Lupa Radit Sampai Dia Ngambek Lagi

1066 Kata
”Papi?” tanya Khansa, dia melihat kiri kanan memeriksa keadaan rumah yang cukup sepi. “Papi bahkan masih di kantor, bis kami belum berangkat dan kamu sudah nelpon?” Khansa menggigit bibir bawahnya, lalu buru-buru mengungkapkan semuanya kepada Wisnu. Melalui telepon, Khansa diberikan petunjuk bagaimana cara memperbaiki regulator yang seringkali dia sebut sebagai kalburator, saat nelpon Wisnu pun Khansa salah sebut nama barang itu. “Jangan ditutup teleponnya, Pi, biar kita tahu Khansa bener enggak ngerjainnya,” Terdengar suara Nina di speaker. Khansa diam-diam saja sambil pasang karet seperti instruksi Wisnu. Dan benar saja, tidak terdengar lagi desisan kebocoran. Dia terlihat sangat bahagia dengan pencapaian kecilnya. Sayangnya, ketika kompornya dihidupkan, sama sekali tidak keluar api. Persis seperti kompor yang sama sekali tidak ada gasnya. Khansa berusaha berkali-kali akhirnya nyerah. “Papi, enggak nyala,” keluh Khansa. Keringat sudah membasahi kepalanya, antara takut, malu, dan bahagia bercampur jadi satu. Khansa menunggu jawaban dari Wisnu. “Itu otomatis terkunci, otomatis safety. Yang harus Shasa lakukan adalah buka kembali, kemudian guncang sedikit regulatornya sampai terdengar suara kecil. Kayak ada bola kecil loncat-loncat di sana, Sha. Ayo buka buruan bentar lagi Papi harus ikut barisan dan isi presensi.” “Shasa udah susah payah pasang tanpa bocor sekarang harus buka lagi?” “Itu satu-satunya cara, buruan buka!” Kali ini Nina yang bicara, sedikit membentak karena mungkin Khansa mengganggu acara mereka. Mau tidak mau Khansa melepas kembali regulator, dia harus bergerak cepat sebelum Bi Tita kembali dari warung. Atau sebelum orang lain melihat dirinya. Meski sebenarnya terlambat, Khansa tidak menyadari ada sosok yang memerhatikannya sejak awal. Dia melihat Khansa yang berusaha keras untuk memperbaikinya. Meski sebenarnya dia pun tidak bisa dan mengandalkan telepon demi panduan dari Papinya. “Berhasil, Pi, berhasil!” pekik Khansa kegirangan. “Itu dijamin aman?” tanya Zyan. “Loh, Sha, ada orang? Siapa? Jangan macem-macem, Sha, Mami denger barusan.” Nina teriak-teriak, Khansa buru-buru menutup sambungan dan melihat Zyan yang sudah terlihat lebih segar dari tadi. “B-bang Zyan.” Tergagap perempuan itu berusaha menjelaskan. Siapa yang tidak panik dengan situasi seperti sekarang ini, Khansa benar-benar ingin punya kemampuan seperti cacing agar dirinya bisa sembunyi di tanah. Zyan mendekat, dia berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil dua kaleng minuman. Lalu menyimpannya di meja dan menggusak rambut Khansa. “Ternyata kamu adalah sosok yang sangat gigih, minum.” Lelaki itu menyerahkan satu kaleng minuman cingcau kepada Khansa. Ragu-ragu perempuan itu mengambilnya. “Ayo minum bareng, saya akan menganggap ini adalah acara minum bareng Fans.” Seperti mimpi, selain diberi minuman kaleng, Khansa juga dipersilakan duduk di sana, kursinya dimundurin Zyan. Seperti seorang putri yang dipersilakan oleh pangerannya. Khansa masih tertegun, alangkah bahagianya. “Sejak kapan kamu ngefans sama saya?” tanya Zyan. Dia menyeruput minumannya dan melihat Khansa duduk dengan gugup. Aneh banget padahal biasanya Khansa tidak tahu malu. “Maaf, Bang, aku tadi memang gak bisa. Bukan mau nipu, tapi beneran mau bantu karena Papi Khansa jago bener benerin yang begini-begini,” ucapnya. Oh, Zyan tahu, ternyata itu yang membuat Khansa diam menunduk. Dia ketakutan. Zyan buru buru berdiri dan berjalan ke arah kompor. “Ini aman, tidak apa-apa, tadi saya hanya bertanya. Makasih ya Shasa.” Khansa melotot, apalagi saat Zyan panggil dia dengan sebutan Shasa, yang mana hanya orang terdekatlah yang memanggilnya dengan sebutan Shasa. Apa itu artinya sekarang Bang Zyan sudah dekat dengan Khansa? Perempuan itu terus bertanya sampai tangan Zyan digerak-gerakan di hadapan wajah Khansa. “Terima kasih sudah memperbaikinya, jadi sejak kapan?” tanya Zyan. Khansa loading, sudah seperti komputer pentium dua yang bersaing dengan core i7. Dia nsama sekali kesulitan mencerna pertanyaan itu. “Ah, sudah lama,” jawabnya malu-malu. “Kamu enggak gabung sama komunitas Fans saya, kan?” “Enggak, enggak, Shasa gak rela banget berbagi Bang Zyan dengan yang lain. Shasa melakukannya sendiri, Bang. Gak butuh teman untuk menjadi penggemar Bang Zyan. Saya bisa sendiri dan lebih menyenangkan.” Zyan lega, dia takut tiba-tiba direkam Khansa terus dibagikan ke komunitas sebagai konsumsi cewek-cewek yang sering kali menjerit saat melihat Zyan. Lelaki itu melirik Khansa yang sedang berusaha membuka kaleng minuman kemasan tadi. Sepertinya sangat kesusahan. Tanpa kata, Zyan berusaha merebut kaleng minuman itu, Khansa merasakan kupu-kupu bersorak dalam perutnya saat tangan mereka bersentuhan. “Maafkan sikap saya selama ini. Saya sedang lelah dengan semuanya termasuk Fans.” Zyan memberikan minuman yang sudah berhasil dia buka. “Shasa ngerti, Bang. Maaf juga sikap Shasa selama ini. Terlalu antusias saat tahu ada Bang Zyan di sini, bahkan rumah kita berhadapan. Khansa janji tidak akan pernah melanggar Privasi Bang Zyan. Shasa juga janji gak akan pernah sebar foto-foto aib Bang Zyan kepada orang lain.” “Foto aib?” “Ya, di komunitas sering kali tersebar foto-foto Bang Zyan pas lagi jelek-jeleknya.” “Loh, katanya kamu gak ikutan komunitas?” “Iya memang enggak, tapi temen aku masuk. Dia yang selalu bagikan foto-foto yang di posting ke grup.” Zyan tertawa. Dia membiarkan sore itu mengalir begitu saja, menemani Khansa di dapur sambil melihat Tita yang melanjutkan memasak. Sampai saat makan malam tiba, Khansa pamit undur diri dan tidak bisa ikut makan malam. Khansa sudah janji tidak akan mengusik ketenangan Zyan dengan melakukan hal-hal seperti ini meski sebenarnya dia mau. Sebagai gantinya, Bi Tita diminta Zyan untuk memberikan makanan kepada Khansa, sebagai ucapan terima kasih. Zyan sendiri yang langsung menyerahkannya. “Terima kasih karena selalu berusaha nolongin saya, Sha. Saya tahu kamu baik dan tulus, tidak seperti fans saya yang lainnya.” Pipi Khansa bersemu merah. Kupu-kupu yang bersorak dalam perutnya mengalami lonjakan jumlah sampai rasanya perutnya penuh dan menggelikan. Khansa lalu pamit dan pergi dari rumah itu dengan perasaan bahagia. Oh, inilah rasanya ketiban durian runtuh. Meski Khansa tidak pernah suka dengan istilah ketiban durian runtuh karena dirinya sama sekali tidak suka sama durian. Khansa mencium tangannya yang tadi bersentuhan dengan Zyan. Dia bahkan tidak akan mencuci tangannya, takut aroma Zyan menghilang dari sana. Saat keluar dari rumah itu, Khansa tersenyum karena melihat Radit yang putus asa menunggunya di teras rumah. Wajahnya terlihat seperti akan marah, senyum Khansa sama sekali tidak dia balas. Siapa yang tidak marah saat pulang ke rumah karena khawatir sama adiknya tapi adiknya tersayang malah keluyuran dan kunci rumah dia bawa. Jadinya Radit bingung, harus mencari Khansa ke mana. “Udah pulang, Bang?” tanya Khansa berbasa-basi. Radit tidak menjawab, dia mendongak, kepalanya bersandar di sandaran kursi dan melihat langit-langit rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN