Deklarasi

2120 Kata

Leivh mengantarku hingga kerumah. Aku terdiam sebentar, sebelum memikirkan apa yang sebaiknya aku putuskan. Memintanya untuk singgah atau membiarkannya pergi ? biasanya aku tak begitu memusingkan hal kecil seperti ini. Tapi berhubung segalanya sudah sedikit demi sedikit berputar dan tak lagi sama, perlahan hal remeh itu jadi menggangguku juga. Aku menatapnya sebentar setelah dia ikut keluar dari mobilnya. Pria itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, entah perasaanku saja atau karena hal lain. Aku melihat gelagat Leivh yang nampak ingin aku mengundangnya masuk kerumah. Aku tersenyum. “Mau mampir dulu ?” tanyaku, benar saja ekspresinya berubah total menjadi lebih cerah. “Bolehkah ?” “Kenapa tidak ?” “Terimakasih, kupikir kamu akan menyuruhku pulang.” Katanya membuatku tertawa. Aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN