Rasa lapar dan haus yang dirasakan sejak subuh membuat rasa kantu Khansa menguap begitu saja. Padahal perempuan itu baru saja terpejam sekitar satu atau dua jam yang lalu. itupun dia ketiduran di depan laptopnya saat berusaha mengedit satu konten yang harus segera di upload hari ini.
Kriuuuuuuuuuk!
Khansa benar-benar tidak bisa menahan perasaan lapar ini. Sudah bolak-balik ke dapur untuk mencari makanan tetapi tidak ada, yang tersisa hanya beberapa pack keripik kentang dan juga cokelat.
"Ini sih nggak bakalan bikin kenyang," gumam Khansa.
Dilihatnya jam baru pukul 06.00, driver online memang sudah banyak yang beroperasi sejak subuh, Namun sayang tidak banyak restoran yang sudah buka. Khansa jadi merindukan kedai sarapannya Bunda Marni.
Mengingat kedai sarapan itu, tiba-tiba dirinya teringat kejadian pahit yang dialami saat dimaki-maki dan dihina oleh Zyan. Jika mengaku sudah move on seharusnya karena saya tidak apa-apa jika mengunjungi kedai itu lagi. Sayangnya dia belum siap pulang ke The Intan Village karena sudah bisa dipastikan jika pulang maka akan bertemu dengan lelaki itu.
Dibukanya pintu rumah lebar-lebar, kemudian dia berdiri di depan berharap ada tukang bubur yang lewat. Sayangnya sudah 15 menit tanpa menunggu tidak ada satupun penjual yang lewat sana karena itu adalah jalan buntu.
"Khansa lagi ngapain?" tanya Pungkit. Lelaki itu menenteng bungkusan yang sudah bisa Khansa tebak bahwa isinya adalah makanan.
"Lagi nungguin abang bubur, masa nggak ada yang lewat satupun."
"Nunggu sampai siang juga nggak bakalan ada yang lewat, kenapa nggak bilang kalau mau sarapan jadi biar sekalian aku pesankan di tukang bubur depan komplek."
"Jauh, ya?"
"Enggak dekat gerbang doang. Atau gini aja deh ini bubur aku buat kamu, biar aku yang ke depan beli bubur baru."
"Serius nggak apa-apa nih?"
"Nggak apa-apa, kasihan kamu kalau jalan ke sana nanti engap."
Pungkit mungkin tidak sengaja mengucapkan kalimat tersebut, tetapi Khansa sadar diri bahwa memang orang gemuk sepertinya akan terasa sesak jika berjalan terlalu jauh.
Lagi-lagi fisiknya selalu menjadi patokan orang-orang Untuk menentukan sesuatu.
"Ayo ambil aja Sha, biar gue ke depan lagi."
"Oh, oke, makasih."
Khansa menukar seporsi bubur yang sudah ada di kantong plastik dengan sejumlah uang. jika bukan karena kelaparan perempuan itu tidak mau menerima dan lebih baik jalan sendiri ke depan.
Meski dipikir-pikir apa yang dikatakan Pungkit ada benarnya, Tapi tetap saja rasanya menyakitkan di hati.
Kegiatan shooting yang sudah dilakukan beberapa minggu ini benar-benar menguras tenaganya, Khansa bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan dietnya karena biasanya usai syuting rasa lapar selalu menyerangnya.
Saking tidak pedulinya dengan pola makan dan pola hidup, Khansa lupa untuk mengukur berapa jumlah berat badannya sekarang. Karena yang dia rasakan semua sudah kembali ke posisi semula, posisi di mana Khansa belum melakukan diet sama sekali.
Benar saja, saat perempuan itu mengeluarkan timbangan digital dari kolong bufet yang ada di kontrakannya. Khansa mendapati kenyataan yang membuatnya sedikit bingung. pasalnya bukan hanya kembali ke berat badan semula tetapi Khansa merasa tak percaya karena ada tambahan lagi beberapa angka dari berat badan semula.
"Oh, mungkin ini yang dinamakan dengan diet yoyo. Balik lagi bahkan lebih besar baliknya. Aku kudu gimana ya Tuhan, rasanya capek banget membawa badan sebesar ini."
Bubur yang baru saja dia tuangkan ke dalam mangkuk rasanya sudah tidak terlihat enak. Rasa lapar yang sudah dari tadi mengganggunya saat tidur pun mendadak hilang seperti dia sama sekali tidak merasakan lapar.
Akhirnya Khansa memilih untuk tidur lagi, berharap ketika dia bangun nanti berat badannya adalah berat badan setelah dia diet.
Rasanya baru saja terpejam sampai akhirnya Khansa mendengar ketukan pada pintu, dia membuka selimutnya dan melihat cuaca di luar sudah sangat terik. Jam menunjukkan pukul 13.00. dia tidur sangat lama.
"Sha, baru bangun?" tanya Jemima.
"Masuk Jem, aku tidur subuh, terus tadi bangun beli sarapan sama Pungkit, habis itu tidur lagi dan baru bangun deh. Hari ini nggak ada jadwal kan?"
"Nggak nggak ada jadwal tenang aja, kita masih punya stok 6 video yang belum diposting. Ke sini mau ngantar makanan masakan mama, kebetulan mama bikin banyak banget jadi bagi-bagi aja di sini."
"Kebetulan banget deh, hari ini mager buat ke mana-mana, nyari makan juga males. Oh ya Jem, Kamu ngerasa nggak sih berat badanku tambah lagi?"
Khansa berusaha memastikan, dia tidak boleh tinggal diam dan harus segera bergerak memulai kembali dietnya. Begitu membuka kotak bekal berisi nasi liwet dan gepuk daging sapi Khansa mengurungkan niat tersebut. Sudahlah diet bisa dilanjutkan besok yang penting sekarang makan dulu.
"Aku tuh nggak pernah ngeliatin dan merhatiin orang apalagi fisik, bagiku engkau tetap yang terbaik entah beratmu turun atau naik."
"Yaampun, Jem, sempet-sempetnya kamu nyanyi. Aku panik banget karena ternyata berat badan nambah sepuluh kilo plus tiga kilo. Jadi kembali ke posisi semula yang kemarin turun sepuluj kilo tuh nah malah nambah lagi sekarang tiga kilo."
"Sumpah ya Sha, aku aja ini berat badan udah naik 15 kilo biasa-biasa aja."
"Kamu kan isinya bayi lah aku?"
"Tiap orang tuh meskipun dietnya sama hasilnya tetap berbeda, mungkin saudaranya Rinjani yang ikut diet tanpa nasi itu adalah tipe orang yang gak gampang gemuk. Lagi pula kata dokterku nggak baik juga kalau kita skip karbohidrat, diet itu harus tetap makan gizi seimbang dan makronutriensnya benar-benar diperhatikan. Ada coach diet yang sering bagi bagi ilmu gratis di i********:, dia juga buka program penurunan berat badan."
"Kalau online itu sebenarnya aku males, kayak belajar nggak ada gurunya gitu jadi kita tuh gampang banget buat cheating, jadi gue mikirnya gini ya udah mumpung nggak ada guru, nggak ada yang ngelarang jadi ya cheating aja sepuasnya."
"Nah ini beneran beda, loh, aku tuh udah prepare mau diet setelah lahiran tapi tetap aman untuk ibu menyusui. Jadinya dibantu sama laki nyari-nyari tempat buat program yang tepat. Nah ketemu lah ini sama coach Morgan. Tapi sih gue ditolak gitu, suruh balik lagi nanti aja kalau habis lahiran. Kalau lo mau lo bisa datang aja ke Snap Fitness."
Khansa tersedak mendengar nama itu, total sudah ada tiga orang yang menyarankan Khansa untuk mengikuti program di tempat itu. Pertama Radit, lalu Pungkit, lalu sekarang Jemima.
"Bedanya apa?"
"Selain fokus untuk berdiet, kita juga dipaksa untuk mengubah mindset. Jadi pola pikirnya diperbaiki dulu baru mulai diet."
"Bolehlah aku coba, kebetulan Radit udah nyuruh dari lama."
"Lah itu, sebenarnya kamu punya saudara yang sangat perhatian, kurang apa coba hidupmu?"
"Kurang bersyukur." Khansa bergumam.
Dia buru-buru meraih ponselnya dan mencari link yang diberikan oleh Radit. Lalu dengan gerakan tangan yang cepat tanpa pikir panjang lagi perempuan itu mengirim direct message di i********:.