Perjuangan Dimulai Besok

1029 Kata
"Reno, Bagaimana dengan aula yang akan digunakan untuk pertemuan member baru? Apa semua sudah siap?" "Siap, Coach. Oh iya coach ada yang spam DM di ig-nya Snap, dia mau mendaftar program sementara program sudah ditutup." "Ya sudah abaikan saja, toh kita sudah menentukan kapan pendaftaran dibuka dan ditutup. Jika ada yang ketinggalan dan tidak bisa masuk ke program ini itu risiko dia karena terlambat untuk mendaftar." Morgan Byakta, pemilik snap fitness sekaligus coach berpengalaman yang memiliki banyak member dalam program penurunan berat badan. Setelah promo di media sosial ditutup, besok adalah permulaan dibukanya kelas penurunan berat badan. Pertemuan pertama seperti biasa akan dilakukan workshop, perkenalan serta pengumuman bahan-bahan serta alat apa yang dibutuhkan para peserta yang digunakan dalam penunjang program diet ini. "Makasih ya Reno, kalau begitu saya pulang dulu." "Baik, Coach." Morgan meninggalkan gedung Snap Fitness, setelah memeriksa biodata seluruh peserta, Morgan sama sekali tidak menemukan satu peserta yang menjadi incarannya. Sejak pertama kali perempuan itu menginjakkan kaki di Snap Fitness, Morgan memutuskan untuk membuka kembali program dengan harapan dia akan mendaftar. Entah mengapa ada ketertarikan ketika dia melihat gadis itu. Rumah hanyalah tempat untuk tidur, sementara tempat fitnes adalah rumah kedua bagi Morgan yang mana lelaki itu menghabiskan seluruh hari kecuali tidur di Snap Fitness. Ketika sampai rumah, dia hanya mampir ke dapur untuk membawa air minum sebagai bekalnya di malam hari. Lalu membersihkan diri dan mulai tidur tepat waktu. Diet itu bukan perkara mengatur pola makan dan juga berolahraga. Tidur ya teratur dengan jam yang cukup adalah satu di antara sekian banyak syarat agar kita memiliki tubuh yang sehat. Agar diet baik itu penurunan maupun menaikkan berat badan bisa berhasil dan setiap orang bisa mendapatkan berat badan idealnya. Sebelum matanya terpejam, Morgan memeriksa ponselnya ada beberapa pesan baik itu melalui w******p ataupun i********: dan f*******: yang harus segera dia balas. Namun dia hanya akan memeriksa dan membalas yang sekiranya penting saja. Semua pesan-pesan itu akan dia balas pada pagi hari ketika dia bangun dari tidur. Tidak boleh ada yang mengganggu jam tidurnya, tubuh yang sudah dipaksa untuk bekerja sehari penuh harus mendapatkan haknya untuk beristirahat minimal 8 jam perhari. Tidak ada yang menarik dari pesan-pesan yang dia terima, kecuali satu pesan dari akun yang selama ini seringkali stalking. Khansa Aqila. *** "Bang Radit, Snap Fitness nggak nerima pendaftaran gue, katanya udah telat," adu Khansa pada kakaknya. Meski sebenarnya dia tahu dengan mengadu seperti itu tidak akan ada solusi dan jalan keluar karena kesalahan tidak terletak pada pihak Snap Fitness melainkan dia yang terlalu lama menunda untuk mendaftar. "Udah dibilangin waktunya terbatas kamu malah nyantai terus, ya udah sih tinggal nunggu season berikutnya tapi nggak tahu kapan. Season yang ini juga kan belum berjalan, biasanya 6 bulan atau 7 bulan kemudian. Tapi nggak tahu sih siapa tahu dalam waktu dekat nanti gue kabarin lagi." Dengan santai Radit menjanjikan hal itu pada adiknya. Dia fokus membolak-balik berkas yang dibawa pulang ke rumah Khansa. "Jujur aja kemarin gue itu ragu-ragu, karena bagi gue semua program ya sama aja. Ujung-ujungnya kan cuma nyari duit, atau jualan produk diet." "Makanya punya otak jangan dipakai mikirin Zyan mulu, jadinya korslet, lemot dan gak gercep." "Mulai deh ah bawa-bawa dia. Jangan sampai adikmu ini terperangkap lagi sama pesona tuh aki-aki." "Halah aki-aki,"Ledek Radit, "kemarin aja muji-muji sampai itu poster yang ada di dinding diciumin." "Udah deh Bang, Jangan bikin tambah gue bete. Tolong pikirkan caranya biar Shasa bisa daftar program di Snap Fitness. "Iyaa! udahlah yah Ini udah nggak ada yang lo omongin lagi kan? Kalau nggak ada gue mau pulang, kerjaan harus selesai malam ini juga, di sini gue gak konsen lo bawel banget." "Pokoknya abang janji bisa daftarin Khansa di snap, Abang kan pelanggan setia itu tempat fitnes. Jangan sampai nanti keanggotaannya gue cabut." Radit menggelengkan kepalanya, kemudian memasukkan berkas-berkas yang berserakan di atas meja ke dalam tas. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya untuk mendaftarkan Khansa di sesi yang sekarang. Toh, kesalahan tidak ada pada pihak snap fitness melainkan Kansa yang abai karena tidak kunjung daftar. Belum sempat Radit keluar rumah Khansa, lelaki itu mengalihkan perhatiannya dari barang bawaan pada adiknya yang memetik kaget, lantas kemudian melompat-lompat karena senang sampai perut buncitnya bergoyang-goyang. "Bang, astaga, Bang, lo emang kakak yang paling baik sedunia." Khansa memeluk Radit, lelaki yang tengah kebingungan itu tidak tahu mengapa Khansa memuji dirinya. Tak lupa berkali-kali berterima kasih seraya mengecup pipi kiri dan kanan. "Sha, Lo gak kerasukan, kan Sha?" "Gue seneng Abang sayang, Makasih baru juga gue ngomong eh sekarang udah dapat tanggapan dari Snap." "Lah gue ngapain?" tanya Radit kebingungan. "Ini jadi bukan karena Abang yang ngomong?" tanya Khansa penasaran. "Udah deh, Sha jangan halu." "Astaga Bang Radit coba lihat ini direct message dari Morgan. Bodo amat Gue ngehubungi ig-nya snap malah nggak digubris sama sekali, akhirnya dengan kekuatan bulan Gue nyari nomor telepon yang lain." Khansa menyerahkan ponselnya yang kemudian diterima Radit dengan rasa penasaran. Benar selain melihat spam dari Khansa, dia juga membaca balasan yang dikirimkan oleh Morgan. "Keputusan ada di tangan Lo." "Lo gak marah?" "Lah, lawak, kenapa gue harus marah?" "Ini orang minta ketemuan, biasanya Lo suka sewot kalau gue mau ketemuan sama cowok." Radit mendekat lalu meraih tangan Khansa yang gemoy, "itu karena yang mau ketemu sama Lo ujung-ujungnya suka nyakitin. Ini Morgan mau nolongin Lo, jadi gak ada alasan gue marah saat lo mau ketemuan sama dia." "Gue deg-degan banget, Bang." "Mau gue temenin?" tanya Radit. "Boleh, Bang, boleh. Kalau gitu gue jawab apa ini?" "Jawab aja, iya aku mau." "Berasa lagi dilamar, hahahahaha." Radit bahagia melihat adiknya bahagia, senyum cerah Khansa yang selama ini redup kini telah kembali. Hanya saja Radit belum sepenuhnya mengerti, apa motivasi terbesar Khansa berdiet. Apa masih karena Zyan Alex, atau ada semangat lain yang mendorongnya untuk itu. "Udah, Bang, besok jam 10 udah langsung workshop sama peserta lain. Dan kita ketemuan dua jam sebelumnya." "Jadi gak perlu diantar, kan, ya, gue kerja jam segitu, Weh." "Iya, gak usah. Makasih banyak karena selalu ada buat gue." "Sini peluk." "Dih, ogah. Katanya mau pergi, ya udah pergi Sono. Ngapain masih di sini?" "Iya, gue balik." Khansa mengantar Radit sampai depan rumah, lelaki itu melambaikan tangan sebelum masuk mobilnya. Besok, perjuangan akan dimulai besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN