Sosok Yang Diam-diam Melihat dari Kejauhan

1171 Kata
Khansa menjalani hari-hari pertama di kontrakan dengan perasaan bahagia, awal hari dia lalui dengan berbenah sekaligus membuat konten berupa video pendek untuk t****k dan juga media sosial lainnya. Channel Mari Makan sudah resmi ganti menjadi Khansa Aqila. Memakai nama sendiri mencoba peruntungan setelah meeting berkali-kali dengan Jemima dan Rinjani. “Khansa!” panggil Jemima. “Hai Jem, masuk, duh bumil ini masih berantakan nih. Duduk di sini aja, Jem.” Khansa menyiapkan sebuah bean bag. Lalu membantu Jemima untuk duduk sementara dirinya membereskan sisa pekerjaan yang belum selesai. “Kamu kelihatan bahagia banget, Sha.” “Banget. Selain pikiran bablas gak mikirin apa-apa, diet juga rasanya mudah banget. Semalam dalam keadaan berantakan begini aku masih bisa tidur nyenyak,” ungkap Khansa, sementara Jemima yang asik duduk meraih sebuah album foto. “Baguslah, ngomong-ngomong kamu dekat banget ya sama Radit,” komentar Jemima sambil melihat-lihat satu per satu album foto, di sana terlihat Khansa yang begitu bahagia saat bersama dengan Kakaknya. “Selain orangtua, aku hanya punya Radit. Mereka yang tulus menerimaku apa adanya begini. Untuk dapat pengakuan dari banyak orang termasuk dapat followers rasanya susah, beda kayak kamu yang cantik.” Khansa masih mengingat banyak ujaran kebencian serta body shaming yang dia alami selama ini. Rasanya cukup menyakitkan dan membuat rasa percaya dirinya meredup. “Sha, aku sama Rinjani kan sering bilang, kamu itu cantik. Kamu punya mata bulat yang indah, bulu mata yang lentik dan senyum yang manis. Lihat sekarang ataupun dulu saat badanmu besar banget kamu tetap cantik.” Jemima berusaha menguatkan Khansa, dia berusaha membuat Khansa tersenyum karena dia terus-terusan murung jika membahas tentang berat badannya. “Jangan selalu melontarkan kalimat penghibur, Jem, gue gak apa-apa, kok, faktanya berat badanku memang besar, udah turun sepuluh kilo pun masih tetap besar begini.” “Bukan kalimat penghibur, ini beneran fakta. Udah, ah, cepetan. Rinjani sudah nunggu di Pengkolan. Kasihan dia nanti nyasar, kadang dia masih bingung sama jalanan kota Garut padahal sudah cukup lama tinggal di kota Garut.” Setelah menyelesaikan semuanya, Khansa dan Jemima menuju salah satu pusat perbelanjaan di Garut. Ini adalah project pertama mereka juga memenuhi kewajiban posting sambil promo salah satu toko pakaian bayi terbesar di kota Garut. Diantarkan Fei dan Pungkit yang juga merangkap sebagai kameramen mereka berdua akhirnya tiba di restoran Jepang Favorit Jemima. Rinjani sudah menunggu di sana, dan syuting akan dimulai sejak mereka memesan makanan sampai pergi bersama ke pusat perbelanjaan. Ada perasaan takut ketika melihat makanan-makanan yang terhidang di meja. Khansa merasa dengan memakan salah satu makanan itu mungkin bisa menambah kembali berat badannya. Jadi, Khansa hanya makan beberapa makanan untuk kepentingan syuting saja. “Sha, itu makananmu masih belum habis apa gak enak?” tanya Rinjani. Khansa mengeleng, “Aku kan masih diet, rasanya sayang saja udah berjuang selama ini tapi dirusak dengan sekali makan.” “Kan biasanya metode diet apa pun ada hari cheating, nah anggap aja sekarang sedang cheating.” Khansa tercenung, terakhir kali makan sembarangan adalah ketika beli bakso mercon dan melihat Zyan makan bakso bareng pacarnya. Khansa tidak akan melupakan itu. “Iya, Sha, diet itu bukan nyiksa diri enggak makan enak, buktinya selama ini kamu berhasil menurunkan berat bandan lebih dari delapan kilo, berapa kemarin sepuluh kurang kan, lostnya.” “Iya, deh. Aku mungkin kurang olahraga, ya, jadinya sejak kemarin turun berat badan, bergelambir gitu. Gak enak dilihat.” “Pelan-pelan, Sha. Oh iya temen aku juga yang sama gak makan nasi itu sekarang berat badannya udah bagus,” ungkap Rinjani, rasanya perkataan Rinjani memberikan angin segar bagi Khansa. Dia semakin bersemangat untuk mendapatkan berat badan yang ideal. Usai makan, Khansa dan Rinjani menunggu di luar sambil memulai proses syuting, sayangnya saat hendak meninggalkan Restoran Jepang yang terkenal, pandangannya tertuju pada sebuah papan testimoni. Khansa bergerak ke samping, tepat ke arah papan tersebut. Ada banyak foto orang-orang terkenal yang sudah makan di restoran ini. Selain foto, lengkap dengan menu makanan sesekali ditemani chef mereka juga membubuhkan kesan saat makan di restoran itu. Sejauh apa pun Khansa menghindar dari lelaki yang namanya Zyan, tetap saja semesta menginginkan Khansa untuk tetap melihat penampakannya, meski tidak secara langsung, tetapi ternyata foto testimoni itu menampakkan wajah Zyan Alex bersama Aurel. Dilihat dari testimoni dan tanggalnya itu masih baru. Zyan terlihat bergitu tampan bersanding dengan Aurel yang cantik. “Sha!” Khansa menoleh, dia menghela napas karena ternyata berusaha melupakan seseorang teramat sangat sulit. “Jem, ngagetin aja.” Jemima melihat ke arah papan testimoni, Zyan Alex dan pacarnya. Perempuan itu mengangguk maklum, lalu menggandeng tangan Khansa untuk keluar dari restoran itu. Sejujurnya, Khansa sudah bertahan lama tidak melihat Zyan baik itu media sosial maupun secara nyata. “Aku tahu, pasti sulit untuk melupakan orang yang sudah kamu suka sejak lama, tetapi selalu ada cara untuk benar-benar melupakan orang itu, Sha,” ujarnya, sambil berjalan menyusuri trotoar, sementara Fei dan Pungkit mengambil gambar mereka jadi syuting kali ini dibiarkan terjadi dengan alami. “Kalau cara itu bisa benar-benar bikin aku lupa sama dia, aku mau.” Khansa cemberut. Dia merasa ada yang sakit di tepian hatinya. Entah janjinya untuk membuat Zyan jatuh cinta padanya, atau karena kenyataan Khansa sudah tidak menyukai Zyan sama sekali. “Senyum, kita masih syuting.” Khansa menoleh ke depan, kemudian dia tersenyum saat Fei mengacungkan jempolnya. “Maaf, ya, Jem,” ucap Khansa, tapi Jemima langsung menggelengkan kepalanya karena baik-baik saja. “Gak usah minta maaf. Santai saja, Sha, yang penting tenang agar syuting kita berjalan lancar.” Mereka menyebrang ruas jalan yang cukup padat kendaraan, kemudian masuk ke pusat perbelanjaan dan memulai syutingnya. Khansa menemani Jemima membeli dan memilih beberapa pakaian bayi, stoller dan juga sepatu. “Yang ini kayaknya cocok deh, ini kan netral gak hanya cowok, cewek juga bisa pakai.” Khansa menunjukkan selumut berwarna kuning, di sudutnya berupa gambar bebek. “Bagusan ini deh kayaknya, abu-abu jadi gak cepet kotor,” sanggah Rinjani. Jemima semakin pusing, karena ternyata pakaian bayi dan seluruh perlengkapannya sangat beragam. “Coba kalau kamu kasih tahu apa jenis kelamin dari ponakan kita, ya, jadi bisa lebis spesifik pilih baju dan perlengkapannya.” “Enggak, biar Tuhan, dokter dan kami aja yang tahu apa jenis kelamin si bayik, biar jadi kejutan buat kalian semua. Oh iya teman-teman, boleh tebak di kolom komentar apa jenis kelamin si bayi, yang tebakannya benar dan beruntung akan kami pilih sebagai orang yang akan mendapatkan hadiah.” “Aku boleh ikutan gak, Jem?” tanya Khansa. “Enggak!” Rinjani tertawa, tiga perempuan dan dua orang kameramen yang sedang syuting itu jadi pusat perhatian, ini jelas menguntungkan bagi pihak toko karena mengundang banyaknya orang yang berbelanja di sana. Project pertama dirasa sukses, Khansa belum pernah sebahagia ini saat bekerja, belum pernah selepas ini ketika ngonten, dia sangat berterima kasih kepada Jemima dan Rinjani. Di luar toko, kerumunan masih terlihat banyak, Khansa melihat sekilas, di salah satu kerumunan itu ada sepasang mata yang menatapnya. Entah apa artinya itu, yang pasti Khansa segera menghindar dan berlindung di balik rak sepatu bayi yang menghalangi sehingga orang dari luar toko tidak dapat melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN