Serangan Mendadak

1074 Kata
Hilangnya Zyan dari dunia hiburan menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai media, kendati sebenarnya keberadaan dia sudah diketahui oleh Fans. Di beberapa kesempatan, Fans yang sudah dilarang untuk masuk ke area The Intan Village mencoba menerobos dengan berpura-pura menjadi pengantar makanan atau kurir. Zyan yang berbadan tinggi besar dengan bentuk proporsional melihat ke bawah jendela. Gadis gendut itu meresahkan, kehadirannya benar-benar membuat dia ingin pergi dari tempat itu. Langkahnya sama sekali tidak leluasa, dikejar dan dihantui banyak fans. Perhatiannya teralihkan oleh sepeda motor yang parkir tidak jauh dari sana. Bel rumahnya membuat Zyan berpaling. Hari Jumat adalah hari di mana asisten rumah tangga dan Sopir Zyan libur. Lelaki itu menghela napas karena harus turun dari kamarnya, saat langkahnya menapaki tangga rumah, Zyan mengingat-ngingat apakah dirinya memesan barang? Atau mungkin itu milik bi Tita atau Pak Sakur. Saat membuka pintu, dengan jelas, Zyan melihat Khansa turut keluar dari halaman rumahnya. Selalu seperti itu, perempuan itu seperti tidak punya pekerjaan lain yang bisa dia lakukan selain menjadi fans kurang kerjaan yang menguntitnya. Ehm ... bukan menguntit, tetapi selalu ada saat dia ada. Jadi apa sebutannya kalau seperti ini? “Paket, Pak,” ujar kurir itu. Dari ambang pintu Zyan meneliti dan memastikan pria berjaket hitam itu benar-benar kurir paket. “Buat siapa?” tanya Zyan hati-hati. “Bapak Zyan Alex.” Khansa dari depan gerbang sedang merentangkan dan menggerakan tubuhnya. Sesekali perempuan itu mengintip ke arah Zyan dan kurir. Tidak menaruh curiga lebih dalam lagi, Zyan mendekat dan membuka pintu gerbang. Paketnya terlalu besar untuk diselipkan melalui celah jeruji. Zyan lengah, lelaki itu melihat kotak paket seukuran karton mie instan yang dibungkus dengan menggunakan kertas patrun dan dilakban dengan rapat. Saat sedang membaca nama penerima dari paket tersebut, lelaki yang masih menggunakan helm itu tiba-tiba menyerang Zyan sampai lelaki itu tersungkur. “Hei, hei, hentikan!” Khansa berteriak heboh. Dia berlari dengan susah payah kemudian berusaha menghajar kurir gadungan sebisanya. “Tolong!” Teriak Khansa, suaranya tidak selantang tadi. Tubuh besarnya membuat pergerakannya terbatas, sebelum dia bisa membantu Zyan, tubuhnya sudah lelah luar biasa. Ditambah dengan lemas karena diet dan tidak ada asupan makan sejak pagi karena suplemen yang dia beli berhasil menekan rasa laparnya. Zyan masih diserang dengan brutal oleh lelaki itu. Dia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua tangan sementara kurir memukulinya membabi buta. Khansa berusaha meraih tas pinggang lelaki itu dan menariknya agar menjauh dari Zyan. “Tolong! Mami, tolong! Papiiii!” Jeritan perempuan itu membuat dua sosok yang dipanggilnya keluar rumah. Melihat itu, orang asing yang menyerang Zyan buru-buru keluar dari tempat itu dan lari dengan mengendarai motornya secepat mungkin. Merintih, Zyan Alex meringkuk di atas paving block sambil merintih kesakitan. Nina berusaha membantu pria itu untuk bangun sementara Wisnu membantu anak perempuannya lalu dia melihat ke pos pengamanan yang kosong. Di rumah Nina bertanya di mana letak kotak P3K kemudian mengobati Zyan yang babak belur. Khansa hanya menyaksikan semuanya dengan gemetaran. “Kenapa yang lain gak ada?” tanya Nina, maksud yang lain adalah pak Sakur dan Tita. “Jumat mereka libur, Bu,” jawab Zyan. Tidak berselang lama, ketua RT dan RW juga sekuriti komplek datang. “Saya mau lapor polisi, saya merasa tidak aman di sini,” Zyan meringis saat kapas dengan cairan antiseptik menyentuh luka pada sudut bibirnya. “Bagaimana kejadiannya?” tanya ketua RW. “Tadi aku lagi depan gerbang liat ada kurir, tapi bukan kurir yang biasanya. Aku pikir itu beda ekspedisi. Eh tapi tiba-tiba itu orang mukul Bang Zyan. Aku panik bener,” ungkap Khansa, padahal sudah jelas Pak RW nanya sama Zyan. “Oh, Neng Khansa ada di lokasi? Kenapa gak menolong?” “Dia kegemukan, Pak, teriak minta tolong aja engap,” sindir Zyan. Wisnu dan Nina saling pandang, kemudian melihat anak gadisnya yang terlihat baik-baik saja meski omongan Zyan sedikit menyakitkan. “Tadi Shaha yang minta tolong, kami keluar terus dia kabur begitu saja.” Zyan terlihat lelah, dia merogoh ponselnya yang ternyata pecah karena kejadian barusan. Lelaki itu makin kesal dan melemparkan ponselnya sampai benar-benar pecah. Lelaki-lelaki yang berkumpul di rumahnya seketika diam. “Pinjam ponsel lo,” ucap Zyan. Dengan tangan gemetar Khansa memberikan ponselnya, Zyan mengeluh jijik saat melihat foto dirinya menjadi wallpaper dari ponsel Khansa. Setelah beberapa saat menghubungi seseorang Zyan mengembalikan ponselnya kepada Khansa. “Sha, ayo pulang,” ajak Nina. Terpaksa Khansa pulang dan membiarkan para lelaki untuk menyelesaikan permasalahan itu. *** “Sikapnya sama kamu apa selalu seperti itu?” tanya Nina lembut. Khansa menoleh, dia meneguk air putih dalam tumbler berwarna biru dengan tulisan nama Zyan di tumbler tersebut. “Seperti itu bagaimana, Mi?” tanya Khansa. “Merendahkan, depan orangtuanya saja berani, bagaimana jika Mami sama Papi gak ada?” “Kalian ini kolot banget, sih, Bang Zyan kan bergurau.” “Jangan dibutakan oleh cinta, Sha. Ngefans dan mengagumi boleh saja, tapi jangan sampai dia merendahkan dan menghina kamu.” Khansa mengangguk saja, lalu dia masuk ke kamarnya dan mulai merebahkan badan. Khansa lemas, setelah mengkonsumsi suplemen diet, nafsu makannya berkurang. Dia hanya menggerogoti dua buah apel dan minum sebanyak dia mau. Sayangnya meski perutnya selalu terasa kenyang, tetapi tubuhnya lemas luar biasa. Dia memejamkan matanya dan terbangun saat hari sudah gelap. Khansa melihat tirai kamar sudah tertutup itu artinya ada orang yang masuk ke sini saat dirinya tertidur. Saat mengintip ke luar jendela khansa melihat banyak orang di depan rumah Zyan Alex, ada mobil patroli polisi juga di sana. Sayangnya Khansa tidak memiliki kekuatan lagi untuk turun dan melihat semuanya dari dekat. *** Zyan ternyata tidak bisa hidup sendirian tanpa managernya, dia tidak biasa melakukan semuanya sendiri dan ternyata keamanan pun tidak terjamin. Karenanya lelaki itu menghubungi sang Manager melalui ponsel Khansa, sayangnya tidak ada tanggapan dan nomornya sudah tidak aktif lagi. Setelah semua urusan dengan pihak kepolisian selesai, pada akhirnya polisi menemukan pelaku p*********n yang kini sudah ditahan. Dia adalah seorang suami muda yang cemburu karena istrinya adalah fans berat Zyan. Lelaki itu mengetahui alamat Zyan di kota ini dari Fanpage yang selalu tahu di mana pun Zyan berada. Yang bikin bingung adalah Admin di sana mungkin tersebar di mana-mana karena selalu update lokasi Zyan saat ini. Kini penyerang dihukum dan Zyan kembali kesepian, dia lalu mengingat Khansa, gadis itu sangat menyukai dirinya. Dia rela celaka saat menolongnya. Dan bukti kesukaannya yang lain adalah potret wajahnya di Wallpaper gadis itu. “Andai saja dia bukan cewek gendut, sudah kujadikan mainan.” Lelaki itu bergumam, dia melihat rumah besar di hadapan rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN