Kunjungan Radit

1105 Kata
Sepanjang perjalanan dietnya, hal terparah yang pernah Khansa alami adalah Bulimia Nervosa. Khansa berbulan-bulan menerima perawatan dari psikiater terkait dengan gangguan mental yang dialaminya ini. Badannya besar, tetapi perempuan itu malnutrisi karena seluruh makanan yang dia makan dalam jumlah besar dimuntahkan kembali. Bulan demi bulan dilalui dengan penuh siksaan dan setelah sembuh Khansa berjanji tidak akan mengulangi dan masuk ke lubang yang sama seperti sebelumnya. Namun, sepertinya janji hanyalah janji, pembuatan konten pertama bersama dua sahabatnya memaksa dia untuk makan banyak hari ini. Entah mengapa setelah melakukan pelanggaran atas komitmennya dia tidak bisa mengendalikan diri dan makan banyak-banyak mulai dari makan makanan jepang, makan mie ayam di Bunderan, beli cakue mini dekat Mall dan masih banyak lagi makanan yang Khansa beli sampai dia benar-benar merasa bahagia. Dirinya sadar yang menjadi kebahagiaannya saat ini adalah makanan, tetapi makanan juga sekaligus mampu membuatnya sedih dan tertekan setelah melihat angka pada timbangan bertambah lagi. Khansa menyesal setelah dia sampai rumah kontrakannya, perut yang biasa dia isi dengan makanan seadanya kini penuh dengan makanan terbuat dari gluten dan glukosa. Sehingga yang dia lakukan adalah berusaha memuntahkan seluruh isi perutnya sampai kosong. Khansa janji, hanya hari ini, hanya hari ini dia melakukan ini. “Hueek ... Hueekk!” suara Khansa mengeluarkan isi perutnya membahana di seluruh ruangan rumah. Setelah semua keluar gadis itu membersihkan diri dan mematut diri di cermin. Jangan sampai usaha yang sudah dia lakukan selama ini berakhir sia-sia. Jangan sampai berat badan yang sudah berhasil dia turunkan harus kembali lagi. Khansa keluar dari kamar mandi karena mendengar ketukan pintu, dirinya tertegun mengira bahwa suara muntahnya terdengar sampai rumah sebelah, yang mana bagian belakang rumah Khansa dan studio Zona Jemima hanya dibatasi benteng setinggi dua meter. Mungkin itu Wirda atau Pungkit yang khawatir dengan kondisi Khansa. “Sha,” panggil orang dari luar, Khansa tersenyum, suara laki-laki. Itu artinya Pungkit yang datang. “Bentar A Pungkit,” teriak Khansa. Perempuan itu mengeringkan wajahnya lalu menyisir rambut. Sambil berjalan menuju pintu depan, dia menyambar cardigan yang digantung di gantungan depan perbatasan antara ruangan tamu dan ruangan keluarga. “Kenapa, A?” tanya Khansa seraya membuka pintu, wajahnya memucat perempuan itu tidak pernah menyangka yang datang mengunjunginya malam ini. “Gue denger, Sha. Gue gak tuli,” sembur Radit. Khansa mengerti apa maksud dari Radit, suara muntahannya yang terdengar sampai luar mengingat rumah kontrakannya tidak sebesar rumahnya di The Intan Village. “Gue gak enak badan, Bang, masuk angin,” kilah Khansa. Jangan sampai Radit tahu dia memuntahkan seluruh makanannya. “Lo bohong, kan?” “Gue seharian kerja, Bang. Di Mall yang AC nya kenceng banget, udah tahu Garut sedingin ini dan ditambah AC, ya sudah gue tepar.” “Muka lo seger amat, gak ada sakit-sakitnya, minggir, gue mau masuk.” Khansa yang menghalangi jalan segera bergeser dan membiarkan kakak laki-lakinya untuk masuk. “Mami sama Papi ke sininya lusa, jadi katanya pastikan lo kosongin jadwal jangan sampai kayak hari ini mereka mau dateng lo gak ada di rumah.” Radit masuk ke kamar Khansa, aroma sang Adik yang dia rindukan selama beberapa hari ini tercium kembali. Dia menyimpan ransel di pojokan kamar dan segera merebahkan badannya. Khansa mengikuti dari belakang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Kakaknya. “Nginep, Bang?” tanya Khansa. “Maunya, sih, nginep. Tapi lo Cuma ada satu tempat tidur ini doang, kan?” Khansa mengangguk, tidak terpikir olehnya untuk membeli tempat tidur lain mengingat dia hanya sementara dan tinggal sendiri. “Ada kasur lantai kalau mau.” “Ogah, sakit badan entar,” tolak Radit. “Sha, lo yakin muntah barusan bukan di sengaja? Gue gedor-gedor pintu sampai gak kedengeran.” “Gak percayaan amat, kan Bulimia gue sendiri yang tersiksa, gue sendiri yang repot. Gak mau lagi deh, Bang.” Rasa bersalah merayap dalam hatinya karena sudah membohongi sang Kakak. “Diet masih lanjut, Kan? Lo kudu tetep makan nasi, Sha. Kita ini orang Indonesia yang mana makan mie instan aja kudu pake nasi biar afdol.” Radit merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponselnya, masih dengan posisinya berbaring. “Gue kudu langsing, Bang. Patokan cantik orang-orang kan kurus. Gak kurus secantik apa pun dia tetap gak dipandang cantik.” “Haus bener dibilang cantik, sih, lo.” “Gue bersumpah, Bang. Sumpah depan Zyan kalau suatu saat dia bakalan jatuh cinta sama gue.” Radit tertegun, tentu saja karena kaget, sampai-sampai ponsel yang sedang dia buka-buka jatuh menimpa wajah sendiri. Dia lalu duduk menilik wajah sang adik yang kini santai maskeran sambil ngaca. “Napa diem, kaget ya?” tanya Khansa. “Lo gila apa?” “Sakit hati, Bang. Bukan gila. Dan itu adalah janji gue yang harus ditepati. Gue bertekad banget kudu jadi cantik biar si aktor songong itu nyesel sama omongannya.” “Tapi lo gak diet mati-matian aja Zyan udah nyesel, kok.” Khansa tertawa, dia sudah tahu betul perangai Zyan seperti apa. Tidak mungkin lelaki itu menyesal atas apa yang diperbuatnya. “Ah, bang, untung gue pake sheet mask, bukan masker yang retak kalo ketawa. Udah jangan becanda, sampai kapan pun gue gak bakalan percaya kalau Zyan nyesel.” “Gue ketemu dia dan dia kayaknya emang nyesel, pas liat mobil pick up pindahan dan pas tahu kalau yang pindah itu lo, raut wajahnya mengerikan.” “Alah basi. Udah stop. Gue udah move on juga.” Radit tersenyum, dia lalu kembali fokus buka-buka akun istagram. Lalu ada satu iklan di i********: Snapp Fitness tempat dia Nge-Gym membuka kembali program penurunan berat badan. “Sha, lo mau ikutan program ini?” Khansa melirik tanpa minat. Program-program yang ditawarkan oleh banyak trainer di media sosial sudah pernah Khansa coba dan satu pun tidak ada yang membuatnya berhasil. Rasanya yang dia lakukan hanya buang-buang uang saja. “Ogah, ah.” Khansa menyerahkan kembali ponselnya. “Lo ingat sama Snap Fitness gak sih?” “Yang waktu itu gue anterin lo ngegym?” “Iya, yang itu. Ini yang bikin program Morgan. Ownernya Snap.” “Apa bedanya?” “Gue kirim link ya, link pendaftaran sama ignya Morgan. Lo tinggal DM dia kalau berubah pikiran. Dan cari sendiri apa keunggulan Snap dibandingkan program sejenis di tempat yang berbeda.” Usai mengirimkan link kepada Khansa, Radit memutuskan untuk pulang. Dia memeluk sang adik yang sudah melepas sheet masknya. Menghirup harum strawberi yang menguar dari rambut Khansa. “Jaga diri baik-baik ya adik sayang. Kalau lo butuh teman chat gue aja. Jangan lupa siapin kasur yang empuk buat tempat tidur gue.” Khansa berusaha mengurai pelukan, dia lalu mendorong sang Kakak agar segera keluar dari sana. Memiliki Radit adalah salah satu kebahagiaan Khansa, perempuan itu selalu diperlakukan istimewa oleh Kakak lelakinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN