Kenapa Gak Bilang, Pak!

1413 Kata
“Saya mau kembali ke Garut,” ucap Zyan sesaat setelah membuka bebat yang melekat di bahunya demi menjaga dislokasi pada bahu akibat terjatuh saat berkuda. Zyan sebenarnya sudah bisa melepas benda itu sejak beberapa minggu lalu. Tetapi rasa malas pada pekerjaan membuat dia bertingkah seolah-olah masih menderita sakit dan tidak bisa bekerja. Menjadi aktor itu sungguh melelahkan, Zyan harus bangun lebih pagi, ketika nongkrong bersama teman-temannya dia tidak boleh pulang lebih dari tengah malam dan berada di lokasi syuting sampai matahari terbit. Lalu tidur, berangkat syuting lagi sampai pagi lagi. Saat syuting dengan adegan menunggangi kuda di Bima, dia terpejam sejenak. Sampai lelaki itu terjatuh dari kuda yang dia tunggangi. “Kerjaan kamu gimana?” Manager Zyan sudah pusing harus mengurus semua urusan termasuk refund seluruh uang yang pekerjaannya dibatalkan karena alasan ini. “Tolong beri saya istirahat beberapa bulan lagi, pastikan dokter mau memberikan surat keterangan. Sial banget, tadi dia nolak ngasih. Alasannya saya sudah cukup kuat untuk kembali bekerja.” “Lantas bagaimana rencana selanjutnya? Jadi bawa saya ke Garut?” “Saya kerepotan di sana. Satu asisten rumah tangga, sopir dan penjaga keamanan tidak cukup untuk membantu. Mereka terlalu “Ngampung” sampai kadang untuk mendapatkan apa yang saya mau sulitnya minta ampun.” “Saya harus bekerja untuk Lona juga, jika kamu mau istirahat lebih lama lagi. Istirahatlah sendiri, saya masih butuh makan.” “Kayak orang susah aja,” cibir Zyan. Lelaki itu meninggalkan klinik lalu pergi menuju rumah untuk melanjutkan perjalanan ke kota Garut. Kembali tanpa manager adalah pilihan dibandingkan kembali bekerja sekarang-sekarang. Meski Zyan harus kembali nahan muak karena pasti bakalan bertemu lagi dengan Khansa. Kebayang jari-jari tangannya yang montok. Zyan merasa takut berdekatan dengan perempuan itu. Udara yang dingin mulai menggigiti kulit Zyan manakala mobil yang membawanya sudah tiba di kota Garut. Zyan bahkan tidak tidur ataupun fokus pada ponsel demi menikmati pemandangan menakjubkan di sepanjang jalan yang dilalui. *** Setelah cukup sehat dan pulih, Khansa mulai ngonten lagi. Membuka lembaran baru setelah Zyan pergi dari hidupnya. Perempuan itu kembali ngonten di depan rumah bukan karena ingin menarik perhatian Zyan, tetapi hidungnya masih sangat sensitif dengan bau makanan sehingga dia memutuskan untuk memilih ruangan terbuka aar bau makanan itu bisa segera menyebar. Dengan sangat ekspresif Khansa menjelaskan salah satu bakso mercon yang sedang hits di kota Garut. Bedanya kali ini Khansa tidak memakannya karena kuah merah yang berasal dari cabe rawit atau biasa dikenal dengan cengek domba di Kota Garut, sangat tidak dianjurkan untuk kesehatan pencernaan Khansa. Dengan santai Khansa membelah bakso, di dalam gumpalan daging seukuran kepalan tangan orang dewasa itu keluar bakso seukuran kelereng, telur puyuh dan cabe utuh. “Lihat warnanya, teman-teman. Ini pasti super pedas, maaf sekali mari makan kali ini aku gak bisa ikut makan karena pencernaannya masih belum bisa diajak kompromi.” Perempuan itu kembali membelah bakso, dan menyisihkannya. Perbaksoan di kota Garut memang sedang menjadi rajanya makanan. Mulai dari bakso aci sampai bakso mercon. Semua beragam harganya, mulai dari yang murah sampai mahal. Salah satu penyesalan Khansa setelah mengkonsumsi obat diet adalah keterbatasan asupan makanan kesukaannya seperti Bakso Mercon ini. Bakso yang dia dapatkan dari endors ini akhirnya harus masuk ke perut Radit. Setelah kepentingan ngonten selesai, Khansa membereskan semuanya. Matanya tertuju pada sepeda yang teronggok di pojok halaman. Sudah tidak kempes lagi, sudah bisa digunakan sayangnya joknya selalu melorot ke bawah mengingat kapasitas angkut sepeda itu adalah 85 kilogram sedangkan Khansa lebih dari itu. Tak lupa ingatannya kembali pada peristiwa di mana Khansa sama sekali enggak keren. Pingsan karena Pil tiga ratus mapuluh ribu dan harus ditolong Zyan. Mobil mewah warna putih parkir depan rumah Zyan, jiwa kepo Khansa meronta, dia mendekat dan dari celah pintu terlihat Zyang yang sedang duduk diam dan tenang. Saking tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya, Khansa menepuk pipi dua kali. “Ini bukan mimpi, kan? Aw ... masih sakit!” usai mencubit tangannya Khansa menjerit kesakitan. Dia kembali mengintip ke pintu. Pak Sakur membuka gerbang kemudian menunduk menyambut kembalinya sang majikan. Khansa berdiri tegap. Dia tidak mau kalah, lalu Khansa berlari ke dapur membawa kotak makanan yang terbuat dari sterofoam. Dia memastikan isinya benar. “Ke mana, Sha?” tanya Nina saat berpapasan depan pintu dapur. “Mau ngasih makanan selamat datang.” Dia berdiri tegap, membawa kotak berisi bakso jatah Radit. Nina mengernyitkan keningnya, tak lama kemudian dia pijit-pijit karena pusing dengan tingkah Khansa. Ingin rasanya mencegah Khansa, tetapi percuma aja, sih. Soalnya setiap kalimat seorang Khansa itu kan mutlak. Cuma Nina sudah terlanjur ngomong sama Radit ada bakso, jika Khansa tidak mengembalikan bakso itu utuh, terpaksa Nina ngemodal sendiri untuk ganti baksonya. Pak Sakur tersenyum melihat Khansa, dia hampiri dan gerbang yang baru ditutuo kembali dibuka. Senyum tulus menghiasi wajah lelaki tua itu. “Neng Shasa, ada yang bisa saya bantu?” “Bang Zyan sudah balik, ya, Pak?” Gugup, Pak Sakur menjawab Iya. Khansa berbisik, “Yes!” lalu buru-buru dia menyerahkan kotak makanan itu kepada Pak Sakur. Pak Sakur bingung, dia mengangkat kotak itu, mencari sesuatu. Tapi tidak menemukan apa pun, tulisan atau apa yang menjadi petunjuk kalau itu kotak makan untuk dirinya. “Itu buat Bang Zyan, Pak.” Sebuah jawaban yang membuat lelaki itu menelan ludah. Kecewa, padahal sudah senang karena lapar. “Oh ... terima kasih kalau begitu, Bapak kasihkan ini pada Bapak. Oh iya, ada lagi yang mau disampaikan?” Khansa mengangguk, “tolong bapak hangatkan dulu makanan yang ada di sini. Angetin biar enak, sajikan di mangkok, abis itu bilang selamat datang kembali dari Khansa.” Pak Sakur tersenyum. Hambar sih senyumnya, mungkin dia merasa karena usaha Khansa lucu. Iya lucu, walau bagaimanapun Pak Sakur tahu bagaimana Zyan. Si pemilih makanan yang sering kali bikin pusing mbak Tita. “Terima kasih, Pak. Jangan lupa kasihkan, ya.” Dalam rumah tinggal Zyan, Pak Sakur segera nurut apa yang dibilang Khansa. Meski kecewa karena makanan itu bukan untuknya, tetapi dia senang hanya karena bisa menghirup aromanya yang luar biasa. “Biasa makan bakso si Parto aja rasanya wangi dan enak, ini sekarang kudu angetin baso segede gaban ini.” “Biar saya aja, Pak. Memangnya ini dari mana?” tanya Tita. “Neng Khansa, katanya makanan selamat datang kembali dari dia.” “Buatmu?” Pak Sakur menggeleng. Setelah memindahkan isinya ke dalam mangkok. Dia lalu membawa nampan dan pergi menuju kamar Zyan. Dua kali mengetuk Zyan keluar kamar dengan telanjang d**a. “Ada apa?” “Ini,” Pak Sakur menyerahkan nampan berisi semangkok bakso. “Widih, Bapak paling mengerti saya. Kebetulan pas lagi capek. Oh iya, minta kerupuk, dong. Kalau gak ada beli dulu. Buruan, Pak, saya tunggu ini.” Pak Sakur tidak sempat mengatakan apa-apa termasuk pesan Khansa. Dia melesat pergi mencari warung yang jual kerupuk. Zyan mencicipi kuahnya, gurih, benar-benar enak, ada rasa bawang putih yang disamarkan dengan rasa kaldu yang kuat. Sesekali dia juga merasakan merica dan terus saja dia cicipi sampai akhirnya satu persatu bakso kecil dia nikmati. Tidak peduli dengan kerupuk, rasa bakso yang sedang dia makan sungguh sangat nikmat. Zyan sampai ingin menangis karena kenikmatan yang tidak bisa dia ungkapkan. Apalagi pas membelah bakso paling besar. Kuah bening berminyak lansung berubah warna jadi merah dari isi bakso. Bakso-bakso kecil seperti anak bebek yang berlari mencari induk. Bagian paling enak adalah daging isian dari bakso yang tercampur dengan mecon. Zyan hampir tidak bisa berhenti. Pak sakur benar-benar mengerti dirinya. Pak Sakur datang membawa kerupuk saat bakso yang Zyan makan habis dan hanya menyisakan kuah merah. “Waduh, saya kelamaan ya?” “Enggak, saya aja yang kecepatan makannya. Oh, iya, Pak, belikan lagi seporsi ya. Bapak kalau mau pesan juga sama Bi Tita sekalian.” Pak Sakur tersenyum kecut. Masalahnya dia tidak tahu ke mana harus membelinya, sama sekali gak ada bayangan. “Kok diam?” “Saya gak tahu harus beli di mana,” ungkapnya. “Lah ... tadi kamu beli di mana, Pak?” “Itu dari Neng Khansa, makanan selamat datang dan dia juga bilang selamat datang kembali, Bang Zyan.” Zyan menelan ludah, astaga, gimana kalau makanannya dimasuki pelet atau pencahar. Atau racun lainnya yang sama sekali tidak dia mengerti “Pak, kenapa gak bilang dari tadi, sih?” Zyan menyingkirkan mangkok kosong di hadapannya kemudian meratapi nasib apesnya. “Kenapa gak bilang, Pak,” gumam Zyan dengan suara super gemes. Pak Sakur senyum, lalu perlahan mundur. Dia tahu, majikannya sedang dalam mood yang tiba-tiba berubah. Zyan tidak bisa marah, salah sendiri karena ceroboh. Lagipula baksonya enak, sayangnya itu dari Khansa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN