Udara dingin ruang rawat terasa menusuk. Aroma antiseptik yang menyesakkan. Keheningan ruangan, kesenyapan lingkungan membuat Ina sangat sesak. Di bawah lampu yang sengaja Ina temaramkan agar putranya bisa lelap tidur. Semua membuat Ina sangat sesak. Semakin sesak. Alle terbaring lemah, ada selang infus di tangan mungilnya selang bagaikan tali yang menjerat hati Ina, mengikat hati Ina erat, dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Sejak tadi Ina hanya diam. Bulir air mata tak henti mengalir walau tak deras, tapi kontinyu, tak berkurang sedikitpun volume air yang mengalir. Mata Ina yang pandangannya buram karena terhalang air mata, terpaku pada wajah Alle yang pucat. Wajah pujaan hati yang saat ini diam. Bibir Alle putih. Ina menolak sentuhan Anka, dia menolak bujukan lembut sang sua

