Cemburu Salah Tempat

1272 Kata
Jika ditanya siapakah perempuan paling beruntung, maka Khansa adalah satu dari sekian banyak perempuan yang beruntung. Tidak banyak orang yang memiliki keluarga utuh dan harmonis seperti keluarga Khansa. Maka kegagalannya dalam percintaan tidak begitu menyedihkan. Syuting pertama untuk konten collab dengan Jemima dan Rinjani selesai hampir malam. Dan Khansa bahagia karena lelaki tampan bernama Raditya Bhalendra menjemputnya. “Aku punya saudara laki-laki, tapi rasanya gak kaya Bang Radit ke Khansa ya,” seloroh Jemima. “Masa sih, enak dong, enggak rese.” Radit memutar bola mata, dasar adik tidak tahu terima kasih. “Seirus,” sambung Jemima. “Jeremy kalau aku gak minta tolong, mana mau jemput.” Khansa tersenyum, kemudian minta izin untuk mengelus perut buncit Jemima. “Walau Jeremy gak begitu, gak kayak Radit, tapi Jemima punya Fei yang siaga dan sigap kapan pun Jemima butuh pertolongan. Ini lebih pantas dijadikan ajang iri ketimbang dengan aku begini.” “Dikiranya enak gitu antar jemput adek sendiri, udah gede pula.” Radit ikutan nimbrung. “Yee!” Khansa menepuk lengan Radit. “Kami pulang dulu, Jem. Sampai jumpa lagi di project selanjutnya. Terima kasih jamuan makannya, terima kasih juga jadi pendengar yang baik buatku. Sehat-sehat, ya, ponakan.” Setelah sekali lagi mengelus perut Jemima, Khansa dan Radit keluar bersama-sama meninggalkan studio. Dua kakak beradik yang sempat membuat iri teman-temannya itu berjalan beriringan. Radit yang sempurna dengan Khansa yang buruk rupa. “Maaf ya, Bang. Harusnya sore, tapi Shasa baru selesai jam segini, jam segini kita kulineran di mana? Pastinya udah pada tutup.” Radit fokus menyetir, dia juga mikir keras mencari tempat makan yang masih buka. Nge-Ramen di Uchiha gak mungkin karena Khansa tidak begitu suka ramen. “Bentar Shasa googling aja, siapa tahu ada rekomendasi tempat makan yang masih buka jam segini.” Jari-jarinya yang montok bergerak lincah mencari informasi di mana mereka bisa mendapatkan restoran yang masih buka. Tinggal di kota kecil memang segini repotnya, terkadang tidak dua puluh empat jam mereka bisa mendapatkan makanan. “Jalan Cimanuk masih banyak, Bang. Ke sana aja?” “Boleh, mau makan apa?” “Makan apa aja sepuasnya, besok Shasa mulai diet lagi, sekarang makan aja sepuasnya.” Membujuk adiknya memang selalu mudah, sejak dulu asalkan ada makanan yang enak Khansa bisa bahagia. Dan Radit selalu suka melihat ekspresi semangat Khansa saat bertemu dengan makanan. Tidak menyangka jika hal itu sekarang menjadi salah satu penyebab Khansa insecure. “Sha, tersiksa banget ya punya badan besar begini? Lo harus tersiksa diet.” Pertanyaan ini rasanya bukan seperti pertanyaan untuk Khansa, dia suka makan. Khansa bahkan lebih menyukai makan dari apa pun itu, tetapi dia tidak suka efeknya. Saat dirinya berusaha untuk merasa baik-baik saja dan menerima diri apa adanya, Khansa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar. Pernah suatu ketika Khansa jalan di sebuah klinik menuju apotek, di sana banyak sekali orang yang antree dan Khansa ditelanjangi dengan tatapan mereka. Segitu kejamnya sampai-sampai ada yang berbisik sepelan apa pun tentang dirinya, Khansa masih bisa mendengarkannya. “Tersiksa sih enggak, Bang,” jawabnya. Khansa menoleh ke sebelah kiri, disandarkan kepalanya di jok mobil, dia melihat jalanan yang sudah sepi. “Kalau misalnya gak usah diet aja gimana?” usul Radit. Sejujurnya Radit dan kedua orang tua mereka bisa menerima Khansa apa adanya. “Gak ada cowok yang bisa kayak Abang. Segala sesuatu saat ini tuh, selalu dikaitkan dengan fisik, Bang. Bahkan Shasa kerja kemarin pun selalu dikaitkan dengan fisik. Dan Abang tahu sendiri, tingkat kesukaan Shasa ke Bang Zyan gak hanya sekadar fans sama idolanya. Sebut saja Khansa b**o karena suka sama dia sebagai perempuan yang menyukai lelaki. Shasa gak bohon ada perasaan sayang sama Bang Zyan.” “Lalu kenapa kamu sedih? Kamu nyatain?” “Enggak,” elak Khansa. “Mana berani, Bang. Kemarin Shasa beli mercon, kata Pak Sakur Bang Zyan senang banget waktu dikasih mercon sebelumnya, jadi Shasa inisiatif beliin.” “Merconnya ditolak?” Khansa menggelengkan kepalanya, “diterima, Bang. Bahkan Bang Zyan sama ceweknya lebihs suka mercon yang Shasa bawa dibandingkan dengan Mercon yang mereka beli sendiri?” “Ceweknya?” pekik Radit. Khansa mengangguk. Matanya menyusuri jalan Cimanuk, mencari resto yang masih buka. “Lo jadi patah hati karena pas ke sana ada ceweknya?” tanya Radit lagi. “Iya, Bang, rumor yang selama ini Shasa anggap rumor ternyata memang beneran. Itu bukan gosip, Aurel si model itu beneran pacarnya Bang Zyan. Nah Shasa insecure badannya tipis banget, pantas Bang Zyan suka sama dia.” Radit membelokkan mobilnya ke salah satu pelataran restoran yang masih buka. Khansa menelan ludahnya setelah tahu restoran apa yang mereka datangi. “Sha, kejadian ini Tuhan tunjukkan bahwa Khansa udah harus berhenti mengejar Zyan. Mami sama Papi bakalan sedih kalau tahu perasaan Khansa yang sebenarnya. Jadi begini, Sha, ngefans boleh aja, tapi kalau ingin lebih dari itu sebaiknya jangan deh.” Khansa menunduk, setela mobil menepi dia keluar tanpa menjawab dan menanggapi omongan Radit sebelumnya. “Sha tunggu,” panggil Radit. “Lanjut aja parkir, Bang. Shasa nyari meja kosong.” Radit bergerak lega, dia kira Khansa tersinggung. Radit melihat Khansa di pojokan resto melambaikan tangan kepada Radit. Bakmi surabaya mejadi menu yang dipesan Khansa, sedangkan Radit memesan kwetiaw goreng ekstra pedas. Radit melayani Khansa dengan baik, menuangkan air sampai membuka sumpit. Tindakannya benar-benar membuat pandangan orang di sekitar seakan meremehkan dia. Cowok ganteng dengan tubuh proporsional dengan Khansa yang gendut dan banyak makan. “Bang, Shasa gak nyaman,” ucap Khansa ketika tidak sengaja mendengar cibiran orang lain. “Sha, inilah yang Abang khawatirkan saat bawa kamu ke luar begini. Kamu terlalu perasa dan mudah sekali insecure.” “Ya inilah mengapa Khansa harus diet lagi, Bang. Gak peduli apa pun juga Khansa harus diet, tolong dukung Khansa kembali.” “Metode apa lagi sekarang?” “Saudaranya Rinjani diet tanpa tersiksa, hanya gak makan nasi aja, Bang. Kan sumber karbo bisa Khansa dapetin dari makanan lain. Jadi Shasa gak akan kelaparan. Shasa janji gak bakalan sakit lagi.” Radit mendesah lega, dia lalu mengusap kepala Khansa, perhatian kecil yang membuat orang-orang iri karenanya. *** Matahari belum bersinar saat Khansa terbangun dari tidurnya, ini adalah hari pertama dia diet kembali tanpa nasi, Syaratnya Khansa juga harus olahraga. Jadi di sinilah dia sekarang, bersemangat membuka hari dengan berolah raga. Semula dia melakukan peregangan, lalu perempuan itu turun ke lantai satu dan melihat sang Mami lagi siapin sarapan. “Tumben?” tanya Nina. “Shasa mau olahraga, Mi. Enaknya apa ya?” tanya perempuan itu. “Jangan sekaligus, Sha. Yang ringan aja dulu, jalan kaki keliling kompleks.” “Oke, deh, Mi. Shasa mau jalan dulu satu puteran, kalau gak sanggup berenti kalau masih kuat tambah satu puteran.” “Hati-hati di jalannya. Jangan sambil main hp.” Khansa mengecup pipi Nina setelah memakai sepatunya dia keluar rumah dan berjalan keliling kompleks. Ada banyak hal yang tidak Khansa dapatkan selama ini, ternyata jalan keliling kompleks menyenangkan juga. Dia bertemu dengan banyak orang yang baik dan ramah kepadanya dan juga bertemu pedagang bubur langganannya. Mungkin sekarang Khansa berhenti berlangganan karena dia akan menghentikan konsumsi makanan terbuat dari beras. Satu putaran masih kuat Khansa jabanin, sekarang dia melewati jalan utama sebelah timur untuk memutar kompleks bagian itu. Dia sangat bersemangat sampai akhirnya bertemu dengan Zyan dan pacarnya di kedai sarapan Bunda Marni Blok paling timur kompleks itu. Sebisanya dia menghindar, tetapi ternyata tidak bisa. Khansa melihat Aurel tersenyum sinis dan dengan sengaja bermesraan dengan Zyan di depan matanya. Khansa kuat, Khansa bisa menghadapi ini dengan baik. Khansa tidak berhak cemburu, Khansa tidak boleh iri. Mantra itu dia rapalkan terus menerus, berharap rasa sakit saat melihatnya bisa hilang karena dirinya bisa menerima kenyataan dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN