Males, Ah! Radit ngambek.

1850 Kata
Brak!! Pintu terbuka dari luar, sosok pemuda dengan wajah penuh keringat datang langsung menyerbu ke arah meja makan. Ya, Radit yang dikabari bahwa ada jatah bakso mercon. Lelah habis kerja emang paling cocok makan bakso mercon. Yang Radit lihat adalah semangkuk bakso yang sudah dibelah, tetapi masih utuh. Lalu ada lemak-lemak yang membeku di sekitar kuahnya. Ini jelas adalah makanan sisa ngonten. Radit buka lemari, yang ada hanya makanan yang dimasak oleh Nina. “Sha, mana bakso gue?” tanya Radit. “Ya itu. Belum gue makan, Cuma dibelah aja sambil ngonten.” “Katanya ada jatah lain, Sha?” “Udah makan aja itu, kalau gak mau gue kasih papi.” Radit pasrah, dia lalu ambil panci terus menghangatkan makanan dengan kuah berwarna merah itu. Setelah makan dia mencuci mangkoknya, sudah jadi kebiasaan di keluarga itu, nyuci peralatan makan, nyuci baju, masing-masing. Radit yang hendak naik ke lantai dua dan ganti baju, melirik Khansa sekilas. Ada yang aneh dengan adiknya, Radit harus mencari jawabannya. Karena hari sudah hampir gelap, Radit menutup tirai di lantai dua, pintu keluar yang berhadapan dengan pintu rumah depan dengan jarak lebih dari sepuluh meter. Dia mengintip sebentar pintunya terbuka dan Radit melihat seorang lelaki memetik gitar. “Pantes lu, ya, dari tadi cengar cengir udah kek orang d***o aja.” Radit langsung menegur sang adik, dia duduk di sebelahnya. “Apaan, sih, Bang. Rese amat!” “Lo seneng karena itu kang main film datang lagi, kan?” Senyum perempuan itu nyaris menyentuh telinganya. Pipinya terdorong sampai matanya menyipit sempurna. Ada rona merah di kedua bulatan yang persis seperti bakpau itu, rambut lurusnya bergoyang kala dia bergerak kegirangan. “Lo kayaknya kalau di rontgen bakal keliatan, tuh kupu-kupu lagi pada terbang di perut.” “Ih, receh banget, Astaga.” Khansa lanjut ngedit videonya, perempuan itu memang melakukan semuanya sendirian. Awalnya, Khansa pernah menggunakan editor untuk ngedit konten-kontennya, tetapi perempuan itu tidak puas dengan hasilnya. Jadi kerja sama dengan sang editor hanya sebentar saja. Satu-satunya editor yang paling dia suka adalah editornya Jemima. Salah satu youtuber yang tinggal di kota Garut juga. Khansa pernah pakai jasa Bang Fei pas awal-awal jadi konten kreator. Sayangnya lelaki itu menolak saat Khansa memintanya untuk kerja tetap di channelnya. *** Tiga hari berlalu, Khansa bosan juga karena Zyan sama sekali tidak keluar rumah. Berkali-kali kirim makanan tetapi berkali-kali pula ditolak. Bukan Khansa namanya jika menyerah. Dia rela nongkrong di teras lama-lama hanya demi melihat Zyan. Berharap sang pujaan hatinya buang sampah seperti biasa yang dilakukan sebelum ke Jakarta. Atau bersepeda, jogging atau apa pun itu. Perempuan itu menunduk lagi, kali ini dia melihat perutnya yang tidak bisa dikondisikan. Memang buncit seperti wanita hamil tujuh bulan. Haruskah aku diet lagi? Mungkin benar Zyan tidak mau bertemu dengan Khansa karena Khansa bukan levelnya. Perempuan itu terlalu buruk rupa untuk pangeran rupawan seperti Zyan. Tidak adakah kesempatan? Khansa melihat ke arah rumah lagi. Ajaib, Zyan memakai kaus hitam keluar dari rumah. Khansa tidak memikirkan rasa malu, dia langsung menghampiri. Menyapa seakan dia adalah teman akrab yang lama tidak bertemu. “Bang, apa kabar?” tanya Khansa. Zyan meringis, dia benar-benar geli dengan senyuman Khansa. “Baik,” jawabnya. Dia mendorong gerbang lebih lebar lagi, kemudian menjauh dari Khansa dan mengeluarkan mobil dari garasi. “Hati-hati ya, Bang!” Khansa berteriak, tidak lupa jari-jari gemoynya melambai di udara. Dia menjelma menjadi perempuan gigih yang akan selalu menikuti aktor kesayangannya ke mana pun dia pergi. Ah ... pemandangan indah yang baru saja pergi menggunakan mobilnya itu sungguh indah di pandang mata, tidak sia-sia dia duduk berjam-jam di teras rumah menunggu lelaki itu keluar. Khansa akan masuk rumah saat mobil hitam tiba di sana. Pengemudi tersenyum lebar, lalu turun dan menyodorkan tiga kantong berisi macam-macam makanan. “Gimana Khansa mau kurus kalau setiap hari Papi bawa makanan terus,” keluh Khansa, berbanding terbalik dengan kenyataannya, tangannya gemetar saking senangnya menerima makanan itu. Salah satunya adalah gorengan Antares. Cireng isinya adalah cireng yang paling enak se-kota itu. “Jangan berpikir untuk kurus kalau ujungnya bakalan sakit kayak kemarin, ayo masuk masa berdiri terus di situ.” Wisnu berjalan terlebih dahulu diikuti Khansa. Khansa lalu mengambil piring dan menata makanan yang dibawa Wisnu dengan rapi. Pisang cokelat dengan karamel yang banyak menggugah selera. Khansa mengambil satu dan menikmatinya, lagi, lagi dan lagi sampai tersisa setengahnya. “Sha, jangan dihabiskan, Radit belum kebagian,” ujar Nina ketika melihat isi dari salah satu piring berkurang banyak. Khansa hanya mengacungkan ibu jari sebagai jawaban. Tidak lama Wisnu sudah segar dengan mandi dan berganti pakaian, Nina menyajikan kopi kemasan kesukaan lelaki itu. “Sha, temen Papi buka usaha baru, tempat potong dan jualan ayam. Dia lagi butuh admin dan papi merekomendasikan kamu. Besok Papi antar ke sana, kamu mau, Kan?” Sudah lama sejak terakhir kali Khansa mendapatkan panggilan wawancara kerja, akhirnya keinginan itu muncul kembali. “Eh, kerja jualan ayam potong di pasar?” protes Nina. “Jangan meremehkan, ini bukan kang ayam potong sembarangan. Ini ada kantornya, lihat Papi udah foto kantor dan tempat pemotongan ayamnya. Kamu tidak usah khawatir pokoknya kamu siapin resume besok kita coba bersama.” “Khansa takut, Pi. Apa bener perusahaan mau menerima Khansa yang seperti ini?” “Seperti apa?” Wisnu melotot. Wisnu memang selalu membela Khansa, Wisnu adalah orang yang paling marah jika ada perusahaan yang menolak lamaran Khansa hanya karena bobot tubuh. Baginya, berat badan bukanlah penghalang yang bisa menghambat kinerja seseorang. “Janji gak bakalan mengecewakan kayak kemarin ya, Pi,” ucap Khansa. “Iya, temen Papi udah bilang, kamu bisa diterima dengan baik di sana. Apalagi kamu punya ijazah S1 dengan nilai sempurna yang bisa di—“ “Ijazah gak jaminan, bahkan pekerjaan sebelumnya menerima lamaran lulusan SMA yang memiliki bentuk tubuh proporsional dibandingkan Shasa.” Khansa memotong ucapan Wisnu, dia tidak bisa optimis jika itu menyangkut pekerjaan. Dia selalu kehilangan rasa percaya diri jika berkaitan dengan pekerjaan, tidak ada keyakinan besar seyakin dia akan bisa menaklukkan hati Zyan Alex. “Siapin dulu ijazah dan yang lainnya, Mami bantu setrika pakaian yang akan kamu gunakan besok.” Nina menyentuh bahu Khansa, perempuan itu hanya mengangguk dan naik ke lantai dua dengan susah payah. Dulu ketika awal membeli rumah ini, Khansa masih kecil dan semangat sekali pilih kamar di lantai dua. Sekarang dia menyesali keputusan itu karena naik turun tangga adalah siksaan baginya. Keesokan harinya, Wisnu bela-belain ambil cuti untuk mengantar Khansa ke perusahaan temannya. Saat mobil mereka tiba di gerbang depan perusahaan, sekuriti membukakan pintu kemudian mengambil gambar plat nomor mobil. Kemudian mempersilakan Wisnu masuk. Begitu gerbang dibuka, barulah Khansa takjub karena ini cukup besar untuk tempat pemotongan ayam. Pelataran perusahaan itu cukup luas, sehingga dari tempat parkir mereka berjalan agak jauh untuk tiba di front office. “Saya sudah ada janji sama Pak Rahman,” ungkap Wisnu. “Bapak Wisnu?” “Ya benar.” “Silakan ikut saya, Pak.” Gadis berhijab dengan postur tubuh proporsional bejalan sempurna di depan mereka. Khansa menutup perutnya dengan map karena tidak percaya diri. Mereka melewati lorong dan beberapa ruangan, sampai akhirnya berhenti di ujung lorong dan masuk mengikuti perempuan tadi masuk ke sana. Seorang lelaki seumuran Wisnu menyambut mereka. “Wah ... Nu, duduk-duduk.” Rahman mengulurkan tangan menyalami Wisnu dan Khansa. Kemudian membawa mereka duduk di set sofa di sudut ruangan. “Ini Neng Shasa, kan?” sapa Rahman dengan ramah. Gadis tadi yang mengantar mereka sedikit mendelik dan menyuguhkan air mineral dengan wajah meremehkan. Belum apa-apa, Khansa sudah punya firasat pekerjaan ini akan menyiksanya. “Sha,” tegur Wisnu. Khansa yang termenung kemudian mengangguk dan meminta maaf karena kurang fokus. “Kami butuh banyak karyawan di sini. Posisi admin masih kosong jadi Neng Shasa bisa langsung kerja di sini. Tapi sebagai formalitas agar yang lain enggak iri, Neng Shasa tetap harus melalui tahap wawancara dulu di HRD, tenang hanya formalitas.” Oh, jadi Khansa akan masuk ke perusahaan itu dengan jalur dalam, dia mengangguk. Mungkin jika perusahaan lain tidak akan pernah ada yang menerima bentuk tubuhnya yang besar. Apalagi di office yang mana dibutuhkan orang gesit untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Khansa hanya bisa tersenyum kecut, antusiasme yang sejak awal memang tidak begitu banyak kini harus menguap seiring dengan percakapan kedua sahabat karib yang bertemu lagi saat mereka sudah punya kesuksesannya sendiri. *** “Bang, boleh masuk?” tanya Khansa, dia membuka sedikit pintu kamar Radit. “Masuk aja, biasa juga gak pake nanya.” “Takut lo lagi melakukan hal yang tidak senonoh lagi kayak kemarin,” ejek Khansa. Radit mendelik, Khansa salah faham hanya karena melihat Radit sedang nonton video dewasa yang dikirim di grup chat teman-temannya. Dia putar video itu bukan karena ingin menontonnya melainkan karena ingin tahu apa isi video yang mendapatkan tanggapan beragam dari seisi anggota grup. “Gue bilang gak sengaja, gue beneran gak tahu isi videonya.” “Ya udah, sih, gak apa-apa kalaupun beneran juga. Gue ngerti banget kok rasanya jadi jomlo.” “Kalau Cuma mau bahas ini, mending lo keluar aja sana.” “idih sensi kayak cewek PMS.” Khansa mengitari kamar Radit yang beraroma sabun mandi. Satu hal yang ajaib menurut Khansa, saat keduanya bahkan seluruh keluarga menggunakan sabun yang sama tetapi radit bisa lebih wangi bahkan aromanya sampai memenuhi kamarnya. Khansa curiga sang Kakak berendam pakai sabun, bukan mandi. “Ambil yang lo butuhin, trus buruan keluar,” usir Radit. “Tega amat sampai ngusir, gue mau curhat.” Radit menyimpan komik yang sedang dia baca, kemudian duduk dengan benar, menyisakan ruang kosong di sebelahnya agar sang adik bisa duduk di sampingnya. “Gue besok kerja,” ucap Khansa. Radit sudah mendengar itu dari Nina, dia hanya tersenyum mengerti kegelisahan apa yang dirasakan oleh Khansa. “Lo pasti bisa, jika besok lo ngerasa gak akan bisa berjalan dengan baik, lo boleh mengambil keputusan sesuai dengan kata hati lo. Jangan memaksakan diri, gue rasa penghasilan lo dari ngeyutub udah lebih dari gaji gue sebulan.” “Mami sama Papi pengen gue kerja pasti karena terhasut oleh omongan sodara-sodara, sebanyak apa pun penghasilan kita kalau tetap di rumah namanya tetap pengangguran. Kalau bukan karena Papi yang usahakan dengan baik, nemuin temannya gue gak mau. Apalagi kerja lewat jalur dalam begitu. Belum apa-apa, cewek yang kerja di sana udah mandang gue kayak begitu.” “Ya udah. Lo ke sana aja dulu besok. Nanti lo lihat apa bisa kerja atau enggak. Lo harus bahagia, jangan pusing mikirin pendapat orang lain apalagi sodara, mami sama papi pasti ngertiin lo.” “Gak enak sama Papi,” keluh Khansa. “Nanti gue bantu ngomong, Sha. Semangat!” Khansa tersenyum cerah, andai semua orang bisa pengertian seperti Radit yang pengertian kepadanya. Andai Zyan bisa selembut dan seperti Radit memperlakukannya. Khansa akan senang. Loh, kok Zyan lagi. Khansa tersenyum, Zyan bukan lagi aktor idolanya, entah mengapa kepindahan Zyan ke sini membuat segalanya seperti begitu mudah untuk digapai. “Males, ah!” hardik Radit. “Hah. Kenapa?” “Gue ngomong lo senyum-senyum kek orang kesambet.” “Ngomong apa?” “Bodo amat!” Radit ngambek, dia mengambil kembali komiknya, lalu mengabaikan Khansa yang merengek minta Radit ngomong ulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN