“Khansa tunggu!”
Langkah Khansa terhenti, rasanya dia tengah berada dalam tidur nyenyak kemudian diberi mimpi yang indah. Sebisa mungkin dirinya berusaha agar tidak terbangun dari mimpi itu. Suaranya saat memanggil nama Khansa terdengar begitu merdu. Rasa kecewa Khansa karena melihat Zyan bersama dengan pacarnya sedikit menguap. Setidaknya Zyan masih menyisakan sedikit perhatian untuk Khansa.
“Lo dengar, kan? Tunggu!” Nada bicaranya meninggi, Khansa tertegun, perlahan dia balik badan. Keringat bercucuran, mengalahkan keringat karena jalan kaki keliling kompleks.
Zyan mendekat, dia melihat ke arah kedai sarapan Bunda Marni. Aurel menatap dari kejauhan sambil tersenyum.
“Gue gak bodoh melihat bagaimana lo mandang gue,” ucap Zyan. Khansa menebak arah pembicaraan lelaki yang dia kagumi.
“Ma-maksudnya?” gagap Khansa.
“Berhenti pura-pura bodoh, gue gak pernah ganggap lo fans yang bener-bener fans. Ada maksud lain, ya, kan? Jika yang lo maksud adalah gue bisa jadi pacar lo sebaiknya lo pulang. Atau mau gue anterin?”
Tenggorokan Khansa rasanya tercekat tidak mampu menjawab atau membantah apa yang diucapkan oleh Zyan.
“Enggak begitu, aku sama sekali tidak pernah nganggap kamu begitu, Bang. Shasa—“
“Stop! Gue muak, Shasa, Shasa, sok imut banget sih lo. Bener apa kata fans gue kalau lo itu gembrot, gak usah nunjukkin wajah lo di hadapan gue. Muak gue, jijik. Lo bikin liburan gue suram, lo bikin kenyamanan gue berantakan.”
Khansa melirik jalanan sekitar, dia tidak mau ada orang yang mendengar kekisruhan antara Khansa dan Zyan. Kata-kata dan ujaran kebencian yang dilontarkan oleh Zyan benar-benar membuatnya sakit hati.
Rasanya sesak sekali, Khansa berusaha bertahan agar genangan di pelupuk matanya tidak luruh membasahi pipi. Tidak, Khansa tidak boleh terlihat lemah di hadapan Zyan. Khansa memang suka sama Zyan, Khansa berharap lebih pada lelaki itu tetapi bukankah perasaan suka itu tidak untuk dihina dan dijatuhkan harga dirinya.
“Bang, aku—“
“Gue bilang stop. Gue di sini mau bilang sama lo, jangan sampai gue bilang di media kalau ada Fans gila yang berusaha deketin gue, Fans gembrot yang selalu mimpi untuk jadi pacar gue. Dan gue bilang siapa fans gila gue, maka seketika pekerjaan lo sebagai konten kreator sampah akan segera musnah.”
Khansa memang selalu jadi korban bulying, sejak sekolah, sejak di universitas bahkan instansi-instansi perkantoran yang belum sempat mempekerjakan Khansa. Semua menyakitkan, tetapi Khansa bisa menahannya, semua menyakitkan tetapi Khansa dengan mudah bisa melupakannya. Namun, berbeda saat ini hinaan Zyan memenuhi kepalanya, rasa sakitnya sampai membuat seluruh tubuhnya ngilu. Tidak ada kekecewaan di dalamnya, itu semua karena tertutup oleh perasaan marah yang luar biasa. Khansa yakin dia tidak akan pernah bisa melupakan kata demi kata yang keluar dari bibir yang selalu dia kagumi. Khansa akan mengingat nada mengejek dan hinaan sampai kapan pun.
Tangan perempuan itu terkepal, Khansa tidak kuasa menahan amarahnya. Dia maju satu langkah dan mendongak menatap wajah Zyan.
“Kenapa? Lo mau ngelawan gue? Lo mau pukul gue? Silakan, tapi gue pastikan lo bakalan hancur sampai gak sanggup lagi untuk melihat dunia.”
“Cukup!”
Khansa berteriak, napasnya yang harum terasa oleh Zyan. Lelaki itu diam, tidak menyangka Khansa melakukan perlawanan.
“Kalau lo bilang ge sok imut maka lo sok kecakepan. Nyesel gue ngefans sama orang kayak lo. Sombong, kaku, gak ngerti apa yang dicari oleh produser sampai pilih lo jadi aktornya.”
“Ngapain lo bawa-bawa profesi gue?” gertak Zyan.
Orang-orang di sekitar dan mereka yang ada di kedai sarapan Bunda Marni mendongak melihat keributan apa yang terjadi. Khansa sudah tidak peduli, bodo amat dia dilihat banyak orang, toh, dirinya sudah dipermalukan oleh Zyan.
“Karena profesi lo gue kenal sama lo, dan karena profesi lo bisa-bisanya gue ngefans sama lo. Gue kira lo baik, gue kira lo tahu terima kasih. Lo kayak tai.” Suara Khansa agak serak, tidak pernah dirinya semarah ini sebelumnya.
“Neng Khansa, sudah, Neng ayo pulang.”
Bunda Marni, pemilik kedai keturunan Chinnese yang baik dan ramah menghampiri dan berusaha melerai pertengkaran itu. Kemudian dia meraih tangan Khansa dan berusaha menenangkan dia. Bunda Marni setuju, Zyan terlalu kasar dan seenaknya menghina Khansa.
“Sebentar, Bu. Urusan saya belum selesai,” cegah Zyan saat Bunda Marni meraih tangan Khansa dan hendak menuntunnya pulang.
“Gue peringatkan sekali lagi, jangan pernah ngasih apa-apa lagi ke rumah. Jangan pernah nanya gue, jangan pernah ngintipin gue di balkon, jangan pernah nolongin gue atau orang-orang gue apa pun itu bentuknya. Kalau bisa lo gak pernah menunjukkan wajah di hadapan gue.”
Bunda Marni memegang erat tangan Khansa karena sebagai orang yang mendengar dirinya merasa sakit dengan kata-kata Zyan. Apalagi Khansa, tidak bisa dia bayangkan bagaimana hancurnya hati perempuan yang selalu ceria dan menolong orang-orang.
“Bunda, sebentar, bisa tolong lepasin tangan Khansa?” pinta Khansa dengan sopan, suaranya gemetar, dia tidak boleh marah atau bertindak tidak sopan pada orang lain yang tidak menyakitinya. Khansa meminta Bunda Marni untuk melepas tangannya karena dia merasa harus memberikan pelajaran kepada Zyan Alex.
Khansa melangkah lebih dekat, kini Zyan mundur satu langkah, tetapi Khansa tidak mau melepaskan Zyan. Dia raih kaos yang dikenakan Zyan, lalu dia remas dengan kuat bagian lehernya. Itu kaos mahal, dipastikan saat Khansa melepasnya nanti kerahnya akan memble.
“Lo denger baik-baik apa yang gue katakan hari ini.” Wajah perempuan itu mendadak garang, Bunda Marni sampai tidak mengenali Khansa karena raut kemarahan yang terlukis itu. Aurel dan pengunjung Kedai Sarapan Bunda Marni menyaksikan kejadian itu tanpa ada minat untuk melerai Khansa dan Zyan.
“Gue sama sekali gak akan pernah menunjukkan wajah gue di hadapan lo. Sekalipun tidak. Tapi, ketika suatu saat nanti lo lihat gue lagi, gue pastikan lo bakalan jatuh cinta sama gue dan bertekuk lutut di hadapan gue.”
“Jangan ngimpi!”
“Gue gak mimpi!” sentak Khansa, cengkeraman tangannya semakin kuan dan Zyan sedikit tercekik.
“Cara apa pun akan gue lakukan agar lo bisa berlutut dan menyatakan cinta pada gue. Kalau perlu pakai pelet dan santet, gue rela nyari dukun paling hebat di kota ini.”
Dengan sekali sentak, Khansa menghempaskan tubuh tinggi besar yang kini pucat pasi mendengar ancaman Khansa. Awalnya Zyan ingin tertawa dengan ancaman Khansa, untuk mencintai gadis gemuk dan tidak menarik dilihat adalah sesuatu yang jauh dari kata tidak mungkin. Namun, setelah mendengar kalimat terakhir tentang dukun dan santet, Zyan tiba-tiba takut. Padahal Khansa hanya menggertak saja.
Zyan jatuh dengan posisi duduk, dia menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan pada aspal hotmix. Setengah tidak percaya kejadian ini membuat dirinya malu.
“Sayang, aduh, bangun, Sayang.” Aurel menghampiri, mengulurkan tangannya kemudian membantu kekasihnya untuk bangun.
Bunda Marni membubarkan kerumunan, dengan tatapan prihatin wanita itu menatap Khansa yang pergi menjauh dari tempat itu. Pundaknya yang lebar berguncang karena tangisan. Sesekali Bunda Marni melihat Khansa menyeka air mata dengan punggung tangannya.
***
“Kurang ajar! Lo cowok paling sombong yang pernah gue lihat di muka bumi ini, sialan, rasakan ini!” suara sobekan kertas terdengar bergema di kamar Khansa. Poster Zyan Alex yang paling besar itu berhasil dia sobek menjadi beberapa bagian. Sampai bagian terkecil sampai wajah tampannya tidak bisa Khansa lihat lagi.
Foto polaroid yang dia gantung di tumbler light semua dikumpulkan jadi satu, termasuk boneka-boneka lucu merchandise dari film-film atau series yang Zyan bintangi.
“Bisa-bisanya gue suka sama Lo. Bisa-bisanya gue nganggap lo adalah pangeran yang Tuhan kirim buat gue. Ternyata lo gak lebih dari seorang bajingan.” Napas Khansa tersengal. Dia terus-terusan mengumpulkan semua barang yang dianggapnya bisa mengingatkan pada Zyan.
Menggunakan koper, Khansa membawa semua barang itu ke tempat pembakaran sampah yang disediakan pihak kompleks perumahan untuk memusnahkan sampah-sampah kering. Khansa tahu, biasanya memang ada petugas kebersihan yang membakar sampah dan menjaga api tetap menyala agar asap tidak menyebar mencemari udara kompleks.
“Mang Ujang,” sapa Khansa.
“Neng Shasa, mau ke mana bawa koper?”
Bukannya menjawab Khansa menyerahkan selembar uang lima puluh ribu agar lelaki itu mau membantunya memusnahkan semua barang yang baru saja dia bawa.
“Sama kopernya?”
“Jangan, ini koper punya Bang Radit. Itu tolong keranjang itu sini dulu, Mang.”
Sebuah keranjang yang biasa disebut tolombong oleh orang Sunda didekatkan. Khansa membuka kopernya dan menuangkan seluruh isinya ke dalam tolombong itu.
“Pokoknya saya gak mau orang tahu kalau saya bakar semua ini dan membakar benda-benda ini, Mang. Tolong bakar dan musnahkan.”
Mang Ujang melihat-lihat barang yang masih bagus, “Ini boleh buat mamang? Anak mamang pasti suka dikasih boneka ini.”
“Selama saya gak lihat semua barang itu ambil aja, Mang. Tapi foto-foto sama poster tolong bakar sampai musnah.”
“Lalu ini duit buat apa?”
“Buat mang Ujang, saya minta tolong, itu buat beli es cendol. Ingat, ya, Mang jangan bilang-bilang.”
“Ini tetangga depan rumah neng Shasa yang artis itu, kan?”
“Iya, Mang. Pokoknya tolong bakar ini, nah barang-barang yang gak bisa dibakar kalau mau disimpen, simpen aja. Tapi asal jangan sampai saya melihat kembali barang itu.”
Mang Ujang tersenyum, lalu berterima kasih karena mendapatkan barang-barang yang sama sekali tidak terduga, udah gitu dapat uang pula.
Sore itu dengan membawa sebuah koper kosong, Khansa melangkah ringan. Sampai-sampai, Radit yang menyapanya dengan menekan klakson hanya ditanggapi dengan senyuman. Dia bergegas masuk ke rumah sebelum sang pemilik koper sadar, koper yang sedang Khansa bawa adalah koper kesayangannya.
Khansa bahagia karena sebelum bakar kalori dia bakar virus yang memang harus dimusnahkan dalam hidupnya. Bakar Virus Zyan Alex.