Mana Bisa, Keburu Pingsan!

1075 Kata
Obat pelangsing yang dia beli seharga ratusan ribu hampir habis, belum ada efek signifikan yang Khansa rasakan selain lemas dan kehilangan nafsu makan. Sejak memutuskan untuk diet selama itu pula kontennya non aktif. Khansa hanya sesekali menerima endors di i********:. Harapannya sangat besar, ternyata jika memiliki badan yang ideal, tidak hanya Zyan Alex, tetapi Khansa bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Tidak akan ada lagi tolakan dan Khansa bukan lagi pengangguran yang sulit mendapatkan pekerjaan. “Sha, Mami lihat, kamu tidak cukup makan, jangan terlalu ketat dietnya, nanti kamu sakit. Dan diet itu harus dibarengi dengan olehraga, Sha. Jangan sampai gak olahraga.” Nina menyodorkan roti gandum isi telur ceplok dan sayuran kepada Khansa, perempuan itu hampir menolak pemberian ibunya, tetapi dia sadar walau bagaimana pun dirinya tetap butuh makan. “Gimana mau olahraga, Mi. Khansa lemes, bukan lemes, sih tepatnya. Tapi rasanya kok gak enak aja badannya. Padahal keinginan untuk bergerak tuh besar banget loh, Mi.” Satu gigitan sandwich Khansa makan tanpa minat yang besar, perempuan itu makan hanya semata sebagai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Kalau tidak sanggup diet, gak apa-apa, Sha. Mami kesepian, sarapan begini kadang sendirian karena Khansa diet, Papi sama Radit lebih milih bawa bekal ke kantornya akhir-akhir ini. Apalagi makan siang, satu-satunya teman mami makan ya, kamu, Sha.” Khansa diam lalu berkata, “Nanti siang Khansa makan bareng mami.” Perempuan separuh usia itu tersenyum bahagia, usai sarapan dia menyambar dompet dan pergi ke warung sayur terbesar di sekitar kompleks perumahan demi menyiapkan makan siang untuk Khansa. Khansa sendiri sudah mengatur meja dan kamera di studio kecil yang dibuat oleh Wisnu. Hari ini dirinya memilih untuk kembali ngonten, walau bukan Mukbang. Dia akan mereview tempat-tempat makan yang sudah pernah dia datangi sebelumnya. Mungkin akan syuting untuk opening dan sedikit penjelasan karena kunjungan ke restoran sudah dia lakukan sebelumnya. Namun sebelum memulai semuanya, Khansa mendengar gerbang rumah depan dibuka. Setelah dilihat, Zyan sedang mengeluarkan sepedanya. Khansa terlonjak girang, dia tidak boleh sia-siakan kesempatan untuk mendekati lelaki itu. Khansa berlari ke ruangan kosong yang digunakan untuk menyimpan barang, yang mana di ruangan itu terdapat sepeda lipat milik Radit yang dia simpan dengan baik. Khansa akan meminjamnya, sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui. Sekali ngayuh sepeda ada dua tujuan yang bisa dia capai, pertama ketemu Zyan Alex yang kedua olahraga. “Yah ... kempes!” keluh Khansa. Tidak kehabisan akal, perempuan itu mengambil pompa sepeda yang digantung di salah satu sisi dinding ruangan itu. “Lagi apa, Sha?” Nina yang datang membawa sekantong belanjaan berhenti sejenak kala melihat pintu gudang terbuka. “Olahraga dulu, Mi. Tapi kempes. Hatttcih!” banyaknya Debu membuat Khansa bersin-bersin. “Mami tahu, karena Nak Zyan sepedahan juga, Kan?” “Ih ... Mami, jangan banyak komentar, semangat Shaha nanti pudar begitu saja, Mi.” Tidak tahan dengan debu, Khansa membawa sepedanya ke luar rumah, kemudian berusaha memompanya meski yang terjadi antara pompaan dan p****l ban sepedanya sama sekali tidak sinkron. Lepas terus sehingga Khansa lelah duluan. Belum sempat sepedahan, Khansa sudah sangat lelah, napasnya berat, seperti seorang yang terserang asma. Terakhir kali merasakan perasaan ini sewaktu ospek di perguruan tinggi. Seluruh dunia rasanya terlihat kuning, persis seperti sore hari dengan lembayung. Selain itu banyak pendar-pendar cahaya, seperti kerlip bintang di langit yang cerah. Ya, pandangan Khansa berkunang-kunang. “Mi,” panggil Khansa, suaranya bergetar perempuan itu berusaha bangkit dari jongkok untuk meraih pilar rumah sebagai pegangan. Seperti ada gempa, Khansa tidak mampu menyeimbangkan diri hingga dia limbung lalu terjatuh dengan suara cukup keras. Punggungnya menimpa pot bunga berisi aglonema milik Nina. Tanaman hias kesayangan yang akhirnya harus hancur dihimpit tubuh tambun putri bungsunya. “Ada apa, Sha? Astaga! Tolong!” Nina memekik ketakutan, wajah Khansa sangat pucat dia terbaring dengan posisi terlentang. Pak Darmanto, satpam baru di depan rumah Zyan buru-buru menghampiri. Dia berusaha membuka gerbang lalu membantu Nina untuk mengangkat Khansa. Dari kejauhan, Zyan melihat Darmanto berlari panik menuju rumah Pak Wisnu. Dia mempercepat kayuhan sepedanya, memeriksa apa yang terjadi. Bukan apa-apa, Zyan akan bersiap untuk menghubungi kepolisian khawatir ada Fans gila yang menyerang dirinya seperti tempo hari. Namun, semakin dekat dengan kediaman Pak Wisnu, dengan jelas Zyan bisa mendengar tangisan seorang perempuan. Dia memperlambat kecepatan sepedanya, sampai berada tepat di depan gerbang Zyan bisa melihat Khansa terbaring di tanah dengan kondisi mengerikan persis seperti gajah dari Afrika. “Pak, tolong angkat, Pak. Duh ... Sha jangan bikin mami panik, Sha, buka matamu, Sha.” “Ada apa Pak Darmanto?” “Pingsan,” jawabnya serupa bisikan. Zyan melihat wajah cemberut Darmanto yang sejak datang untuk menolong diminta untuk mengangkat Khansa. “Saya panggil ambulans.” Lelaki itu berinisiatif, walau bagaimana pun Khansa harus segera ditolong. “Kelamaan!” pekik Nina. Perempuan itu lalu memanggil anak laki-lakinya untuk datang ke rumah menyelamatkan Khansa. “Ck ... kenapa gak panggil ambulans saja?” Zyan tidak mengerti lagi, bukannya menunggu Kakaknya Khansa akan lebih lama lagi? Jadinya dia milih duduk di bawah pohon, sambil menghisap linting tembakau. Darmanto terlihat tertekan, nyawanya seperti sendang terancam. Sesekali lelaki itu menoleh ke arah Zyan yang tampak tidak peduli. “Lanjutkan,” bisik Zyan. Kelamaan nunggu, Nina panik sendiri, pada akhirnya dia meminta tolong kepada Zyan dengan memohon-mohon. “Nak Zyan kan ada mobil, bolehkah kami gunakan mobilnya?” Zyan tidak menyangka ternyata Nina minta tolong lebih dari sekadar minta telponin keadaan. “Ayo angkat berdua, Bu.” Ujar Darmanto, namun usahanya sia-sia. Khansa memang memiliki berat badang yang luar biasa. Nina malu sendiri berhadapan dengan Khansa. Sayangnya dia harus segera mengangkat Khansa ke tempat aman. Zyan memanggil sopir, bala bantuan bertambah satu, Khansa akhirnya bisa dipindahklan ke mobil yang sudah siap membawanya ke Rumah Sakit. Tiba di rumah sakit, Khansa dibawa ke Instalasi Gawat Darurat kemudian diperiksa oleh tim dokter, selain itu ini merupakan kasus baru di Karang Mulya. “Apakah Anda keluarganya?” tanya pria berseragam hijau mint. Nina mendekat, “Saya ibunya, Bu dokter.” “Anak Ibu tidak sedang mengkonsi obat-obatan apa pun?” “Tidak,” jawab Nina. “Coba tanyakan lagi kepada orangnya langsung, menurut hasil pemeriksaan, Khansa kekurangan nutrisi, dehidrasi. Ini karena ditekan oleh pil suplemen pelangsing.” “Kenapa dokter bisa tahu?” tanya Nina. Pertanyaan bodoh yang tidak seharusnya ditanyakan. “Gejala dan hasil tes menunjukkan kalau Khansa keracunan obat pelangsing.” Zyan tertegun, usaha Khansa untuk memikatnya masih terus dilangsungkan, bahkan perempuan itu rela mengkonsumsi obat pelangsing demi betuk tubuh yang Zyan inginkan. Namun, mana bisa! Keburu pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN