Sesampainya di rumah Khansa melihat keadaan gelap gulita. Untung saja tadi dia nurut apa kata Radit, Pasalnya ngeri juga kalau dibiarkan gelap. Meski standar jaga keamanan di The Intan Village tidak perlu diragukan lagi. Radit tidak memasukan mobilnya ke carport, mungkin karena lelaki itu akan segera berangkat kembali untuk menyenangkan adik kesayangannya makan di restoran All You Can Eat.
Khansa merasa dirinya tidak bau, oleh karena itu dia hanya ganti baju yang lebih pantas. Kemudian duduk di depan televisi. Ada satu infotaiment yang sedang menayangkan tentang Zyan Alex. Dalam tayangan tersebut dibacakan banyak spekulasi tentang ketidakmunculan lelaki itu di layar kaca akhir-akhir ini. Tayangan tersebut terlalu dramatis, dugaan demi dugaan sama sekali menggelikan. Gambar Zyan sengaja terus terusan di putar seperti lelaki itu pelaku kejahatan saja.
Khansa memutar-mutar remote control televisi. Dia berusaha ganti saluran, ternyata isi beritanya masih tentang Zyan Alex. Bahkan kali ini aktor dan aktris yang dekat dengan Zyan sengaja di wawancara untuk memastikan kalau Zyan tidak terlibat masalah apa pun dan baik-baik saja. Khansa terus berganti-ganti saluran. Lama-lama pusing juga karena dalam tayangan tersebut hampir semua berisi wajah tampan kesayangannya.
“Sha kalau kita tidak jadi pergi sekarang, apa gak masalah?” tanya Radit.
Khansa menebak, Radit mau nyamperin ceweknya, terbukti dengan penampilan cowok itu yang sudah rapi banget meski pakaiannya bukan pakaian resmi.
“Enggak seperti yang lo pikirin deh, Dek. Abang gak bakalan pergi ke mana pun, gak ada janji dengan siapa pun. Tapi kayaknya kita gak bisa pergi sekarang.”
Mata lelaki itu bergerak cemas. Sesekali melihat ke arah depan rumah. Khansa makin curiga.
“Ya terus kenapa gak jadi, tadi Abang bilang pulang dulu. Sekarang udah di rumah, Shasa udah siap berangkat tiba-tiba gak jadi. Gimana, sih?”
“Enggak gitu, Sha. Abang sih mau-mau aja kita pergi sekarang pun. Tapi kita bisa gak lewatin mereka?”
Khansa buru-buru bangun dari sofa, meski susah payah karena badannya terlalu berat untuk dia bangun sekaligus. Dengan langkah yang lucu, Khansa melihat dari balik tirai rumah kerumunan orang-orang yang membawa kamera. Mereka adalah wartawan infotaiment.
Padahal belum ada satu jam mereka dari luar dan keadaan di sana sepi. Berbanding terbalik dengan sekarang yang tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang berseragam dan mobil-mobil dengan logo televisi di sana.
“Mobil lo kan di luar, seharusnya kita bisa datang dan pergi sesuka hati. Kita pemilik rumah dan kita juga yang berhak menggunakan jalanan depan rumah itu. Ayo sekalian kita usir mereka, kasian Babang Kesayangan aku harus ngadepin ini sendirian.”
“Jangan, Sha. Bentar Abang telepon dulu sekuriti depan gerbang. Masa iya mereka dibiarkan masuk.”
Radit berusaha menghubungi penjaga gerbang kompleks perumahan yang membiarkan para pemburu berita itu masuk ke area perumahan. Ternyata mereka semua berizin, yang mengizinkan malah Pak RW. Khansa mendengkus kesal, apa maksudnya coba.
“Mungkin Pak RW itu kepengen komplek kita disorot sama wartawan. Dia pernah bilang, tuh, pas lagi perkenalan warga baru di balai RW dulu. Katanya siapa tahu adanya Zyan di sini bisa membuat Kompleks yang indah ini masuk TV.”
Radit tertawa, rasa kesal karena jawaban penjaga keamanan kini menguap setelah mendengar cerita Khansa. Mana bisa Kompleks jadi sorotan sementara mereka adalah wartawan infotaiment. Isinya seputar aktor dan akris yang penuh dengan skandal yang mana beritanya pasti dilebih-lebihkan.
“Ya udah kita coba keluar, apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagian itu mobil juga di luar, gue khawatir si cantik manis (nama mobil Radit) kena goresan. Atau sawan karena terlalu berisik.”
“Plis, deh, itu hanya mobil. Gak bakalan sawan seperti bayik.”
Khansa jalan duluan dan Radit ngikut di belakang. Beneran riuh, dong. Khansa biasanya melihat pemandangan seperti ini di televisi jika ada skandal yang dialami bintang televisi. Namun kini dia bisa melihatnya sendiri dengan leluasa.
Beberapa orang pencari berita saat Radit membuka gerbang. Namun, bukan Khansa dan Radit yang mereka cari. Jadinya mereka mengalihkan kembali pandangannya ke arah depan rumah Zyan. Dari kejauhan Khansa bisa melihat lelaki berambut pirang yang datang tempo hari dan juga Zyan Alex. Kontan semua yang sedang duduk berdiri dan mengerubuti gerbang rumah Zyan seperti lalat mengerubuti kotoran.
Khansa berdiri di tengah jalan, menunggu Radit berusaha mengeluarkan mobil dari tempat parkir yang terhimpit oleh deretan mobil lain yang parkir di sana. Tak lama, Khansa buru-buru naik. Pintu tertutup dan tiba-tiba mobil mereka yang dikerubuti oleh wartawan.
“Jalan!” tegas seseorang. Khansa dan Radit refleks menoleh ke belakang. Entah bagaimana ceritanya Zyan bisa masuk mobil mereka.
“Jangan banyak tanya, buruan jalan, mau mobil kamu rusak dipecahin mereka?”
Radit dan Khansa tidak banyak bertanya dia buru-buru melajukan kendaraannya meninggalkan kerumunan yang pantang menyerah itu.
***
Kejadian Zyan mungkin bisa jadi kesialan bagi Zyan, tetapi menjadi salah satu berkah melimpah untuk Khansa. Mereka tiba di restoran yang menerapkan All You Can Eat. Sebuah restoran Jepang di kota Garut yang terkenal mahal dan mewah. Khansa tidak pernah mengira Zyan minta dibawa ke tempat ini setelah mereka mengatakan mau makan malam.
“Saya yang traktir sebagai permintaan maaf karena mengganggu kenyamanan. Maaf juga karena tiba-tiba naik ke mobil kalian.”
Khansa merasakan tangan Radit mencolek tangannya. Khansa tahu, Radit yang baru saja melihat Zyan dari dekat sungguh sangat kaget dengan kebaikan pria itu. Masalahnya Zyan itu terkenal arogan, terkenal sombong dan juga gak mau beramah tamah seperti sekarang ini.
“Iya, sama-sama. Kami juga terima kasih sudah dikasih kesempatan makan di tempat mewah seperti ini. Padahal tadinya saya mau ajak adik saya makan di sana, dekat jembatan. Dia makannya banyak, biar gak rugi.” Radit bercanda, lalu Khansa dengan kesal membalas candaan itu dengan omelan dan cubitan pada lengannya.
Zyan melihat interaksi kakak beradik itu sungguh harmonis, bertolak belakang dengan kehidupannya. Apalagi setelah memutuskan untuk berkarier di dunia hiburan saudara dan keluarga seolah menjauh hanya karena Zyan tidak mau meneruskan usaha sang Ayah.
“Bang, kalau boleh tahu, kenapa Abang tidak kembali?” Khansa bertanya tanpa takut. Yang dia dapatkan diamnya Zyan, tanda kalau lelaki itu enggan bercerita. Khansa disenggol Radit.
“Maaf, Bang.” Radit minta maaf. Mereka lalu fokus dengan makanan di hadapannya.
“Sebenarnya, saya ingin istirahat. Hidup di sini beberapa bulan ini saya jadi merasakan kembali bagaimana enaknya tidur tanpa gangguan. Makan teratur dimasakin orang rumah, ya meski Cuma bibi yang masak.” Zyan buka suara. Khansa dan Radit kembali bertatapan. Ini kesempatan bagi Khansa menunjukkan empatinya. Dia meletakkan sumpit dan menangkupkan kedua tangan di atas meja. Siap jadi pendengar yang baik untuk Zyan.