Bukan, Pahlawan Kesiangan

1055 Kata
Kabar yang dibawa Wisnu malam itu jika terjadi lima tahun, enam tahun atau delapan tahun ke belakang akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi Khansa. Ya, family gathering yang diadakan oleh kantor di mana Wisnu bekerja. Kali ini Khansa tidak ikut, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia lebih memilih tinggal sendirian di rumah, ngonten atau bisa juga ngecengin tetangga depan rumah. “Kalau keluar jangan lupa kunci pintu. Jangan main ke mana-mana, jangan keluyuran malam-malam dan jangan—“ “Mami, Khansa ngerti, udah buruan pergi itu Papi udah klakson-klakson terus.” Nina tersenyum lalu sebagai tanda perpisahan selanjutnya perempuan itu mengecup pipi bulat Khansa. “Kita pergi, Sha!” teriak Wisnu dari dalam mobil, Khansa melambaikan tangannya, melihat mobil itu terus bergerak menjauh meninggalkan Kompleks perumahan. Ada banyak daftar tugas yang harus Khansa lakukan saat kedua orangtuanya pergi salah satunya adalah nyiram aglonema dan juga menyisiri daun-daunnya memastikan tidak ada telur ulat pada permukaan daun. Lumayan tidak terlalu berat pekerjaannya, apalagi di depan rumah Zyan Alex. Tapi ada pesan juga dari Nina untuk tidak menyiraminya tengah hari, sebaiknya sore atau pagi hari. Semoga saat sedang mengerjakan tugas negara itu Zyan bisa melihat Khansa. Karena menurut pengakuan Papi Wisnu tercinta, Nina terlihat jauh lebih berdamage. Khansa tersenyum bahagia, dia melihat rumah depan yang selalu tampak sepi. Kemudian menutup gerbang adan akan kembali sore hari sambil menyiram adik-adik tirinya alias si aglonema yang sangat disayangi seperti anak sendiri oleh Nina. Bahkan mungkin lebih disayang, sampai-sampai saat pergi mereka yang dikhawatirkan. *** Menunggu sore Khansa habiskan waktunya dengan mengedit video, sesekali dia melihat jam dinding padahal di layar monitor ada penunjuk waktu di pojok bagian kanan. Keripik singkong, sale pisang dan dodol cokelat menjadi teman Khansa saat edit video. Pipinya sampai pegal karena terus-terusan mengunyah makanan khas daerah Cijoho. Ketika waktunya tiba, Khansa segera menyelesaikan editannya dan mengambil emrat, alat untuk menyiram tanaman yang terbuat dari plastik berwarna biru. Khansa pernah mengeluh berkali-kali karena ada cara yang lebih mudah untuk menyiram tanaman, dengan menggunakan selang. Namun, Nina yang mencurahkan seluruh kasih sayangnya. Gerakan tangan Khansa berhenti saat melihat satu unit mobil berhenti di depan rumah Zyan Alex, lelaki berambut pirang yang duduk di belakang kemudi melirik sebentar ke arah Khansa lalu masuk ke rumah tanpa kata. Khansa melihat orang-orang yang bekerja seperti Zyan memiliki wajah yang arogan dan terlalu dingin, lalu dirinya bertanya pada diri sendiri mengapa bisa menyukai Zyan. Ah ... suka ya suka, terlepas dari seperti apa sikap mereka. Perempuan itu tersenyum ke arah rumah Zyan sampai merasakan kakinya dingin kena cipratan air, dan ternyata air yang dia isi ke emrat sudah penuh. “Mati aku!” umpat Khansa. Kalau Nina tahu, dia pasti sudah diomelin karena tagihan PAM akan membengkak. Mandi terlalu lama saja pintu kamar mandi sudah digedor. “Permisi,” ucap seorang laki-laki. Baru saja hendak membalas sapaan orang itu Khansa kaget bukan main. Zyan Alex berdiri depan gerbang dengan wajah tanpa ekspresi. “Aw, aduh!” Khansa menjerit, emrat yang dia isi penuh terjatuh dan menimpa kakinya. Mami, sakit, Mi. Khansa hanya bisa menangis dalam hati, meski sebenarnya dia sudah sangat kesakitan. “Bisakah saya bertemu Pak Wisnu?” tanya Zyan. “Papi lagi ke luar kota, Bang. Ada yang bisa Shasa bantu?” tanya gadis itu, dia sudah berada di hadapan Zyan, tebar pesona. “Tidak ada apa-apa kalau begitu, biar saya ke rumah Pak Yosh saja, permisi,” pamitnya. Bukan Khansa namanya jika tidak tahu mengapa Zyan mencari papinya, susah payah dia membuka gerbang dan mensejajarkan diri dengan Zyan yang mulai mencari cara memanggil Pak Yosh. Tetangga samping rumah Khansa. “Itu ada celah kecil, nah itu bel di sana,” ungkap Khansa. “Ngapain ngikutin?” “Barangkali Bang Zyan butuh bantuan Shasa siap bantu, kok.” Sudah dua kali bel ditekan, tetapi sama sekali tidak ada tanggapan dari pemilik rumah. Zyan kesal dia lalu pergi kembali ke rumahnya tanpa melihat Khansa sama sekali. Tersinggung karena ditinggalkan Zyan begitu saja? Tentu tidak, karena memang untuk mendapatkan sesuatu yang berharga setiap orang harus mengalami kesulitan terlebih dahulu. Khansa hendak masuk ke rumah melanjutkan siram-siram aglonema sebelum Radit pulang dan laporan pada ibu negara saat Bi Tita keluar dari rumah. Dia masih pakai celemek dan nengok kiri kanan seolah minta bantuan. “Ada apa, Bu?” tanya Khansa. “Nyari orang, barangkali ada yang lewat, gas agak mendesis, saya sudah coba berbagai cara masih aja mendesis, apalagi ini tabung gede. Ngeri.” “Pak Sakur sama Pak satpam ke mana?” “Ini kan jumat, Neng, kami libur seperti biasa. Cuma ada teman Pak Zyan jadi saya datang buat masak sama beresin kamar tamu.” “Oh ... ayo Khansa lihat,” perempuan itu menawarkan diri. Awalnya Tita ragu, tapi melihat kesungguhan Khansa dia akhirnya mengizinkan Khansa masuk. “Tadi Bang Zyan ke luar buat nyari bantuan?” tanya Khansa. “Iya, tapi gak ada katanya.” Pemandangan rumah yang dia lihat rasanya tidak asing, Khansa pernah masuk satu kali. Kali ini untuk pertama kalinya dia masuk area dapur. Rasanya sih sama saja dengan di rumahnya, mengingat rumah mereka satu tipe. Tapi begitu melihat dapurnya, dipastikan Nina akan menangis melihat furnitur mewah yang ada di dapur. Tidak ada bau bawang dan terasi daat berada di dalamnya sekalipun Tita sedang masak. Yang tercium hanyalah bau mirip durian yang cukup menyengat dan dia lupa di mana pernah mencium bau seperti ini. “Bu, ini bau apaan, ya?” tanya Khansa. “Astaga, Neng, ini kan bau gas.” “Ah ... iya. Khansa lupa.” Khansa baru ingat dengan tujuannya masuk ke rumah ini, dari lantai dua terdengar tawa samar Zyan dan tamunya. Khansa mendekat dan melihat selang dalam kondisi sudah terlepas. Sebisanya Khansa berusaha untuk memasukkan regulator ke dalam mulut tabung. Tetapi desisan itu ada terus sampai dia bingung sendiri. Bi Tita seperti ragu dengan kemampuan Khansa. Karena keraguan itu memang beralasan, Khansa sendiri ragu. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain keluar sebentar dengan alasan agak mabok karena nyium bau gas. Padahal yang dia lakukan adalah nelpon seseorang. Baginya, tidak ada cara lain selain minta bala bantuan sekalipun lewat telepon. Khansa terlanjur menyetujui untuk membantu, parah aja sih jika tiba-tiba bilang tidak bisa. Ah ... sungguh berat jadi Khansa, demi Bang Zyan dia rela untuk membantu memperbaiki selang dan karbulator. Tak apa jadi pahlawan kesiangan, yang penting Khansa bisa dekat dengan Zyan Alex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN