“Mau sampai kapan kamu tinggal di sini?” Rumah Zyan tiba-tiba didatangi oleh dua orang perempuan. Satu di antaranya adalah Lona, diag sini, adalah asisten manager Zyan. Satu lagi adalah Aurel, satu di antara sekian banyak alasan lelaki itu kabur ke kota kecil ini.
“Lari tidak menyelesaikan masalah, kamu didiemin malah makin diem. Gak ada inisiatif buat selesaikan masalah gitu?” Aurel menghela napas frustasi, sikap Zyan memang selalu kekanakan. Aurel selalu berusaha mengalah dan memahami kelakuan kekasihnya.
“Kamu tahu, kan aku sibuk. Bahkan untuk tidur aja rasanya gak ada waktu. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang ngertiin aku. Ditambah tekanan produser, tekanan Fans, rasanya pengen udahan aja hidup di dunia ini. Beruntung Mama ngasih solusi aku rehat di sini setelah kecelakaan kemarin.”
Aurel berpikir sambil melihat-lihat keadaan rumah yang nyaman, memang rumahnya besar, jauh dari kesan rumah mewah yang sering kali dia temui di Ibu Kota. Dia memberi kode pada Lona, gadis itu mengerti dan dia pamit untuk menggunakan toiletnya.
“Katakan apa tujuanmu datang ke sini?” tanya Zyan ketus.
“Zyan, status kita ini sepasang kekasih, selama tidak ada kata putus dari kita berdua aku adalah kekasihmu. Mengkhawatirkan kamu di sini apa salah?”
Awalnya Zyan memang merindukan Aurel, terlebih di kota ini tidak seperti di ibu kota yang mana terdapat banyak kebebasan. Tapi lama-lama Zyan terbiasa dan mungkin dia lupa bagaimana dengan kehidupan di kota yang sesungguhnya.
“Maaf, aku beneran butuh waktu sendiri. Maaf jika mengabaikanmu terlalu lama.”
Zyan berdiri mendekat, gadis beraroma manis yang selalu jadi mimpi di setiap malamnya dia peluk dengan erat. Namun, semakin dia dekap dengan erat, Zyan semakin tidak menemukan kenyamanan. Ada kehampaan yang dia dapatkan dari dekap harum tubuh perempuan itu.
“Aku bener-bener kangen sama kamu, Zy, saking kangennya aku nguntit Lona sampai sini. Saking kangennya semua jadwal aku untuk lima hari ke depan kugeser. Aku ambil risiko untuk mempertaruhkan semuanya demi kamu, Zy. Jahat banget kamu lupain aku gitu aja.”
“Maaf, sayang, maaf. Janji gak begini lagi, tapi aku beneran butuh waktu buat sendiri. Butuh waktu buat selesaikan konflik batin. Aku bener-bener butuh waktu agar gak stress. “
Aurel mengeratkan pelukan, menghirup dalam-dalam aroma yang dia rindukan. Lama sekali Aurel tidak menghidu manisnya Zyan.
“Aku lapar, ayo pesan makanan.”
“Kamu mau bakso mercon?” tawar Zyan.
“Mau!” Lona berteriak kegirangan, perempuan yang baru saja keluar dari toilet itu melompat kegirangan. Berbeda dengan Aurel yang mencebik kesal karena bagi seorang model, makanan berlemak adalah salah satu makanan yang harus dihindari.
Aurel adalah model ternama di Indonesia, kiprahnya di dunia modeling bahkan melebar sampai ke mancanegara. Makanannya diatur, nasi dan lauk pauknya benar-benar harus memenuhi standar takaran yang dianjurkan untuk para model. Semua diatur oleh ahli Gizi jangan sampai apa yang dia makan menjadi pengebab berubahnya postur tubuh yang indah.
“Kamu berubah,” protes Aurel kesal. Seingatnya makanan begitu pun bukan level makanan Zyan.
“Tapi ini beneran enak, serius sayang awalnya aku juga gak mau makan itu, tapi setelah mencoba tidak ada yang terjadi pada tubuhku. Aku belum buncit dan berat badan juga tidak bertambah. Asal kamu tahu, walau pengangguran aku tetep ngegym di sini.”
“Ayolah, Rel, ini kan liburan. Memangnya mau makan apa? Lo gak tahu di mana restoran yang menjual makanan penunjang diet lo, kan?”
Ada benarnya juga apa yang dikatakan Lona, tetapi Aurel masih memiliki rasa takut yang luar biasa. Sepanjang kariernya di dunia modelling Aurel tidak pernah menyentuh makanan itu. Tidak sekalipun, itu artinya sejak umur empat belas tahun di mana dirinya terpaksa menjadi model cilik dan kemudian menjadi top model di Indonesia.
“Yakin enggak apa-apa?” tanya Aurel.
“Seyakin aku mencintaimu.”
Rain membuat Lona bertindak seolah ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Dua orang yang dimabuk asmara itu membuat Lona menjadi kambing congek. Melihat kemesraan yang diumbar-umbar bikin iri dan bikin jomlo makin ngenes.
***
Khansa ingat apa petuah dokter sebelum meninggalkan klinik. Dia kehilangan banyak nutrisi dalam tubuhnya, oleh karena itu, Khansa memutuskan untuk tidak makan dengan pola diet seperti kemarin selama tiga hari. Tiga hari cukup baginya untuk memulihkan tenaga dan mulai kembali diet di hari berikutnya.
Seperti orang yang kelaparan, Khansa memesan Bakso Mercon. Makanan kesukaannya dan menurut infomasi Pak Sakur, Bakso mercon pemberian Khansa kepada Zyan waktu itu sangat disukai sehingga beberapa kali Zyan memesan menu yang sama.
“Apa sekalian pesan buat Zyan juga ya?” monolog Khansa. Dia termenung di depan gawai, masih bimbang dan menimbang-nimbang apakah akan beli buat Zyan juga atau tidak. Namun, sepertinya memang harus beli, Khansa selalu ingat kalau seorang suami akan luluh dengan makanan. Nah Zyan kan calon suami Khansa. Memikirkannya Khansa senyum-senyum tidak tahu malu.
Tiga puluh menit menunggu, driver ojek online pengantar makanan tiba di depan rumah Khansa, setelah membayar dan mendapatkan dua porsi bakso mercon Khansa masuk terlebih dahulu menyimpan jatah baksonya.
“Tumben jajan bakso, Sha?” tanya Nina.
“Lagi kepengen aja, Mi. Mami mau?”
“Sejak kapan Mami suka bakso kuah cabe begitu. Jangan banyak-banyak cabe, Sha. Sayangi perutmu, jangan sampai sakit. Papi sama Radit nanti marahnya sama mami karena gak ngingetin kamu.”
“Shasa tahu, Mi, Ini gak pedes-pedes amat sih. Nitip ya, Shasa mau ngantar ini sama Bang Zyan.”
Nina tersenyum prihatin, dia tidak bisa mencegah anak gadisnya untuk tidak menyukai Zyan. Nina pun pernah muda, Nina pernah menyukai aktor pada zaman itu. Bahkan Nina pernah bela-belain datang ke Jakarta untuk menemui aktor kesayangannya dan dia pernah ditaari main film bersama sebagai seorang figuran. Meski yang terlihat di layar kaca hanyalah punggungnya saja, Nina merasa sangat bahagia.
“Mami senyum-senyum ngapain?” tegur Khansa.
“Enggak apa-apa.” Nina menjawab dengan lembut, dia memberikan dukungan penuh kepada Khansa selama tidak melanggar norma apa pun.
Dengan hati-hati, Khansa membawa satu mangkok bakso mercon ke rumah depan. Perempuan itu berharap bisa memberikannya langsung kepada Zyan. Melihat wajahnya yang merah karena kepedesan.
“Pak Sakur, Bang Zyan ada?” tanya Khansa begitu memasuki gerbang depan. Pak Sakur mengampiri, melihat bakso mercon yang ada di tangan Khansa Pak Sakur mengira kalau Khansa diundang makan bersama mengingat majikan Pak Sakur sedang makan Bakso Mercon juga.
“Masuk aja, Neng, mereka udah nunggu.”
Mereka?
Khansa tidak mau berpikir aneh-aneh. Dia memang melihat ada mobil lain di carport. Tapi memang beberapa kali Zyan berganti kendaraan jadi sudah tidak asing lagi. Khansa berterima kasih kepada Pak Sakur karena mengizinkannya untuk masuk.
