.
"Betul juga kamu." Sahut Satria dengan perasaan semangat dan raut muka berbinar-binar. "Jadi apa kemungkinan wanita itu yang sudah saya kenal sejak tiga tahun ini." Gumam Satria dalam hati dan sesekali memegangi tengkuknya yang mendadak kaku.
"Tuan, kenapa tiba-tiba melamun?" Sahut Saka tiba-tiba dengan memandang wajah tuannya penuh curiga.
Satria melangkahkan kakinya yang kemudian duduk di hadapan Saka. "Saka, apakah aku perlu membicarakan ini kepadamu?" tanya Satria dengan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Kalau memang sangat penting, ataupun sangat rumit lebih baik di bicarakan tuan. Siapa tahu nanti saya bisa membantu." Sahut Saka dengan penuh arti.
"Sebenarnya, besok pagi aku akan menemui seorang gadis yang sudah saya kenal sejak tiga tahun yang lalu di sosial media. Kebetulan dia juga sedang berada di kota ini. Tapi," Gumam Satria terhenti karena dia merasa tidak mampu melanjutkannya. Dan seketika Satria membuang nafas ke sembarang arah dengan menundukkan kepala.
"Tidak di sangka ternyata Satria tertarik dengan perempuan." Gumam Saka dalam hati. "Kalau menurut saya lebih di temui saja tuan, siapa tahu dia memang benar-benar wanita yang cantik dan baik." Jawab Saka selanjutnya dengan wajah masih fokus dengan layar laptopnya.
Satria berdiri lagi dan berjalan menuju kaca tempat tidurnya. "Masalahnya itu Saka, sepertinya wanita yang akan aku temui besok pagi adalah wanita yang sedang kita selidiki." Jawab Satria dengan nada sedikit frustasi dan mengajak rambutnya yang tidak gatal.
"Kenapa tuan begitu yakin dengan pendapat tuan, kalau dia wanita yang sedang kita selidiki?" Tanya Saka melanjutkan percakapannya.
Keheningan terjadi sekilas. Kemudian Satria berdiri dan menghampiri Saka kembali. "Aku yakin sekali Saka, ini yang membuat sangat yakin." Jawab Satria dengan menunjukan benda pipih di tangannya dan menunjukan salah satu gambar dengan logo taksi online yang di maksud Satria.