“Shasa mau ngekost!”
Nina tersedak kwaci bunga matahari yang sedang dia makan. Matanya melotot tidak percaya, Radit yang baru saja keluar kamar mandi pun sampai terdiam mendengar kemauan Khansa. Radit belum tahu tentang kejadian yang menimpa Khansa pagi ini, belum tahu juga bahwa segala pernak-pernik tentang Zyan yang ada di kamarnya kini sudah habis Khansa musnahkan.
“Lo ngelindur ya, Sha?” tanya Radit. Lelaki itu buru-buru mengambil gelas dan menuangkan air dan memberikannya kepada Nina.
“Mami sampe keselek begini loh, Sha.”
Khansa menyimpan koper milik Radit yang semula dia gunakan untuk menyimpan segala sesuatu tentang Zyan. Lalu perempuan itu bergabung bersama Nina dan Radit yang sedang menatapnya seraya mempertanyakan apa maksud dari permintaan Khansa barusan.
“Gak selamanya, Mi. Khansa lagi ada project bareng konten kreator perempuan asal Garut untuk membuat konten. Menyegarkan konten kami masing-masing, Khansa gak punya kendaraan jadi Khansa mau sewa rumah sebelah studio Jemima yang kami gunakan untuk syuting.”
“Kalau soal kendaraan gue siap antar jemput lo kapan pun itu. Gak perlu nge-kost juga kali, Sha.” Nina mengangguk mengiyakan perkataan Radit.
“Dusta banget sih, Bang. Shasa gak punya jam kerja teratur kayak Abang, bayangin kalau Khansa mulai syuting abis zuhur, Abang gimana cara nganterin Khansa?”
“Berangkat pagi bareng gue kerja,” jawab Radit santai.
“Gimana kalau harus syuting lebih pagi?” lanjut Khansa.
“Gue ngalah berangkat lebih pagi demi lo.”
Khansa menggeleng, dia menjulurkan tangan mengambil sejumput kwaci bunga matahari yang ditumpuk di piring keramik.
“Gak bisa gitu, Bang, Gak bisa. Gak lama, cuma tiga bulan sampai project kami selesai. Tolonglah dukung Shasa, Mi. Shasa susah dapat pekerjaan, setidaknya cara ini bisa tetap bikin Shasa punya uang buat kebutuhan Shasa yang banyak.”
“Mami gak biasa berjauhan dengan kalian, Mami gak bisa bayangin,” ratap Nina seakan Khansa akan pergi sangat jauh, padahal zaman kuliah juga Radit Indekos dan Khansa sesekali menginap di Indekos temannya untuk mengerjakan tugas.
“Gak bisa jauhan sama Shasa doang Mami, mah. Pas kuliah Radit nge-kost loh, Mi.”
“Radit itu cowok kamu cewek, Sha.”
Khansa menunduk kecewa, segenggam kwaci di tangannya mendadak dia lihat tanpa minat, lalu Khansa mengembalikan makanan itu ke tempatnya. Kemudian mengambil bantal sofa dan memeluknya dengan tatapan sedih seperti anak kucing.
“Mami gak bisa jaga kamu, Radit juga. Nanti apa yang harus Mami katakan sama Papi?”
“Gimana kalau Bang Radit ikut aja di kontrakan Khansa, itung-itung Mami sama Papi bulan madu lagi mengulang kemesraan Zaman baheula.”
“Ide bagus,” sambut Radit. Namun Nina makin sedih, ditinggal satu anak saja rasanya berat, sekarang malah dua duanya mau keluar rumah. Perempuan itu akhirnya beranjak dari sana tidak bicara apa-apa karena sedih yang tidak bisa dia lukiskan.
“Mi, gimana?” tanya Khansa.
“Mami mau ngangetin masakan, bentar lagi Papi pulang.”
“Case closed,” ucap Radit. “Jangan dulu dibahas, Mami mungkin lagi mikir.”
“Iya, deh, Shasa ke kamar dulu kalau gitu.”
Belum mencapai anak tangga pertama, Radit mencegah Khansa naik. Setelah melihat kopernya disimpan di tangga ada banyak pertanyaan yang muncul jadinya Radit penasaran dengan alasan Khansa yang sesungguhnya, seumur hidup menjadi kakaknya Khansa sudah membuatnya cukup pintar untuk menebak segala sesuatu yang berkaitan dengan Khansa.
“Bang, ih.” Khansa protes saat dihalangi oleh Radit.
“Gue gak bisa lo bohongin ya, Sha. Pertama magrib-magrib lo geret koper gue di sekitar komplek, kedua lo tiba-tiba minta pindah, sungguh mencurigakan. Mau cerita atau gak, gue gak bakalan dukung keinginan lo pindah dari sini?”
Khansa mendengkus, “Bisa gak sih, sekali aja lo gak tau apa-apa dan gak banyak tanya gitu?”
“Enggak bisa, Raditya Balendra sudah ditakdirkan menjadi belahan jiwanya Khansa Aqila Kirania.”
“Ya udah, ayo ngobrol di kamar, tapi janji gak marah ya?”
“Tergantung cerita apa yang gue dengar, ayo adik kecilku yang lucu,” ajak Radit berjalan duluan sambil membawa kopernya, koper yang ternyata ringan karena gak ada isinya sama sekali.
“Astaga, gue gak salah lihat?” pekik Radit begitu tiba di kamar Khansa, jelas saja Radit kaget kamar Khansa terlihat dua kali lebih luas dan bersih dari sebelumnya, dari yang Radit lihat poster besar yang selalu memuakkan kala Radit duduk di tempatnya sekarang ternyata sudah tidak ada di tempat biasanya.
“Lo harusnya bisa nebak kenapa gue minta pindah dari rumah ini untuk sementara waktu, sebenernya gue bisa tetap tinggal di sini dan Bang Pungkit bakalan antar jemput gue sebagai salah satu fasilitas dalam kerja sama ini. Tapi gue gak bisa, Bang.”
“Alasannya karena cowok depan rumah, Kan?”
“Tepat sekali, Bang. Bang Radit kalau mau tahu informasi detailnya datang saja ke kedai Bunda Marni besok, tanyain sama si Bunda tadi pagi ada kejadian apa. Gue males banget cerita lagi, udah muak banget.”
“Jadi ceritanya lo move on, nih?”
“Ya, pria macam Zyan ternyata bukanlah pria yang pantas dicintai. Khansa nyesel udah bucin banget sama dia. Sekarang Abang lihat Shasa benar-benar sudah bisa melupakan dia, enggak, berusaha melupakan dia dan salah satu caranya untuk tidak menunjukkan diri di hadapannya. Khansa gak mau berubah pikiran makanya sampai tiga bulan ke depan Khansa gak mau melihat dia. Berharap setelah tiga bulan, Khansa berhasil melupakan dia.”
“Segitu sakit hatinya sampai-sampai lo bertekad gini?”
“Udah lebih dari sekadar sakit hati, Bang. Khansa mau memulai lembaran baru, fokus diet hanya untuk kesehatan tubuh Khansa, Khansa udah gak sanggup lagi bawa badan segini, setidaknya kalau Khansa gak gemuk masih bisa pake ojek online ke mana pun Khansa pergi.”
“Jadi pengen peluk,” goda Radit.
Tidak menunggu apa-apa lagi, Khansa segera memeluk Radit. Bersyukur karena Radit sangat menyayanginya.
“Sebaiknya Abang gak ke Kedai Sarapan Bunda Marni besok, Sha.”
“Why?”
“Abang tebak, kejadiannya pasti sangat menyakitkan banget buat lo sampai-sampai poster besar itu lenyap tak bersisa. Boneka dan Mug juga enggak ada. Kalau itu menyakitkan Abang takut gak sanggup menahannya dan marah.”
Khansa tersenyum dalam pelukan Radit. Kakaknya tampak begitu kecil dan rapuh, berbeda dengan dirinya yang sudah seperti sumo dari negeri Sakura.
Pelukan Kakak beradik itu harus terurai kala ketukan pintu terdengar, Radit segera membukanya dan ternyata itu Sang Mami.
“Makan malam sudah siap dan Papi sudah datang. Sha, jika keinginan kamu soal kost serius, bicaralah sama Papi. Mami bukan kepala keluarga yang berhak memberikan keputusan apa pun di rumah ini. Ayo, papi kalian sudah kelaparan.”
Khansa meremas ujung kemeja, Radit yang memahami situasi itu hanya meraih tangannya dan membawa adiknya untuk menghadap papi mereka. Setidaknya Radit lega karena Khansa diberikan kesadaran akan kebucinannya yang sudah terlalu akut. Biarlah Zyan jadi tokoh visual yang tidak masuk ke kehidupan pribadi sang Adik.