Semakin dekat ke dalam rumah Khansa bisa mendengar dengan jelas tawa renyah perempuan, disusul dengan candaan Zyan dan juga jeritan kecil. Mereka, Sepertinya mereka yang disebutkan oleh Pak Sakur memang ada orang lain yang sedang bersama Zyan.
Khansa berhenti sejenak, perempuan itu ragu untuk melangkah. Ada perang dalam batinnya, antara lanjut masuk dan memberikan bakso mercon kesukaan Zyan atau balik lagi dan titip baksonya ke Pak Sakur.
Setelah menimbang-nimbang, Khansa pikir, masuk ke dalam saat ada tamu bukan ide yang bagus. Dengan hati-hati dia berbalik, tetapi seorang perempuan memanggilnya.
“Mbak, mau ketemu siapa?”
Ah, sudah kepalang basah.
Khansa berbalik, tangannya sudah panas memegang mangkok berisi bakso.
“Bang Zyan ada?”
“Siapa ya?” tanya perempuan itu, rambutnya tiga jari di bawah telinga. Mirip seorang PASKIBRAKA. Hanya saja warnyanya sangat terang, pirang dan cantik.
“Saya tetangga depan rumah, ada sesuatu yang harus saya berikan ke Bang Zyan.”
“Kami sedang makan, ayo masuk, sekalian makan bareng.”
Khansa mengangguk, di balik penampilannya yang luar biasa ternyata perempuan itu ramah dan baik hati. Khansa masuk dan seketika dalam rumah menjadi senyap, baik Zyan atau perempuan lain yang ada di sana diam menatap dengan malas.
***
Tidak pernah terpikir oleh Khansa akan patah hati secepat ini. Saat pulang ke rumah dia bersyukur karena tidak ada orang di rumahnya selain Nina. Itupun Nina sedang mengerjakan sesuatu di dapur sehingga dia tidak melihat Khansa mendekat kemudian mengambil Bakso mercon miliknya dan bergegas masuk kamar.
Makan selalu menjadi pelarian paling ampuh baginya. Apalagi makanan pedas, kesedihannya seperti tersapu dengan keringat dan air mata yang membanjiri wajahnya kala memakan hidangan di hadapannya.
Tangis Khansa pecah saat mengingat kejadian tadi. Perempuan bernama Aurel itu tidak tahu malu mencium Zyan tepat di hadapannya. Zyan tidak marah, dia malah menyambut pagutan perempuan itu. Ditambah dukungan perempuan berambut neon yang bernama Lona.
Khansa menyalakan kameranya, kemudian curhat sepuasnya dalam video yang akan dia simpan sebagai koleksi pribadi.
Keesokan harinya, Khansa terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Namun, rasa sakit itu masih bisa dia kendalikan dibandingkan sakit di hatinya. Sejak subuh, Radit dan Wisnu bergantian mengetuk pintu kamar Khansa.
“Sha lo sehat, kan? Jangan bikin kami khawatir, Sha.”
“Sehat,” jawab Khansa, tetapi suaranya yang serak membuat Radit tidak percaya dengan pengakuan sang adik. Lelaki itu turun ke lantai satu, mencari kunci cadangan.
Saat dia kembali dan mendapatkan kunci cadangan tetap tidak bisa dia gunakan. Khansa membiarkan kunci utama menggantung pada lubangnya.
“Sha, buka atau gue dobrak pintunya!” Hardik Radit.
“Jangan, papi belum punya biaya buat renov.” Wisnu menyambar, kini dua pemuda idaman di keluarga mereka berdiri menghadap pintu kamar Khansa.
Radit memutar bola matanya, lalu meraih kursi yang tidak jauh dari sana untuk kemudian mengintip Khansa dari lubang angin di atas pintu.
“Sha, woy, lo beneran sehat?” Radit sedikit terkejut melihat keadaan sang adik. Dia berbaring di atas tempat tidur dengan rambut acak-acakan. Matanya sembap dan wajahnya sepeti Zombie yang dikurung dalam ruangan keruh.
Seharusnya Radit mengerti bagaimana rasanya patah hati, harusnya Radit biarkan saja sang Adik menikmani masa-masanya sendiri. Karena Khansa tidak yakin dia akan bisa menyembuhkan luka ini sampai benar-benar pulih. Luka kali ini, Khansa tidak tahu harus percaya sama sekali.