Niat untuk pergi ke pasar membeli bahan makanan penunjang diet subuh-subuh akhirnya batal karena harus meredam kemarahan Nina. Pecinta tanaman itu marah besar saat tiba. Taman yang letaknya di luar gerbang adalah salah satu taman kesayangan, meski seadanya, memanfaatkan space antar jalan dan tembok pagar Nina menyukai itu.
Setiap hari tamanan-tanamannya disiram, sesekali diberi pestisida agar daun-daunnya tidak dimakan ulat. Semua dirawat melebihi anak sendiri. Malica si kedelai hitam saja kalah sama ini, Khansa kadang cemburu. Merasa kalah saing, merasa dirinya tidak lebih berharga dari makhluk hidup yang suka bergoyang saat angin bertiup kencang.
Dan alasan dari murkanya Ibunda Ratu adalah hancurnya taman harapan yang selalu dibangga-banggakan. Khansa tidak bersalah, Radit juga keduanya bahkan berani bersumpah meski ngeri-ngeri sedap. Ngeri karena takut salah ngomong dan kualat, bukankah ucapan seorang ibu itu keramat? Nah jadinya pagi-pagi sekali Khansa dan Radit membereskan kekacauan. Meski sangat jelas siapa yang membuat taman harapan itu berantakan. Yes, betul sekali, para pembawa berita yang gak nyerah buat dapetin berita Zyan.
Jadi, Khansa korbankan waktunya ke pasar untuk berbenah. Dia harap masih menemukan apel hijau segar sebagai salah satu makanan penunjang diet yang akan dia mulai hari ini.
“Bang Zyan!” teriak Khansa. Semangat dan lelahnya hilang seketika kala melihat Zyan keluar dari rumah. Dari jarak beberapa meter, kontributor berita yang selalu menjual berita-berita kepada infotaiment buru-buru lari menghampiri Zyan.
Memberondong lelaki itu dengan banyak pertanyaan.
“Gara-gara kamu!” bentak Zyan, dia buru-buru masuk ke dalam rumah dan membanting pintu. Dih baru saja baik seperti kemarin, masa sekarang udah ketus lagi.
“Zyan ... Zyan ...” panggil salah satu reporter.
Khansa mundur berusaha menjauh dari tempat itu. Sayangnya gerakannya terlihat oleh salah satu reporter.
“Mbak!” panggilnya.
Khansa berhenti, dia memejamkan mata. Kena juga akhirnya, perempuan itu berbalik melihat ke arah orang-orang yang haus akan berita.
“Mbak kenal dekat dengan Zyan? Boleh ngobrol sebentar?”
Khansa melihat jam di ponselnya. Sebentar lagi pedagang di pasar tutup lapak dan pulang. Di Garut, pasar biasanya buka dari pukul 03.00 dini hari sampai pukul 09.00. Sedangkan ini sudah hampir pukul 09.00.
“Hanya sebentar, Mbak. Tolong jawab pertanyaan kami.”
Entah mengapa Khansa mengangguk, dia nyesel sendiri jadinya.
“Mbak dekat dengan Zyan?”
“Enggak, ini rumah saya, dan itu rumah Zyan. Hanya rumah kami yang dekat, orangnya enggak.”
“Bagaimana pendapat Mbak soal Zyan, apa dia sekarang memutuskan untuk pensiun?”
“Sudah saya bilang saya gak tahu, saya gak kenal. Aduh maaf ya, Mbak-mbak, Mas Mas, saya buru-buru.”
“Mbak pernah melihat ada cewek datang ke rumah ini, Mbak?” reporter memaksa, Khansa semakin geram. Wajar jadinya jika Zyan lebih betah tinggal jauh dari keamaian dan hiruk pikuk dunia keartisan.
“Mbak, ngerti bahasa manusia gak sih?” tanya Khansa.
“Lah, saya ngomong pakai bahasa manusia, memangnya Mbak gak ngerti?”
“Saya bilang berkali-kali, hanya rumah kami yang dekat, saya gak kepo sama urusan orang lain kayak kalian. Dan saya punya pekerjaan jadi gak sempet dan gak akan sempet mengawasi rumah orang hanya demi mengetahui orang itu punya cewek atau tidak.”
Lelaki berompi membawa kamera mencibir ke arah Khansa, “Dih badak ngegas!”
Begini, nih, Khansa udah paling males kalau ujung-ujungnya bawa bawa fisik. Memang badannya besar, tapi apa korelasinya antara berat badannya dengan ketidakpuasan mereka terhadap jawaban yang Khansa berikan.
“Maksud, Mas apa?”
“Kamu jangan sok, ya, Neng. Kami nanya baik-baik, kalau gak mau jawab ya udah gak usah nyindir begitu.”
“Saya tidak nyindir, saya mengungkapkan fakta bahwa kalian gak ada kerjaan selain nguntit orang dan mengusik privasi orang. Maaf ya, Mas, Mbak. Saya tidak ada waktu untuk menjawab semua pertanyaan kalian yang gak bermutu itu.”
Khansa berbalik, akan tetapi salah satu kaki reporter sengaja dijulurkan ke depan sampai Khansa kesusahan melangkah dan akhirnya terjatuh. Suaranya cukup kencang, lutut perempuan itu berbenturan dengan aspal hotmix yang keras. Seperti ada aliran listrik di lutut yang menyebar ke seluruh tubuh dan dia tidak bisa langsung bangun setelah terjatuh.
“Ups, jaatuh, ya, Mbak?” sindir perempuan yang menjulurkan kakinya tadi.
Mami, Papi, keluar Mi, lihat anakmu teraniaya.
Mengapa bertubuh besar seperti sebuah kesalahan, mengapa selalu jadi perhatian banyak orang, bahan tertawaan dan olok-olok. Tidakkah berpikir bahwa sepotong hati yang rapuh ketika harus menghadapi semuanya?
Tangan pucat terjulur di hadapan Khansa, pandangannya yang mengabur karena air mata sama membuat dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa itu. Kenapa ada tangan malaikat yang mau menolongnya, Khansa meletakkan tangannya kemudian mendongak. Dia melihat Zyan dan orang-orang di sekitar yang sudah membuatnya seperti itu.
“Jangan pernah libatkan orang lain yang tidak berdosa hanya untuk kepentingan pribadi kalian!”
Bagai suara dari surga, Khansa mendengar itu dengan perasaan bahagia. Rasa sakit yang menyebar di kakinya, rasa sakit yang menikam hatinya tiba-tiba hilang tidak berbekas. Zyan bisa sekeren ini, Khansa berjanji akan mencatat moment bersejarah ini dalam hidupnya.
“Kami tidak sengaja, Zyan. Maafkan kami,” mohon lelaki berompi yang paling keras membully Khansa.
Zyan tidak mendengar permohonan itu, dia menuntuk Khansa meninggalkan tempat yang baru saja membuat perempuan itu dipermalukan.
Khansa melambung ke atas awan tangannya digenggam. Sakit yang menjalar di kakinya kalah oleh perasaan bahagia yang dia rasakan saat ini. Zyan membawanya keluar kompleks dengan berjalan tergesa, sampai tiba di depan pos penjagaan keamanan Khansa dihempaskan hingga ke dasar palung seiring dihempaskannya tangan Khansa.
“Jangan salah artikan bantuan saya ini, saya hanya gak mau kejadian tadi kelihatan oleh Pak Wisnu.”
Ketusnya Zyan hanya membuat Khansa menghela napas, penjaga keamanan yang melihat kejadian itu hanya pura-pura tidak melihat apa-apa. Lalu, sebuah mobil berhenti dan Zyan masuk tanpa peduli lagi dengan Khansa.
Bersamaan dengan itu, sisa reporter yang menunggu pulang satu per satu dengan sepeda motor melewati Khansa yang menangis di pinggir pos satpam. Dia tahu, obesitas adalah sumber hinaan yang membuat dirinya sama sekali tidak berharga.
***
Kejadian demi kejadian membuat Khansa sadar, dia akhirnya bertekad untuk memulai diet itu mulai dari sekarang. Dengan riang dia menyimpan tiga kilogram apel dan UHT milk low fat sebagai pelengkap untuk berdiet kali ini. Konon banyak artis korea yang melakukan diet ini sampai perutnya ramping dan rata.
“Konten bagaimana, Sha?” tanya Radit saat tahu adiknya memulai diet.
“Shasa mau cari konten baru lagi, Bang. Maksudnya nanti mau rombak ulang program biar gak melulu mukbang sama review makanan.”
Radit mengangguk setuju, “Benar, mungkin langkah awal mengganti nama saluran lo, Sha.”
“Pokoknya semangatin dulu diet gue, pulang gawe jangan bawa martabak atau bakso, awas aja. Dan gue janji gak bakalan minum suplemen diet lagi. Gue bener-bener bakalan diet sesuai dengan rules.”
Khansa berjanji, dia lantas mengambil UHT milknya dia berjalan tertatih terlihat sangat kesakitan. Radit mengerutkan kening karena melihat ada yang tidak beres dengan cara jalan Khansa.
“Lo kenapa pincang gitu jalannya, Sha?”
“Gak apa-apa, Bang. Emang kadang suka ngilu lututnya, pernah periksa juga dulu katanya kelebihan beban badan.” Terpaksa berdusta, dia tahu kalau Radit pasti akan marah jika tahu kejadian tadi pagi bersama wartawan-wartawan yang menyebalkan itu.
Khansa merasa hidupnya terlalu merepotkan orang lain, mulai dari sekarang perempuan itu berjanji untuk hidup lebih baik lagi. Meski kini ada masalah besar yang harus dia hadapi.
“Ada apa, Sha?” tanya Radi.
“Tidak ada, Bang, santai saja.”
Matanya menatap lekat ponsel yang dia pegang, postingan seseorang tentang kejadian pagi tadi ternyata begitu cepat menyebar. Khansa tidak pernah menyangka mereka akan menemukan siapa Khansa, dan dia tahu orang-orang tadi sengaja membuatnya malu serta ingin menghancurkan Khansa perlahan-lahan.