10. Hati (Bagian Empat)

1513 Kata
Emma yang ada di kamarnya sekarang, hanya bisa termenung karena mengingat tingkah sang kekasih yang menjadi sangat dingin kepadanya. Bahkan, lelaki itu seperti enggan menatap wajahnya. Sekarang Emma malah kembali memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai sang lelaki dalam keadaan mood demikian? Hubungan mereka pun menjadi dingin seperti ini? Apalagi mengingat sifat Elliot yang cenderung penutup dan kaku itu, pasti sulit untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, ia akan terus mencoba. Ya, kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka ada saat malam nanti. Makan malam romantis di kediaman lelaki itu, mereka pasti bisa memperbaiki hubungan yang telah canggung ini. Emma tersenyum saat membayangkan hal romantis apa yang akan terjadi nanti. Ia harus berdandan secantik mungkin. "Semangat Emmaaa." Berdiri dari kursinya, Emma membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa yang mungkin akan dikenakannya untuk nanti malam. "Hmmm... yang mana, ya?" tanya Emma, masih memilah pakaian, dan akhirnya pilihan Emma pun jatuh kepada gaun berwarna hijau lembut yang panjangnya selutut dengan motif lili putih di bagian bawah. Indah, tetapi sederhana, itulah yang dapat dilihat dari gaun yang akan ia kenakan. Sebelum mencoba pakaian yang telah dipilihnya, Emma yang mendengar deringan ponsel pun menghentikan sebentar kegiatannya dan memutuskan untuk mengangkat panggilan masuk. "Irene," gumam Emma saat melihat panggilan masuk. Emma menimbang-nimbang sebentar, kemudian ia memutuskan untuk menjawabnya. "Ya, Irene." "Hai, gimana? Udah diputusin belum si iblis itu?" tanya gadis di sebrang sana, membuat Emma mengerutkan alisnya ketika mendengar kalimat tersebut. "Apaan sih, aku dan Elliot baik-baik aja. Irene, aku gak pernah ikutan untuk taruhan loh." Emma agak jengkel dengan temannya itu, harus bagaimana lagi ia menegaskan kalau ia serius dengan hubunganya bersama Elliot. "Ck, kamu gimana sih, Emma-ku sayang. Masa pura-pura dilupain tuh taruhan untuk 'Menaklukkan Sang Iblis', jangan ingkar janji lah." Nada suara Irene benar-benar membuat Emma hampir meneriaki karena benar-benar naik darah. "Maaf, Irene. Aku gak pernah berniat untuk mutusin Elliot, dan aku gak pernah merasa ikutan sama taruhan kalian." Emma hanya menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Udah deh, Emma. Udah banyak yang tahu loh, kalau kamu itu cuma mau mempermainkan sang Iblis. Lagi pula, kamu kan juga sering kencan sama Senior Steve... hahaha. Itu udah jadi hot gosip loh." "Irene. Cukup!" Emma langsung mematikan sambungan ponselnya sepihak. Ia tidak habis pikir dengan temannya itu, kenapa jadi begini. Apa-apaan sih Irene itu? Kenapa dia tega banget sih ke aku?Hanya karena taruhan itu. Batin Emma marah dan sedih karena kedua orang teman yang mengecewakannya. "Jahat banget sih mereka. Hiks." Emma yang kepikiran dengan ucapan teman-temannya itu pun menangis karena kesal juga dilema. Tidak terpikir olehnya kalau dua orang yang sudah dijadikannya sebagai sahabat sampai tega kepadanya dan terus mendesak agar putus dengan sang kekasih. "Hiks... jahat." Masih sibuk menghapus air mata, Emma yang kembali mendengar ada nada di ponselnya pun menggerakkan tangan untuk menyentuh ponsel. "Oh, Emma. Lebih baik kamu putusin aja deh si iblis itu. Dan pacaran sama Senior Steve." Emma yang membaca pesan dari Irene pun langsung menghapusnya dan mematikan ponsel untuk sementara. Ia benar-benar kesal karena teman-temannya itu, dan mengembuskan napas untuk menenangkan diri, kemudian ia kembali termenung karena resah dan gelisah di hati. "Hah! Jangan-jangan," ucap Emma yang terus memikirkan mengenai permasalahan itu pun tersadar. "Apa Elliot mengetahiunya?" Bola mata emerald sang gadis membesar karena baru menyadari hal ini, jika benar yang dibicarakan Irene sudah tersebar ke penjuru kampus, kemungkinan Elliot mendengar beritu itu pasti besar. Pantas saja, sejat tadi ketika bertemu dengan kekasihnya, Elliot terlihat dingin dan murung, juga berada pada mood yang jelek. Pasti semua itu karena sang lelaki telah mendengar rumor tidak sedap yang melibatkan Emma yang ingin mempermainkan Elliot. Lebih parah lagi, ia digosipkan berselingkuh dengan Steve. Mendecak kuat, ia mengusap wajah karena frustrasi dengan hal ini. Bisa-bisanya gosip seperti ini tersebar di kampus. Orang-orang kurang aja mana yang membuat berita semacam ini. *** "Emma." Sang lelaki memanggil gadis yang ia cintai. Elliot membuka kelopak matanya dan menampakkan manik sehitam arang itu. Tatapan terlihat tajam, tetapi kosong. Lelaki yang dijuluki sang iblis hanya mengehela napas. Banyak yang tengah berkecamuk dipikirannya. Apa benar semua rumor-rumor itu bahwa sang kekasih tengah mempermainkannya? "Elliot, kau kenapa? Apa kau masih memikirkan perkataan gadis-gadis itu?" Noah yang melihat adiknya seperti orang kebingungan pun merasa khawatir. Ia hanya menatap sang adik yang tengah duduk di lantai sambil termenung. "Elliot!" Kembali suaranya masuk ke indra pendengar sang adik, tetapi lelaki yang tengah duduk dan bersandar di dinding itu sama sekali tidak mengacuhkannya. "Elliot, percayalah kepada Emma." Hanya itu yang bisa dikatakan Noah dan kemudian menghilang entah ke mana. Elliot yang mendengar perkataan kakaknya pun menatap sesosok hitam yang perlahan mengabur dari pandangan matanya. Lalu, lelaki itu pun menyentuhkan tangan ke arah dadanya, meremas dan menundukkan kepala. "Kenapa, sakit?" gumam Elliot menarik napas dan memejamkan mata. *** Malam harinya, seperti yang sudah dijanjikan dari sepasang kekasih itu, Elliot pun datang ke kediaman Emma dengan mobilnya. Tanpa menunggu lama, sang gadis langsung menghampiri kekasihnya dan mereka pun pergi ke rumah Elliot untuk makan malam bersama. Dalam perjalanan, mereka hanya berdiam diri. Emma yang kembali merasa canggung pun mulai bersuara untuk memecah kesunyian. "Elliot, apakah masih jauh?" tanya Emma dan mulai memberanikan diri, ia benar-benar merasa tidak tenang dengan suasana kaku seperti ini. Elliot hanya melirik untuk merespon dan onyx itu pun sekilas bertemu dengan emerald yang sedang menatapnya. Membuat sang gadis seketika menahan napas saat matanya menatap manik Elliot yang kelewat dingin dan datar. Ada apa denganmu, Elliot? Batin Emma sedih. Belum sampai di situ, Emma kembali dikejutkan dengan Elliot yang memberhentikan mobilnya di sebuah rumah tua yang mewah, tetapi kelihatan menyeramkan dan sangat tidak terurus. Emerald itu menatap bingung kekasihnya yang perlahan keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya. Ini bercanda, kan? Elliot yang tengah membukakan pintu mobil untuk Emma kemudian berbicara. "Turunlah! Sudah sampai," ucapnya sambil memegang tangan sang gadis. Emma pun keluar dari mobil kekasihnya dengan perasaan bingung. Ia tidak menemukan sebuah bangunan yang layak huni, tetapi malah ada bangunan besar dan penuh dengan tumbuhan rambat dan semak. Saat Elliot membuka pagar, derit karat pun terdengar. Dan Emma semakin ketakutan karena hal itu. Keringat dingin mulai menjalar di wajah dan tubuhnya. Ia ingin pergi dari tempat ini, tetapi Elliot menggenggam erat jemari tangannya. Emma pun kembali menatap wajah lelaki yang tengah berjalan santai di sampingnya ini. "E-elliot, ini benar ru-rumahmu?" tanya Emma dengan alis berkerut, wajahnya pucat dan ia hanya bisa memperhatikan area halaman rumah yang luas dan dipenuhi oleh rumput ilalang, juga sampah dedaunan yang sudah menggunung karena tidak pernah dibersihkan. Ditambah tidak ada satupun lampu taman yang menyala, menambah kesan angker rumah mewah ini terlihat semakin nyata. Dilihat dari mana pun, rumah mewah ini seperti sudah ditingalkan sang penghuni dan mungkin belasan tahun lalu. Elliot yang mendengar suara Emma hanya menyeringai dan bergumam. "Hm, ayo." Krekkk. Pintu rumah telah terbuka, suara derit membuat suasana semakin terasa seram dan mendramatisir dari segala ketakutan yang telah Emma rasakan sedari tadi. "Ayo masuk." Lelaki itu tersenyum tanggung. Mengerutkan alis, Elliot menatap Emma yang hanya terdiam saja dan malah melotot ketika melihat isi rumahnya. Lelaki pemilik rumah itu mendengkus mengendikkan bahunya, lalu menarik Emma yang masih terdiam kaku untuk masuk ke rumah. Emma yang mulai sadar telah masuk ke rumah Elliot, lalu menghentak tangan lelaki itu, membuat genggaman tangan Elliot terlepas. Melihat penolakang sang kekasih, sang lelaki lanas  menatap gadis itu dengan datar. "Ada apa?" tanya Elliot dingin. Mengerutkan alis semakin dalam, Emma merasa seperti dipermainkan sekarang. Apalagi ia mendengar nada yang sangat tidak enak di telinga. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu? Apa-apaan kau ini, kau sengaja mengerjaiku?" Merasa kesal, ia bertanya dengan nada sedikit kuat. Merasa sudah ketakutan seperti ini, tetapi Elliot membawanya masuk dengan agak paksa. Ia sungguh kebingungan melihat situasi ini, rumah ini, tidak mungkin Elliot tinggal di tempat seperti ini. Lelaki itu pasti sedang mengerjainya. Mungkin tengah marah karena mendengar bahwa ia main-main dengan hubungan mereka, atau karena rumor mengatakan bahwa Emma berselingkuh dengan seniornya sendiri. Elliot hanya diam dan memandang Emma yang kelihatan gusar. Ia kemudian mendekati sang kekasih, lalu membelai wajahnya dengan lembut. "Kau takut... denganku?" tanya lelaki itu, memandangi wajah pucat Emma yang berkeringat dingin sekarang. Emma yang hanya diam, kemudian menyingkirkan tangan Elliot dari wajahnya, ia benar-benar merasa sangat tidak tenang karena berada di sini. Ini keterlaluan. "Aku ingin pulang." Emma akhirnya bersuara dan berkata dengan lantang. Sekilas dapat dilihat dari onyx Elliot yang membesar karena mendengar ucapan dan nada suara Emma yang sangat berbeda dari biasanya. Apa Emma sekarang membencinya? Apa gadis itu akan segera mencampakannya, seperti apa yang dikatakan orang-orang itu? "Kenapa?" tanya sang lelaki, kini Elliot langsung menggenggam pergelangan tangan sang gadis. Tatapan matanya menajam, kemudian ia lanjut berbicara, "Kenapa kau takut padaku?" Mendengkus, Elliot melepaskan pergelangan tangan Emma yang ia genggam, kemudian mengembuskan napas dengan frustrasi. "Aku tahu, jadi kau mencoba mempermainkanku, bukan?" tanya Elliot dengan suara dalam dan rendah. "Apa?" Emma mulai gemetar karena merasakan desakan aura Elliot. "Ya, permainan menaklukkan sang iblis? Atau taruhan? Bukankah kau sama seperti gadis-gadis itu, kau sengaja mendekatiku untuk memberi pelajaran kepadaku, hm?" pertanyaan itu akhirnya terucap juga, tatapan tajam Elliot kini menusuk dan membuat Emma terbata. "Ti-tidak." Emma sangat resah karena Elliot mengetahui tentang masalah itu, tetapi ia benar-benar tulus mencintai sang pria. Menarik napas, ia kembali berbicara, "Elliot, aku mencintaimu! Mengertilah... bukankan kau juga mengatakan hal yang sama waktu itu." Air mata menggenang, tidak tahu kenapa ia benar-benar ingin menangis karena mereka mendapatkan masalah seperti ini. Padahal belum lama mengikat kasih. Elliot. Emma hanya bisa membatin nama lelaki itu. . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN