bc

Sentuhan Panas Sugar Daddy Mafia

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
HE
age gap
friends to lovers
dominant
badboy
mafia
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
city
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Seorang pria sembari berlari sempoyongan karena perutnya robek tertusuk pisau belati tajam. Darah mengucur deras dari bekas luka baru itu.

Dari arah belakangnya suara tembakan berdesing berulang kali dengan hujan peluru timah panas meluncur ganas dari mulut pistol pengejar-pengejarnya.

Jeannete Parker baru saja menyelesaikan shift sore hingga nyaris tengah malam di coffeeshop and bar Starla's. Dia merasa letih dan tidak menyadari bahwa ada pria yang mengikutinya dari belakang hingga sampai di depan pintu apartemen dengan uang sewa bulanan murah itu.

"Nona, apa bisa aku mampir sebentar di tempat tinggalmu? Akan kuberi uang dalam jumlah fantastis kalau kau mau berbaik hati!" bujuk Jerome Drake sembari menekan luka di perutnya yang berdarah-darah.

Gadis bermata blue marine cemerlang itu terkesiap ketakutan. Namun, instingnya mengatakan pria di hadapannya akan mati malam ini juga jika dia menolak mengulurkan tangan membantunya. Segera Jean memasukkan anak kunci dengan tangan gemetar hebat. "A—aku akan menolongmu, tapi berjanjilah jangan menyakitiku, Sir!" ucapnya terbata-bata karena detak jantungnya berpacu dalam rongga dadanya.

"Pasti! Jangan meragukan kata-kataku, Nona Kecil. Tolong papah aku masuk!" jawab Jerome yang merasa ingin pingsan akibat kehilangan banyak darah.

Tanpa banyak bicara Jeannete segera menopang badan sebesar beruang Grizzly itu masuk ke gedung apartemennya. Mereka naik lift menuju lantai tiga dan Jean berusaha tidak ikut pingsan karena harus menahan bobot lebih dari dua kali dirinya.

Pintu unit apartemennya segera dia buka dan Jean membawa Jerome terlebih dahulu ke sofa berukuran sedang yang nampak terlalu sempit untuk pria tersebut. Seperti terbang, Jean berlari menutup pintu lagi. Dia seorang mahasiswi tahun ketiga di fakultas kedokteran sebuah universitas terkemuka di New York, pastinya Jean paham seberapa gawat kondisi pasiennya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam Chaos Berhujan Peluru
"Damn it! Bastard!" maki seorang pria sembari berlari sempoyongan karena perutnya robek tertusuk pisau belati tajam. Darah mengucur deras dari bekas luka baru itu. Dari arah belakangnya suara tembakan berdesing berulang kali dengan hujan peluru timah panas meluncur ganas dari mulut pistol pengejar-pengejarnya. "Sialan! Jangan sampai pria itu lolos setelah berhasil kita lumpuhkan tadi. Berpencar!" teriak pimpinan gerombolan mafia bengis itu kepada selusin anak buahnya. "Yes, Sir!" sahut pria-pria bersetelan jas serba hitam dengan pistol di tangan mereka lalu berpencar menyisir area pemukiman penduduk yang mulai lengang jelang tengah malam. Jeannete Parker baru saja menyelesaikan shift sore hingga nyaris tengah malam di coffeeshop and bar Starla's. Dia merasa letih dan tidak menyadari bahwa ada pria yang mengikutinya dari belakang hingga sampai di depan pintu apartemen dengan uang sewa bulanan murah itu. "Nona, apa bisa aku mampir sebentar di tempat tinggalmu? Akan kuberi uang dalam jumlah fantastis kalau kau mau berbaik hati!" bujuk Jerome Drake sembari menekan luka di perutnya yang berdarah-darah. Gadis bermata blue marine cemerlang itu terkesiap ketakutan. Namun, instingnya mengatakan pria di hadapannya akan mati malam ini juga jika dia menolak mengulurkan tangan membantunya. Segera Jean memasukkan anak kunci dengan tangan gemetar hebat. "A—aku akan menolongmu, tapi berjanjilah jangan menyakitiku, Sir!" ucapnya terbata-bata karena detak jantungnya berpacu dalam rongga dadanya. "Pasti! Jangan meragukan kata-kataku, Nona Kecil. Tolong papah aku masuk!" jawab Jerome yang merasa ingin pingsan akibat kehilangan banyak darah. Tanpa banyak bicara Jeannete segera menopang badan sebesar beruang Grizzly itu masuk ke gedung apartemennya. Mereka naik lift menuju lantai tiga dan Jean berusaha tidak ikut pingsan karena harus menahan bobot lebih dari dua kali dirinya. Pintu unit apartemennya segera dia buka dan Jean membawa Jerome terlebih dahulu ke sofa berukuran sedang yang nampak terlalu sempit untuk pria tersebut. Seperti terbang, Jean berlari menutup pintu lagi. Dia seorang mahasiswi tahun ketiga di fakultas kedokteran sebuah universitas terkemuka di New York, pastinya Jean paham seberapa gawat kondisi pasiennya. "Aku harus membuka pakaian Anda, Sir. Jangan tanya macam-macam, pokoknya Anda harus segera mendapat pertolongan pertama malam ini!" ujar Jeannete sambil berlari ke sana ke mari dalam unit apartemen sempit itu karena mengambil alat-alat kedokteran yang minimalis miliknya. "Lakukan apa yang diperlukan ... aku tak tahan lagi—" Kepala Jerome terkulai lemah di sandaran tangan sofa. Jeannete segera menepuk-nepuk wajah pria itu agar tidak pingsan. "Jangan biarkan Anda tak sadarkan diri, kondisi ini akan lebih genting. Tahan sebentar sampai infus di nadi Anda terpasang!" Dalam ketidak berdayaannya Jerome menatap wajah wanita yang baru saja dia temui dan harus kerepotan menolongnya di tengah malam buta. 'Kalau aku masih bernyawa sampai besok pagi karena pertolonganmu, akan kujadikan kau sebagai istriku!' sumpahnya di dalam hati. Dengan seperangkat alat bedah minor dan juga set infus yang dia miliki untuk praktikum, Jeannete Parker segera mencoba semaksimal mungkin menyelamatkan nyawa pasien dadakannya itu. "Infus, checked! Waktunya mensterilkan bekas luka tusukan itu dan menjahitnya agar tak berdarah terus menerus. Semester ini aku baru saja mendapat ilmu bedah dan harus mempraktikkannya ke pria asing, hmm ... menarik!" celoteh Jean lebih karena dia agak panik melihat kondisi Jerome yang lemah. "Sir, jangan tertidur dulu. Aku akan memeriksa tekanan darahmu dan lainnya setelah ini. Minum juga antibiotik bersama obat pereda nyeri!" ujar Jean berusaha bersikap profesional sekali pun dia belum menjadi dokter praktik, dia hanya mahasiswi kedokteran semester enam. "Lakukan yang seharusnya, aku berusaha tetap tersadar dan ini sakit, hmmph!" jawab Jerome. Jarum ditusukkan ke otot serta kulitnya tanpa bius yang memadai hanya lidocaine lokal. Dia rasanya ingin menghajar pria yang menusuknya dengan belati tadi. Tiga puluh menit cukup untuk membereskan segala kekacauan di tubuh pasiennya. Setidaknya yang paling vital saja. Jean lalu memeriksa detak jantung dan tekanan darah pasien. "Menurutku semuanya aman terkendali sekali pun tak sempurna, besok kuantarkan ke rumah sakit dengan taksi karena aku tak memiliki kendaraan, Sir!" ucap Jeannete lalu menyelimuti Jerome dengan bed cover miliknya di sofa. "Terima kasih, Nona. Siapa namamu?" balas Jerome penasaran. "Jean. Jeannete Parker, calon dokter!" jawab wanita itu sembari menatap mata hazel keperakan yang indah di hadapannya sembari tersenyum bangga. "Kau calon dokter yang hebat, Jean. Kuharap aku masih bisa melihat matahari besok pagi. Maaf mengganggu istirahatmu malam ini!" ujar pria mafia berbahaya itu sambil mengamati wajah Jean lekat-lekat. Akhirnya, Jean merapikan peralatan medisnya yang sebenarnya berfungsi hanya untuk tujuan praktikum. Dia mencuci tangan dan membersihkan badan di kamar mandi sebelum tidur. Jerome berpikir mendalam tentang gadis yang menolongnya itu, 'OMG, dia itu lugu sekali. Memasukkan orang asing ke apartemennya tanpa curiga dan tertidur begitu lelap! Kurasa dia butuh pria pelindung semacam aku dari predator-predator berbahaya di luar sana!' Waktu seolah terbang tanpa terasa sampai pagi tiba. Secercah sinar mentari yang menyusup dari balik tirai putih tebal yang menutupi jendela membangunkan Jerome terlebih dahulu. Dia meringis kesakitan saat mencoba bergerak di sofa. Ponsel di saku jasnya yang berlumur darah kering itu mati kehabisan daya. Dia butuh charger handphone dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan apartemen tipe studio yang berukuran mini tersebut. Dengan menguatkan diri, Jerome melepas selang infus yang terpasang di nadinya lalu berjalan tertatih-tatih menghampiri nakas di samping tempat tidur Jeannete. "Akhirnya, bisa mengisi daya ponselku. Ckk ... aku lapar sekali!" gumam Jerome pelan. Dia melirik ke wajah damai gadis itu di atas bantal. Kemudian memutuskan untuk tak mengganggunya. Namun, kakinya hilang keseimbangan dan badan besarnya malah terjatuh menimpa Jean. "KYAAA!" jerit Jeannete terkejut setengah mati saat tubuh Jerome mendarat tepat di atasnya. Mereka bertukar pandang dalam jarak dekat dan Jerome langsung mengaduh kesakitan. Bekas luka yang dijahit Jean tadi malam tertekan tanpa sengaja karena dia tengkurap. "Jangan panik! Maaf, aku tadi tergelincir saat ingin membalik badan. Apa kau baik-baik saja?!" cerocos Jerome cemas. "Sir, kau yang seharusnya kutanya apa baik-baik saja?! Lukamu masih baru, tidak boleh banyak gerak. Coba kuperiksa dulu dan di mana selang infusmu, ckk!" omel Jean galak. Baru kali ini ada yang berani memarahinya seperti itu. Jerome pun terkekeh geli. "Sepertinya lebih baik aku bergeser ke sebelahmu saja, masih sakit bila aku bangun!" sahut pria itu lalu berguling ke samping. "Pasien yang bandel sekali. Aku memang belum memiliki lisensi sebagai dokter, tapi aku yakin dokter mana pun akan marah kalau mengetahui pasiennya terlalu banyak ulah seperti kamu!" gemas Jean. Dia segera memeriksa bekas luka jahitan di balik kain kasa yang diplester di perut Jerome. Untungnya tidak apa-apa. 'Dia memiliki bentuk tubuh sempurna—inikah yang dinamakan six pack? Sayangnya, dia nampak terlalu tua untuk usiaku!' batin Jean sambil mengurusi luka Jerome. "Apa aku keterlaluan kalau meminta sarapan?" tanya Jerome memecah keheningan di antara mereka. Jean pun tertawa kecil. "Tidak, aku akan memasak sesuatu untuk kita makan. Pancake ya, jangan rewel, Tuan. Itu saja yang kupunya di dapur pagi ini, aku belum sempat ke supermarket!" jawabnya. "I love pancake, Baby. Thanks!" sahut pria itu sembari tak melepaskan pandangan matanya dari wajah berbentuk hati milik Jean.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
704.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
944.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
338.8K
bc

Not just, the Beta

read
337.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook