DUA - SIHIR FROSSET

1106 Kata
Olyver mengecek keadaan selama beberapa menit. Setelah keadaan sekitar dirasa benar-benar aman, Runa berjalan keluar dari tempat persembunyian dan langsung berdiri di atas salah satu puing-puing yang tinggi. Runa berjalan tanpa mengatakan apa-apa. Atmosfer di sekitarnya agak mencekam, raut wajahnya pun tak bisa didefinisikan. Ada banyak hal yang berlarian di pikiran Runa, entah itu hal baik ataupun hal buruk. "Dimensi apa yang akan putri tuju?" tanya Olyver berusaha menyadarkan Runa dari lamunannya. Runa hanya terdiam, raut wajahnya memucat setiap kali Olyver menyebutkan tentang sihir Frosset. Perlahan tubuh Runa mulai kaku karena tegang, padahal sihir Frosset harus dilakukan dengan santai. Runa tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir lagi. Olyver menunggu dengan tenang sambil melihat sekeliling, untuk memastikan tidak ada musuh yang tiba-tiba datang. "Dimensi Swyndell. Karena dimensi itu cukup makmur, mungkin aku bisa mendapatkan apa yang kucari dengan cepat. Walaupun aku tidak tahu pasti apa yang harus kucari," ucap Runa dengan datar tanpa melihat ke arah Olyver. Dimensi Swyndell sendiri bukanlah dimensi yang besar, tapi cukup dikenal orang. Olyver memperhatikan gerak-gerik Runa dengan seksama. Gerakan tubuh Runa dan tatapan matanya mengatakan semua yang tidak Runa katakan. Bukan karena Runa tidak bisa mengatakannya, tapi Runa tahu tak ada pilihan lain baginya. Jika ayahnya sudah memutuskan bahwa ia harus melakukannya, ia memang harus melakukannya. Tak ada penawaran ataupun penundaan apalagi di saat-saat seperti ini. Raja juga tidak menerima kegagalan. Sebenarnya hal ini sudah sering didengar Runa sejak ia kecil, tapi ia tidak percaya ayahnya mengatakan hal yang sama saat ia harus melakukan sihir langka untuk pertama kalinya. Walaupun begitu, Runa tahu alasan ayahnya mengatakan tidak boleh ada kegagalan dalam penggunaan sihir langka ini. Saat melakukan sihir Frosset, gagal ataupun tidak, keberadaan mereka pasti akan ketahuan. Raja tidak masalah dengan rusaknya kerajaan, hal itu masih bisa direbut dan dibangun kembali, tapi kehilangan rakyat adalah kegagalan terbesar seorang raja. Olyver hanya diam dan duduk di salah satu batu. Ia tidak tertarik untuk mengajak Runa berbicara lagi. Respon Runa sangat datar dan badannya tetap tegang. Alih-alih membantu Runa agar bisa melakukannya, Olyver merasa bahwa ia hanya akan menganggu konsentrasi Runa. Walaupun Olyver tidak tau apakah Runa sedang berkonsentrasi atau pikirannya kemana-mana. Posisi Runa masih sama seperti sebelumnya, ia tidak bergerak sama sekali. Runa mencoba meyakinkan dirinya berulang-ulang, tapi gagal. Runa memikirkan keluarga dan rakyatnya agar ia mempunyai keberanian untuk melakukannya, tapi di sisi lain Runa juga takut akan membuat celaka orang-orang yang ia sayangi jika ia melakukan kesalahan besar dan gagal. Runa menatap langit yang sudah tidak seindah dulu. Dengan berbagai kerusakan dan peperangan yang terjadi, akhirnya langit tertutupi asap tipis dan tidak ada tanaman yang terawat. Sebenarnya peperangan baru terjadi selama sehari, tapi dengan kuatnya pertahanan Falennor Kingdom dan gencarnya serangan yang dilakukan Violea Kingdom, sudah banyak kerusakan yang terjadi . Setelah lima menit terdiam, Runa akhirnya bergerak dan badannya sudah tidak sekaku sebelumnya. Semakin cepat semakin baik. Apapun yang terjadi, setidaknya Runa sudah mencoba. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Mundur sebelum mencoba adalah hal yang dilakukan oleh seorang pengecut, Runa mengatakan banyak hal dalam hatinya untuk menguatkan dirinya sendiri. Runa mulai menggerakkan tangannya tanpa tau apa yang selanjutnya harus dilakukan. Melihat Runa yang sudah tidak setegang sebelumnya, Olyver memberikan informasi yang lupa ia katakan. "Putri, ada satu pesan lagi dari raja. Jangan menyerang dan mudah terpancing, apapun yang terjadi. Kendalikan diri dan kembalilah ke sini tanpa membuat keributan, mau itu masalah atau bukan. Jangan sampai menjadi sorotan," ucap Olyver sambil berdiri lalu mulai berjalan menjauh dari Runa. Runa tidak merespon apa-apa walaupun ia mendengar pesan yang disampaikan Olyver. Runa fokus pada sihir Frosset yang harus dilakukannya. Ia berusaha merasakan kekuatan dalam dirinya dan menutup matanya agar lebih fokus. Olyver melihat dari jauh sambil memperhatikan sekitar, berjaga-jaga jika ada yang menyerang Runa sebelum Runa mengaktifkan kekuatannya. Olyver tahu alasan lain mengapa Raja mewajibkan Runa agar melakukan sihir Frosset tanpa kegagalan. Raja ingin memberikan tekanan pada Runa. Tekanan yang cukup besar agar Runa tidak ragu saat melakukannya. Saat hari-hari biasa, Runa sering gagal saat latihan sihir. Raja menyadari bahwa kegagalan Runa terjadi karena kurangnya motivasi dan keraguan dari Runa sendiri. Jika Runa bisa mengatasi kedua hal itu, Runa bisa menjadi seperti ayahnya. Seseorang yang sangat akurat dalam melakukan sesuatu dan mempunyai kekuatan yang besar. Saat Runa berusaha merasakan kekuatan sihir yang ada di dalam dirinya, tubuhnya terangkat dan muncul cahaya di sekitar tubuhnya. Terlihat sangat indah. Runa membuka matanya perlahan. Bola matanya yang berwarna ungu, berubah menjadi warna merah muda atau pink. Warna bola matanya sekarang sama persis dengan warna rambutnya. Perpaduan yang indah. Walaupun terlihat berhasil, tapi sepertinya Runa tidak benar-benar menguasai dirinya karena tatapannya kosong. Olyver hanya terdiam melihat perubahan Runa, sambil terus berjaga-jaga. Dengan warna yang sangat terang di sekitar tubuh Runa, tentara Violea Kingdom mulai berdatangan dari jauh. Setelah beberapa saat, akhirnya Olyver memilih untuk memakai sihir penghilang dan menjauh. Dengan cahaya dan kekuatan sebesar itu, Runa seharusnya sudah bisa menghabiskan satu galaksi jika ia dalam keadaan sadar dan mengaktifkan kekuatannya dengan maksimal. Olyver bergerak dengan cepat, menjauhi Runa dan menuju tempat raja. Sesekali Olyver melihat ke arah Runa. Runa sudah setinggi dua meter dan bisa dilihat dengan mudah. Banyak tentara Violea Kingdom hendak mendekati Runa tapi tidak bisa. Tatapan kosong Runa mengintimidasi semua orang yang dilihatnya. Runa mengangkat kedua tangannya lebih tinggi dan cahaya yang keluar dari tubuhnya semakin terang. Setelah itu, Runa mengepalkan kedua tangannya. Sihir yang berada di sekitar tubuhnya langsung menyebar ke seluruh dimensi Havendell dan menyerang siapapun yang ada di dekatnya. Cahaya biru terang keluar dari kedua tangan Runa, ada sedikit kesadaran dalam dirinya walaupun ia belum bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik. Kedua tangan Runa yang mengepal tadi dipukulnya ke udara yang ada di depannya. Seperti dua palu yang memukul udara kosong. Ia melakukannya sambil memfokuskan pikirannya ke semua penduduk Falennor Kingdom. Tepat saat Runa memukul udara tadi, suaranya menyebar dan terdengar di seluruh dimensi Havendell. ZSING! Setelah pukulan itu, terdengar suara es dan beberapa suara lain yang menyatu. Runa kembali berdiri di atas tanah dengan memegang sebuah liontin berwarna biru muda. Runa terdiam melihat liontin itu. Kesadarannya sudah kembali. Di sekitar Runa, ada banyak tentara Violea Kingdom yang terkapar. Sepertinya efek dari pukulannya tadi. Tubuh Runa lelah, tapi ia memilih untuk tidak beristirahat. Runa langsung mencoba lagi agar bisa segera pergi ke dimensi Swyndell. Untungnya, beberapa saat kemudian Runa sudah meninggalkan dimensi Havendell. *** "Raja, Putri berhasil melakukannya!" ucap Olyver sambil tersenyum dan membungkuk ke arah raja. "Iya, saya mendengarnya. Suara sihir Frosset yang mengagumkan. Oh iya, sudah kubilang jangan seperti itu padaku," ucap raja sambil tersenyum. Olyver dan raja sebenarnya bersahabat, tapi karena jabatannya, Olyver tetap menghormati raja. Walaupun raja merasa tidak enak setiap kali sahabatnya itu membungkuk padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN