Bukan Urusan Lo!

1124 Kata
Hening, itulah yang terjadi di meja makan, tidak ada canda dan tawa seperti biasanya apalagi rebutan makanan antara Khansa dan Radit. Wisnu mode serius ternyata lebih menyeramkan dibandingkan dengan Nina mode galak setiap hari. Khansa merasa tidak ada yang salah karena meminta izin untuk indekos selama beberapa waktu. Wisnu meletakkan sendok dan garpu setelah menghabiskan makanan. Lalu berdehem meminta perhatian dari seluruh keluarganya. “Shasa sambil makan, enggak apa-apa, kan?” tanya Khansa dengan sopan. “Lanjutkan, Papi bisa nunggu.” Jawaban ini berarti pada saat bicara, tidak boleh ada yang tidak fokus pada dirinya. Bicara sementara yang mendengarkan disambi makan, maka Wisnu keberatan dengan hal itu. “Baik, Pi.” Khansa menyelesaikan makannya dengan cepat. Rasanya sudah seperti mukbang saja. Sebelum mendengar keputusan apakah boleh Khansa meninggalkan rumah. Semua harus serba rapi agar obrolan keluarga itu benar-benar efektif dan keputusan yang diambil pun tidak merugikan salah satu pihak. Duduk di meja bersama kedua orangtua dan Kakaknya persis sama seperti sedang sidang kelulusan waktu kuliah dulu. Malah kali ini lebih menyeramkan dibandingkan dengan sidang kelulusan. “Papi sudah mendengar dari Mami tentang keinginan kamu. Papi sadar kamu sudah dewasa, Papi tidak bisa menentang keinginan kamu. Namun, Papi mau tanya sama kamu, Sha. Apa alasannya kamu ingin meninggalkan rumah ini?” “Kalau Shasa bilang kerja kayaknya enggak mungkin karena anggapan banyak orang di di sini kerja itu harus kantoran. Bikin konten meskipun menghasilkan banyak uang tetap tidak jadi hitungan.” “Tapi Mami dan Papi gak pernah punya anggapan begitu, sudah papi bilang kamu diem aja masih Papi nafkahin kamu.” Khansa menatap Papinya, “Shasa gak bilang kalau Papi sama Mami, ya. Tapi kebanyakan orang-orang sini. Jadi alasan Khansa kost karena kerja apa papi sama mami bisa terima?” “Radit jadi ikut gak nih?” Wisnu menoleh lalu menggeleng, “Khansa sudah besar, sudah dewasa dan sudah bisa menentukan hidup sendiri. Papi tidak akan melarang, Mami aja tuh yang lebay nangis nangis sambil masak katanya Khansa mau ninggalin rumah.” “Mami!” Khansa memanggil perempuan itu, diam-diam ternyata Nina yang masih belum bisa menerima kenyataan kalau anak gadisnya harus pergi. “Papi sadar, cepat atau lambat anak perempuan akan dipinang orang dan akan jadi tanggung jawab orang. Sebelum Khansa jadi istri orang, Papi ingin kamu merasakan asiknya dunia ini. Justru papi senang Khansa mau keluar dan berkembang.” “Jadi ini keputusannya boleh, kan?” “Boleh,” jawab Wisnu. “Dengan satu syarat, Khansa harus bisa menjaga diri, jaga kehormatan, jaga nama baik keluarga kita selama Khansa di luar sana.” “Khansa janji, Pi.” “Radit gimana?” tanya Radit. “Gak ada alasan kamu ninggalin rumah, jagain Mami selama papi kerja.” “Hooo, Oke papi.” Khansa melirik Nina yang sudah berlinangan air mata, dia buru-buru bangkit dari duduknya dan memeluk perempuan itu. Tiga hari setelah mempersiapkan semua kebutuhan yang akan dibawa pindahan, akhirnya Khansa benar-benar meninggalkan rumah dengan perasaan sedih. Nina dan Wisnu menawarkan diri untuk mengantarkan sampai kontrakan, tetapi Khansa menolak dengan alasan masih belum beres dan Khansa tidak mau merepotkan kedua orangtuanya. Khansa lantas berjanji semuanya bisa siap dikunjungi setelah dibereskan. Satu hal yang tidak Khansa lihat adalah rumah depan. Dia tidak mau kebetulan bertemu atau bersemuka dengan aktor arogan yang telah menginjak-injak harga dirinya. “Sudah sampai Teh Shasa,” sapa Pungkit, salah satu editor Jemima. “Iya, orang-orang yang mau bantu belum pada datang ya, A?” “Belum, Teteh istirahat aja dulu di dalam. Jemima sama Fei sebentar lagi akan tiba. Wirda sudah menyiapkan beberapa makanan di dalam.” Khansa berbalik, menyerahkan semua pekerjaan tukang yang menurunkan barang bawaan. Di rumah rasanya tidak terlalu banyak, tetapi setelah diangkut dengan menggunakan Pick Up ternyata hampir semua tidak terangkut. Rumah sewaan Khansa tepat berada di sebelah studio Zona Jemima. Letaknya di sebuah perumahan subsidi di tengah kota, jelas dari ukuran tidak bisa dibandingkan dengan ukuran rumahnya di The Intan Village. Tetapi ketika Khansa bercerita kepada Jemima, dia langsung ditawari rumah itu untuk menghindar dari Zyan Alex. Pada awalnya Khansa takut, tetapi setelah dihina habis-habisan di kedai Bunda Marni, Khansa akhirnya menerima tawaran Jemima dan bertekad untuk melupakan Zyan dan mempercantik diri agar kelak ketika bertemu kembali dengan Zyan lelaki itu akan jatuh cinta dan bertekuk lutut di hadapannya. “Teh Shasa, ada klepon sama kue nagasari di dapur. Ini yang di meja brownies sama pie s**u. Makan aja,” ujar Wirda. Khansa berterima kasih, lalu duduk dengan tenang sambil menikmati brownies, ada perasaan lega dalam hatinya. Ini adalah hidupnya yang baru, membuka lembaran baru dengan hidup yang lebih baik dari sebelumnya. *** Sementara itu di The Intan Village, Zyan mulai merasa kesepian, apalagi setelah Aurel kembali ke Jakarta. Dia merasa ada hampa yang bersemi di sudut hatinya. Entah apa itu, dirinya sendiri pun tidak mampu mengeja hampa dengan baik. “Pak, mobil sudah siap,” ujar Pak Sakur. “Terima Kasih, Pak.” Zyan memutuskan untuk menerima tawaran-tawaran show di kota Bandung. Nyatanya, semula dia mengira liburan di kota Garut itu menyenangkan, tetapi rasanya sama saja, Zyan kesepian. “Pulang hari ini, atau tidak, Pak?” tanya Pak Sakur lagi. “Saya mau nge-Gym doang, Pak. Mungkin pulang agak malam.” “Baik, Pak, saya menunggu di sini.” Zyan kembali berterima kasih, kemudian masuk ke dalam mobil dan melihat ke arah rumah depan, satu unit mobil pick up berisi barang-barang. Seperti ada yang hendak pindah dari rumah itu. Zyan tercenung, memikirkan siapa yang akan meninggalkan tempat itu, siapa yang akan pergi. Dia mengingat kata-kata menyakitkan yang dilontarkan kepada Khansa, betapa jahat dirinya, betapa kejam dan tidak berperasaan. Dirinya menyesal dan ingin meminta maaf, tetapi berkali-kali berusaha mengunjungi rumah Khansa tetapi gadis itu seakan lenyap, bahkan Khansa yang biasanya nongkrong di balkon ini tidak ada rimbanya. Di Snap Fitness, Zyan bertemu dengan Radit, sebisa mungkin lelaki itu menyapa, tetapi Radit menghindar. Zyan semakin yakin bahwa lelaki itu tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Adik perempuan Radit. “Bisa gue bicara sama lo?” kata Zyan setelah menyusul Radit ke ruang ganti. Radit hanya melirik, dia sebenarnya sedang menguatkan hati agar tidak terpancing emosi, walau bagaimana pun Radit tahu Zyan sudah membuat adik kesayangannya terluka. “Jika itu adalah pembelaan diri, maka gak ada yang perlu dibicarakan, kami sekeluarga sudah memutuskan untuk menganggap lo gak ada.” “Bukan begitu, gue merasa bersalah dan berharap bisa minta maaf sama Khansa.” Radit tertawa sinis, “Tidak perlu, lo gak akan risih lagi mulai sekarang, lo gak akan pernah bertemu dengan adek gue lagi setelah lo menyakiti hatinya.” “Jangan bilang kalau yang pindahan tadi itu Khansa?” “Bukan urusan lo!” Zyan diam, di satu sisi dia senang tapi di sisi lain hatinya meronta, perasaan bersalah akan terus menghantui hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN