Hari pertama bekerja, Khansa berharap bukan hari terakhir juga. Masalahnya sejak dia masuk di pagi hari, tatapan orang-orang sekantor sama sekali tidak menyenangkan. Kebanyakan sih nganggap Khansa gak ada. Tidak diberi pekerjaan dan tidak diajak bicara.
Puncaknya Khansa tahu kemarahan orang-orang sekantor itu karena Khansa masuk lewat jalur dalam. Iya KKN, Iya karena Wisnu dan Rahman sahabatan.
“Kita tuh ya, masuk sini susah banget, walaupun bukan perusahaan yang gede-gede amat setidaknya kita masuk sesuai SOP, sesuai aturan. Gak main terabas langsung duduk jadi admin gitu,” ucap Kania. Khansa yang hendak masuk musala terdiam sejenak. Mereka tidak tahu kalau Khansa ada di sana.
“Temen aku, udah tiga bulan lalu ngelamar belum ada tanggapan sama sekali, padahal temen aku cantik, bodynya oke banget dan otaknya juga encer, lulusan PTN di kota Bandung dan lulus cumlaude. Gak kayak ....”
Khansa tidak sanggup lagi untuk mendengar semuanya, seharian diabaikan, gak dianggap ada, dijutekin bahkan diomongin di belakang membuat dia sadar. Khansa tidak layak berada di sana, bukan karena dirinya tidak mampu melainkan lingkungannya terlalu toxic. Tidak baik untuk kesehatan mentalnya.
Khansa kembali ke mejanya. Di atas meja semuanya menguap begitu saja, pertanyaan muncul bersamaan dengan perasaan insecure. Orang obesitas tidak boleh kerja di kantoran, ya? Orang obesitas terlalu jelek untuk berada di lingkungan yang cantik, ya?
Kania dan Talita, orang yang gibahin Khansa tadi masuk ke ruangan itu. Seperti biasa Khansa diabaikan, dia berbadan besar tapi sama sekali tidak bisa terlihat. Nyaris seperti debu, mengganggu dan wajib disapu.
Jam menunjukkan pukul 14.00 Khansa tahu, Rahman ada di kantornya. Setelah mengingat lagi obrolan antara dia dan Radit, akhirnya keputusan diambilnya. Harapan Khansa pagi tadi bahwa ini bukanlah hari terakhirnya harus pupus.
Dua kali pintu diketuk, Rahman mempersilakan Khansa masuk.
***
Terakhir kali pulang dengan perasaan takut adalah saat SMA, waktu itu Khansa bolos sekolah karena nonton konser band indie lokal. Apesnya Khansa ketahuan sampai bikin pak Wisnu murka di telepon dan dia disuruh pulang. Kebayang bagaimana takutnya Khansa menyusuri jalanan pulang, Wisnu yang selalu bergurau, yang humble dan the best Papi ternyata bisa lebih galak dari Mami Nina dan itu sangat menyeramkan.
Khansa rela dihukum apa pun juga, dipotong jatah jajan bulanan sampai disuruh bersih-bersih rumah, asalkan jangan dimarahi dan didiamkan berhari-hari. Dan perasaan itu muncul kembali, Khansa takut, dia seakan tidak menghargai Papinya. Khansa seakan tidak mau mendengar beban berat orang tua karena anaknya terlalu lama menganggur.
Sudah sampai depan rumah, Khansa diam sejenak. Zyan yang ada di depan rumahnya pun seolah tidak terlihat. Dia berusaha meredam debar jantungnya yang menggila tidak karuan.
Saat sedang berdiri dan ragu untuk masuk, Khansa terperanjat kaget karena Nina keluar dari rumah hendak membuang sampah.
“Sampai kapan berdiri di situ, Sha?”
“Maafin Shasa,” ucapnya, Khansa terisak. Nina mengabaikannya dan berjalan menuju tempat sampah yang berada di ujung rumah persis di bawah tiang listrik. Kantong kresek berisi sampah dibuang kemudian tempat sampah berwarna kuning dan hijau itu kembali ditutup.
Nina kemudian menghampiri Khansa, “Ayo masuk dulu.”
Benar dugaan Khansa, Wisnu sudah pulang. Dia duduk dengan wajah masam sambil menatap hampa televisi flat yang menyiarkan siaran olahraga. Di meja makan ada Radit yang sedang buka-buka ponselnya.
Nina berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangannya sementara Khansa berdiri di tengah rumah, bingung mau bagaimana.
“Papi marah?” tanya Khansa, suaranya tercekat. Radit menoleh, Wisnu dan Nina juga menoleh.
Wisnu mengambil remot dan mematikan televisi. Dia menoleh ke arah Radit dan Nina. Ibu dan anak itu seakan mengerti tatapan Papi Wisnu. Nina beranjak ke laundry room menyelesaikan cuciannya sedangkan Radit naik ke lantai dua.
Khansa menelan ludah, semakin takut dengan keadaan yang akan dia hadapi saat ini. Wisnu menepuk bantalan sofa di sebelahnya. Khansa patuh, dia berjalan menghampiri.
“Pak Rahman sudah cerita semuanya sama Papi, jujur Papi tidak kecewa tapi Papi sedih. Kamu pasti punya alasan yang kuat kenapa melepaskan pekerjaan yang baru sehari kamu coba. Ada banyak hari untuk sebuah penyesuaian. Tapi Papi di sini gak mau jadi orang tua yang egois dan tidak mendengarkan alasanmu.”
Khansa diam, dia menggigiti kuku jempol pertanda gugup. Yang terdengar saat ini hanyalah deru mesin cuci dari laundry room. Sesekali kendaraan motor milik tetangga yang lewat dan juga penjual roti dengan jargonnya yang sering ditiru dan dinyanyikan anak-anak Kompleks.
“Khansa merasa tidak pantas di sana. Semua orang gosipin Khansa, sudah tidak cantik, tidak begitu pintar, tidak gesit karena obesitas dan masuk pakai jalur KKN.” Jika sudah menggunakan nama Khansa, itu artinya keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Wisnu terperanjat, matanya membulat lalu melembut seiring dengan melihat tatapan wajah Khansa yang memprihatinkan. Dia ambil tangan sang anak yang terus digigit bagian kukunya. Lalu digenggam dengan penuh kasih sayang.
“Papi malu sama Pak Rahman. Sebenarnya bukan Papi yang mengajukan diri, tapi Pak Rahman yang minta, dia tidak menemukan kualifikasi terbaik untuk ngisi bagian admin.”
“Bagaimana Pak Rahman bisa tahu kalau Khansa memiliki kualifikasi yang baik untuk kerja di sana? Khansa dengar sendiri mereka ngerumpiin Khansa. Katanya yang sudah melamar ke sana dari tiga bulan lalu malah belum dipanggil, padahal lulusan universitas ternama dan dia cantik. Enggak gembrot macam Khansa.”
Genggaman tangan Wisnu terurai, lelaki yang suka menumbuhkan kumis itu merangkul Khansa. Dia sadar, dirinya dan juga Nina sang istri berkontribusi membuat Khansa obesitas dan tidak bisa menurunkan berat badan. Hanya karena dulu saat Khansa kecil seringkali dikatain kurus bahkan disebut kurang gizi oleh kader posyandu.
“Khansa merasa, kalaupun harus kerja, Khansa bisa cari kerja sendiri. Jadi setidaknya ada nilai plus karena tidak kurus seperti orang lain.”
Wisnu ngelus-ngelus lengan sang putri, memberikan kekuatan dan secara langsung sebagai permintaan maaf karena sudah membuat mental Khansa jatuh, sudah membuat putri kecilnya mengalami krisis percaya diri.
“Papi minta maaf,” ucapnya.
“Papi gak salah apa-apa. Khansa gak minta apa-apa sama mami dan Papi, Khansa hanya minta jangan paksa Khansa untuk kerja lagi. Penghasilan Khansa dari ngonten udah lebih dari cukup buat biayain hidup Khansa sendiri, Pi. Meski memang akhirnya ijazah tidak berguna sama sekali. Maaf sudah sia-siakan ini dan menghamburkan uang Papi karena nyekolahin Khansa tetapi ijazahnya gak kepake.”
“Stttt, Shasa gak boleh ngomong begitu,” sambar Nina. Dia sebenarnya mendengarkan percakapan Papi dan anak itu sedari tadi.
“Duduk sini, Mi.”
“Mami terlalu sibuk mendengarkan omongan orang lain tanpa peduli perasaan Shasa. Shasa bebas mau jadi apa pun, mau kerja apa pun. Kalau pun Shasa gak dapet uang dari konten, si Papi masih wajib ngasih uang sama Shasa, iya, kan, Pi?”
Wisnu mengangguk. Iya memang betul, mereka memaksa Khansa untuk bekerja bukan karena uang melainkan karena gengsi semata.
“Khansa mikir mau usaha aja, Mi, Pi, buka toko, resto atau apa pun itu yang di dalamnya gak bakalan ada orang mandang Khansa dari fisik aja. Khansa lelah banget karena dilihat dari fisiknya aja.”
Kedua orang tua itu semakin terenyuh. Dia memeluk Khansa bersamaan, di ujung tangga, Radit melihat pemandangan ini dengan mata berkaca-kaca.
Ketika mendapatkan pesan dari sang adik kalau dia sudah mengundurkan diri, Radit buru-buru pulang dari kantornya. Tidak ambil lembur, tidak hang out bareng temen. Dirinya memastikan untuk sampai ke rumah sebelum Khansa.
Saat tiba di rumah, Radit sedang melihat kedua orang tuanya ngobrol serius, dia menebak kalau Papi Wisnu sudah tahu mundurnya Khansa dari pak Rahman.
“Serius amat,” tegur Radit.
“Loh, enggak lembur?” tanya Nina.
Radit berjalan menuju lemari es dan mengambil air putih dingin, kemudian meneguknya pelan-pelan.
“Radit mau istirahat, kerja terus badan capek rasanya.”
“Andai adikmu kayak kamu, Dit.” Wisnu meratap. Radit tersenyum sinis.
“Walau kami lahir dari rahim yang sama, dari benih yang papi hasilkan, tumbuh dengan didikan dan kasih sayang yang sama, papi jangan sekali-kali membanding-bandingkan kami. Kami dua orang yang berbeda, kita justru kudu rangkul Khansa. Krisis percaya dirinya besar.”
“Kamu tahu?” tanya Wisnu.
“Khansa sudah mengeluh sebelum dia masuk kerja. Jadi bukan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru melainkan sudah insecure sejak awal. Radit juga yang bilang sama Khansa untuk ikuti kata hatinya, lakukan apa pun yang bikin dirinya nyaman. Jadi kalau papi mau marah, marah saja sama Radit.”
Nina tersentuh dengan pengorbanan Radit kepada adiknya, terjawab sudah alasan si gila kerja pulang lebih awal. Radit bangkit dari duduknya, dia melihat ke luar rumah yang mana Khansa sedang berdiri di depan gerbang. Ragu-ragu untuk masuk.
“Radit gak tahu sejak kapan Khansa berdiri di sana,” ungkapnya, Nina buru-buru menghampiri, dia berlalu dan pergi ke dapur, mengambil sampah untuk dia buang di luar.
“Pi, Bang Radit ngintip,” seloroh Khansa, lamunan lelaki itu buyar, Radit yang berdiri di ujung tangga buru-buru turun dan ikut berpelukan. Mereka sudah seperti teletubies dengan personil lengkap. Bedanya tiga di antaranya kehilangan berat badan karena krisis pangan.
“Mami masak dulu, kalian pulang cepat jadi Mami gak sempat masak.” Nina berdiri lalu lembali ditarik oleh Radit sampai dia duduk kembali.
“Radit dapet bonus tahunan, kita pesan aja Radit yang traktir, kalian mau apa?”
“Yeay!” Khansa bersorak, dia buru-buru mengambil ponselnya dan pilih sendiri apa yang dia mau. Radit gemas, dia mengacak bagian depan rambut sang Adik. Wisnu berbalik dan menyeka air matanya, rasanya memiliki keluarga seperti sekarang ini merupakan hadiah terindah yang dia dapatkan dari Tuhan.
***
Di rumah depan, Zyan bertanya-tanya, saat dirinya berada di luar rumah dan Khansa baru turun dari taksi online, dirinya sama sekali tidak melihatnya. Padahal Zyan melihat dengan jelas kalau perempuan itu berdiri lama sekali di depan pagar rumahnya.
Apakah Khansa sudah meneyerah menjadi fans berat Zyan?
Memang, sejak Zyan menghilang dari dunia hiburan, ada banyak idola baru yang bermunculan. Salah satunya adalah Michael yang merupakan keturunan Indonesia Filiphina. Wajahnya tinggi dengan alis tebal. Merebut semua fans Zyan.
Ada rasa sepi dalam hidupnya, karena walau bagaimana pun pada akhirnya dia tidak bisa segemilang bintang terang di langit yang biru.
Lelaki itu masuk ke rumah, padahal dari tadi berdiri berharap Khansa keluar dan menunggunya seperti biasa yang dia lakukan atau membelikannya Bakso mercon seperti tempo hari.