Khansa terbangun dengan perut luar biasa perih. Tangan kirinya diinfus dan tangan kanannya cukup rada-rada sakit, entah karena apa. Khansa tahu ini adalah hari sialnya, dia juga bisa mendengar obrolan orang di kamar rawat inapnya saat dirinya pura-pura tidur. Dia sebenarnya tidak takut dimarahi, tetapi malu karena ketahuan menggunakan suplemen diet demi mempercepat penurunan berat badannya.
Saat pura-pura tidur, sih, Khansa sama sekali tidak mendengar gelagat marah dari kedua orangtuanya. Itu artinya dia aman, seratus persen aman. Kecuali jika Radit datang, Khansa tidak akan selamat.
“Papi tahu kamu Cuma pura-pura tidur. Sudah bangun, pertanggungjawabkan perbuatan kamu!”
Wisnu memang tidak bisa dibohongi, Khansa tidak pernah bisa berdusta, berackting dan menipu ayahnya. Wisnu selalu bisa menebak kebohongan-kebohongan anak-anaknya.
“Yah ... gak seru!”
“Jelaskan apa yang kamu minum anak gadis!”
“Shasa nyari online, dapet satu produk yang reviewnya bagus banget, sebotol Shasa beli tiga ratus mapuluh rebu. Isi tiga puluh kapsul. Papi mau?”
“Papi masih mau panjang umur, belum sempat nimang cucu. Ini Mami, pake bawa dia ke rumah sakit segala, aturan biarin aja nyusruk di depan rumah.”
Wisnu kemudian duduk di kursi samping tempat tidur, dia meraih air mineral dan meminumnya. Sebenarnya Wisnu marah banget sama Khansa, tetapi entah gimana ceritanya orang itu sama sekali enggak menunjukkan kemarahannya di depan Khansa.
“Papi tega amat,” rengek Khansa.
“Kamu juga tega sama dirimu sendiri, udah berapa lama minum obat itu?” desak Wisnu. Nina hanya diam sambil melihat interaksi suami dan dan anaknya.
“Belum lama, kalau gak percaya liat aja isinya.”
“Enggak dihabiskan sekalian?” sindir Wisnu.
“Udah, deh, Pi. Kasian anaknya.” Nina bangun, dia mengambil sebotol air mineral dan memberikannya kepada Khansa.
“Minum yang banyak, kamu dehidrasi.”
Dingin menyentuh tenggorokannya yang panas, air yang dia telan mengalir dari mulut menuju sistem pencernaannya. Khansa baru pertama kali merasakan nikmatnya air, kemarin dia merasa semua makanan tidak enak sama sekali. Air juga terasa bau besi.
“Shasa kenapa mau diet?” tanya Nina.
“Biar ditaksir tetangga depan rumah.”
“Papi, ih!”
“Cari orang yang mau menerima kamu apa adanya Sha, jangan sampai kamu menyiksa diri berdiet dan berujung di rumah sakit kayak gini.”
“Shasa capek diremehin terus, salah, ya kalau Shasa gendut?”
Nina menyodorkan buah potong, alih-alih makan perut khansa mulai bereaksi, dari dalam seperti ada dorongan yang memaksa Khansa untuk muntah. Lambung rasanya perih sekali, dan ujung lidah paling dalam seperti diberi perasa pahit yang luar biasa.
“Mau muntah, Mi,” keluh Khansa, dia menutup mulutnya dan menghindari aroma buah potong yang memicu mual.
Nina mengeluarkan kantong kresek dari tas, setelah memastikan plastiknya tidak bocor, wanita yang sudah melahirkan Khansa itu menyodorkan di depan wajah Khansa. Sayangnya Khansa menolak, mencium aroma plastik murahan dari kantong kresek tersebut rasa mual kembali mencuat. Sangat memuakkan.
“Ada ember, biar Papi ambil dari kamar mandi.” Meski kesal kepada anak gadisnya Wisnu tetap bela-belain mencari ember di kamar mandi, sampai akhirnya diberi pinjam perawat wadah yang terbuat dari alumunium.
Gejala keracunan itu masih terus berlanjut sampai malam hari, di mana Radit pulang dan marah-marah kepadanya.
Perawatan Khansa di rumah sakit ternyata hanya dua hari saja, bukan karena dokter yang nyuruh pulang melainkan karena Wisnu terus-terusan maksa. Lelaki itu sedang tidak punya uang karena perawatan Khansa naik kelas dari jatah asuransi yang seharusnya. Jadi ya biaya kekurangannya harus nambah.
Di rumah seperti biasanya kalau pulang dari rumah sakit ibu-ibu komplek suka menjenguk. Khansa males sebenernya, pasti mereka ribut dan bakalan nanyain sakit apa sebenarnya. Untung sepanjang jalan dia wanti-wanti pada Papi Maminya untuk tidak mengatakan alasan sesungguhnya. Bilang saja keracunan makanan atau keracunan ketampanan Zyan Alex.
“Itu keracunan makanan yang mau direview di IG ya?” tanya Bu Asep. Salah satu tetangga paling kepo tapi paling rajin ngasih bolu atau donat. Kalau lagi mood Bu Asep kadang bikin roti dan Khansa selalu kebagian. Lumayan, sih sebenernya. Rasanya enak mirip kue atau roti yang dobeli di toko roti terkenal. Tokonya tapi gak ada di Garut dan untuk menikmatinya harus pergi ke Bandung atau Tasikmalaya.
“Bukan, Bu. Makanan pinggir jalan, trus disimpan lima jam di kulkas. Mungkin basi.” Khansa terpaksa berdusta. Jika tidak dia pasti kena bulan-bulanan serangan tetangga kepo.
“Aduh, Neng Tasya, makanya jangan jajan sembarangan. Itulah Ibu selalu ngasih bento sama si Arsya, biar dia gak jajan sembarangan,” sambar Bu Linda. Tetangga yang rumahnya di pojokan. Dia selalu salah mengucapkan nama orang, buktinya Khansa yang selalu dia sebut dengan nama Tasya. Bu Linda adalah tetangga yang cukup tertutup. Semua anaknya gak ada yang keluyuran di sekitar kompleks selain pergi sekolah.
Khansa bersandar di sandaran sofa, dia pegang perut bagian kiri yang rasanya cukup perih. Dia kapok, gak lagi-lagi, deh diet pake obat pelangsing. Tapi ngomong-ngomong berat badannya udah turun belum, ya? Kan lumayan ada seminggu pake obat diet ditambah sakit begini asupan pun kurang. Pastinya ada perubahan.
Ibu-ibu akhirnya pulang setelah Radit terang-terangan bilang kalau Khansa butuh istirahat. Walau berisik, Khansa beruntung banget karena mereka tidak datang dengan tangan kosong. Misalnya Bu Asep, gitu-gitu dia bawakan roti kasur yang warnanya sungguh cantik. Baru keluar dari oven, mengkilap kecoklatan dan wanginya luar biasa.
Bu Linda bawa parcel buah, Khansa curiga itu barang dagangan suaminya karena memang profesi suaminya Bu Linda adalah pembuat parcel dan penjual buket bunga. Setidaknya dia bawa makanan dan bukan bawa sesuatu yang gak bisa dimakan. Sedangkan bu RW ngasih amplop berisi uang yang dikumpulkan dari ibu-ibu lain yang tidak sempat bawa buah tangan.
“Buka amplopnya, Sha. Coba lihat isinya berapa.”
Radit penasaran. Lumayan juga dijenguk pas lagi sakit, ada tambahan uang saku buat jajan Bakso Mang Irin yang lewat setiap sore. Khansa mau buka itu amplop tapi keburu direbut sama Nina. Dia pasrah tak bisa lawan.
“Biar Mami aja yang amankan. Nanti kalau Khansa udah sembuh bener, mami balikin lagi uangnya.” Bukan merampas, tetapi mengamankan karena lambung Khansa masih belum bisa makan makanan berat dan aneh-aneh.
Daripada kecolongan Hani menyita amplop berisi uang itu, membukanya dan menunjukkan berapa isi di dalamnya. Radit cemberut karena misi tidak berhasil, lelaki itu padahal mau minta buat beli bakso.
“Masa baru tanggal segini uang lo udah habis, Bang,” ucap Khansa.
“Enggak habis, Cuma caslees aja. Tadi keliling nyari ATM tapi semua gangguan.”
“ATM bersama lah, Bang. Kayak orang susah aja.”
Radit menggeleng, baginya uang sebesar enam ribu lima ratus yang dipakai buat biaya admin tarik tunai terlalu berharga.
“Mau jajan Bang Inul? Nanti kalau ada panggil aja, biar papi yang bayar.” Wisnu berteriak dari ruang depan. Anak sulungnya bersorak gembira sementara Khansa harus pasrah dengan banyaknya larangan karena lambungnya tidak kuat sama sekali.
***
Mood Khansa sedang tidak baik-baik saja, setelah sakit karena minum obat pelangsing memang berat badannya turun banyak. Lumayan lima kilo hilang, entah lemak mana yang pamit undur diri pada tubuh subur Khansa.
Tapi ini adalah salah satu alasan mengapa dia moodnya jelek. Pulang di rawat dua malam di Rumah Sakit ternyata nafsu makannya naik gila-gilaan. Efek obat dokter yang diberikan ditambah makanan rumah sakit yang hambar membuat Khansa kalap dengan makanan yang dimasak Nina.
Pagi ini perempuan itu iseng cek berat badannya. Buset nambah delapan kilo, apes banget, dah. Turun lima kilo naik delapan kilo. Itu artinya berat badan dia naik tiga kilo dari berat badan semula. Inilah yang bikin moodnya rusak parah.
Ditambah Khansa tidak melihat Zyan Alex, kata Nina sih dia pergi saat Khansa di rumah sakit. Mengurus pekerjaannya di Jakarta. Khansa lumayan sedih juga karena Zyan pulang. Mungkin lelaki itu tidak akan pernah datang ke rumah ini lagi, dan Khansa hanya bisa mengagumi lewat poster dan dunia maya lagi.
“Jahat bener, kamu, Bang. Pergi gitu aja setelah masuk dan mengobrak-abrik perasaanku,” ucap Khansa pada poster Zyan di depan pintu kamar mandi.