“Astaga, Sha. Lo bikin kami khawatir tau gak sih, Sha.”
Wajahnya kusut masai. Rambut yang selalu rapi itu kini berantakan. Khansa keluar dengan air mata berderai. Wisnu, Nina dan Radit saling melempar pandangan. Sigap perempuan separuh usia yang tadinya hendak ngolok-ngolok sang putri kini terdiam sejenak, lalu merentangkan tangan. Pelukan hangat akhirnya diberikan dengan harapan apa pun masalah yang dihadapi oleh Khansa bisa dia selesaikan dengan baik.
“Tadi Mami liat Shasa masih happy-happy aja ngantar Bakso mercon ke rumah depan. Ada masalah apa? Kami ada di sini untuk bantu Shasa.”
Perasaan Khansa semakin sesak manakala mendengar kalimat penghibur dari Nina. Dia mengurai pelukan dan kini bergantian memeluk Wisnu, kemudian Radit. Keluarga memang temoat paling aman untuk Khansa. Di sini dia diterima dengan baik. Di sini perempuan itu tidak pernah dipandang aneh.
“Shasa capek diet tapi hasilnya gini-gini aja tapi Shasa juga capek jadi orang gendut. Dihina terus tanpa ampu.”
“Zyan hina kamu?” tanya Radit murka.
Khansa menggeleng, memang sama sekali tidak ada yang menghina dirinya, kenyataan pahit yang dia terima saat berkunjung ke rumah Zyan adalah fakta bahwa lelaki itu tidak single. Gosip yang beredar tentang hubungannya dengan Aurel si model terkenal itu ternyata bukan sekadar gosip semata.
Mereka adalah pasangan nyata, Khansa semakin insecure terlebih melihat Aurel setipis papan cucian dan dirinya lebih tebal daripada dompet juragan kulit di Sukaregang.
“Shasa patah hati aja, Bang. Udah, ya, Shasa udah keluar, Shansa sekarang pamit lagi, mau tiduran lagi.” Khansa melepas pelukan Radit. Sebelum masuk kamar, perempuan itu tersenyum manis pada kedua orangtua dan juga kakak kesayangannya.
“Tunggu, Sha.”
“Kenapa, Bang?”
Radit menatap Khansa, kesedihannya benar-benar bisa Radit rasakan dengan baik. Lalu dengan tangan kanannya Radit mengelus pipi Khansa. Meyakinkan sekali lagi bahwa gadis itu tidak sendiri dan tidak akan pernah merasa kesepian.
“Makasih, Bang. Nanti sore kita kulineran, yak? Kan Abang gajian.”
Radit menyesal sudah bersikap manis dan baik kalau ujung-ujungnya Khansa akan menguras dompetnya. Lelaki itu senyum hambar, lalu mendesah lega saat Khansa bilang bahwa dia hanya becanda saja.
***
Program baru yang Khansa gagas bersama Jemima dan Rinjani akan segera dimulai, oleh karena itu Khansa memaksakan diri datang ke studio Jemima yang lokasinya di salah satu kompleks perumahan di Garut. Khansa sudah diingatkan oleh Jemima untuk datang membahas semua rencana kerja yang akan mereka kerjakan bersama.
“Udah sehat, Sha?” Jemima menyambut kedatangan Khansa. Sosok mungil dengan perut buncit itu tampak begitu khawatir, dia menuntun Khansa dengan hati-hati tanpa sadar dirinyalah yang harus lebih berhati-hati.
“Tubuhku insya Allah sehat banget, Jem. Siap menerima gempuran program kerja yang akan kita jalankan bersama. Kalau ditanya hati, maka hatiku sama sekali tidak dalam keadaan baik-baik saja.”
“Khansa yang aku kenal gak begini, lho. Wirda, tolong jus mangga yang udah aku beli tadi, Wir.”
“Gak usah, Wir. Air putih aja, aku diet, udah cheating dari kemarin.”
Wirda berdiri ragu, mana yang harus dia turuti. Akhirnya, Jemima minta air mineral kemasan botol. Khansa menerima botol air mineral yang masih disegel rapi itu, kemudian membuka segelnya dan meminumya dengan menggunakan sedotan plastik. Beberapa kali sedot air mineral itu hampir habis.
“Aku suka sama seseorang, awalnya hanya mengagumi dia karena ngefans. Lalu takdir membawa dia untuk jadi tetanggaku.”
“Zyan Alex?” potong Jemima.
“Kok tahu?”
“Sempat ramai, ada berita The Intan Village diserang fans artis dan salah satu foto menunjukkan rumah yang ada di depan rumah kamu. Saya ingat karena beberapa kali ke sana, waktu rumahnya masih kosong.”
“Iya bener, Zyan Alex. Kamu tahu berapa banyak poster lelaki itu di kamarku. Kamu tahu aku punya standee banner Zyan Alex dan tahu segala tentangnya.”
Khansa menunduk, tiba-tiba dia merasa apa yang dilakukan selama ini sia-sia. Jika kemarin masiha da secercah harapan untuk mendapatkan Zyan, kini harapan itu hancur setelah melihat Zyan bermesraan dengan Aurel.
“Harapanku pada akhirnya harus berakhir, Jem. Aku sadar terlalu muluk mengharapkan dia. Untungnya Tuhan membuka semuanya sebelum perasaanku jatuh terlalu jauh.”
Jemima tidak pandai menghibur orang, jadi dia diam dan mengelus punggung Khansa. Berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Aku gak tahu diri banget ya, Jem. Mengharapkan sosok yang begitu sempurna sementara aku jauh dari kata sempurna.” Khansa memejamkan matanya, mengingat tatapan Zyan yang meremehkan.
“Lo cantik, lo gak harus jadi sempurna untuk menyenangkan orang lain. Cantiklah untuk diri sendiri, jangan sekali-kali denger komentar miring orang-orang.”
Khansa sontak menoleh ke arah cermin di sebelahnya, dengan pemandangan yang baginya terasa sangat memprihatinkan.
“Cermin itu penipu, Sha.”
Khansa menoleh, dia tidak suka jika Jemima hanya menghibur dirinya yang buruk rupa dan tidak pantas bersanding dengan Zyan.
“Semua cermin di dunia ini penipu, Sha. Kadang membuat orang terlena merasa diri paling cantik di dunia ini, kadang membuat orang insecure habis-habisan. Khansa harus tahu, setiap perempuan itu cantik, sangat cantik. Jangan berkecil hati sayang.”
“Jem, makasih banget, tapi aku sadar diri, makanya aku diet. Sebenernya kemarin pingsan juga karena aku sedang berdiet.”
“Kami tahu,” jawab perempuan lain, dia baru datang, membawa sebuah koper dan duduk di antara Jemima dan juga Khansa.
“Ih dateng-dateng duduk di mana aja. Masih ada tempat yang luas kali, Rin. Sempit ini.” Jemima protes, jadinya Khansa sedikit bergeser, perempuan itu lagi-lagi menyadari bahwa dirinya menghabiskan banyak tempat untuk duduk di mana pun itu.
“Sha, diet boleh, harus malah, tapi kalau caranya salah ya membahayakan kesehatan lo.”
Khansa mengangguk, sementara itu Jemima melengos, Rinjani tidak tahu inti dari obrolan Khansa dan Jemima itu apa. Rinjani baru datang dan mendengar pengakuan Khansa yang berdiet saat pingsan kemarin. Dan itu benar-benar membuatnya yakin. Yakin bahwa Khansa sedang berdiet.
“Eh ngomongin diet, sodaranya Wirda berhasil diet ya kan, Wir?”
Dari meja dengan dua layar monitor di depannya Wirda menjawab, “Iya.”
“Aku juga berhasil kemarin, berat badan menurun dan baju-baju lama kepake lagi. Mungkin sabar sedikit lagi bakalan lebih kurus lagi. Yang penting kan konsisten.”
“Diet sampai pingsan itu berarti ada yang salah dari cara dietnya, lo kelamaan nahan lapar juga nantinya lo bisa gragas pas liat makanan. Kayak lapar banget gitu.”
Khansa mengambil air mineral miliknya, kemudian menghabiskannya karena haus. Sebenarnya bukan haus, tetapi lapar. Khansa selalu minum jika lapar menyerangnya di luar jam makan yang sudah dia jadwalkan.
Perempuan itu berterima kasih karena memiliki teman yang mau mendukungnya dalam program diet yang sedang dia lakoni.
Project baru kerja bareng youtuber perempuan di kota Garut yang pertama adalah semacam kegiatan harian dari bestie. Selain mengunggahnya ke youtube, mereka juga bikin video berdurasi 3 menit untuk diunggah ke t****k pertama mereka.
Setidaknya kegiatan hari ini membantu Khansa untuk melupakan tentang Zyan sampai Jemima bertanta di tengah perbincangan mereka bertiga.
“Sha tadi kamu bilang Tuhan tunjukkin semuanya, nah keburu gak lanjut kita ngomong.”
“Eh, bentar,” sela Rinjani. “Ngomongin apa ini?”
“Kepo!” ledek Jemima. Rinjani pura-pura marah dengan pasang wajah lucu.
“udah, aku gak jadi cerita, nih.” Khansa mengancam, sampai akhirnya Rinjani dan Jemima diam. Mereka menanti cerita yang akan diungkapkan oleh Khansa.
“Jadi, ya, cintaku terlalu buta. Terlalu jauh bermimpi untuk bersama dengan Zyan Alek. Berharap ceritaku seperti kisah novel yang awalnya tidak membahagiakan tetapi menyenangkan pada akhirnya. Nyatanya kisahku tidak ada bahagia-bahagianya, udah yakin kalau Zyan single, tapi setelah melihat langsung, Zyan ternyata beneran pacaran sama Aurel. Aku lihat sendiri cara Zyan menatap Aurel, begitu pula sebaliknya.”
Rinjani menghela napas, kemudian memeluk Khansa dari samping dan mengistirahatkan kepalanya di pundak Khansa.
“Jadi lo diet karena dia?” tanya Rinjani.
“Siapa lagi?”
Jemima menuangkan gelas kosong Khansa dengan jus mangga. Dia lihat sejak awal bahkan sejak di studio Khansa hanya minum air putih saja.
“Salah gelas, Jem.”
“Enggak, ini memang gue sengaja. Sha ayo diet lagi, tapi niatkan diet itu untuk diri sendiri, untuk memiliki tubuh ideal, untuk mendapatkan kesehatan paripurna. Kami berdua akan bantu lo bangkit dari rasa putus asa.”
Khansa menangis terharu, teman-temannya sangat baik, dia kembali memiliki semangat yang menggebu untuk berdiet kembali.
“Tapi ada syaratnya, Sha,” ujar Jemima.
“Iya, apa?”
“Udahan dulu konten mukbang lo. Atau sebaiknya kamu ganti jangan ambil tema mukbang. Kami di suni ada untuk bantu.”
“Aku akan coba,” jawabnya dengan segenap keyakinan. “Terima kasih karena sudah ada buatku, terima kasih dan aku akan selalu ingat jasa kalian sampai kapan pun.”