bc

Suamiku Sangat Marah Saat Tahu Aku Masih Perawan

book_age12+
8.1K
IKUTI
73.5K
BACA
love-triangle
love after marriage
fated
second chance
drama
comedy
twisted
sweet
humorous
coming of age
like
intro-logo
Uraian

(NON EKLUSIF, cerita ini tayang di tiga aplikasi)

"Kenapa kau keluar darah?" Om Redi menatapku curiga. Tatapannya tertuju pada sprei tempat barusan kami memadu kasih.

Jantungku berdetak kencang dan aku tiba-tiba menjadi sangat tegang. Bagaimana cara aku menjelaskannya? Ia pasti akan marah saat tahu aku ternyata masih perawan.

chap-preview
Pratinjau gratis
1
"Kenapa kau keluar darah?" Om Redi menatapku curiga. Tatapannya tertuju pada sprei tempat barusan kami memadu kasih. Jantungku berdetak kencang dan aku tiba-tiba menjadi sangat tegang. Bagaimana cara aku menjelaskannya? Jelas aku tak mungkin mengatakan padanya yang sebenarnya. Ia pasti akan sangat marah jika tahu aku masih perawan. Om Redi mengernyit heran saat tatapannya kembali tertuju pada darah di sprei. Kami baru saja menikah. Om Redi menatapku dengan wajah semakin curiga saja. Tatapannya padaku yang mulanya biasa saja kini berubah menakutkan. "Apa jangan-jangan, kau bohongi aku?!" Lelaki berbadan tegap ini mengikis jarak, masing-masing tangannya mendarat di pundakku. Ia menggeretakkan gigi dan terlihat sangat marah.  Wajar, jika dia sangat marah. Aku mendapatkan lelaki seusia ayahku ini dengan cara curang. Aku mencintainya tapi dia hanya menganggapku anaknya. Maka kepada ayahku, aku bilang bahwa aku dan Om Redi telah tidur bersama saat Om Redi mabuk karena ditinggal bibi menikah. Om Redi mulanya tak percaya dan tak mau bertanggung jawab. Tapi, ayahku memaksa karena aku mengaku hamil. Dan beginilah, akhirnya kami menikah. Om Redi menatapku tajam, membuatku sangat takut. Cari alasan, Putri. Cari alasan. Ucapku dalam hati mencoba menenangkan diri. "Jangan-jangan aku ... pendarahan, Om."  "A-pa?!" Wajah Om Redi kini berubah cemas. Tatapannya tertuju ke arahku. Lalu ke sprei. "Jangan-jangan flek, Om. Aduuh, perutku kok tiba-tiba sakit, ya, Om. A-duuh." Aku mendramatisir keadaan dengan memegangi perut. Om Redi memakai bajunya lalu menggendongku.  "Tenanglah. Aku bawa kau ke bidan." Tubuhku menegang kini. Bisa ketahuan jika dibawa ke bidan. A-duuh, gimana, iniii.  "Om, a-kuu ...." "Diamlah. Aku pun tak ingin anak kita kenapa-napa." Ia menggendongku menuju mobil. A-duuuh bisa ketahuan aku kalau masih gadis. *Jangan lupa follow akunku Soh lalu berlangganan cerita ini biar nanti dapet notif tayang. Tegang gak, tuuh, kalau kamu yang jadi Putri?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
195.1K
bc

Siap, Mas Bos!

read
16.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
212.8K
bc

My Secret Little Wife

read
106.9K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
4.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
16.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook