Harapan yang Terlalu Tinggi

1082 Kata
“Syukurlah, Sha, duh gue panik banget liat lo pingsan gini.” Jemima bersyukur, mereka membawa Khansa ke klinik terdekat. Begitu bangun, yang Khansa rasakan adalah lemas dan berkunang-kunang, Rinjani memberikan teh manis hangat saat Khansa bangun. “Lo kalau gak sehat aturan jangan datang tadi tuh, kita bisa geser jadwal minggu depan.” Khansa tersenyum, hangatnya teh manis menjalar dari mulut sampai ke perut, rasa perih yang tadi dia rasakan kini kembali lagi. Khansa tidak peduli, dia pura-pura tidak merasakan apa-apa selain pusing. “Enggak apa-apa, ini karena tadi gue nunggu seseorang dua jam sampe kepanasan.” “Lo belum makan, ya? Dokter bilang ini Cuma salatri, lemes karena belum makan aja,” Rinjani menyerahkan kembali sisa teh manis yang belum Khansa habiskan. “Kalian kan liat sendiri, gue abis makan banyak malah pingsan. Makasih ya udah bawa gue ke sini, kalian pasti repot.” “Repot banget, saking repotnya laki kita sekarang tepar karena kelelahan gotong lo ke sini.” Khansa tergelak, jadi gak enak, dia melihat ke arah pintu, ada Putra yang sedang duduk dan memegang minuman dingin di tangannya sementara Fei mengipasi wajahnya yang kepanasan. “Kalau gitu mending kita pindah ngobrolnya ke studio gue, di sana kita bebas ngobrol, lo mau sambil rebahan juga bisa.” Usulan Jemima disambut antusias oleh Rinjani dan Khansa yang masih lemas. Kelima orang tersebut akhirnya pergi dengan menggunakan mobil masing-masing. Khansa nebeng mobil Jemima, sepanjang perjalanan Khansa tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah ditolong. Satu kantong obat di tangannya, obat lambung, obat lemas dan obat pusing. Dokter juga meminta agar Khansa banyak minum dan makan dengan makanan gizi seimbang. Perempuan itu membatin, seandainya mereka tahu selama ini Khansa hanya makan apel dan uht milk. “Sha, lo gak lagi diet ketat, kan?” tanya Jemima. “Diet, sih, ya tapi enggak ketat gimana gitu. Lo juga liat sendiri, kan tadi gue makan banyak?” Khansa tidak ingin semua orang mengkhawatirkannya, karena jika tahu apa yang terjadi maka Khansa bakalan disuruh untuk berhenti diet. Dan Khansa tidak mau apa yang sedang dia perjuangkan harus berakhir begitu saja. “Kirain! Gue tadi takut banget pas liat lo pingsan, nyaris aja gue hubungi Radit tapi gue tahu lo bakalan langsung dibawa pulang.” “Makasih banget, ngeri amat pokoknya kalau Radit sampai tahu apa yang terjadi sama gue.” “Kadang gue iri sama bonding kalian berdua sebagai sibling. Bisa sedekat itu bahkan Radit kelihatan banget sayang sama lo.” “Gak usah iri, lo ada Fey, lah gue, jomlo.” Fei melirik dari spion tengah, keajaiban dalam hidupnya adalah memiliki Jemima. Dia tersenyum dan meyakinkan Khansa bahwa suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan lelaki yang akan menjadikannya ratu. Dan Khansa berharap laki-laki itu adalah Zyan Alex. “Gue terlalu muluk gak sih kalau yang gue pengen sebagai pendamping hidup gue adalah Zyan Alex?” Jemima menoleh lalu menjawab, “Ya enggak juga, apalagi sekarang kalian tetanggaan, bisa saja terjadi, bukan?” “Zyan terlalu angkuh, baiknya Cuma depan Fans. Padahal gue juga fans dia, tapi rasanya badan segede gini gak keliatan sama sekali oleh Zyan. Tadi aja gue nunggu dua jam lamanya, sepertinya Zyan memang sengaja enggak pulang. Karena gue tahu Zyan gak pernah pergi lama-lama.” “Mungkin karena dia gak kenal sama lo, Sha, bisa saja, kan?” “Kita udah kenal, gue beberapa kali bantuin dia, kita juga beberapa kali harus pergi bersama. Tapi gue sih sadar kalo cinta itu tapi guesadar, kalau cinta itu kita gak harus bersama, kan? Ah ... tapi gue mau usahakan dulu, entah nantinya dia bakalan suka sama gue atau enggak.” “coba lo jangan terus menujukkan diri setiap hari sama dia, sadar atau enggak, nanti dia bakalan merasa kehilangan kalau tiba-tiba lo ilang nantinya.” Fei ikutan bicara, sebagai seorang teman, dia ikut ngasih nasihat. Hati dan perasaan Khansa sehalus sutra, untuk itulah sebagai teman yang baik Jemima dan Fei memberikan dukungan penuh ketika Khansa curhat masalah cowok. Memang, sih, cowok yang dia sukai adalah orang besar. Terlalu muluk jika ingin sebuah ststus dan kepastian dari Zyan. Khansa tahu betul sampai akhirnya dia curhat kepada dua sahabatnya seperti sekarang ini. Khansa menoleh ke samping kiri, mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di sebuah kompleks. Kemudian berhenti di salah satu rumah bercat biru. Jemima turun duluan, Khansa ikut dari belakang, gadis manis bernama Wirda menyembut kedatangan mereka. Tidak berselang lama, Putra dan Rinjani juga tiba. Khansa masih tidak bisa berdiri lama-lama seperti biasanya, perempuan itu terpaksa bersandar pada dinding rumah. Mendengarkan pembahasan yang digagas oleh Putra. *** Malam hari setelah semua selesai, Khansa menunggu depan studio Zona Jemima menunggu jemputan. Kantong plastik berisi obat-obatan sengaja dia buang setelah memindahkan tiga jenis obat ke dalam tas. Radit tidak boleh tahu, papi dan Mami juga kalau bisa sampai tahu bahwa Khansa pingsan siang tadi. Urusannya akan selalu ribet jika melibatkan keluarganya. Empat puluh menit menunggu ditemani oleh Wirda. Khansa senang ketika melihat Radit tiba. Seharusnya dia tiba lebih awal dan ikut pembahasan dengan para youtubers lainnya. Namun, Radit selalu memilih teman, bergaul dengan para youtuber bukan ide bagus karena Radit percaya jika dirinya bakalan kehilangan topik obrolan. “Makasih banget udah mau jemput,” ucap Khansa. Radit tersenyum seraya ngacak rambut Khansa yang lembut. Tidak lama Khansa menepis tangan kakaknya yang terus-terusan berada di kepalanya. “Mau makan dulu?” ajak Radit. “Enggak mau, Bang. Masih kenyang.” Khansa membuka tas tangannya, mengeluarkan bedak dan juga liptint. Sambil jalan dan mendengarkan ocehan Radit tentang hal-hal random yang terjadi dalam kehidupan sepasang anak kembar itu. “Bang, kalau gue gak bisa dapetin Zyan gimana?” “Gue yakin lo gak bakalan bisa dapetin dia.” Mendengarnya bagaikan dia memiliki harapan tinggi lalu dijatuhkan sekaligus. Khansa diam tidak berkomentar lagi, terlalu sakit untuk dilanjutkan. “Kenapa diem?” “Enggak, mikir aja gimana caranya Shasa bisa dapetin cinta Bang Zyan. Shasa sedang belajar apa yang dia suka dan apa yang enggak. Tapi rasanya sulit sekali untuk menggapainya, Bang Zyan itu ibarat berlian dan Khansa butiran debu. Tapi khansa gak mau nyerah gitu aja, Bang. Ada banyak cara yang akan Khansa lakukan selama itu memberikan hasil yang baik dan Khansa bisa mendapatkan cinta Bang Zyan.” Radit melirik sekilas, lalu fokus pada jalanan aspal seraya berpikir keras bagaimana catanya meyakinkan Khansa bahwa harapan dan keinginannya adalah sesuatu yang begitu muluk. Dia benar-benar takut jika Khansa terus maju, lalu Khansa sakit. Radit hanya tidak sanggup melihat belahan jiwanya perlahan-lahan hancur karena harapannya sendiri yang terlalu tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN