Meet Morgan

1157 Kata
Hubungan Khansa dengan Zyan memang membaik sejak beberapa kali Khansa menolong Zyan. Dan itu membuat Khansa bersemangat. Seperti hari ini, perempuan itu mulai ngonten kembali. Konten Mukbang seperti biasanya. Ketika asik merekam diri sendiri di depan kamera, Khansa melirik sejenak. Radit menunggunya. Hubungan keduanya memang mudah sekali marahan, tetapi mudah untuk akur. Nina dan Wisnu berhasil mendidik kedua anaknya dengan baik sehingga apa pun yang terjadi pada keduanya maka tidak ada istilah marahan lama-lama. Khansa menjeda video, lalu mencuci tangan. “Masuk, Bang. Jangan dipintu terus, ketahuan Mami bisa gawat,” ajak Khansa. Dalam hidup ini, Khansa dikelilingi oleh orang-orang yang cukup ‘aneh’ salah satunya ya Ibunya sendiri. Dia penganut mitos garis keras. Berdiri di tengah pintu katanya bisa jauh dari jodoh, logikanya sih berdiri di tengah pintu bisa menghalangi jalan. Tidak ada kait-kaitannya dengan mitos apalagi menjauhkan diri dari jodoh. “Sudah selesai belum?” “Ini sedikit lagi, tapi Shasa udah kenyang. Ada apa emang?” tanya Khansa. “Mau ngajakin nge-Gym. “ Khansa memutar bola matanya, Radit padahal tahu Khansa paling anti sama olahraga. "Tidak perlu ikutan lo cukup lihatin aja nemenin gue gitu." "Ada imbalannya apa enggak?" Tanya Khansa. "Gue beliin usahakan jangan mahal-mahal. Kau tahu sendiri kan sekarang udah menjelang akhir bulan, bangkrut gue." "Oke beri gue waktu 30 menit lagi, gue mau beresin ini sekalian siap-siap." Radit setuju dia keluar dari studio Khansa dan mempersiapkan diri juga untuk pergi ke Snap Fitness tempat gym paling keren di kota itu. *** Keduanya tiba di lokasi tepat waktu. Radit mengeluarkan kartu anggota dan mendaftarkannya. Kemudian membayar sejumlah uang dan mulai menyeret Khansa untuk masuk ke dalam. Ada banyak cara yang Radit lakukan agar Khansa mau berolahraga, salah satunya mengajak dia ke tempat fitness seperti ini, tidak langsung mengajak untuk berolahraga melainkan hanya menemani. Radit berpikir dengan begini Khansa bisa termotivasi. Sebetulnya dia juga sudah khawatir dengan berat badan sang adik yang sudah tidak bisa dikontrol lagi. Apalagi ditambah dengan Khansa yang tidak bisa menemukan konten baru untuk channelnya. Sangat mustahil bisa kurus selama dia masih melakukan konten-konten mukbang. Makan dalam jumlah besar dan mereview makanan-makanan endors. "Lo duduk aja di sana, Jangan sampai hilang dari pandangan gue." "Gue bukan anak 3 tahun Bang, kalaupun hilang dari pandangan nggak bakalan ilang dan ngerusak barang-barang." "Anak baik!" puji Radit sambil mengusap kepala Khansa. Khansa duduk di sebuah bangku, joknya terbuat dari kulit sintetis. Dia bersandar pada tiang penyangga menghadap cermin besar atau lebih tepatnya dinding cermin. Seketika dirinya menjadi insecure karena perutnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Sebenarnya dia bukan tidak mau usaha, berkali-kali mencoba diet tetapi selalu gagal. Yang terakhir diet dengan menggunakan suplemen dan berakhir di rumah sakit. Dia tidak mau salah lagi, dia ingin menemukan pola diet yang tepat yang pasti sama sekali tidak menyiksa dirinya, dan tetap fokus utamanya adalah tidak kelaparan. "Bro, kenalin, ini adik gue Khansa. Sha, ini Morgan trainee sekaligus pemilik Snap Fitness." Khansa berdiri dan mengulurkan tangan. Morgan juga mengulurkan tangannya sambil mengatur senyuman yang ramah. Senyum ramah sewajarnya sebagaimana penjual memberikan pelayanan kepada pembeli. Ketika tangan keduanya sudah bersentuhan, Morgan seperti hendak mengucapkan sesuatu tetapi buru-buru dihadang oleh Radit. "Bro, udah buruan. Gue buru-buru. Sha Lo tunggu di situ, kalau bete tuh pake ponsel Abang buat main candy crush." Khansa masih berdiri, memandang kedua lelaki itu meninggalkan dirinya. Lagi-lagi dia menetap tubuhnya di depan cermin. Bisa-bisanya orang lain memiliki bentuk tubuh yang ramping serta terpahat indah. Meskipun kaos berwarna putih melekat di tubuh Morgan, tetapi Khansa bisa melihat dengan jelas pahatan-pahatan indah di perut lelaki itu. Ah, dia kan didukung dengan sejumlah peralatan yang dimilikinya. Mungkin modalnya juga gede untuk membentuk tubuhnya seindah itu. Khansa bergumam. Memang seperti itulah pendapatnya, buktinya jika nge-gymnya asal-asalan, hasilnya tetap aja rata seperti perut Radit. Bangsa berhasil menaklukkan 10 level paling sulit permainan candy crush saat Radit datang melemparkan handuknya tepat di hadapan Khansa. "Abang jorok!" Khansa menjerit tanpa sadar, beberapa orang yang sedang berolahraga di sana melihat ke arahnya. Radit hanya tertawa puas sambil membawa kembali handuk itu dan berlalu menuju ruang ganti. Merasa kegiatan Radit masih lama, Khansa melanjutkan bermain candy crush. Ada banyak alasan mengapa dia seringkali memainkan game itu, salah satunya adalah bentuk permen yang lucu-lucu dan menggugah selera. Terkadang bermain candy crush bisa meningkatkan nafsu makan. Jangan lupa nafsu jajan juga. "Kirain mau ikut nge-gym," tegur Morgan. "Ah enggak, Bang, Khansa nggak bisa," jawab Khansa. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Daripada main game, kan lebih enak kalau kita olahraga bareng sebentar, jadi–" Warga tidak melanjutkan omongannya ketika dia melihat Khansa melotot ke arahnya. Sebagai seorang pelatih di pusat kebugaran, juga coach berdiet Morgan mengerti psikologis mereka yang akan mudah tersinggung ketika berkaitan dengan hal-hal seperti ini. Lelaki itu meminta maaf lantas pergi meninggalkan Khansa. "Baru kenal udah berani ngatur-ngatur," keluh Khansa. Dia melirik ke arah ruang ganti, menunggu Radit yang tiba-tiba lama. Sampai beberapa saat kemudian lelaki itu keluar dari sana dengan wajah yang cerah semringah. "Lo mandi?" tanya Khansa. "Enggak, masih keringetan banget. Nanti aja mandinya di rumah." "Ya udah ayo tunggu apa lagi, habis ini beli mie kocok kaki sapi dekat lapangan tenis. Shasa pengen banget makan itu." Alih-alih mengiyakan ajakan Khansa, Radit malah menoyor kepala sang Adik. "Idih, apaan, sih, Bang!" Khansa mengeluh tidak terima. "Lo ke mana aja selama ini sih? Sejak rel kereta difungsikan lagi, pedagang ke pedagang di sekitar lapangan tenis udah nggak ada lagi. Termasuk mie kocok kaki sapi. Ganti yang lain aja itu terlalu berlemak." Harapannya untuk menikmati hangatnya mie kocok kaki sapi, sirna sudah. Khansa tidak tahu bahwa pedagang itu kini sudah tidak jualan lagi di sana dan dia juga tidak tahu ke mana pindahnya. "All you can eat?" tanya Khansa. "Sha, gue nge-gym nggak ada dua jam. Cuma 90 menit. Dan sebelum kita berangkat ke sini yang sudah makan seafood saus Padang." "Lah itu kan, tadi!" "Ya ayo gue beliin makanan apa pun juga. Tapi jangan sekarang, kasih jeda sedikit jangan sampai numpuk di perut, kasian. Gini aja, nanti malam kita all you can eat. Abang mandi dulu, kita nyalain dulu lampu-lampu di rumah, Jadi kalau pun pulang malam kita nggak akan khawatir. Abang janji." Khansa akhirnya mengalah, tidak ada gunanya mendebat Radit. Mungkin pulang ke rumah dan ganti kostum lebih baik untuk mereka. Sebelum meninggalkan tempat fitnes itu, Khansa kembali bertemu dengan Morgan. Bedanya hari ini dia tidak bicara apa-apa. Lelaki itu sedang menulis, dan menoleh ke kiri melihat Radit dan Khansa. Khansa refleks mengembalikan arah pandangannya ke tempat semula, entah mengapa dia merasakan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan mudah. Bukan rasa suka atau sayang seperti kepada Zyan Alex. Sementara itu Morgan merasakan perasaan yang aneh, jiwanya bergetar ketika melihat bola mata Khansa. Ada rasa di mana lelaki itu ingin mendampingi Khansa untuk berjuang bersama agar mendapatkan berat badan ideal. Oke sekarang bisa dimengerti, ternyata Morgan hanya ingin membantu Khansa untuk meraih berat badan idealnya. tidak lebih dari itu meski di sudut lain hatinya berkata beda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN