“Jadi Bang Zyan gak ada niatan untuk main film atau series lagi?” tanya Khansa. Zyan segera mengalihkan pandangannya. Pertanyaan Khansa adalah pertanyaan yang sama dengan orang-orang seperti managernya sendiri. Padahal dia sendiri pun masih masih terikat kontrak ilkan dan akan mulai syuting salah satu film action akhir tahun ini.
“Ya itu, kan pekerjaan saya, walau bagaimana pun saya harus pulang. Hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk kembali ke Jakarta, atau kalau memungkinkan saat libur saya pulang ke sini.”
“Bukannya kalau syuting itu gak ada waktu liburnya, ya?” Radit ikut penasaran.
“Ya libur ada, kami bukan robot. Syuting juga kan tidak lama, ketika selesai ya sudah paling promo-promo gitu.”
Zyan melirik Khansa yang masih terus menghabiskan sisa makanan yang tersisa. Memang jika dilirik Khansa sedikit menarik karena lucu, apalagi jika gadis ini tidak gendut, dia akan terlihat sangat cantik dan menawan.
Sementara Radit terus-menerus melirik jam di pergelangan tangannya dan melihat sang Adik. Waktu terus bergerak cepat sedangkan Khansa sepertinya masih betah makan dan masih betah mendengarkan cerita Zyan.
Lelaki itu harus menyelesaikan beberapa tugas dan bergegas pulang, tetapi dia tahu masih ada banyak pemburu berita yang akan menyerbu mereka. Untungnya kegelisahannya itu segera hilang karena Zyan berkata, “Habis ini, tolong antarkan saya ke Victoria Hotel. Sangat tidak memungkinkan untuk kembali ke rumah. Nanti, kalau kalian pulang terus mereka tanya, bilang saja gak tahu karena tadi nganterin saya sampai depan.”
“Iya, Bang, Tenang aja.”
“Khansa,” panggil Zyan.
Khansa merasakan getaran aneh saat namanya dipanggil. Sumpit yang sedang dia pegang mengambang di udara, tidak dilanjutkan untuk sekadar mengambil makanan lain. Hanya mendengar namanya disebut saja Khansa senang bukan main.
“Dipanggil, Sha, ngapain diem gitu kayak orang kesambet?” Radit menepuk lengan adiknya.
“Eh! Iya, iya Bang, kenapa?” tanya Khansa.
“Terima kasih karena jadi Fans saya. Dan kamu enggak barbar kayak fans lainnya.”
Radit tersedak saat melihat raut wajah Khansa yang menurutnya menjijikan. Benar, saking menjijikannya Radit pengen nyuci itu muka pake air kobokan. Sayang mereka ada di restorang Jepang. Bukan warteg yang akan menyediakan air kobokan di meja.
Khansa pulang dengan keadaan agak gila. Menurut Radit standar warasnya Khansa sudah bergeser beberapa kali lipat sejak berdekatan dengan Zyan. Sepanjang perjalanan setelah menurunkan Zyan di hotel, Khansa terus-terusan senyum. Menjerit tiba-tiba sampai Radit terlonjak. Atau bersuara seakan-akan dia menangis.
Benar saja, sesampainya di rumah, kerumunan itu masih ada. Mereka yang duduk di tengah jalan aspal dan berkerumun tiba-tiba saja bangun dan menyerbu mobil mereka.
“Buka aja pintunya, Sha,” perintah Radit.
Khansa buka pintu dan melihat beberapa wartawan mencari ke dalam mobil. Kekecewaan tergambar jelas pada wajah mereka.
“Bisa katakan ke mana Zyan?” tanya salah satu dari mereka.
“Kami tidak tahu, Om. Tadi dia numpang sampai depan doang.”
Radit yang menjawab pertanyaan itu, kemudian dia turun dari mobil dan membuka gerbang. Gerak geriknya masih terus jadi perhatian dan pengawasan pemburu berita. Dia sudah buka pintu mobil lebar-lebar dengan tujuan menunjukkan kepada mereka kalau Zyan tidak ada di sana.
Khansa menatap dengan iba keadaan di luar. Pasti Zyan hidupnya susah, bukan susah secara materi, melainkan susah karena kebebasannya seperti terenggut. Harus selalu siap berhadapan dengan wartawan dan juga fans.
***
Morgan Byakta.
Perempuan bermata cerah yang tempo hari datang ke Snap Fitness membuat Morgan termotivasi untuk melanjutkan program pendampingan diet bagi anggota premium. Selain itu dia juga berencana membuat program ini untuk umum dengan menggunakan media i********: untuk promosi.
Lelaki itru sedang menuliskan perencanaan di laptopnya sampai dia mendengar suara pintu kaca terdorong dari luar. Dua orang pria maasuk, salah satunya pernah datang untuk membeli dumbells. Karyawan Morgan yang menyambut dua orang tadi sementara Morgan kembali dengan pekerjaannya.
“Kamu kalau lelah istirahat saja, biar di sini saya yang jaga,” ucap Morgan, dia lihat karyawannya bergerak gelisah.
“Bos, tahu, gak yang barusan siapa?” tanya perempuan itu, dia tidak tahu bahwa Morgan dan teman satunya lagi sudah pernah bertemu orang itu satu kali.
“Tahu, ini kedua kali dia ke sini. Lanjutin kerja, kita harus profesional, tidak peduli siapa dia. Bodo amat siapa yang datang, kita tidak boleh terlihat tidak profesional.”
Perempuan itu minta maaf karena menyesal. Morgan mengangguk, dia senyum dan akhirnya mengiyakan. Dua jam berlalu sejak Zyan datang, ya, pria yang masuk tadi itu adalah Zyan dan lelaki berambut pirang. Bukan pirang beneran, tetapi mahakarya salon.
Morgan berdiri dan merenggangkan tangannya, lalu dia masuk ke area alat-alat berat, dan mendapati Zyan sedang berlari kencang sementara temannya tidur di salah satu sisi cermin. Wajahnya tertutup topi dan rambut kuning keemasannya begitu mencolok.
“Masih liburan ternyata?” tanya Morgan basa-basi.
Kecepatan berlari Zyan berkurang, lambat, lambat lalu berhenti. Dia menyambar handuk dan mengeringkan wajahnya dari keringat.
“Iya, sedang butuh olahraga.”
“Tidak coba yang lain?” Morgan menunjuk beberapa peralatan fitness. Zyan menggeleng.
“Bahu saya cedera, tidak boleh mengangkat hal-hal yang berat.”
“Oh ... turut prihatin, silakan dilanjutkan,” ucap Morgan.
Dia kembali meninggalkan Zyan dan menyapa beberapa orang yang serius berolahraga. Kali ini dia bertekad untuk membantu orang yang ingin mengikuti program diet lagi. Karenanya, setelah berkeliling, Morgan kembali mengatur banyak hal salah satunya persiapan pembuatan konten diet.
***
“Bang Zyan hari ini keren banget tahu gak sih, Bang. Khansa jadi merasa ada harapan, ada banget harapan buat Khansa. Ada semangat juga buat Khansa mengubah diri agar pantas bersanding dengan Bang Zyan. Pokoknya Abang tunggu, Khansa bakalan kurus hanya buat Bang Zyan.”
Khansa mengecup Zyan, maksudnya poster besar Zyan Alex di kamarnya. Perempuan itu lalu berjalan menuju tempat tidur dan mencari tips diet aman di internet. Ada banyak metode diet yang pernah dia baca sebelumnya. Tetapi kali ini Khansa mencari yang paling mudah dan juga paling cepat.
Beberapa artikel dia tandai dengan baik, lalu semua yang dia butuhkan sebagai penunjang untuk berdiet dia tulis dengan baik. Besok Khansa bakalan ke pasar untuk membelinya. Setelah mencatat semuanya Khansa lalu merebahkan badannya. Tidur dan kemudian membayangkan wajah Zyan, dalam ingatannya tergambar mulus wajah lelaki itu, senyum yang jarang sekali dia lihat, dan mata tajam yang sebenarnya menakutkan. Khansa bahagia, entah sampai kapan perempuan itu akan terus menjadikan Zyan sebagai objek berkhayalnya.
Khansa bangun pagi-pagi sekali, wajahnya semringah kala melihat kedua orangtuanya sedang duduk di meja makan.
“Kapan pulang?” Khansa antusias, dia menghampiri Nina dan memeluknya erat. Tapi wajahnya horor banget, sepertinya ada yang salah. Atau Khansa berbuat salah yang membuat maminya murka?
“Semalam, Radit yang bukain pintu.” Wisnu yang menjawab, dia mencomot makanan khas oleh-oleh yang dia bawa dari gathering.
“Mami kenapa, sih? Horor banget wajahnya.”
“Mami pergi gak lama loh, Sha. Mami beneran khawatir sejak kamu nelpon pas mau pasang gas itu. Kamu masukin cowok ke rumah?”
Ah ... Khansa tersenyum. Dia lega, ternyata Cuma itu. Wajar sih sebagai orang tua khawatir, tapi sungguh, rasa khawatir Nina sangat berlebihan.
“Khansa di rumah depan, Bu Tita yang minta tolong. Itu yang ngomong ya Bang Zyan.”
Dua orangtuanya bertatapan lega. Namun, jangan salah Nina masih belum puas, ada hal lain yang ingin dia bahas sekarang juga. Dan kali ini wajahnya benar-benar mengerikan, saking mengerikannya Khansa hanya pasrah. Orang tua memang selalu susah ditebak.