Pingsan!

1185 Kata
Bab 24 Di pagi yang cerah, Khansa terbangun dengan semangat, usai merenggangkan tubuhnya, Khansa bangun dari tempat tidur lalu berjongkok untuk mengambil timbangan digital yang dia simpan di bawah tempat tidur. Bergeser lagi dua angka Khansa semakin bersemangat. Ditambah, baju lama yang sudah tidak bisa dia pakai karena terlalu sesak kini bisa digunakan. Warnanya merah marun, Khansa beli waktu jalan-jalan ke Bali. Dari jendela kamar di lantai dua, Khansa melihat Zyan sedang siap-siap untuk bersepeda keliling kompleks, kali ini tidak boleh gagal, Khansa harus mengejar Zyan. Tidak akan pernah ada hasil yang memuaskan jika mau berusaha dengan giat. “Bang Zyan!” teriak Khansa. Zyan melihat ke sumber suara, selama beberapa hari tidak bertemu dengan Khansa lelaki itu sudah sangat senang, karena tidak ada orang yang mengganggunya. Zyan hanya tersenyum sedikit ketika melihat perempuan itu melambaikan tangan. Senyum terpaksa. Lalu Khansa menghilang dari jendela dan Zyan yakin bahwa Khansa sedang berlari untuk menghampiri dirinya. Ya, Khansa memang memutuskan untuk turun dan menghampiri Zyan. Rasanya sangat membahagiakan karena memperjuangkan apa yang dia inginkan. Pada mulanya Khansa tidak mau seperti fans lain yang barbar dan juga tidak tahu malu. Namun setelah dilihat-lihat, Khansa akan benar-benar tertinggal jika hanya diam saja. Selama tidak begitu mengganggu privasi Zyan, Khansa akan terus berusaha mendapatkan perhatian lelaki itu. Langkahnya menuruni tangga sangat ringan, tidak seperti sebelum berat badannya belum berkurang. Meski hanya beberapa angka saja tetapi dia sudah merasakan bahwa napasnya pun sudah tidak ngos-ngosan lagi. Zyan sudah duduk di sepedanya dan siap untuk berkeliling ketika Khansa baru saja keluar rumah. Perempuan itu buru-buru menghampiri sebelum Zyan pergi dari sana. "Bang Zyan mau sepedahan?" tanya Khansa. "Saya sudah duduk di atas sepeda memangnya mau apa lagi? Ada apa?" ketus Zyan. Khansa tetap tersenyum, bagi dirinya, reaksi Zyan yang seperti ini benar-benar membuat damage-nya nggak main-main. Emang seharusnya seperti ini, kan? Karena Khansa tahu Zyan bukanlah aktor yang lenjeh, yang tebar pesona ke sana ke sini. "Aku ikut boleh nggak Bang? Nggak lama kok cuman ngambil sepeda doang." "Gak boleh." Zyan menjawab dengan tegas. Khansa yang menggunakan baju merah marun kesayangannya, hanya menunduk, dia berusaha untuk mencari alasan agar bisa sepedahan bareng-bareng. "Kenapa Bang? Kan, saya janji nggak bakalan ganggu cuma ngikutin aja dari belakang." "Maaf saya nggak ada waktu." Zyan mengayuh sepedanya tanpa melihat ke belakang. Sikapnya bukan membuat Khansa semakin pusing tetapi Khansa yakin akhir yang bahagia akan dia raih sebagaimana kisah-kisah dalam novel yang selalu dia baca. Jika Bang Zyan tidak mengizinkan aku untuk ikut, sebaiknya aku nyiapin sesuatu untuk bagian Ketika pulang sepeda nanti. Khansa masuk, biasanya di hari libur seperti ini seluruh anggota keluarganya akan sarapan bersama, sama seperti biasanya sih tapi yang membedakan adalah waktunya. Jika pada hari kerja waktu sarapan akan lebih pagi, berhubung sekarang libur Khansa hanya melihat maminya yang sedang sibuk masak di dapur. "Mi, ada buah apa di dalam?" tanya Khansa nunjuk lemari es di hadapannya. "Apel kamu masih banyak, sudah Mami bantuin cuci juga Sha." Khansa membuka gawainya kemudian mencari resep untuk membuat jus yang enak. Jus apel sepertinya ide bagus mengingat di kulkas banyak sekali stok apel yang digunakan Khansa untuk berdiet. Satu botol Jus apel yang sudah dicampur dengan es batu siap untuk diberikan kepada Zyan saat dia pulang sepedahan nanti. Di tengah teriknya matahari pagi, Khansa menunggu Zyan kembali. Di tangannya ada kudapan untuk sarapan dan juga jus apel spesial yang dia buat dengan penuh rasa cinta. “Sha, udah dua jam kamu di sana, panas, masuk aja dulu. Makanannya dititip ke pak Satpam aja.” Nina prihatin melihat keadaan Khansa yang penuh keringat, anak gadisnya itu menunggu Zyan. “Pak, masih lama kira-kira?” tanya Khansa. Penjaga keamanan kepercayaan Zyan menjawab bahwa dirinya tidak tahu. Karena memang Zyan tidak pernah pamitan jika harus pergi dari rumah itu. “Ya udah, Shasa nitip ini, ya. Punten kalau bisa jusnya dimasukin ke kulkas biar tetap dingin.” “Iya, Neng. Ada lagi?” “Udah itu aja, nuhun pisan, Pak.” Nina masih menunggu di pintu gerbang. Dia menyambut uluran tangan Khansa yang sepertinya kelelahan karena menunggu. “Orang bilang, menunggu itu melelahkan, kamu kok kuat menunggu, Sha?” “Menunggu keajaiban memang merupakan sesuatu yang paling menyenangkan dalam hidup, Mi. Hari ini Shasa mau pergi ketemuan sama temen, Mi. Udah Izin belum, sih?” tanya Khansa. Dia berhenti sejenak karena Nina berhenti dan menemukan telur ulat di aglonema koleksinya. “Kamu gak bilang mau pergi, biasanya pergi ya pergi aja, Sha.” “Tapi ini sepertinya sampai malam, Mi. Nanti kalau Bang Radit tanya Khansa sama Jemima ya, Mi.” “Mau ngumpul di mana sama Jemima?” tanya Nina. Khansa yang sudah duluan masuk rumah dan berbaring di sofa karena lelah menjawab seadanya. Nina menggeleng, dia lalu memberikan jus apel tanpa gula agar anak perempuannya bisa menghilangkan dahaganya. *** Khansa tiba lebih awal, berulang kali melihat gawainya, mengecek sudah sampai mana teman-teman Youtuber yang akan kumpul hari ini. Di Garut, para konten kreator sering berkumpul untuk membahas tentang kemajuan konten-konten mereka. “Dwaaar!” Jemima mengagetkan Khansa. “Untung aja hamil, kalo enggak udah gue bejek,” gurau Khansa. Jemima dan Fey suaminya tertawa, mereka masih menunggu sampai ada beberapa Youtuber lain. Putra dan Rinjani juga anak-anak mereka. “Shasa kurusan deh. Ini beneran dietnya berhasil, nih,” komentar Rinjani. “Iya bener, terlihat jauh lebih segar dari biasanya, udah turun berapa kilo, Sha?” tanya Jemima. “Belum banyak, Kak Jem. Seneng banget deh sama Kak Jem, sepertinya bahagia banget, apalagi kontennya makin maju aja.” Jemima dan Rinjani saling pandang, memang inilah tujuan mereka bertemu, ingin membantu Khansa untuk memulihkan kepercayaan followers atas kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang menimpa Khansa. Dan membuat channelnya sepi. “Ini yang mau kami bahas, Sha. Kami lihat konten lo sekarang sepi, kalaupun ada yang komen mereka komen negatif. Kita mau bantu supaya nama lo baik lagi di mata fans.” Khansa memperhatikan dua orang yang bicara serius dan peduli dengan kelangsungngan konten-konten Khansa. Fey dan Putra juga tersenyum seakan memberikan dukungan penuh kepada istri mereka untuk saling membantu berbuat baik. Khansa seperti memiliki secercah harapan, padahal semula Khansa memutuskan untuk tutup akun. Setelah menyelesaikan tugas endors dan review produk-produk. “Terima kasih banyak,” ucapnya penuh rasa haru. Khansa yang sudah terbiasa diet apel dan uht milk tiba-tiba merasa muak melihat menu makanan yang ada di hadapannya. Namun, karena sudah beberapa waktu dia menahan diri akhirnya memutuskan kalau hari ini adalah cheating daynya Khansa. Meski ketika makan, dia langsung diserang rasa perih di perut bagian kiri. Khansa berusaha mendorong tekanan yang terus menekan perut bagian atas sampai ke tenggorokan. Jemima dan Rinjani yang sedang asik ngobrol terlihat kuning. Khansa mengedipkan mata, lalu berusaha tarik dan hembuskan napas berharap perasaan aneh yang dia rasakan sekarang bisa teralihkan. “Gue ke toilet bentar ya,” pamit Khansa. Saat berdiri, Khansa nyaris melayang. Kakinya gemetaran, rasanya tidak menjejak bumi. Beberapa langkah dari situ, Khansa melihat kebahagiaan yang dia cari selama ini. Zyan Alex. Meski sebenarnya itu hanyalah halu belaka. Saat Khansa melangkah menuju toilet, Kakinya terantuk ujung kursi yang runcing. Khansa tidak bisa terus-terusan bertahan, sampai akhirnya dia benar-benar jatuh dan kehilangan kesadaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN