Semula Khansa berpikir bahwa menjadi Fans Zyan adalah sesuatu yang menyenangkan. Teramat sangat membuat dia merasakan damai. Kala melihat senyumnya di layar kaca, Khansa bisa tidur dengan nyenyak. Saat membayangkan suara renyah itu memanggilnya, Khansa akan dihujani jutaan kupu-kupu. Tidak hanya dalam perutnya, tetapi di sekujur tubuh. Bahkan Khansa merasa kesemutan saat melihat senyuman manis Zyan.
Namun, pikiran itu harus dia enyahkan. Tidak ada manis-manisnya saat Zyan benar-benar ada di dekatnya. Kecuali di beberapa momen saat keduanya terpaksa bersama. Zyan bukan suami idaman, sepertinya itu akan menyakitkan karena dia harus bersaing dengan jutaan orang di Indonesia. Bahkan ada banyak fans juga dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
“Cuma apel?” tanya Wisnu.
“Enggak,” jawab Khansa. “Ini Shasa Cuma ngemil, masih mager bikin makanan yang sesungguhnya. Pi, Shasa mau nanya, boleh gak?”
“Biasa nanya ya nanya aja, Sha. Gak kudu izin-izin segala.”
Sisa apel hijau yang dia makan disimpan di atas meja. Tidak lupa segelas air hangat dia teguk sebelum bicara dengan Wisnu Wardana. Lelaki itu dengan tenang menikmati sarapannya sambil menantikan curhat dari si kecil yang tidak kecil lagi.
“Papi dulu pas suka sama Mami usaha apa aja yang dilakukan buat dapetin Mami?”
Wisnu hampir tersedak, dia tahu apa yang Khansa maksud. Satu keluarga tidak buta kalau Khansa menyukai selebritas yang tinggal sementara waktu di rumah depan. Wisnu memandang Khansa yang tersenyum tanpa rasa malu setelah mengungkapkan pertanyaan itu. Sungguh tidak tahu malu.
“Shasa perempuan, tidak harus mengejar pria dengan banyak usaha. Cukup berbenah untuk memantaskan diri agar bisa bersanding di sisi Zyan. Tapi jangan memiliki harapan terlalu besar juga. Zyan itu orang besar, kita istilahnya hanya remah-remah roti yang hanya akan jadi santapan semut.”
Khansa sama sekali tidak mengatakan kalau itu dirinya dan dia mengincar Zyan, tetapi Wisnu tahu dengan jelas. Khansa hanya senyum lebar, mengangguk dengan penuh percaya diri.
“Jadi keputusan Shasa untuk diet dan menurunkan berat badan adalah keputusan yang tepat, bukan?”
Pria paruh baya itu mengangguk. Dia tidak bisa menghalangi kegigihan anak gadisnya, lagipula diet itu baik untuk kesehatannya. Sudah banyak cerita di luar sana tentang mereka yang memiliki kelebihan berat badan.
“Lalu apa yang harus Shasa lakukan sekarang?”
Wisnu memutar bola mata, perasaan dia udah ngomong sejelas-jelasnya, entah mengapa anak gadisnya yang pintar mendadak lemot hanya karena dia jatuh cinta.
“Mamimu keburu masuk, kalau mau bikin sarapan mending sekarang aja daripada dia mengomel,” ujar Wisnu. “Nitip simpan di wastafel kalau ke dapur, ya, sayang, Papi berangkat sekarang.”
Wisnu mengecup puncak kepala Khansa. Gadis tambun itu melihat Papinya menjauh dan keluar rumah. Tinggal dirinya sendiri di rumah, Radit bahkan pergi pagi-pagi sekali dan Nina tenggelam bersama tanaman hias seperti biasanya.
Khansa mencampurkan apel dengan beberapa sayur seperti wortel dan buah bit yang diolah menjadi salad untuk makan siang dan sore. Tidak lupa menambahkan minyak zaitun ke dalamnya. Meski kadan tergoda untuk makan makanan yang disediakan Nina, tetapi Khansa bertahan. Goalnya masih panjang, ibaratnya saat ini Khansa masih berada di garis start.
***
Khansa terbangun karena tiba-tiba ada cahaya yang menyerang matanya, meski terpejam dia menyadari bahwa seseorang telah masuk dan menyalakan lampu serta menutup tirai. Pemuda yang masih mengenakan seragam kantornya itu duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh kening Khansa dengan punggung tangannya.
“Tidak panas, kamu kenapa jam segini tidur, Sha?”
Khansa bergerak sedikit, lalu menyambar guling dan memeluknya dengan erat. Tanpa ada minat untuk menjawab pertanyaan saudara laki-lakinya.
Radit khawatir, ketika dia sampai rumah dan tidak menemukan sang adik, bergegas dia memeriksa ke kamarnya. Ternyata benar, Khansa berbaring, meringkuk seperti bola raksasa di atas tempat tidur.
“Ngantuk aja, tadi baca buku terus ketiduran.”
“Sampe gak nyadar kalau di luar sudah gelap begini?”
“Iya.” Khansa bergerak, menyebabkan getaran di sisi lain tempat tidur. Lalu duduk dan melihat jendela sudah tertutup.
“Gue kira, lo sakit lagi, taunya lo diet lagi, kan?”
“Tenang aja, diet kali ini sehat, makanannya enak walau agak mahal. Abang baru pulang?”
Radit mengiyakan. Sejak kecil, Radit dan Khansa diajarkan untuk mencintai satu sama lain. Itu benar-benar berpengaruh dalam hidupnya, Radit selalu mengkhawatirkan Khansa meski dia adalah cewek nyebelin dan sebaliknya, Khansa juga selalu menjaga Radit sebisa dia.
“Abang mau ke supermarket depan kompleks, Shasa mau ikut?”
Khansa merentangkan tangannya, menggeliat dengan nikmat disusul dengan menguapnya perempuan itu pertanda masih ngantuk.
“Ikut, deh. Shasa mau beli sosis.”
Radit membiarkan Khansa untuk berganti pakaian sementara itu Khansa membersihkan diri san mengganti baju. Khansa selalu menjaga kebersihannya, perempuan itu berusaha menghilangkan stigma negatif tentang orang-orang gendut. Katanya gendut itu bau dan penyakitan. Untuk itulah Khansa selalu menjaga dirinya dengan baik.
“Abang tahu kamu gak baik-baik saja, ada apa?” todong Radit saat keduanya memutuskan untuk berjalan kaki menuju supermarket.
"Apakah terlihat sangat jelas Bang?" Khansa bertanya, sebelum berbelok menuju jalanan Khansa memperhatikan rumah besar yang berhadapan dengan rumahnya.
"Ya sangat jelas sih, Coba ceritakan apa yang sedang terjadi, siapa tahu Abang bisa ngasih jalan keluar. Abang hidup kak sama kamu itu seumur hidup, dari pagi sampai sekarang udah hafal betul kapan kamu sedih dan kapan kamu bahagia. Abang jadi kesel karena kamu burung begini dan itu bertepatan dengan dietmu. Jika kamu tidak bisa melepaskan makanan sebagai obat stres, maka jangan diet."
Ketika panggilan lo gue kini berganti dengan aku kamu, Bapak Khansa bisa menebak bahwa situasi sekarang benar-benar serius. Apa yang dikatakan oleh Radit, adalah hal yang benar.
"Tinggal cerita aja pas susahnya sih, Sha?"
"Nggak susah Bang, cuma Khansa bingung aja. Bingung mau mulai dari mana, bingung mau bicarain yang mana dulu, bingung harus ngapain dulu makanya Khansa lebih milih tidur enak banget nggak ada yang gangguin sampai kamu datang."
"Coba ceritakan aja dari yang paling mudah ditebak."
Khansa tidak menjawab, dia menatap kakinya yang memakai sandal jepit sebagai alas. Berusaha berjalan dengan tenang meski sebenarnya napasnya sudah Senin Kamis. Alias jarang-jarang, satu hal yang salah dari Khansa adalah dia berdiet tanpa berolahraga sehingga ketika jalan dari rumah ke depan komplek rasanya seperti mendaki gunung tertinggi di Indonesia.
"Kemarin Abang nanya, kenapa Shansa jalannya pincang. Jadi sebenarnya Shasa ribut sama wartawan yang kemarin nongkrong depan rumah Bang Zyan. Pokoknya sampai terjadi insiden Shasa jatuh."
"Kenapa gak cerita?"
"Shasa udah cerita langsung pada kepala security, bisa kita liat, kan kalau Bang Zyan nggak nyaman karena ada wartawan di depan. Selain itu kita juga sebagai tetangga cukup terganggu, untungnya kejadian kemarin tuh kerekam sama CCTV. Jadinya bisa dijadikan bukti agar kita bisa mengusir para wartawan dari sini."
"Oke, masalahmu gimana?"
"Nah iya, akibat dari kejadian kemarin followers Shasa turun lagi. Terus ada kejadian kemarin yang memang sengaja direkam, Shasa nggak tahu tujuan mereka apa. Atau mungkin kecewa karena Shasa menghalangi dia."
"Followers turun, konten-konten juga mangkrak, yang ada di pikiran sekarang ini gimana caranya dapetin uang dengan cepat. Ternyata diet itu benar-benar menguras kantong." Khansa melanjutkan.
"Ada gue tenang aja, gaji gue lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita."
"Bentar, Bang, Shasa capek, istirahat dulu."
Bukan hal yang mudah untuk Khansa berjalan kaki. Dia memilih beristirahat di trotoar depan kompleks, bajunya basah karena keringat dan pandangannya memburam karena terlalu lelah. Ternyata jadi orang gemuk itu melelahkan, Khansa semakin bertekad untuk menjadi perempuan dengan berat badan ideal.